ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
41. Daripada membawa sengsara orang lain...


__ADS_3

Atas desakan Reksa, kejadian itu di sorot media, dengan menyembunyikan nama sekolah dan meng-highlight kasus serta pelaku.


Pelaku adalah seorang pencuri yang dicurigai melarikan diri beberapa tahun lalu. Reksa memeriksa kembali berita itu, dan dia kemudian sadar... Bahwa dia pernah mendengarnya langsung di tv dengan judul 'Pencuri yang Melarikan Diri'. Tapi apa yang dia lakukan? Dia  mengabaikannya begitu saja, menganggap kasus biasa. Alasan kenapa kasus pencurian biasa itu bisa masuk berita, rupanya karena pemeriksaan psikologis pelaku memiliki tendensi seksual terhadap balita. Dua divisi kepolisian memiliki pendapat berbeda. Divisi pertama, karena pelaku melakukan kejahatan pencurian, hukumannya denda biasa dan di tahan sekian waktu; sesuai tuntutan korban dan hukum yang berlaku. Mereka menolak untuk memberitakannya ketika pelaku melarikan diri.


Divisi kedua bagian psikologis kriminal, menuntut untuk menahan dan memberikan bimbingan atas mental pelaku yang tidak normal.


Akhirnya dia masuk berita saat melarikan diri.


Namun tidak di sangka, salah satu anggota keluarga pelaku mengabaikan himbauan polisi dan membiarkan pelaku tinggal di rumahnya.


“Sepupu saya bilang dia mencuri, tapi waktu dia ditangkap, barangnya sudah dikembalikan kembali. Jadi saya pikir yaudah, biarin di rumah saya aja.” kira-kira begitu pengakuan sepupunya. Bersamaan dengan itu, korban pencurian sendiri tidak ingin memperpanjang kasus.


Sepupunya, berusia 24 tahun, adalah pekerja magang di minimarket.


Polisi juga tidak bisa menyalahkan, berhubung tendensi, artinya pelaku hanya ‘terpikirkan’, dan belum melakukan. 


Tapi siapa sangka, selama jangka waktu longgar setelah melarikan diri, memanfaatkan kelemahan hati sepupunya, pelaku mengganti foto di SKCK sepupunya dengan foto miliknya dan melamar ke Sekolahnya Sera sebagai tukang kebun pengganti sementara. Sekolah sendiri tidak akan repot-repot memeriksa data SKCK untuk pegawai sementara; apalagi sadar bahwa orang itu adalah palsu. 


Selama jangka waktu pelarian, terdapat dua mayat balita yang di temukan di kebun sisi jalan dengan bekas dinodai. Areanya masih satu kecamatan. Namun karena tempatnya random, kurang barang bukti dan tiada saksi, kasus tidak dilanjutkan.


Hanya dianggap sebagai ketidakberuntungan.


Pun keluarga korban tidak menuntut.


Reksa mengakui bahwa kepolisian negara payah dalam menyelediki kasus sejenis ini.


Pun sampai sekarang tidak ada informasi apakah pelaku pernah melakukan kejahatan tersebut.


Reksa menatap dokumen dengan kantung mata yang sudah agak menghitam. Jam menunjukkan pukul dua pagi, namun dia masih berpikir keras.


Kalau pelaku itu di tuntut, dengan hukum ringan di negeri ini, penjara beberapa tahun dan denda akan terlalu ringan jika di bandingkan dengan bencana yang dibawa. Di belakang, Reksa tidak tahu, mungkin sudah ada korban lain?


Berhubung pria ini sudah terganggu psikologisnya, Reksa pikir sekalian saja rusakkan mentalnya dan masukan ke RSJ.


Sayang sekali, Reksa tidak punya belas kasihan untuk meluruskan otak penjahat ini.


Waktu itu, kalau Shain tidak bersama Sera, apa yang akan terjadi? Dua anak kecil tidak akan bisa melakukan apa-apa di hadapan orang dewasa. 


Pria itu jelas sudah berniat dari awal untuk melakukan kejahatan dengan berani. Melakukan di jam sekolah, di lingkungan sekolah, dan pada masyarakat sekolah. Tidak ada takut sama sekali. 


Kalau Abima adalah anak yang penakut, anak itu mungkin akan menurut meski dengan terpaksa. 


