
Sera bilang dia setuju untuk menanyakan apa saja pada Papanya. Namun dia memiliki pendapatnya sendiri.
Ada beberapa hal yang tidak bisa dia tanyakan langsung.
Misalnya seperti sekarang.
“Kalau Mamamu lagi gak ada, Papamu ngapain?” tanya Sera penasaran pada Khalia di jam menggambar mereka. Dia tidak pernah memiliki sosok keduanya dalam sekali waktu.
Kalau dia menanyakan hal ini pada Papa-nya, mana mungkin bisa di jawab? Sera tahu bahwa Papa-nya belum pernah menikah.
Khalia yang menorehkan warna merah di langit-langit pada kertas gambarnya berhenti sesaat dan berpikir.
“Hmm.” dia lalu memberikan warna hijau di pohon sebelum menjawab. “Gimana, ya. Abiku selalu kelihatan sedih kalo gak ada Ummi. Baju kotor numpuk, rumah berantakan.”
“Kamu gak ada… ART?”
“...Oh, ada sih. Tapi gak tahu kenapa Abi jadi kelihatan jelek kalau gak ada Ummi?” kata Khalia mengerutkan keningnya. Wajahnya kusam, janggutnya tidak terarah, setiap pagi bangun dengan berantakan. Khalia tidak mau di peluk Abi sama sekali.
“Oh, Daddy-ku juga sama.” kata Daud yang ikut nimbrung entah sejak kapan. Di pelajaran kesenian kali ini mereka menggambar dan mewarnai di ruang Seni. Dengan karpet dan meja kecil, anak-anak duduk lesehan.
Entah sejak kapan meja kecil Daud di geser dekat mereka.
“Daddy-ku super lebay. Dia langsung nangis tiap telepon Mommy. Bilang bahwa hidup menyedihkan tanpa Mommy. Padahal udah jelas dia bahagia bisa mancing sepanjang hari tanpa diomeli Mommy.” kata Daud dengan kehinaan yang jelas pada kalimatnya.
“Ini namanya natural. Daddy-ku gak bisa hidup tanpa Mommy-ku. Abimu gak bisa hidup tanpa Ummi-mu. Kalau ditinggal sehari sih masih normal.”
“Kalau seminggu? Sebulan? Setahun?” tanya Sera.
Daud menatap Sera dengan tatapan kasihan, merasa bahwa Sera tak tahu dunia ini.
“Kalau Daddy-ku biasa aja ditinggal setahun, berarti Daddy-ku sudah gak cinta Mommy.” kata Daud tegas sambil menorehkan warna oren pada roketnya. “Kalau aku punya orang yang aku sayang dan aku cinta, aku gak mau pisah sebentarpun,”
Daud memiliki cerminan dari orangtuanya yang harmonis. Melihat orangtuanya bahagia setiap hari dan selalu menebarkan kemesraan tanpa malu di depan anak-anaknya, Daud bermimpi dia juga akan seperti itu.
Topik berputar disana beberapa saat sebelum melompat ke pelajaran bahasa yang selalu jadi problematik. Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran bahasa daerah. Rasanya lebih sulit daripada bahasa Inggris. Namun anak-anak selalu tertarik dengan hal baru.
Sera mendengarkan dalam diam dan melanjutnya gambarnya. Dia menggambar pohon yang tinggi dan bunga kecil di samping. Orang lain hanya melihat bahwa gambar itu, hanya gambar tanaman biasa,
Sera berpikir Papa-nya seperti pohon ini. Berdiri tegak, melindungi dia yang hanya bunga kecil.
“....” haruskah dia menggambar pohon lagi? Melindungi bunga kecil tidak sulit sama sekali untuk pohon yang tinggi dan besar ini.
Tapi mungkin pohon besar ini kesepian? Dia tidak yakin sebenarnya. Papa-nya terlihat baik-baik saja tanpa sosok 'Mama' di sisinya? Papa selalu rapi, selalu tampan, selalu hebat.
Tapi orang dewasa banyak bohongnya. Sera tidak boleh melihat hanya dari satu sisi.
Sera berpikir serius sambil menyelesaikan gambarnya. Hingga pelajaran selesai, dia masih tidak menemukan solusi untuk masalahnya.
Sepulang sekolah hari itu, Sera menerima surat dari Abima. Tanpa mengganti seragamnya, gadis kecil itu langsung bergerak ke meja belajar dan membuka surat dengan tak sabar.
