ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
24. Pandangan anak jenius memang tidak biasa..


__ADS_3

Dua bulan kemudian, seminggu sebelum hari lahirnya Sera, pasangan ayah dan anak itu pindah ke vila.


Pendaftaran untuk Pra-TK tidak seketat TK dan sekolah dasar–yang mana harus mengikuti jadwal kalender pendidikan.


Reksa tidak sedang tergesa-gesa.


Hari itu, merayakan ulang tahun Sera, Reksa mengajak Sera datang ke panti asuhan untuk membagikan hadiah dan doa bersama. Meski Reksa bukan orang yang begitu spiritual, memang sifat alami manusia untuk mencari dan melakukan hal-hal yang membawa keberuntungan. Dengan kata lain, berkah.


Kalau mimpi yang dia alami bisa menuntunnya ke Sera, Reksa berharap kebaikan dari kegiatan hari ini akan tersalur pada putrinya.


Duduk di kursi sederhana di teras, Reksa menyaksikan anak-anak panti berlari dan tertawa.


Yang paling besar diantara mereka hanya berusia enam tahun. Sementara yang paling kecil masih menyusui, masih berusia beberapa bulan.


Setiap bulan ada saja anak yang ditelantarkan. Kadang saking penuhnya, bayi-bayi terlantar itu akan dipindahkan ke panti lain. Kadang ada yang menerima, kadang tidak.


Pengawasan lembaga sejenis Panti Asuhan anak beberapa tahun terakhir jadi sorotan setelah terungkapnya kasus ‘Panti Angker’, atau begitu sebutan masyarakat.


Kasusnya terkenal karena melewati batas moral kemanusiaan. Anak-anaknya diberi makananan kadaluarsa, tidak terurus, dan dianiaya. Anak-anak di sana di biarkan mencari makanan sendiri di tumpukkan makanan kadaluarsa itu. Sampai ada yang tertimbun di dalamnya.


Pemeriksaan lanjut sampai menemukan kuburan-kuburan bayi di salah satu ruangannya sampai tidak terurusnya.


Panti Angker itu mungkin bukan satu-satunya. Mungkin masih banyak yang tidak terungkap di luar sana.


Kebanyakan anak yatim-piatu besar dengan pilihan hidup berada di tangan mereka; namun pilihan itu terbatas. Setelah anak-anak ini tumbuh sedikit besar, mereka akan menyadari bahwa yang ada di sekeliling mereka tidak lebih dari setetes air di lautan.


Reksa memperhatikan Sera yang sedang menceritakan dongeng yang ia pelajari di sekolah pada anak-anak di sekelilingnya. Meski anak-anak yang mengelilingi Sera berusia jauh lebih tua darinya, pengetahuan seperti membuat Sera jadi lebih peduli. Jadi lebih mengayomi pada anak di sekitarnya.


Hal yang sulit dicapai meski sudah bisa diduga. Yang Sera lakukan bukan berbagi sederhana, bukan sekedar meminjamkan barang.


Seumur hidupnya–selama 30 tahun kurang ini, mungkin ini adalah satu-satunya hal baik yang Reksa kerjakan untuk orang lain tanpa motif buruk di baliknya.


Sepanjang hari itu, Reksa duduk mengobrol dengan Kepala Panti. Selain waktu Sera datang meminta botol minumnya, dia tidak menghampiri Reksa lagi.


Reksa pikir, mungkin dia kembali dilupakan, seperti waktu pertama kali Sera mulai sekolah.


“Anak memang suka asik sendiri saat berkumpul dengan sebayanya.” hibur Ibu Kepala Panti yang duduk di sisinya, menyadari dengan jelas raut terpukul di wajah Reksa.


Reksa balas tersenyum.


Sebelum kemari, Reksa mengatakan bahwa anak-anak ini tidak memiliki ibu dan ayah.


Saat Reksa mengatakan, “Mereka gak tahu dimana mama-papa-nya.”


Ekspresi Sera saat itu seperti menemukan penemuan baru yang mencengangkan.

__ADS_1


Reksa menjamin dengan keberadaan dirinya, Sera boleh melakukan apa saja yang dia suka. Tapi bukan berarti dia mau Sera tumbuh jadi anak yang tidak mengerti.


***


"Gak boleh lebutan." Sera menggeleng pelan dengan telunjuk terangkat; meniru gerakan yang gurunya pernah lakukan. Mata bulatnya menatap lurus dengan tegas. Meski tidak kelihatan menyeramkan sama sekali. Anak di sekitarnya malah terkekeh-kekeh melihatnya.


"Halus sama-sama mainnya. Gantian." Tapi Sera tidak gentar dan menjelaskan lagi.


Setelah menerima jawaban positif, Sera lalu melanjutkan dengan bercerita kejadian-kejadian menarik di sekolahnya, seperti ketika dia menceritakannya pada Papa setiap malam. Sambil bercerita, tangannya aktif melipat kertas.


