ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
35. Dikira hanya cemberut, kenyataannya...


__ADS_3

Begitu pulang, Sera langsung berlari ke kamar. Usaha Bi Sri dan yang lain untuk menghibur dan membujuknya tidak membuahkan hasil. Wana kembali ke kantor setelah menerima mainan dan puding pesanan.


Bi Sri hanya bisa mengelus kepala Sera. Gadis kecil itu menolak bahkan sentuhan pengasuh favoritnya itu. Keinginannya saat itu hanya satu: Papa.


Sekalipun di bujuk liburan ke taman bermain, atau misalnya diperbolehkan makan makanan favorit selama sebulan, gadis itu hanya bergeming.


Kadang sikapnya yang seperti ini membuat Bi Sri khawatir. Nona kecilnya lebih dewasa dari anak lain, namun sisi pendiamnya terlalu bahaya untuk dibiarkan sendirian.


Bi Sri melirik ke Shain. Menerima isyarat itu, Shain mengangguk. Bi Sri lalu keluar, meninggalkan Sera sendiri untuk sementara waktu. Dia berniat untuk masak menu favorit Sera untuk makan malam kali ini.


***


Sera pikir ada yang salah dengannya


Dadanya bergejolak ingin marah. Dia ingin menghancurkan seisi ruangan. Dia ingin melempar boneka-boneka di kamarnya keluar jendela dan menggunting semua kemeja Papa-nya. Dia takut menampar tangan Bi Sri barusan kalau dia tidak menghindar dengan cepat.


Kenapa dia seperti ini?


Dia sungguh bukan anak baik.


Mungkinkah ini salah satu hal kenapa Papa-nya ingin meninggalkan dia? Hanya Papa-nya tidak bilang saja dan merencanakan semuanya diam-diam.


Dia merasa Kak Shain yang berdiri di belakangnya kini sedang menertawakan dirinya. Mungkin Bi Sri juga menilai Sera menyebalkan dalam hatinya.


Tapi Sera berpikir lagi. Tidak mungkin, kan. Dia tahu Kak Shain seperti apa. Dia juga tahu Bi Sri seperti apa. Dia juga tahu papa-nya seperti apa.


Papa-nya jelas bilang yang disayangi sedunia adalah Sera!


Tapi Papa-nya malah bersama perempuan itu. Mamanya yang di alam sana pasti menangis karenanya.


Pengkhianat!


Sera merasakan pertama kali perasaan benci yang dalam di hatinya. Ayahnya tidak ingat pada Mama-nya sama sekali dan malah pergi mencari orang lain.


Sera tidak bisa menggambarkan kekecewaan dalam hatinya. Dia mengingat kembali masa-masa dia masih tinggal dengan Mama-nya. Sudah banyak waktu berlalu, dia hanya ingat momen waktu Mama-nya menangis sendirian.


Kemana Papa-nya waktu itu?


Sera merasa bayangan papa-nya yang tak terkalahkan mulai runtuh.


Dulu Sera tidak berpikir demikian. Tapi sekarang dia sudah besar, dia sudah bisa mengerti beberapa hal.


Sera menenggelamkan dirinya dalam selimut tanpa suara. Alangkah bagusnya kalau dia pergi bersama Mama saja.


***


Sebelum jam makan malam, Reksa sudah sampai di rumah. Hal yang sangat sulit dia lakukan di masa sibuk ini.


Namun dia tidak melihat sosok kecil yang selalu berlari untuk menyambutnya kali itu.


Reksa mengerti, namun di sisi hatinya dia merasa sedih. Bi Sri membantunya mengemasi jas dan tasnya.


Reksa tidak perlu bertanya sebelum Bi Sri melapor.


“Nona Sera terus dikamarnya dan ngga keluar sama sekali. Dari pas datang sampe sekarang, Nona hanya tiduran di kasur.”


“....Sera ngga bilang apa-apa?”


“Nona cuma diem di kamar, Pak.”


Sisi Sera yang pendiam Reksa temukan sudah sejak lama. Dia hanya berpikir bahwa hal itu karena Sera jarang terekspos dengan lingkungan sekitar dan kurang sosialisasi. Sera juga masih sering menangis waktu sedih.

__ADS_1


Namun segala hal yang menyangkut Mama-nya, akan membuat Sera jadi pendiam seketika. Hal yang sama pernah terjadi waktu Reksa janji menjemput. Sera menunggu di halaman, bersama satu anak dan satu ibu yang sedang menunggu jemputan. Biasanya Sera akan menunggu di kelas bersama Bu Guru, namun karena tak sabar, Sera menunggu di luar. Bi Sri waktu itu pergi sebentar memeriksa jadwal kegiatan TK untuk hari Kamis; karena ada satpam yang berjaga, dia jadi tidak khawatir.


