ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
14.


__ADS_3

“....” Meskipun benar ibu dari Sera adalah seorang pelayan, tapi gambar itu jelas mengada-ada. Juga apa maksudnya dengan dia yang menganiaya mental anak?


Itu adalah malam yang panjang. Dini hari itu berita David, putra dari Direktur Utama perusahaan Domico terjerat kasus penyelundupan yang terjadi dua tahun lalu tersebar.


Ceritanya, waktu itu salah seorang warga negara asing berhasil di tahan ketika hendak menyelundupkan satwa langka dari dalam negeri. Namun tidak diberitakan berapa banyak, dan hewan yang diselundupkan hanya diketahui sebagai hewan reptil.


Diantara waktu tersebut, kebetulan pamannya David memelihara biawak, yang–memang tidak pernah diekspos/diberitakan ke publik. Toh, hanya hewan peliharaan.


Tapi hubungan ini merambat satu demi satu, disaat publik tidak percaya, muncul foto yang menunjukkan David berdiri dekat dengan warga negara asing yang pernah ditahan masa lampau itu di bandara.


Apakah berita ini benar?


Reksa bisa memastikan… berita ini hanya isu belaka. Domico bisa mengirimi media-media itu surat tuntutan. Tapi Reksa tidak sebodoh itu untuk menunjukkan dirinya. Sejak awal, berita itu dikirim dengan identitas anonim. Alasan kenapa media itu menggigit berita ini meski pun tahu kejanggalannya, adalah karena sedang ada pertarungan sengit di dalam.


Katakanlah, media yang menyinggung Domico dengan masalah ini, orang dalam itu ingin membuat media terkait punya hubungan buruk dengan Domico.


Yang membuat Domico tidak bisa klarifikasi adalah fakta bahwa Paman David punya reptil langka yang dilindungi, hal itu hanya diketahui sebagian orang. Apakah reptil itu berasal dari reptil curian atau ilegal, apakah berita itu benar atau tidak, dia tetap harus menunjukkannya ke publik.


Katanya, reptil itu siap dikirim ke Negara C untuk suap demi kelangsungan proyek Domico selanjutnya.


Reksa mengetik kata kunci yang sebelumnya sedang panas topiknya. Dan merasa puas melihat beritanya tak lagi ditemukan.


Berhadapan dengan orang seperti ini, Reksa tidak perlu memutar otak kuat-kuat.


Berita meningkat dan naik ke topik panas jam dua malam, karena diketahui bahwa pasangan David adalah artis yang kini sedang naik daun, Shara Dya, dan tengah mempersiapkan album barunya.


Karena masalah ini, perilisan albumnya kemungkinan akan terhambat.


Reksa hanya bisa minta maaf karena sudah menyeretnya ke dalam masalah ini. Suruh siapa Shara punya pasangan sinting.


“Hmm..” Reksa menggumam senang meski dia sudah sangat mengantuk.


Selagi pihak sebelah sibuk mengurus berita ini, Joe sudah menghapus semua berita mengenai Sera.


Sementara soal jadwal kegiatan yang dia buat, Joe menyewa akun yang sudah di verifikasi untuk membuat klarifikasi soal jadwal revisi Sera, membantah Reksa yang menganiaya anak balita.


Reksa tidak berniat untuk timbul ke permukaan, dia harus memikirkan putrinya.


Awalnya dia berpikir untuk menghapus postingan ini juga.


Alas. Cepat atau lambat, dia akan menunjukkan Sera ke publik juga. Jadi dia pikir dia bisa meluncurkan berita ini sedikit demi sedikit. Kalau Sera muncul lagi ke publik, dan berita ini diangkat lagi, anaknya akan kesulitan.


***


Pagi itu, berita David masuk berita pagi. Reksa tidak memeriksanya, dia sibuk memperhatikan Sera menyantap sarapannya.


