ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
25. Semua baru, seperti Lebaran


__ADS_3

Vila baru itu tidak begitu besar jika dibandingkan dengan vila lain di sekitar. Dua tingkat, dengan warna rumput hijau sepanjang halaman depannya, belum di tanami apa-apa. Sementara keseluruhan area dibatasi pagar besi, di bagian belakang dipasangi bambu kuning panjang untuk menutupi pemandangan ke luar. Terdapat ayunan kecil dan perosotan sederhana, dengan jembatan dan sejenisnya. Reksa baru mulai menanam satu pohon di belakang; saat ini tingginya baru selutut Reksa.


Lantai satunya terdiri dari dapur, ruang makan, ruang tengah, satu kamar utama, dan satu kamar tamu yang letaknya saling berseberangan, serta dua ruangan kosong dekat dapur yang di jadikan kamar sementara untuk pekerja. Di lantai dua terdapat tiga kamar, dan satu ruang rekreasi. Satu untuk tempat kerja Reksa, satu kamar Sera, satunya kamar mainan Sera.


Hanya saja, karena Sera masih kecil, dia pikir kamarnya di bawah lebih baik. Tunggu sampai dia besar, barulah pindah ke atas. Jadi satu kamar di atas di kosongkan untuk kamar tamu. Tiga kamar tidur masing-masing dengan kamar mandi, meski di luar itu ada satu kamar mandi juga dekat dapur.


Di sebelah utara ruang rekreasi, keluar pintu kaca terdapat kolam renang outdoor beserta area bilasnya.


Katanya, meskipun vila memiliki privasi yang baik, belakangan ini banyak orang iseng yang menerbangkan drone untuk mengintip.


Reksa tidak memasang kanopi, tapi dia menyiapkan senapan angin. Di balkon khusus di sebelah kolam berenang, di pasang teleskop (untuk menatap bintang), ahem, tentunya bukan untuk mengintai drone kalau lewat.


Apakah penggunaan senapan angin boleh di lakukan di area vila ini? Selama tidak ada yang tahu, tidak melukai manusia, dan tidak di pakai untuk kejahatan, semua ada jalan. Lagipula, bukan hanya Reksa yang menyimpan senapan di rumah.


Sementara ketika dia tidak di rumah, akan ada orang lain yang mengawasi. Intinya, kalau ada drone, er, atau yang mencurigakan lewat di udara ketika Reksa tidak ada, orang itu akan mewakili untuk menembaknya. Meskipun Reksa ragu apakah benar akan ada yang lewat.


Proyek Reksa terus berjalan dan semakin bertambah, dia hanya punya satu anak ini, Sera. Kalau tidak ada kecelakaan, Sera juga akan jadi penerusnya. Kalau putrinya mau.


Reksa juga bukannya tidak ada musuh. Sedia payung sebelum hujan. Karena itu dia mulai mempekerjakan pengawal pribadi untuk Sera mulai besok.


**


Hari minggu semestinya hari libur, tapi untuk Reksa yang memegang puluhan ribu pegawai di bawahnya, hari libur hanyalah pindah tempat kerja. Dia masih ingat dengan angka menakjubkan yang menghantuinya sebelumnya.


Tahun depan rencananya kantor Reksa akan pindah tempat ke gedung yang lebih luas sementara gedung kantor yang lama akan disewakan ke anak perusahaan yang berada di bawah naungannya.


Hanya saja, gedung baru ini jauh dari sekolah Sera dan jauh dari vila. Sejak awal dia memilih vila ini karena dekat dengan komplek sekolahan, dia tidak sempat mempertimbangkan lokasi kantor barunya.


“....” Reksa melirik putrinya yang sedang menyusun balok dari ekor matanya.


“Sera, sayang, sini.” Rasanya agak malu juga memanggil begitu. Tapi di forum yang dia baca, sesekali memanggil anak dengan panggilan sayang itu perlu. Reksa tinggal menghilangkan rasa malu saja untuk melakukannya. Bukankah dia sering mengatakan 'sayang'? Meski sasarannya dahulu berbeda. Ahem.


Sera yang di panggil langsung menoleh, bangun kemudian berlari kecil sebelum duduk di sisi Reksa dan menatapnya lurus. Posisi siap mendengarkan.


“....Sera mau pindah sekolah ngga?”


“Pindah??”


“Pindah itu, Sera masuk ke sekolah baru.”


“Sekolah baru? Sekolah lama?” gimana?


“Sekolah lama Sera tinggalin.”


“Apa?” tidakkah itu jahat sekali?

__ADS_1


“Sera pindah sekolah supaya dekat ke Rumah.”