Namun tak di sangka, konflik tetap terjadi. Anak yang menunggu bersama ibunya itu mengatakan bahwa Sera tidak punya ibu. Hal itu tidak salah, namun Sera kecil merasa tersinggung.


Reksa di panggil datang ke sekolah karena Sera mendorong temannya jatuh. Mungkin ada masalah rumit yang lebih jauh, mungkin juga ada kata-kata yang menyakitkan sampai Sera berbuat begitu. Reksa tidak menyalahkannya selama Sera bukan melakukannya karena ingin menindas, misalnya.


Pertengkaran ringan antara anak kecil bisa terjadi dan itu bukan hal aneh. Tapi Reksa menerima laporan dari gurunya. Bahwa Sera mendorong jatuh anak itu, tepat ketika sebuah mobil hendak memasuki gerbang sekolah.


Untung saat itu posisi sopir tidak sedang melaju lambat, dan dia memperhatikan belokan dengan hati-hati.


Mobil berhenti lima senti tepat di sisi muka anak itu, membuat keadaan kacau seketika.


Ketika di bawa ke kantor, anak itu menangis dan Sera juga ikut menangis. Orangtua menuntut Reksa untuk bertanggungjawab.


Tidak akan ada yang menyangka kalau Sera melakukannya dengan sengaja; bahkan lebih buruk lagi–dengan perhitungan.


Reksa tidak berani menilai bahwa Sera melakukannya dengan sengaja. Di sudut hatinya, dia membela diri. Kalau Sera melakukan itu karena masih kecil, maka ini masalah serius. Namun dia juga berpikir, anak kecil yang mengatakan hal buruk ke Sera sama halnya—tak boleh di sepelekan. Meski berat masalahnya berbeda.


Reksa langsung menyeleaikan masalah itu dan membayar uang dengan jumla besar. Namun dia juga menuntut permintaan maaf atas kata-kata si anak kecil.


Reksa hanya minta pada ibu si anak supaya anak itu pindah sekolah. Hal yang konyol dan mengejutkan. Namun dengan uang yang Reksa serahkan, mereka menerima.


Masalah itu akhirnya selesai.


Hanya saja Reksa tidak berani merasa lega. Mimpi lama yang telah dia lupakan akhirnya dia ingat lagi.


Reksa berbicara panjang dengan Sera malam itu, meski dia ragu apakah Sera mengerti. Reksa tetap mencoba.


Sejak saat itu, dia selalu hati-hati mengenai topik ini, pun orang-orang di rumah.


“Pak mau makan sekarang?” tanya Bi Sri. Reksa hanya mengayunkan tangannya sebelum mengunjungi kamar Sera.


Dia menyalakan lampu dan berjalan ke sisi ranjang dengan langkah perlahan. Dia menarik selimut yang menutupi dagu Sera, khawatir napasnya tertutup.


Reksa mengusapnya lembut, sebelum menunduk dan mencium puncak kepala putrinya.


Begitu keluar dari kamar, Shain yang sudah ganti dengan pakaian santai langsung dipanggil ke ruang kerja Reksa.


Shain mulai laporan ketika awal masuk kelas. Mulai dari teman sekitar, keadaan, dan guru-gurunya. Jumlah staf dan riwayat para pengajar di sekolah sudah ada di tangan Reksa.


Dia juga melapor nama game yang hari ini dimainkan. Reksa kenal. Sebenarnya demi mengontrol putrinya, Reksa menginstal dan memainkan game yang sama. Dia juga berada di aliansi yang sama, namun keberadaannya lebih seperti pemain hantu. Dua hari terakhir ini dia tidak bisa online karena kesibukannya.


Akhirnya sampai di topik ketika keduanya memutuskan untuk berangkat ke kantor Reksa.


“...” Shain mengernyitkan wajahnya, ekspresi yang hampir tidak pernah Reksa lihat.


“Saya gak bisa mengulang obrolan di kantor sebelumnya. Tapi saya ada rekamannya.” baginya, kata-kata itu terlalu jahat untuk diucapkan pada anak enam tahun.


Reksa sempat heran mendengar itu. Dia menerima dokumen rekaman ke ponselnya namun tidak langsung mendengarkan.


Setelah Shain undur diri, barulah Reksa membuka rekaman itu.


Urat biru terlihat jelas di lengan Reksa. Dia duduk mendengarkan dengan earphone, sebelah tangannya menopang dagu, sementara matanya fokus ke kamera pengintai di kamar Sera. Percakaan itu hanya berlangsung beberapa menit, namun begitu berhenti, rekaman mengulang otomatis.