Setelah selesai, dia memakaikan sendiri jaket pada Sera. Gadis kecil itu lalu berlari ke kamarnya dan membawa tas kelinci kesayangannya yang isi barang-barangnya dia kemasi sendiri.


Reksa memperhatikan dari sisi tas gemuk yang seperti mau meledak itu, bertanya-tanya apa isinya.


“Pa?”


“Hm.” Reksa berjongkok di depan rak sepatu ke arah Sera.


“Sera bawa apa?”


Mendengar itu, Sera menurunkan tasnya dan bersiap membuka resleting untuk menunjukkan isinya. Reksa yang melihat itu langsung menghentikannya dengan mengambil tas Sera. Dia tidak ada waktu untuk mendengarkan.


“Baiklah, Papa saja yang bawa, ya.”


Sera menatap tasnya dengan enggan namun tetap mengangguk.


Keduanya berjalan ke lift bergandengan tangan. Sampai di parkiran, Sera menunggu Reksa membukakan pintu sebelum masuk dan dengan patuh dan duduk di kursi anak. Sementara matanya tak berhenti mengikuti tas yang digendong Reksa. Melihat itu, Reksa hanya bisa menghembuskan napas. Dia meletakkan tas kelinci itu di sebelah Sera sebelum duduk di kursi kemudi.


Mobil mulai maju ke arah gedung kantor Reksa. Hari ini Sera ikut karena dia tidak bisa pergi dulu ke sekolah.


Sesekali Reksa melirik ke spion jendela. Lirikan pertama, Sera menilik sekitar mobil. Lirikan kedua Sera menarik tali ranselnya sambil melirik ke arah Reksa satu kali. Tidak sadar sama sekali bahwa Reksa bisa melihat tingkah lakunya dari cermin. Lirikan ketiga, tas ransel itu sudah dipeluk Sera.


Bahkan ketika dia turun dan keduanya berjalan menuju ruangannya, Sera sudah memakai kembali ranselnya. Reksa pura-pura buta melihat kegugupan di mata putrinya.


Sesampainya di ruangannya, keduanya sudah melupakan kejadian soal ransel itu.

__ADS_1


Sementara grup obrolan kantor meledak karena sosok Reksa yang datang membawa seorang gadis kecil.


Selama waktu ini, Joe tidak lupa meluncurkan artikel terkait reptil langka yang dilindungi di dalam negeri untuk meningkatkan antusias publik. Menteri Purbakala bahkan memposting ulang artikel ini. Terimakasih karena sensasi kemarin, Menteri Purbakala bisa dibilang jadi Menteri Bintang yang dikenal luas oleh masyarakat pengguna media sosial.


Bersama dengan itu naik juga cuitan-cuitan mengenai David dan Shara. Reksa tidak memeriksanya sama sekali.


“Sera duduk disini, ya.”


Sera mengangguk saat didudukkan ke sofa. Gadis kecil itu melirik ke sekitar ruangan. Kekaguman tak bisa disembunyikan dari matanya. Ini pertama-kalinya Sera datang ke tempat kerja ayahnya. Mama-nya tidak pernah mengajak Sera ke tempat kerjanya.


Reksa duduk di kursi kerjanya, memperhatikan Sera yang melirik kanan-kiri. Saat gadis kecil itu menangkap tatapan Reksa yang tertuju padanya, Reksa tersenyum memberi keberanian. Gadis itu lalu turun dan mulai berkeliling ruangan dengan sendirinya.


Tak berapa lama, Joe masuk ke ruangannya, memaparkan kegiatannya untuk hari itu, dan menyampaikan beberapa laporan penting.


“Aku ingin artikel tentangku dimunculkan. Rutin, sebulan lima artikel. Lebih banyak dari itu lebih bagus,”


Joe: ….


Bos-nya punya penyakit apa lagi ini?


“Artikel tentang anda, Pak?”


“Hm.”