Sera…


Reksa memijat dahinya gelisah.


Mimpi Reksa yang telah lama tenggelam kembali ke permukaan. Kalau Reksa tidak datang, Sera menjadi korban.


Kini Sera berlindung di balik punggung Reksa, beragam faktor juga merubah 'masa depan' di mimpinya. Sera selamat. Namun putrinya tidak jauh-jauh dari hal semacam ini.


Mungkinkah ini tanda-tanda supaya dia melakukan sesuatu untuk mengurangi predator anak di luar sana?


“....”


Kalau Sera dan Shain tidak datang, anak laki-laki itu (Abima), entah apa yang terjadi.


Reksa bersyukur dalam hati, dia masih di beri kesempatan untuk mengoreksi kesalahannya.


Kalau saja waktu dari awal mendengar berita dia ikut mencari, apa yang akan terjadi?


Tapi tidak ada kata ‘Kalau saja'.


Dia hanya bisa bergerak ke depan dan merencanakan yang terbaik. 


Reksa juga sadar bahwa dia tidak bisa membiarkan Sera tanpa pertahanan. Bagian dari doa, dia memohon kepada Tuhan supaya Sera dilindungi. Bagian dari usaha, dia akan mengerjakannya.


Bukankah putrinya bilang dia ingin belajar beladiri?


Reksa akan mendukungnya sepenuh hati.


****


Sera membuka buku catatan kecil di atas meja. Dengan tulisan yang masih belum stabil, Sera mengukir kata demi kata di atas kertas.


“Aku pingin bisa lindungin temen-temen aku.


Dari orang jahat.


Aku bisa lawan kalau orang jahat itu anak kecil.


Tapi kalau orang jahatnya udah besar, aku gak bisa lawan.”


Gadis kecil itu tidak menatap dua kali. Dia menutup buku dan meletakkannya di laci.


Seberapa sadar Sera? Sesadar dia bahwa Mamanya bisa pergi begitu saja, dia juga sadar bahwa Papa-nya bisa pergi tanpa pamit seperti itu juga.


Atau mungkin saja Sera yang duluan pergi.


Ini adalah hal yang tak bisa manusia ulik. Ketentuan tinggal dan pergi  berada di tangan Yang Kuasa.


Sera menggunting kertas jadi persegi panjang. 


Tapi apa gunanya manusia berusaha?


Artinya usaha-usaha kecil ini bisa merubah sesuatu.


Kalau tidak bisa merubah takdir seseorang, mungkin bisa mengubah 'suasana hati' Tuhan? Saat itu, mungkin keinginannya akan di kabulkan.


Sera menulis kalimat-kalimat pendek di kertas panjang itu sebelum melipatnya menjadi bintang. Sera menghabiskan waktu sepanjang sore mengisi toples kecil dengan bintang-bintang warna-warni.


Khusus untuk hari itu kursus Bahasa Inggris ditiadakan. 


Malam harinya, Sera di panggil ke ruang kerja Reksa.


Duduk di sofa kecil, Sera memperhatikan Papanya menyerahkan beberapa lembar kertas berisi informasi olahraga.


Sera membaca judulnya satu demi satu, dan dia memperhatikan gambar yang tertera. 


“Kamu mau belajar beladiri, kan?” pancing Reksa.


“Ya!” Sera berseru.


“Coba pilih salah satu dari lima disitu.”


Termasuk di dokumen itu, Reksa menyertakan beladiri populer juga. Bukankah putrinya mau jadi atlet?


Pencak silat, karate, taekwondo, aikido, muay thai, laijutsu.


Sera bilang dia memang ingin beladiri, tapi dia tidak punya pengetahuan soal mana yang lebih baik.


“Hm.. Pa, Sera pilih yang mana aja?”

__ADS_1


“Mau semuanya?”


“...Oh,, yaudah?” Sera setuju masih dalam kebingungan.


Nak, mana bisa kamu ngelakuin semuanya? Apalagi jadi atlit semua cabang beladiri? “...Pilih yang kamu suka aja.” kata Reksa pelan.


Oh, tapi Sera sungguh tidak tahu.


Sera minta belajar beladiri hanya atas perasaan sesaat saja. Dia memang ingin, tapi dia kira Papa-nya tidak memberi izin secepat ini. 