Sera memberikan lipatan pesawat ke anak di sampingnya sebelum membuat yang baru untuknya sendiri.


Papa-nya bilang, dia ingin saat Sera lahir, orang-orang berbahagia. Karena itu mereka datang kemari.


Anak-anak di sekeliling rumah Sera, punya ayah dan ibu. Hanya Sera saja yang punya Mama.


Karena itu orang-orang menatapnya dengan tatapan jahat.


Sera tidak bisa membayangkan seberapa banyak tatapan jahat yang anak-anak di sini terima ketika mereka tak punya ayah dan ibu.


Papa bilang anak-anak ini tidak punya ayah dan ibu. Sera bertanya ‘mereka kemana?’


Papa hanya bilang ‘nanti juga Sera tahu’?


Maksudnya apa? Sera tidak mengerti.


Sera masih tidak punya papa, sampai papa-nya datang sendiri bertemu Sera.


Kalau Papanya tidak mau, Sera akan sendirian.


Sera kecil menatap anak-anak disekitarnya tertawa dan berlari memainkan pesawat.


Mungkin mereka disini karena tidak ada yang menginginkan mereka?


Sera berlari ke salah satu anak dan bermain pesawat bersama.


Untuk hari ini saja, dia tidak akan memeluk Papa-nya. Setidaknya, tidak di depan anak-anak ini.


Sera merasakan bagaimana iri-nya dia ketika melihat anak lain berpelukan dengan ayahnnya di petang hari.


Dia tidak ingin anak-anak ini merasa iri padanya.


Sera tahu seberapa mengerikannya rasa iri itu. Dia sempat berpikir, kalau anak tetangga sebelahnya tidak ada, mungkin ayah anak itu akan mencari anak baru?


Di satu sisi, Sera berharap yang akan jadi ‘anak baru’ itu adalah dirinya. Dia sering membayangkannya; karena ayah anak itu selalu menatap Mama Sera. Mungkin dia mau jadi ayah Sera?

__ADS_1


Untung saja Papa datang.


Hanya setelah sekolah dia mengerti, apa yang bukan miliknya, maka bukan miliknya. Dia tidak boleh merebutnya, kecuali orang lain memberikan atau meminjamkannya.


Orang lain yang belajar ini di sekolah juga tidak akan berpikir untuk merebut Papa-nya. Tentu saja, Sera juga tidak akan meminjamkan Papa, apalagi memberikan Papa pada orang lain.


"Kamu skolah gak?" tanya Sera pada anak lelaki yang di rasa paling tua.


"Sekolah. Aku kelas satu SD."


Sera mengangguk-angguk. Pantas saja barusan anak ini menengahi. Dia memiliki sifat serupa seperti kakak-kakak di Sekolah Sera.


"Yang lain sekolah?" tanya Sera lagi. Anak laki-laki itu tertawa mendengarnya.


"Mereka ngga sekolah." dia lalu menjelaskan: karena usia mereka belum cukup untuk masuk SD; masuk SD tidak bayar sama sekali. Mereka hanya kesulitan dengan material sekolah, seperti buku, tas, sepatu, dan sejenisnya.


Sayangnya Sera tidak mendengar dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


***


Sore itu, sepulang dari panti asuhan, Reksa mendengar putrinya berkata dengan serius:


"Papa, meleka halus skolah."


Mereka siapa? Anak-anak panti?


"...." Sepertinya efek simpatinya terlalu besar? "Sekolah? Kenapa?"


"Papa uang banyak?"


Reksa bukannya tidak punya uang untuk menyekolahkan anak-anak panti. Tapi dia bukan orang yang oh-sangat-pemurah sampai melakukan itu? Sekali-sekali bisa, tapi kalau terus melakukannya, peluh dan keringat yang dia hasilkan malah habis di pakai untuk menghidupi orang lain?


"Tapi uang Papa kan untuk Sera?"


Pernyataan itu seperti mengejutkan Sera. Dari wajahnya, putrinya mungkin berpikir 'oh benar juga, aku harus bagaimana?'


"Sera mau mereka sekolah?"


Sera mengangguk.


Apapun sebab dan alasannya, Reksa merasakan kebanggaan dalam hatinya mendengar putrinya mengusulkan hal yang tidak terpikirkan untuk anak-anak. Mungkin ini yang dinamakan sudut pandang anak jenius? Mungkinkah Sera merasakan keprihatinan untuk mereka dan berpikir untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah?


"Oke, nanti Papa pikirkan."


Hanya saja hal ini harus di pertimbangkan dengan matang dan terencana. Setidaknya, dia mungkin bisa memilih anak-anak khusus untuk di sponsori.. misalnya anak dengan bakat khusus. Yah..

__ADS_1


****


__ADS_2