Joe menunggu Reksa bicara. “Artikelnya tentang Reksa Yang Menyembunyikan Seorang Istri. Atau misalnya Reksa Yang Tertangkap Mesra Dengan Seorang Wanita Muda Yang Cantik dan Baik Hati. Atau misalnya Reksa yang Keluar dari Rumah yang Diduga Adalah Rumah Mertuanya. Hal semacam itu. Tidak perlu diangkat, cukup diterbitkan saja.”


Joe seketika langsung menangkap maksudnya.


“Saya mengerti.”


“Satu lagi artikel soal cuitan pemuka agama ini.” Reksa menyerahkan tabletnya. Sebuah video yang di pause, menunjukkan judul dengan huruf kapital ‘Tidak Ada Anak Haram. Anak Yang Lahir di luar Nikah tidak Berdosa, yang Berdosa adalah Orang-Tuanya.’


“...Ini..,”


“Saya mau artikel ini rajin diangkat. Tema ini akan jadi proyek yang panjang.”


“...Projek panjang, Pak?”


Joe kehabisan kata-kata. Yang dilakukan Reksa saat ini tentunya untuk membuka jalan supaya Sera bisa hidup lebih tenang, manakala Reksa terjatuh dan latar belakangnya terseret.


Artikel pertama menunjukkan isu bahwa Reksa bisa saja punya istri namun tidak menyatakannya ke publik, untuk menekan kalau-kalau ada yang bilang Sera tak beribu.


Artikel kedua di buat untuk menekan berita negatif kalau artikel pertama tidak berhasil.


“Katanya Kedutaan Negara dari Negara G menghubungi?”


Topik yang berubah tiba-tiba ini membuat Joe kebingungan. Namun dia merespon dengan tangkas.


“Saya baru mau memberitahu anda, bahwa kita kesulitan mengesahkan kontrak tersebut karena jaringan luar negeri kita masih dalam proses. Dengan proyek yang saat ini berlangsung, kemungkinan–”


“Terima saja.”


“Ya?” Joe pikir ada yang salah dengan telinganya. Tapi tidak. Ini sungguhan bos-nya yang minta untuk kerja!?


“Terima dan tanda-tangani kontraknya segera. Soal perusahaan yang di Negeri G itu, kerahkan personel tambahan. Saya mau proyek ini disama-ratakan dengan yang ada di dalam negeri.”


Seperti disuntik booster, Joe langsung membalas lantang. “Saya mengerti Pak.”


Keduanya bertukar beberapa kata sebelum Joe meninggalkan ruangan.


Reksa berpikir, Negara G bisa jadi destinasi yang menjanjikan selama dia punya pegangan disana. Kalau Sera tidak betah disini, mereka bisa pindah ke luar negeri.


Reksa melirik dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


Hasil yang besar, berawal dari usaha yang kuat. Reksa berusaha menghibur dirinya sendiri.


Tap tap tap tap.


Saat itu terdengar suara langkah kecil dan cepat yang terdengar semakin mendekat ke arahnya. Reksa berhenti mengetik dan menunduk, melihat gadis kecilnya menengadah dengan memeluk celana nya.


Reksa menggendong Sera dan mendudukkannya, yang mengagetkan keduanya.

__ADS_1


Sera yang berniat hanya mengintip, tidak menyangka ayahnya akan menggendongnya.


Sementara Reksa, dia tidak berpikir panjang dan langsung membuka obrolan.


“Sera mau camilan?” Reksa menambahkan suara ‘nyam-nyam’ diakhir kalimat.


Sera mengangguk, lalu menggeleng. Dia masih lapar, tapi dia sudah sarapan. “Sela sudah makan.”


“Bukan makan, tapi ngemil.”


“Mil?”


“Hm. Ngemil.”


Reksa mengetikkan kue keju di pencarian, begitu gambarnya tampil, Sera langsung terjerat. Matanya bersinar, dan semenit lagi anak itu menatap layar, Reksa takut liur akan menetes dari mulut Sera.