Waktu itu apa yang terlintas di pikirannya?


Ketika melihat tukang kebun itu menatap Khalia dengan kotor, Sera ingin melakukan sesuatu.


Dia ingin bisa melindungi.


Namun, setelah terjadi sesuatu pada Abima, Sera terpukul. Dia sadar dia tak bisa apa-apa. Ada satu titik di dirinya yang berkata, biarkan saja.


Ada Papa, ada Shain. Sera akan baik-baik saja.


“Pa, kenapa Sera belajar ini? Sera gak akan bisa jago.”


Reksa sadar bahwa putrinya mengalami kebimbangan dalam hidup. Berhubung Reksa tidak pernah punya anak sebelumnya, dan tidak ada pengalaman, dia menganggap bahwa kebingungan dan mental Sera saat ini adalah normal untuk anak kelas 1 SD.


Meski banyak hasil penelitian dan artikel soal anak di internet, hal itu tidak selalu bisa dijadikan acuan.


“Bukannya sama aja? Sekarang kamu sekolah untuk apa? Supaya di masa depan kamu bisa menentukan arah yang lebih baik.


Memang gak akan jadi jaminan, tapi kamu sekolah dan belajar yang tinggi bisa menambah peluang dan kesempatan. Kamu jadi punya banyak pilihan.


Sekarang kamu belajar beladiri, belum tentu kepake juga, kan?


Tapi kalau ada bahaya, kamu bisa pilih: diem, atau melawan.


Tapi kalau kamu engga belajar? Kamu gak bisa milih.


Kamu cuma bisa nerima.


Baik buruk hasilnya, kamu gak bisa menyalahkan siapa-siapa.”


Sera diam mencerna kalimat itu. Meski dia tidak mengerti kebanyakan dari isinya, Sera tahu bahwa pilihannya untuk tidak belajar adalah salah di mata Papa-nya.


Reksa berpikir sesaat, “Contoh deh, kemarin minta papa buat ngaji dan hafalan supaya apa?”


“...Biar selamat di hari akhir?” Sera hanya mengulang apa yang Bi Sri ajarkan.


“Iya kaya gitu. Meski belum tentu bakal selamat, tapi ada usaha. Kalau engga usaha sama sekali, waktu hujan payung pun ngga akan punya.”


Reksa merasa percakapan ini tidak akan berakhir dengan mulus. Sera juga belum tentu mengerti. Bahkan masih banyak orang dewasa yang masih tersasar: dia sendiri misalnya.


Sera masih kelas 1 SD. Masih panjang jalannya.


“Kamu gak perlu mikirin ini. Cukup pilih mau atau engga aja. Tapi kalo udah milih, gak bisa di tarik lagi, ya.”


“Oke, kalo gitu Sera mau.” Melihat usaha Papa-nya bicara panjang-lebar, dia tidak mau mengecewakan Papa-nya.


Kedepannya, dia lihat saja nanti.


“Yang mana jadinya?” tanya Reksa.


Sera menyerahkan selembar kertas pada Reksa.


“Tarung Drajat? Yakin?”


Kedengarannya keren?


Sera mengangguk mantap.


“Oke, kalau begitu, mulai besok Papa carikan kamu pelatih Tarung Drajat. Jangan mundur, ya?”


“Sera gak akan mundur.”


“Inilah Putri Papa.”


***


Esok paginya, Sera kembali ke sekolah seperti biasa. Karena murid kelas satu baru mulai belajar beberapa bulan, anak-anak sekitar tenang-tenang saja setelah kejadian beberapa hari lalu.


Hanya kakak-kakak kelas dan para orangtua yang sempat memperbincangkannya.


Sementara orang yang terlibat, Abima–dari Khalia, Sera pun tahu bahwa Abima akan pindah sekolah.


Alasannya sederhana, bukan karena Sekolah tidak bisa memperbaiki diri;  tapi karena orangtua Abima tidak percaya lagi pada sekolah, dan merasa terpukul karena telah mengabaikan putra semata wayangnya selama ini.


Mempertimbangkan psikologis Abima, tidak mungkin dia tetap akan sekolah, bertemu dengan tempat kejadian buruknya setiap hari.


