
Pertunangan Reksa dan Arina dilangsungkan secara pribadi. Selain keluarga dan kerabat yang diundang, tidak ada pegawai yang tahu soal itu. Joe dan Wana pengecualian.
Joe tentunya tahu, dengan hubungan Arina, Ningsih, dan Reksa, pertunangan ini bukan murni atas perasaan. Meski menghubungi Nona kecil akan lebih cepat untuk menurunkan amarah Reksa, kalau Reksa tahu Joe memanfaatkan posisi nona kecil dengan semena-mena, dia akan menerima konsekuensi yang berat.
Mungkin kalau dengan Arina, bosnya akan mempertimbangkan hubungan ‘plastik’ keduanya di muka umum?
Joe berpikir untuk mengetes keberuntungannya.
“Hai.” Joe mengangguk pada Arina yang hendak duduk di mejanya. Arina melihat Joe berdiri di depan pintu ruangan Reksa, dengan wajah memelas. Arina yang hendak duduk, masih memikirkan, bahwa posisi dia saat ini hanyalah pegawai biasa.
Meski Joe sedikit mencurigakan, posisi Joe sebagai sekretaris Reksa sudah pasti lebih tinggi dari Arina. Perempuan itu juga menebak, Joe pasti tahu hubungan sebenarnya antara dirinya dan Reksa.
“Pak Joe?” Arina memutuskan untuk menghampiri. Sementara anggota sekretaris yang lain menenggelamkan kepalanya ke dalam monitor, berlagak sibuk.
“Gimana kerjaan kamu?” menerima pertanyaan itu, Arina tersenyum malu. Bagaimanapun, setelah beberapa lama, dia bisa melihat bahwa yang dia kerjakan hanyalah hal-hal kecil. Tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan rumit yang orang lain kerjakan.
“Pekerjaanku lancar.”
“Senang mendengarnya.” Joe mengangguk. Setelahnya, tak ada lagi percakapan.
Arina menghembuskan napas, tahu bahwa Joe sebenarnya ingin minta bantuan. Kalau tidak untuk apa membuka basa-basi tak jelas seperit tadi?
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Ah…!” Joe memasang muka terkejut, sekretaris lain yang diam-diam memperhatikan berdecak dalam hati.
Pak, mukanya terlalu palsu!!
Rasanya para anggota sekretaris yang lain merasa malu sendiri. Namun mereka juga melihat tanda-tanda disini dan disana, bahwa Bos-nya memberi perlakuan berbeda pada Arina. Diam-diam mereka bergosip: apakah Arina akan berhasil dengan mission impossible ini?!
“Saya mau menyerahkan dokumen ini pada Pak Reksa. Saya ada pekerjaan lain, tapi yang ini harus segera disampaikan.” kata Joe sambil menunjukkan tiga map di tangannya.
“Em…” Arina hendak bertanya kenapa tidak masuk saja, namun teriakan tiba-tiba terdengar dari dalam membuat keduanya terlonjak kaget.
Arina: Kamu ingin saya masuk di saat dia mengamuk?
Joe: Ayolah, kamu kan tunangannya.
Arina: Ha, ha, ha
Pertukaran mata itu tidak menyulitkan keduanya bertukar bahasa. Arina akhirnya menerima.
***
Belum selesai Reksa dengan amarahnya, pintu di ketuk. Dengan jengkel dia melonggarkan dasinya dan kembali duduk.
“Masuk.”
Hanya saja dia tidak menyangka akan melihat Arina masuk.
__ADS_1
“Pak.” Arina mengangguk takzim.
“.....” Reksa yang biasa meluapkan amarahnya pada kambing hitam(baca: karyawan)-nya di saat yang tidak tepat, terpaku sesaat sebelum bertanya. “Ada apa?”
Tentu saja, Joe tidak menyerahkan dokumen pada Arina, kalau dia melakukannya, dia bisa mampus. Arina hanya masuk untuk menenangkan Reksa sesaat.
“Saya belum tahu apa pendapat Sera soal…,” Arina tidak menyelesaikan kalimatnya. Perempuan itu jelas tahu topik apa yang bisa membuat Reksa naik-turun.
“Oh… Ah,” Reksa bersandar di kursi dan berkata sambil menghembuskan napas. “Sera anak yang pengertian dan menerima soal pertunangan ini. Coba aja nanti kamu main sama dia.”
“Huh?”
“Kamu kesini mau nanya itu aja?”
Ditanya demikian, Arina langsung grogi. Untungnya, Joe mengetuk pintu di saat yang tepat. “Pak?”
“Masuk.”
Tentu saja dia tidak akan menyembur api sembarangan, atmosfernya sudah luntur duluan. Reksa menerima dokumen di tangan Joe dan memeriksa beberapa saat. Dia menandatangani beberapa dokumen sebelum meletakkan satu map yang lain di mejanya dan menyerahkan sisanya pada Joe.
Arina yang berpikir pekerjaannya sudah selesai(dalam membantu meredakan amarah) berniat untuk keluar ruangan tanpa suara. Namun Reksa malah menghentikannya.