“Lumah ini?” tanya Sera sambil telunjuknya mengarah ke bawah. Gesturnya terlihat manis, seperti memaksa bersikap dewasa dengan tubuh kecil. Menggelikan dan menggemaskan.


“Rumah kita sekarang ya cuma ada yang ini.”


“Yang lama?”


“Yang lama di pakai orang.”


“...Oh..” raut wajah Sera menunjukkan kesedihan namun hanya sesaat. Wajahnya kemudian serius lagi.


“....” Reksa berkedip sekali. “Jadi Sera mau pindah sekolah ngga?”


Putrinya membuka tutup mulutnya dan berkata gelisah. “Nanti Sela gak bisa main… main sama Alvin.., Dio.., sama Tim..”


“Sera masih bisa ketemu, cuma ngga satu sekolah–,” tunggu, sepertinya ada yang salah? Telinganya menangkap dengan benar, kan? Nama-nama yang Sera sebut tadi sepertinya semua nama laki-laki?


“Siapa nama temen Sera? Coba sebutin, nanti di ajak main ke rumah.”


“...Kekey, Lala, Farah,”


“Bukan, bukan yang itu, yang tadi.”


“Sebelum Kekey.”


Sera berpikir lama sebelum menjawab.


Sejak beberapa waktu ini, entah kenapa Reksa memiliki bayangan bahwa Sera sebenarnya mengerti lebih jauh daripada pemahaman yang Reksa duga. Kadang wajah itu menunjukkan kecerdasan sekaligus .. cerdik, iya. Cerdik. (Menolak untuk menyebutnya licik.)


Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja?


“Keyla?”


“....” Reksa menarik napas. Dia meletakkan dokumennya dan menggendong Sera di pangkuannya.


“Jadi mau tetep disana atau pindah sekolah?”


"Boleh telus disana?"


Reksa juga menyadari kalau Sera mulai lancar berbicara dan menyusun kata. Menurutnya, kecerdasan Sera tidak ada bandingannya. Dada Reksa bengkak saking bangganya.


"Boleh terus disana, boleh ke yang baru. Tapi yang baru Sera bisa jalan kaki. Lima langkah dari rumah."


Sera: ??? Sepertinya lima langkah itu sangat, sangat, sangat dekat?

__ADS_1


Sera merasa aneh tapi sepertinya sekolah baru boleh juga?


Dan katanya dekat dengan rumah, Sera bisa menunggu lebih awal untuk Papa-nya pulang.


“Sela mau sekolah deket Papa.” oke, pindah sekolah sebanyak apa pun tidak masalah.


“Papa juga mau pindah tempat kerja. Jadi bukan di sana lagi.”


“Lumah balu, skolah balu, kelja papa balu, semua balu?”


“Em, iya, pintar Sera. Semua baru, betul itu.”


Sera mengangguk-angguk, menandakan setuju. Gadis kecil itu melihat ayahnya menghembuskan napas panjang.


Sera pikir, apa yang membuat Papa-nya khawatir sebelum ini? Orang menghembuskan napas begitu saat ada masalah.


Sera tidak tahu sebabnya. Tapi dia ikut menghembuskan napas.


“Nanti Sera ketemu teman baru, guru baru…,”


Sera menoleh cepat. “Bu Ilna?”


“Bu Irna, ya, di sana, di sekolah lamanya.”


“Sela mau sama Bu Ilna.”


Sebelum bisa merengek, Reksa sudah berkompromi. “Iya, nanti Bu Irna ajak ke rumah buat makan sama Sera ya.”


“Bu Ilna ke lumah Sela?”


“Iya, tapi Bu Irna gak boleh ikut ke sekolah baru Sera, ngga apa-apa?”


Entah sadar atau tidak, Sera hanya mengangguk-angguk senang, memikirkan jadwal makan bersama pertama kali di rumahnya bersama guru favoritnya.


Reksa tidak yakin apakah Sera akan ingat atau tidak. Tapi laptopnya di meja sudah mulai merekam video sejak keduanya mulai bertukar obrolan.


Dia bukannya tidak ada tenaga untuk membujuk dan memberi alasan semisal Sera lupa dan menangis nantinya–karena harus meninggalkan Guru Irna.


Dia hanya ingin Sera untuk mulai belajar mentaati perjanjian dan mulai mengerti ‘alasan’.


Reksa hanya tidak sadar saja, anak kecil itu sifatnya tidak menerima saat mereka tidak ingin–meski fakta ada di depan mata.


Hari makan bersama di rumah baru pun akhirnya tiba.


****

__ADS_1


__ADS_2