
Ridwan memulai karirnya saat dia kuliah. Namun dia sudah mulai aktif organisasi sejak masih masa sekolah SMP.
Dia hanya satu dari sekian pegawai legislatif yang independen, atau setidaknya seperti itulah kelihatannya. Dia bekerja sendirian, dengan banyak faksi yang menentang. Tapi bagaimana mungkin seseorang berdiri sendiri dan masih baik-baik saja di air kotor ini? Ridwan hanya menyesal dia tidak bisa mundur dengan cepat. Saat dia berniat meninggalkan pertempuran politik, seseorang menjebaknya dan membuatnya saling bertolak belakang dengan faksi yang dulu berjabat tangan dengannya.
Ridwan sudah terlanjur terjun ke dalam, namun dia kini benar-benar sendirian. Faksi lain tidak mempercayainya, dia juga bukan ikan besar yang patut di pedulikan. Hanya di pertahankan untuk dijadikan 'kambing hitam' di masa depan.
Beberapa orang yang dia kenal sebelumnya juga mengalaminya.
Ridwan tengah mengajukan surat untuk pindah ke daerah A di Pulau S, namun ditolak.
Pulang ke rumah, Ridwan melihat kekacauan di dalam sekali lagi. Istri dan anaknya dia ungsikan ke daerah A, sementara rumahnya kini jadi bulan-bulanan entah siapa. Tidak ada barang yang dicuri, hanya setiap beberapa minggu sekali dia akan mendapati rumahnya kacau balau.
Dia tidak mengerti. Dia hanya ikan kecil. Apa yang mereka dapatkan dengan melakukan ini?
Ridwan tak punya kenalan yang bisa membantunya. Banyak orang yang berinteraksi dengannya memilih balik badan dan pura-pura tidak tahu.
Ridwan juga tidak bisa mengatakan bahwa ini mengancam nyawanya. Dia sudah melaporkan ke polisi, namun tidak ada barang yang hilang, tidak ada kecelakaan pada dirinya, polisi hanya bergerak untuk memeriksa pelaku dan kamera di sekitar.
Dia sudah lelah melapor ke polisi.
Ridwan berbaring di sofa dan memejamkan mata sesaat, kemudian mengeluarkan ponsel dan menekan angka. Suara wanita lanjut usia terdengar, menanyakan keadaannya dan pekerjaannya. Ridwan menjawab seadanya. Dia lalu bertanya soal keadaan anak istrinya. Wanita di seberang menjelaskan bahwa istri dan anaknya berkegiatan dengan lancar dan aman. Sambil mengobrol, di pikirannya Ridwan sudah menyaring pihak yang paling ingin membuatnya sengsara. Sebelum mengakhiri panggilan, mertuanya berpesan supaya dia mengundurkan diri saja dan jadi petani.
Dulu, bagaimana mungkin dia bersedia. Tapi setelah mengalami semua ini, dengan keselamatan istri dan anaknya sebagai taruhan; hal itu justru yang paling Ridwan inginkan.
Tapi mereka tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah. Ridwan pikir, tentu karena dia masih ada gunanya.
***
Pagi itu berita pagi digegerkan dengan ditahannya salah satu abdi negara. Berita itu tidak ada isu, hanya di pagi buta polisi dan petugas mengepung dan menangkap langsung ke rumahnya.
Ridwan yang terbangun berantakan di sofa dan masih belum membuka sepatunya, menyaksikan di depan tv, bagaimana pria yang pernah Ridwan laporkan kini digusur keluar menuju mobil polisi. Cuplikan itu diputar berulang-ulang, warna langit yang gelap di rekaman menunjukkan bahwa waktu penangkapan sudah lewat beberapa jam yang lalu.
Keadaan rumah yang kacau tidak dihiraukan. Kepalanya berputar cepat, dan dia tidak begitu naif berpikir bahwa laporan yang dia buat, yang sempat tersendat dan hampir ditolak kini sudah diproses ke tahap akhir. Tinggal menunggu pengadilan saja.
Lagipula, yang dia sampaikan tidak lebih hanya beberapa bukti mentah dan dugaan. Dia tidak mendengar ada berita pemeriksaan sama sekali.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba orang itu ditangkap.
Bisa saja orang itu memang sudah membuat banyak musuh, dan ada pihak lain yang lebih berkuasa menggerakkan tangannya. Tapi Ridwan berjaga-jaga untuk dirinya sendiri.
Ridwan mengeluarkan ponsel dan memeriksa jadwal keberadaan atasannya di kantor hari ini. Berhubung pihak kantor tidak meloloskan surat permohonan pindah tugasnya, Ridwan berniat mengundurkan diri. Dia bisa memberikan beberapa keuntungan pada bos-nya, dengan syarat bos-nya harus membantunya.
Baiklah, begitu saja. Setelah berkumpul dengan keluarganya, dia akan tinggal di desa.
Baru saat dia hendak bergerak, berita berganti dan di layar tv, Ridwan melihat sosok dirinya sendiri yang masih rapi; dengan garis wajah heroik, rambut klimis dan wajah bersih, dia terlihat seperti pahlawan pembela kebenaran.