Dia hanya mendengar Shain menyela, namun gadis kecilnya tidak terdengar suaranya sama sekali di rekaman itu.


Reksa merasa marah pada dirinya sendiri, mengingat wajah Cecil yang nampak biasa; membodohinya di siang bolong. Dia sendiri mungkin tidak akan percaya sepenuhnya kalau Shain mengatakan hal ini dengan mulutnya. Namun buktinya jelas ada.


Meski dia tetap akan memeriksanya kalau tidak ada bukti sekalipun, Reksa tidak akan merasa semarah ini.


Sungguh konyol.

__ADS_1


Reksa menghembuskan napas panjang. Dia bersandar di kursinya dan diam untuk waktu yang agak lama, sebelum akhirnya dia menelepon Joe.


Joe yang masih di kantor, menerima panggilan dari bos-nya. Hatinya sudah siap sejak bos-nya pulang duluan.


'Akhirnya bos telepon juga.'


Joe sebagai sekretaris handal siap untuk membereskan kekacauan apa pun. Dia tidak lagi panik.


“Katanya restoran Pesisir Pantai itu populer dan enak banget?”


“...” Joe yang mengira bos-nya akan langsung meledak, tidak menyangka akan menerima pertanyaan dengan nada yang begitu tenang. Mungkinkah bos-nya mau mengajak seseorang kesana? Nona Cecil? Nona Sera? Acara keluarga?


“Iya, Bo–Pak. Restorannya cukup populer dan sering dikunjungi oleh influencer.” Joe mengetik pencarian mengenai restoran Pesisir Pantai. "Bapak mau booking disana? Restoran Pesisir Pantai yang paling dekat ada di cabang..." biasanya yang melakukan ini adalah Wana. Tapi Joe mau melakukannya dengan senang hati, kalau gantinya dia bisa terhindar dari masalah yang biasa bosnya hasilkan.


“Katanya Restoran itu ngga halal.”


“Mana mungkin, Pak. Restorannya udah sertifikasi, kok, Pak.” Joe langsung menjawab. Dia sedang membuka website restoran, tentu saja dia tahu.


“....” Reksa tidak menjawab.


Joe yang menerima hening itu merasa punggungnya mendingin seketika. Dia bukan termasuk mayoritas, namun dia paham betul betapa sensitifnya perihal makanan halal/haram ini. Sekalipun hal itu tidak benar, kalau tersebar rumor, habislah.


Dan bos-nya ingin menjebak…


Joe menahan napasnya.


“Katanya Restoran yang begitu ada di daerah Kota K.”


Holy ****. Bos-nya sungguh keji dan tiada ampun.


Itu daerah yang padat dengan pondok pesantren.


“Sekalian buat artikel terkait.”


“Baik, Pak.” Sejujurnya ini bukan kali terakhir Reksa bersikap kejam.


Hanya biasanya sikapnya berdasar untuk membela diri dan memukul musuh yang hendak menyerang dia.


Joe mencari tahu siapa pemilik Restoran Pesisir Pantai ini. Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa yang berani mengganggu singa mengerikan ini…


Cahya Wicaksono.


Wicaksono? Kenapa dia seperti kenal nama ini?


Joe membulatkan mata dan tersadar. Bukankah Nona Cecil memiliki nama belakang Wicaksono?


Joe menggelengkan kepala. Benar-benar teknik menikam yang keji! Joe memuji bosnya dalam hati.


Keluarga Wicaksono memegang posisi di kursi Dewan Perwakilan. Selain menjadi abdi negara, keluarga Wicaksono juga memiliki usaha yang tak lain adalah restoran. Pesisir Pantai tidak langsung terkenal, namun namanya naik sedikit demi sedikit dan cabangnya di pulau J sudah ada sekitar seratusan. Katanya mereka berniat untuk buka cabang baru di luar pulau.


Joe tidak tahu apa yang terjadi. Bosnya masih menjalin kerjasama dengan keluarga Wicaksono bahkan sampai detik ini.


Dia yakin bos-nya berniat untuk menggali jebakan untuk mereka.


Dari informasi(gosip) yang dia terima, katanya bos-nya sempat minum teh bersama dengan Cecil.


Joe tidak tahu apa yang terjadi, namun dia yakin satu hal: Nona kecil.


Ada satu ketakutan dalam diri Joe. Bos-nya tidak akan mengorbankan perusahaan demi Nona kecil, kan?


Kalau iya, dia hanya berharap posisinya tidak akan berubah dan gajinya tidak di ganggu.

__ADS_1


***


__ADS_2