Sera memeluk tas ranselnya erat di kursi. Di dalamnya terdapat toples kecil yang berisi bintang. Dia berniat untuk memberikannya pada Abima, tapi tidak bisa.


Khalia yang menyadari kemurungan Sera, bertanya dengan gigih sampai mendapatkan jawaban.


“Kamu mau kasih hadiah ke Abima?”


“Em, ya. Hadiah perpisahan gitu.” kata Sera sedikit gugup.


“Hey, Daud!” Khalia tiba-tiba berseru ke belakang kelas.


Yang di panggil sedang menempelkan gambar karya jam sebelumnya di mading.


“Apa panggil-panggil?” kata Daud ketus.


Tapi seperti biasa, Khalia cuek. Dalam hal mengabaikan kesinisan orang, Khalia dan Sera ahlinya.


“Jenguk Abima, yuk!”


“Haah~?”


Daud, meski tidak langsung terlibat dan tidak pernah kenal Abima, orangtuanya sempat ribut karena kejadian kemarin-kemarin. Dia hampir pindah sekolah juga gara-gara hal ini.


Meski dia tidak tahu detailnya, Daud mengerti bahwa Abima habis dijahati.


“Dia kan mau pindah?” kata Daud akhirnya memberi perhatian pada Khalia.


“Sebelum pindah, Sera mau kasih hadiah perpisahan.”


Mendengar itu, kuping Daud langsung menajam.


“Hee… hadiah apa sih? Mana coba aku lihat?”


Daud menghampiri Sera. Di sampingnya, Khalia berdiri ikut memandang ingin tahu.


“Aku juga mau kasih sesuatu. Tapi aku gak tahu harus kasih apa.” bujuk Khalia.

__ADS_1


'Coba lihat punyamu, barangkali jadi inspirasi?' kira-kira begitu arti dibaliknya.


Sera akhirnya mengeluarkan toples dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.


“Wow…  lucunya!”


“Eh, cewek banget  hadiahnya.” melihat isinya bintang warna warni di dalam toples dengan pita merah muda, Daud mendengus. “Cuma kasih kertas bintang apa bagusnya?”


“Di dalemnya ada tulisan.” Sera menjelaskan.


“Apa?!”


“Kamu bikin ini semuanya?!” Khalia berseru kaget.


“Yeah.”


“Ada berapa totalnya? Kayaknya banyak banget?”


“Ini kayaknya ada deh seratus.”


Daud menyeringai sambil menambahkan. “Ini mah cinta sejati.”


Sera yang hendak kesal dengan Daud, hendak membalas, namun di dahului Khalia. “Aku juga mau bikin ah!”


“Gak akan sempat kalau bikin sekarang.” Daud mendelik.


“Bisa, aku minta anak-anak buat nulis sekarang.” kata Khalia sambil mengeluarkan buku catatan. 


“Mereka gak kenal sama Abima, juga.”


“Gak masalah? Aku minta mereka nulis apa aja. Masih ada dua jam lagi sampe pulang sekolah.”


Khalia berniat memanfaatkan selang waktu pergantian pelajaran untuk mengisi buku.


Pada akhirnya, hanya dua lembar buku catatan yang terisi, isinya termasuk dari kelas Akmal juga.


Khalia mengabaikan Daud yang tertawa mengejek.


Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Sera menemukan dirinya berdiri sendiri di sisi mobil dengan toples dan ‘surat’ berisi tulisan dari anak-anak kelas.


“Bukannya kamu mau ikut?” Sera menatap Khalia datar.


“Aku ada les, maaf.” Khalia mengerutkan keningnya. Untuk seusia mereka, pertemanan adalah hal yang penting. Namun, ‘hal benar untuk di lakukan’ berdasar atas keputusan orang tua.


Karena orang tuanya sudah menjadwalkan les, mereka tidak bisa menolak sembarangan.


“Tapi ini kali terakhir kamu ketemu Abima.” bujuk Sera.


“Aku bisa  minta nomor telepon Abima ke Abi-ku.”


Daud yang menyaksikan di sisi akhirnya melangkah maju.


“Ayolah, aku lagi bosen. Aku ikut aja.”


“Oke.” Khalia yang menyetujui sebelum Sera sempat menolak.