Keringat dingin membasahi punggung Ridwan sambil dia membaca judul berita yang tercantum, “RIDWAN JUWANTO S, PELAPOR TERSANGKA YB, SEMPAT DI TEKAN DAN DI TEROR SETELAH MELAPOR.”
Mata Ridwan menatap tanpa berkedip ke layar tv. Dia mendengarkan narasi reporter di sela-sela kekacauan pikirannya.
“Ridwan Juwanto sempat menjadi salah satu tim sukses Presiden, namun setelah tiga bulan, sosoknya mulai jarang terlihat.”
Reporter itu berdiri langsung di depan gedung pejabat, jam siaran langsung saat itu menunjukkan delapan pagi.
Kamera bergeser dan menyorot pria berwajah kotak dan berkumis, Ridwan kenal betul dia siapa. Atasannya.
Atasannya dengan wajah datar–namun Ridwan bisa melihat kekesalan di matanya–berkata, “Pak Ridwan di tempat kerjanya bekerja dengan lancar dan tidak ada tekanan sama sekali. Dia bekerja di bagian humas, isu itu tidak betul sama sekali.”
Memang Ridwan bekerja seperti biasa. Tekanan berupa fisik tidak terjadi. Hanya sesekali mentalnya ditekan.
“Lalu bagaimana dengan keadaan rumahnya, Pak? Kami sempat mendengar bahwa Pak Ridwan sudah melapor beberapa kali soal rumahnya yang dimasuki orang asing.”
Atasannya menolak mengiyakan. “Kalau masalah ini masih belum jelas.” dia juga tahu bahwa laporan ke polisi itu tidak membuahkan hasil karena tak ada bukti. Selain cctv di luar yang menunjukkan ada orang masuk-keluar, hanya tersisa rumah berantakan. Intinya, pelakunya tidak bisa di tangkap.
“Tentunya pihak kepolisian masih dalam proses menangani kasus ini, ya.” dengan cepat atasannya melempar beban ke kepolisian.
Ridwan menyaksikan reporter itu mengakhiri wawancara dan tak lama kemudian iklan masuk.
Ridwan duduk membeku di kursi. Dia hanya ikan biasa yang bekerja seperti lainnya. Saat nama dan sosoknya mulai redup, seseorang membesarkan namanya.
Orang itu ingin Ridwan terjun dan berenang di air keruh ini.
__ADS_1
Mungkin tak lama lagi, reporter-reporter itu akan datang dan mengerubungi kediamannya.
***
Reksa mendengarkan laporan Joe sambil fokus membaca artikel yang baru di terbitkan oleh media asuhan perusahaannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Reksa sebelum dia ganti ke forum tanya jawab dan memposting pertanyaan baru: 'Anak 3 tahun-ku mulai berhenti main dengan mainannya. Aku harus bagaimana?'
"Projek di daerah P sempat ada kendala dengan warga setempat dan hampir terjadi bentrok. Pak Igor menyewa, um... preman yang masih dari daerah setempat untuk mendinginkan suasana."
Reksa mengangguk beberapa kali. "Kalau sampai besar masalahnya, langsung saja panggil petugas keamanan."
"Saya mengerti." Joe menggeser tablet dan melanjutkan. "Saya sudah mulai mengangkat nama Ridwan ke permukaan. Mungkin... Pak Satria akan menemukannya langsung sumbernya setelah menyelidiki lebih dalam." maksudnya, Reksa akan ketahuan mengelabui Satria.
Mendengarnya, Reksa menyeringai tipis. "Saat dia menemukannya, hal itu sudah terlambat."
Joe mengakhiri laporannya dan keduanya bergerak untuk menghadiri rapat. Wana yang berada di luar langsung berdiri tegak.
"Saya mau makan di Restoran Daisy malam ini."
Wana mengangguk. "Saya akan pesankan tempat."
Sementara Reksa berjalan terus menuju lift, Joe berhenti sesaat dan menyerahkan kartu anggota pada Wana. "Ini kartu anggota Restoran Daisy. Nomor telepon restorannya ada di folder PTG."
Keduanya lalu pergi dari balik lift. Wana yang menghubungi restoran kemudian tahu, bahwa Restoran Daisy hanya bisa di pesan seminggu dari jadwal yang di tentukan, namun dengan kartu di tangan Wana, pesanannya di terima. Itupun dengan harga tiga kali lipat dari harga normalnya.
Karena Restoran itu milik keluarga, hanya satu gelombang tamu yang di terima dalam sehari. Tempatnya tersembunyi namun pelayanannya terbaik. Orang yang tahu Restoran Daisy mengenalnya dari mulut ke mulut dan untuk kalangan tertentu saja.
Benar saja, waktu dia mencari di pencarian, tidak ada yang namanya Restoran Daisy.
Wana pikir, kalau Joe tidak berhenti dan mengingatkan, mungkin dia sudah kelimpungan saat ini. Untung saja Joe atasan yang baik hati.
Hanya Bos-nya saja yang tukang gali jebakan. Menggeritkan gigi, Wana mulai menghafal setiap nomor yang tertera di dalam folder.
***
__ADS_1
author mau bilang sesuatu: Mohon maaf lama update karena ada masalah dengan laptop. Jadi aku beli keyboard bluetooth buat di sambung ke Hp. Berjuang produktif!! ( ꈍᴗꈍ)