Setelah memberikan beberapa arahan pada Joe, Joe pergi meninggalkan ruangan dengan perasaan riang. Saat hanya tinggal Reksa dan Arina, pria itu membuka mulutnya.
“Pamannya Sera datang ke sekolah Sera.” kata Reksa tiba-tiba, malas menyebut nama orang itu secara langsung.
“Katakanlah, sosok Sera untuk dia lebih seperti hantu. Jangankan sosoknya, namanya saja dia tidak tahu. Waktu saya membawa Sera, umur dia tiga tahun.”
Reksa melihat perempuan di depannya membulatkan mata. Memang langkah yang sedikit mengherankan, kenapa pula dia menceritakan hal ini pada Arina? Asal usul Sera bukan hal yang Reksa sengaja sembunyikan, tapi tetap saja Arina kaget mendengar Reksa menceritakan hal ini pada dia. Apa ini artinya mereka sudah semakin dekat?
Tapi Arina menangkap kata kunci lain.
“Pak Reksa curiga ada yang kasih bocoran informasi Sera... pada Pamannya Sera?” Arina menebak-nebak. Mendengar kesimpulan itu Reksa tersenyum lebar.
“Saya ngga kepikiran nama lain selain Ningsih.” kata Reksa. Hubungan Erik dengan Sera tidak akan ketahuan kecuali orang itu sudah mengawasi sejak jauh-jauh hari atau mencari tahu sebegitu dalamnya.
Arina akhirnya mengerti kenapa Reksa mengatakan semua ini. “Pak Reksa ingin saya cari tahu soal hal ini?”
“Kamu gak perlu mencair tahu dengan serius. Saya cuma perlu konfirmasi supaya langkah yang saya ambil lebih terarah.”
“Saya mengerti.”
Reksa agak terkejut karena Arina langsung menerimanya. “Kamu yakin? Meski saya perlu tapi saya gak butuh-butuh amat sebenarnya.”
Mendengar balasan itu, wanita di depannya malah tersenyum. “Pak Reksa tenang aja. Bu Ningsih memang orangnya curigaan, meski tanpa saya mencari tahu pun, dia akan mengatakannya sendiri.” Arina hanya perlu memancing sedikit.
“Kalau begitu, saya mohon bantuan kamu.”
“Di antara kita, tidak perlu ada kata ‘mohon’ segala.” kata Arina lugas.
__ADS_1
**
Malam itu jam delapan Reksa pulang awal. Sera menyambutnya di pintu dan membantu memindahkan kopernya ke ruang kerja.
Saat gadis kecil itu kembali, Papanya sedang minum air hangat di ruang tengah.
Dengan hati-hati, Sera duduk di samping Reksa dan menatap tanpa bersuara.
Reksa: ….
“Kenapa sayang? Ngomong aja.”
“Ada orang aneh datang ke sekolah.” kata Sera setelah diam beberapa saat.
“Hm.” Reksa sudah tahu putrinya akan bertanya lebih detail mengenai hal ini.
“Dia bilang dia kakaknya Mama.” kata Sera pelan. Gadis kecil itu menunduk sesaat sebelum mengangkat wajahnya. “Tapi Sera gak suka dia.”
“Yah.” Reksa tak berkata banyak, dia hanya menghela napas. “Kamu jangan dekat-dekat manus–orang itu.” Reksa berdehem. “Mama kamu ngga punya kerabat dekat lain.”
Erik bisa dihitung, tapi Reksa mencoretnya dari daftar sejak jauh-jauh hari. Selain Erik, Lily tidak punya keluarga lain.
Dari sikap Papa dan kejadian tadi pagi, Sera yakin bahwa Erik adalah pamannya. Namun karena Papa minta untuk Sera jauh-jauh, dia akan mengikuti kata-kata Papa.
“Em, Sera gak deket-deket kok.”
“Ada perasaan aneh gak, pas ketemu orang itu?” tanya Reksa begitu teringat mimpinya di zaman batu. Reksa hanya berusaha supaya dia tambahan jalan keluar. Dia takut Sera terjebak... entah apa yang menarik dari manusia satu itu?
Reksa hanya bertanya iseng, siapa sangka Sera benar-benar memberi jawaban.
“Perasaan aneh?” Sera berpikir sejenak sebelum mengangkat matanya. “Sera hampir lupa sama wajah Mama. Tapi lihat dia Sera jadi inget lagi.”
Reksa menghela nafas panjang. Di dalam hatinya, dia sudah memukul dahinya berkali-kali. Dia berpikir mungkin mental ini juga-lah yang membuat Sera di dalam mimpi itu percaya dengan Erik. Kalau Sera benar-benar di rawat Erik sejak kecil, perasaan dekat itu berubah jadi rasa percaya yang membutakan.
Ningsih. Reksa mengunyah nama itu geram dalam benaknya. Beraninya wanita itu mengarahkan dubuk pada putrinya?
"..Papa??"
"Em. Udah kerjain PR?"
"Baru mau."
"Yaudah sana kerjain gih."
Reksa menatap putrinya kembali ke kamar.
Sepertinya dia terlalu baik belakangan ini pada wanita tua itu, bukan begitu?
Mata Reksa berkilat dingin. Dia membuka ponselnya dan memulai panggilan.
__ADS_1