Akmal yang baru keluar kelas diiringi Roger, melihat tiga kerumunan kecil dan menghampiri.


“Mau ke rumah Abima?” dia sudah dengar beritanya dari Roger.


“Em. Kamu mau ikut?” tanya Sera penuh harapan.


“Aku udah ketemu dia. Bye-bye.” Ayah Akmal sempat kerjasama dengan Ibunya Abima, jadi hubungan mereka cukup normal untuk saling berkunjung di saat seperti ini.


Sera menatap Akmal yang pergi masuk ke mobilnya tanpa memandang ke belakang.


“Berangkat gak, nih?” desak Daud yang mulai tak sabar.


“Oke.” Sera akhirnya menghela napas panjang.


Daud masuk dan duduk di kursi belakang bersama Sera, sementara pengasuhnya duduk di depan bersama Shain.


Rumah Abima terletak di perumahan Triya Abadi. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota, namun letak perumahannya sendiri masih di tepian. Hanya samar-samar suara kendaraan yang terdengar dari situ.


Rumahnya tiga lantai berwarna krem, dengan pagar besi panjang berwarna abu. Halamannya kecil namun ruangan di dalamnya luas. Menurut asisten rumah tangga yang menyambut mereka, rumah ini hanya di gunakan sementara berhubung pekerjaan orangtua Abima.


Sera dan yang lain menunggu di ruang tamu di halaman belakang. Menghadap gazebo dan kandang burung beo di tengah-tengah. Beragam tanaman dan kolam ikan menghiasi, memanjakan mata di antara tembok-tembok rumah yang membosankan.


Daud duduk santai sambil menyesap jus jeruk perasnya. Dengan asik dia menikmati camilan yang di suguhkan, seperti dia ada di rumah sendiri. Sementara Sera duduk menunggu dengan posisi disiplin. 


Tak berapa lama, terdengar derap kaki dan seruan pelan. Abima muncul dengan kaos panjang dan celana selutut. Rambutnya bergoyang pelan dan anak laki-laki itu nampak sedikit terengah, membuat pipinya sedikit memerah. Berkebalikan dengan kekhawatiran Sera, keadaan Abima terlihat baik.


“Sera!!” anak laki-laki  itu berseru senang. Dia berlari melewati meja dan langsung memeluk Sera.


“Sera!” serunya lagi.


“Um!!” Sera yang menerima pelukan tiba-tiba itu langsung balas memeluk balik. 


“Aku senang kamu datang!” kata Abima dengan nada senang yang tak bisa disembunyikan.


“Um, aku juga.” Sera ikut membalas dengan nada serupa. Keduanya begitu rekat, tidak seperti anak yang baru kenal kemarin.


“Katanya kamu mau pindah.” kata Sera sedikit sendu.


“Um..” Raut wajah Abima langsung berubah sedih.


“Aku kesini mau ngasih sesuatu…”


“Aku masih lama kok, pindahnya.” potong Abima. Dia merasa begitu kalimat Sera selesai, Sera akan langsung pergi. “Aku masih … disini.. seminggu lagi. Ya, kan, Bi?”


“Uh..,” Bi Tata, yang di tanya tidak yakin menjawab bagaimana.


“...Itu.., harus menunggu jawaban Tuan dan Nyonya–,”


“Pokoknya, kamu main dulu aja sama aku. Main ke kamar aku, gimana?” kepala Abima berpaling dengan cepat, tidak repot-repot mendengarkan jawaban Bi Tata.


“??”


“Aku punya banyak mainan unik! Di bawa Mamaku dari luar negeri!”


Meski Sera tidak kekurangan mainan, dia tetap tertarik mendengarnya.


“Oke!”


Daud yang sejak tadi di abaikan, menatap kosong pada keduanya.


Daud: ini mah beneran cinta sejati.


Sampai Sera dan Abima naik ke atas, keberadaan Daud tidak di sadari sama sekali.


Daud: ....

__ADS_1


"Dek Daud ikut naik aja keatas, Bibi temenin?" Bi Tata menawarkan hati-hati. Takut anak satu ini terluka hatinya karena diabaikan.


Meski sedikit sakit hati, Daud tidak menunjukkannya di wajah. Harusnya dari awal dia tidak datang.


__ADS_2