[Hai Sera, temanku tersayang.
Disini selalu panas, tapi kalau malam dingin. Kadang aku pingin balik lagi dan gak mau disini.
Tapi aku bisa ngobrol sama kamu, aku gak sedih lagi, hehe.
Ini kucing baru peliharaan aku.
Aku udah punya banyak temen disini.
Tapi aku kangen kamu.
Kamu temenku yang paling aku suka.]
Sera membaca pelan-pelan. Satu halaman terisi penuh dengan basa-basi dan beragam topik. Di dalam amplop surat itu tersemat foto anak kucing yang disebut Abima.
Sera kemudian ada ide. Dia bisa coba tanya Abima.
Gadis kecil itu menyiapkan kertas dan pena untuk menulis balasan. Setelah menullis baris pertama,
[Untuk Abima, teman yang aku sayang.]
__ADS_1
Sera berhenti.
Menunggu balasan tiga hari kemudian sepertinya terlalu lama. Sera tidak punya kesabaran untuk pertanyaan kali ini.
Gadis kecil itu lantas membuka ponselnya. Selain jam tangan pintar, dia memiliki ponsel sendiri.
Dia membuka ruang obrolan dan mengetik.
-Aku udah dapet suratmu.
Tak berapa lama, balasan langsung datang.
Abima temen: Betulkah? Hehe, aku tunggu balasan kamu.
Sera: Aku mau nanya dong
Abima temen: tanya apa
Sera: Dirumah cuma ada aku sama Papa. Menurutmu, Papa-ku butuh seorang Mama, ngga?
kali ini balasan datang agak lama.
Abima temen: kayaknya sih. Tapi kalau Papamu senang tanpa Mama ya gak usah.
Abima sudah dengar soal keadaan di rumah Sera, dan bahwa Sera hanya punya seorang Papa.
Tapi Abima tahu, Papa-nya Sera sangat hebat. Tidak kalah jauh dengan papa-nya Abima, lah.
Abima temen: tapi emangnya kamu pingin punya Mama baru?
Sera: aku gak apa-apa. Yang penting Papa-ku.
Abima temen: hm… yaudah tinggal punya mama aja? Papamu hebat pasti banyak yang mau jadi mamamu.
Sera: tapi aku gak suka sama perempuan yang deket dengan Papa-ku.
Sera mengingat kembali kejadian kemarin saat melihat Deanita. Eh, kakak itu terlihat baik. Tapi Sera tidak suka dengan bayi yang bersamanya.
Membaca jawaban itu, Sera langsung terpekur.
Benar juga. Biar Sera sendiri saja yang pilih.
Tiba-tiba masalahnya yang seperti tak terselesaikan jadi seringan debu.
Sera: makasih ya, hehe.
Abima temen: iya hehe. Suratnya cepet ditulis, ya.
Sera: oke.
Sera mengakhiri percakapan dan mulai menulis surat. Kali ini dengan perasaan ringan.
***
Reksa bertemu di kafe sesuai waktu perjanjian dengan Deanita. Kafe itu belum buka, dan baru selesai renovasi, dengan satu barista. Benar-benar baru dan belum ada pegawai sama sekali.
Deanita sudah menunggu di luar kafe saat Reksa tiba. Keduanya duduk dan mulai mengobrol ringan.
Reksa merasa bahwa tidak masalah kalau keduanya jadi teman.
“Gimana belakangan ini?” tanya Reksa setelah barista mengantarkan kopi ke meja mereka.
“Hm.. baik. Saya sempet ke kantor polisi juga tapi masalah engga di perpanjang dan langsung di bereskan di tempat.” Deanita sendiri kaget waktu pihak keluarga si pria bilang tidak akan memperpanjang masalah. Wanita itu tidak tahu bahwa internet sudah ramai membicarakan si pria. Kalau masalah ini di perpanjang, mereka hanya akan jadi lelucon massa.
Deanita sendiri merasa beberapa hari ini cukup tenang. Dia punya intuisi bahwa hal ini, Reksa yang lakukan. Namun karena Reksa tidak mengangkat topik soal ini, Deanita juga tidak berniat membukanya.
Namun dalam hati dia bersyukur.
“Saya panggil… Bu Dea?” kata Reksa agak canggung.
“Em, panggi saya Deanita aja.” kata Deanita cepat.
__ADS_1
“Oke, kalo gitu kamu bisa panggil saya Reksa.”