“Mau?”


“Mau!!” Sera yang hampir melompat dari pangkuan Reksa segera ditahan.


“Duduk yang baik. Sera pintar.” Reksa mengusap puncak kepala Sera sebelum menekan intercom.


Wana datang dengan wajah datar berusaha menahan aura asamnya, takut di semprot Bos-nya lagi.


Reksa mengabaikannya.


“Saya mau bolu keju.”


“...” Seingat Wana, bos-nya ini tidak doyan keju. Keju apa yang dia mau? Keju imitasi? Keju mainan? Mungkinkah ini nama lain dari kue yang mirip dengan bolu keju?


“Bolu keju untuk Sera.” kata Reksa membuyarkan pikiran Wana. “Potongan kecil. Juga beli obat pencernaan,” Reksa melirik ke Sera dan mengingat kembali jadwal anaknya.


Putrinya hari ini akan seharian bersamanya. Pasti akan bosan. Siang hari juga dia harus tidur siang.


“Beli selimut juga. Bahannya harus seratus persen katun, ringan, dan bersertifikasi standar global organik,” Reksa melirik Wana dan menghembuskan napas. “Kalau susah, ambil saja di apartemen saya.”


Mendengar itu, Wana langsung terselamatkan. Mengenai putrinya Reksa, Wana sudah mendengar penjelasannya dari Joe. Karena itu dia tidak terlalu kaget. Tapi melihat bos setan-nya yang biasa mendelik dan melontarkan kata-kata tak mengenakkan, duduk memangku seorang gadis kecil dan sesekali menatap lembut, agak sulit di percaya.


Setahu Wana, banyak orang-orang yang memiliki anak diluar pernikahan bahkan sekalipun mereka sudah beristri. Reksa yang masih single, sebenarnya bisa mengabaikan anak-nya yang masih kecil. Menikahi perempuan dan memiliki anak lagi. Tapi pria ini mengabaikan pilihan itu dan membawa putrinya ke dalam perlindungannya.


Wana cukup merasa kagum. Tapi sekali lagi, itu kan memang tanggung-jawabnya sebagai seorang ayah.


“Order selimut sekalian bantal untuk di kantor. Saya mau barangnya sudah sampai besok.”


Wana yang semestinya asisten Reksa, kini alih pekerjaannya menjadi asisten Sera. Meski begitu, Wana bahagia. Anaknya sudah pasti tidak sesulit Ayahnya.


“Sekalian beli balok mainan, puzzle, atau sejenisnya yang cocok untuk anak tiga tahun.” mendadak Reksa merasa dia kurang perhatian pada Sera. Apakah dia membelikan Sera mainan juga selain boneka? Dia mengingat kembali isi kamar Sera yang warna-warni.


Reksa mengerutkan kening.


“Saya tahu toko mainan yang bagus. Bahannya aman untuk bayi, selalu update dan mengikuti standar perkembangan anak internasional.” kata Wana.


Reksa mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya seperti berkata ‘akhirnya kamu berguna juga.’


“Kalau begitu apalagi yang kamu tunggu? Cepat order.”


“Baik, Pak.”


“Sera mau coba menggambar?” Reksa membawa kertas putih bersih dan pulpen. Tiba-tiba Sera sibuk memindahkan tas ranselnya. Reksa membantunya dan melihat Sera membuka resleting. Mengeluarkan pinsil warna dan menunjukkannya ke Reksa.


“Bagus.”


Reksa tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi Sera segera turun dengan ransel, kertas, dan pinsil warnanya. Anak itu bergegas ke meja sofa dengan kaki-kaki kecilnya.


“Papa kelja. Sela bajay.” Papa kerja, Sera belajar.


Reksa tidak mengerti bahasa balita. Tapi sepertinya dia mengerti apa yang Sera lakukan adalah untuk dirinya.


**


Sorry, mudik jadi baru update,

__ADS_1


__ADS_2