“Oke, Reksa.”
keduanya meninggalkan formalitas dan bicara dengan lebih santai.
“Seperti yang kamu lihat, kafe ini masih benar-benar baru. Saya pikir kamu lebih faham custom di wilayah ini.” kafe ini letaknya juga tak jauh dari rumah Deanita.
Menjadikan Deanita manajer di tempat ini, terdengar seperti terlalu sembarangan. Bagaimana pun, Deanita tidak memiliki keahlian di bidang ini. Tapi pengalamannya bekerja paruh waktu memberi Deanita sedikit gambaran. Dan dari awal, Reksa tidak membangun kafe ini untuk mencari untung.
“Okay, saya paham beberapa hal.” Deanita menghargai pandangan Reksa dan merasa kagum ketika Reksa menjelaskan lebih dalam. Keduanya mengobrol untuk beberapa lama.
“Gimana kalo dimsum? Buat kafe seperti ini dimsum cocok di samping minuman dan dessert. Porsinya kecil dan bisa jadi camilan juga.”
“Oke, jadi tinggal ambil patissier, tukang masak dan pelayan?”
“Buat dimsum kita ambil yang frozen aja, gimana?” usul Deanita. Dimsum tidak akan jadi hidangan autentik kafe. Dimsum frozen juga sebetulnya tidak benar-benar frozen. Hanya mereka tidak akan membuatnya sendiri.
“Oke, nanti biar saya cari.” Reksa mengangguk.
“Saya ada kenalan, um, dia mualaf dan dia bikin dimsum juga, gimana kalau ke dia aja?”
“Oh?” Reksa tak menolak dan menyerahkan langsung pada Deanita. “Kalau begitu kamu yang urus?”
“Bos, jangan khawatir. Saya ngerti dengan jelas kepentingan soal ini.” kata Deanita dengan mata memancarkan senyum.
Reksa terpesona sesaat namun langsung sadar.
“Gimana kalau tambah menu kecil lain?” sasaran mereka untuk menengah ke bawah, jadi harga dan hidangannya pun disesuaikan.
“Kamu tinggal urus aja. Nanti saya kirim asisten buat bantuin disini sementara waktu.” kata Reksa singkat.
Keduanya mengobrol untuk waktu yang lama.
“Untuk dekorasinya, boleh saya tambah?”
“Dekorasi seperti apa?”
“Meskipun gak semua orang merayakan, saya mau menambah suasana festival lentera di kafe khusus bulan depan.” Mereka memutuskan untuk mengoperasikan kafe bulan depan.
“Secocoknya aja.” kata Reksa. Dia tidak mengerti soal budaya di wilayah ini.
“Kalau gitu saya langsung mulai hari ini aja.” kata Deanita.
"Mal di dekat sini ada yang jual peralatan dan perlengkapan dekor."
Reksa melirik jam dan melihat waktu sudah sore, dia harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
“Sekalian saya antar kesana aja.” kata Reksa.
Keduanya turun dan masuk ke salah satu mal yang menjual dekorasi. Di muka mal, Reksa bertemu kenalan lama.
“Guru Irna?” Reksa berseru tak menyangka.
Setelah Sera pindah sekolah, keduanya hampir tak pernah lagi saling terhubung. Reksa memperhatikan penampilan Guru Irna yang jelas berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kini Guru Irna mengenakan jilbab sepajang dada. Sifat keguruannya semakin lembut dan nampak. Reksa super pangling melihatnya.
“Oh? Papa-nya Sera?”
Namun sebelum mereka sempat bertukar obrolan, seorang pria muncul dan memeluk bahu Guru Irna. Cincin di jari manisnya berkilau di bawah cahaya.
Pria itu menatap Reksa penuh curiga dan permusuhan. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menarik Guru Irna ke arah sebaliknya. Gerakan itu nampak sedikit memaksa dan dia bisa melihat ketidak-nyamanan pada Guru Irna.
Reksa mengerutkan dahi namun akhirnya menghembuskan napas panjang. Dia tak menyangka juga Guru Irna sudah menikah. Hubungan mereka sepertinya cukup dekat untuk dia bisa hadir di pernikahan, kan?
“Pak Reksa?”
“Oh, iya.” Reksa langsung melupakan pertemuan singkat tadi. “Mohon maaf saya ngga bisa temani belanja.”
“Bos gak perlu khawatir.” kata Deanita penuh canda. Keduanya berpisah dan Reksa kembali ke kantornya.
****
__ADS_1