ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
58. Sera suka kok, adik baru.


__ADS_3

Keduanya bertemu di kafe di daerah komersial tak jauh dari tempat Arina kursus masak. Pertemuan mendadak ini tidak membuat Arina tampil berantakan. Rambutnya diikat rapi tanpa sedikitpun helai yang longgar. Samar-samar Reksa mencium aroma kue saat Arina duduk. Tapi mungkin itu berasal dari dapur di kafe.


“Mau pesan apa?” tawar Reksa. Arina menerima dan memilih susu stroberi-lemon.


Sambil menunggu minumannya datang, Reksa mengambil inisiatif untuk mengobrol.


“Maaf karena saya memanggil mendadak.”


“Nggak kok, kebetulan saya lagi ada kegiatan dekat sini.”


“Saya dengar kamu mau lulus sekolah tata boga?”


Mendengarnya, Arina tersenyum rendah. Bahkan ketika sedih pun, gerak-geriknya sedap dipandang mata.


“Sebetulnya hanya kursus memasak biasa.”


“Ada rencana untuk lanjut ke pendidikan yang lebih tinggi?”


“..huh?”


“...Yah,”


Sekolah lebih tinggi? Arina menatap Reksa dengan tatapan yang rumit. “Bukankah Pak Reksa sudah lihat kemarin?”


“...”


Namun seperti ilusi, pertanyaan yang seakan mencela diri sendiri itu disambung dengan jawaban yang sulit diartikan. “Impian saya adalah untuk jadi istri yang baik.”


Jawaban itu membuat Reksa kehabisan kata-kata. Orang bercita-cita untuk kuliah, kerja di suatu tempat, hidup mandiri. beli rumah, beli ini-itu, dan seterusnya.


Tapi siapalah Reksa? Kalau orang yang diajak bicara tidak mau bekerjasama, untuk apa dia buang-buang waktu disini?


“Kalau begitu saya doakan kamu berhasil menggapai mimpi itu.”


Arina menangkap maksud kalimat Reksa dan menggigit bibir bawahnya. Maksud Reksa sudah jelas: jangan bawa-bawa dirinya. Dengan kata lain, cari calon suami lain dan lupakan obrolan kemarin.


“....tunggu.” Arina menghentikan Reksa yang berdiri hendak pergi. Sebelum arina membuka mulutnya, pelayan datang mengantar pesanan–menghelat obrolan. Memberikan Arina sedikit waktu untuk berpikir.


Namun sampai akhir, Arina tidak mengatakan apapun.


**


Pagi itu, Sera sudah selesai sarapan dan siap berangkat. Dia berjalan ke mobil tanpa menoleh, namun tiba-tiba kakinya berhenti. Gadis kecil itu menoleh ke arah perempuan yang berdiri tegak di sisi mobil yang biasa Papa-nya gunakan saat tidak berangkat bersama.


Siapa perempuan itu? Pakaiannya rapi dengan rok span selutut dan kemeja blouse, rambutnya di ikat rendah. Saat mata Sera sampai ke wajah perempuan itu, dia terkejut.


‘Itu bukannya…. Kak Arina?’  Sera tidak mengerti kenapa Arina berdiri di depan mobil Papa-nya.


Saat itu Arina balik menatap, kemudian mengulas senyum lembut.


Tak lama Reksa keluar dengan untuk berangkat.


“Kenapa masih disini?” Reksa mengusap puncak kepala putrinya sambil berlalu kemudian masuk.. diikuti Arina.


Sampai mobil keluar dari gerbang, mulut Sera masih terbuka. Bahkan rambutnya yang Papa-nya buat kacau tidak dia permasalahkan saking terkejutnya.

__ADS_1


Sera sampai di sekolah dengan perasaan campur aduk. Daud yang datang lebih dulu memutar badannya ke arah Sera.


“Kamu kenapa?”


“...Kayaknya papaku mau punya istri baru?” kata Sera tidak yakin. Meski dia mendukung dan jadi barisan terdepat untuk mencarikan Papanya istri, perasaan Sera jadi campur aduk ketika berpikir usahanya berhasil. Dia merasa senang Papanya senang, namun dia merasakan keengganan yang tidak tahu apa sebabnya.


“Oh my God, that’s awful.” kata Daud meringis.


Khalia yang masuk kelas bertanya ingin tahu. “Apa yang awful?”


“Sera mau punya mama baru.” jawab Daud.


“....bukan.” bukan Mama baru, tapi istri baru Papa. Ah, apalah bedanya kalau mereka bersatu pada akhirnya?


Khalia ingat beberapa waktu yang lalu Sera sempat menanyakan informasi setiap guru perempuan di sekolah.


“Aku ingat kamu sering liatin guru-guru cewek di sekolah. Kamu lagi nyari calon buat Papamu?”


“Rencananya sih gitu.” jawab Sera.


“Holy…” Daud berdecak kagum. “Kamu nyari calon buat papamu?” dia lalu menggeleng-geleng.


Sera tidak pernah mendiskusikan hal ini dengan teman sekelasnya. Dia hanya berbagi pandangan dengan Abima melalui chat. Karena itu dia tidak tahu seberapa menakjubkan aksinya di hadapan anak lain yang secara alami menginginkan ibu dan ayah original.


“Aneh emangnya?”


Pertanyaan itu membuat Daud dan Khalia terdiam untuk berpikir.


“Engga sih.” setelah lama berpikir Khalia menjawab.


Emosi Daud lebih terbuka dan reaksinya sama dengan anak-anak pada umumnya. Daud juga memikirkan lebih jauh ke depan, sementara Sera hanya berpikir buta soal kebutuhan Papanya.


“Emang kalau nanti dia kerumahku kenapa?” tanya Sera.


“Kalau nanti dia punya anak dengan Papamu gimana?” kata Daud menakut-nakuti.


“Maksudnya aku punya adik?” Sera setengah berseru.


Daud: ????


Hey, yang kita bicarakan ini anak yang kemungkinan mengambil cinta Papamu! Kenapa malah senang?!


Daud menjelaskan kemungkinan terburuk memiliki saudara tiri. Bahkan Kakak-kakak Daud selalu mengatakan bahwa dia diambil dari penampungan. Sungguh mengerikan memiliki saudara kandung. Apalagi saudara tiri?! Daud merupakan anak bungsu, meski dia sering di bully kakak-kakaknya, tapi dia bisa memanfaatkan posisi 'bungsu'nya untuk memberi balasan mengerikan pada kakaknya. Mommy dan Daddy-nya jelas lebih memihak Daud saat ada perselisihan, dia bisa merasakannya.


Sebagai seorang bungsu, dia harus memberi peringatan pada Sera yangberpikir bahwa adik itu bagus...


Mendengarnya Sera langsung memasang wajah serius. Dia menekan tombol di jam tangannya dan di depan Daud serta Khalia, telepon tersambung.


“Kenapa anak Papa?” suara Reksa terdengar lembut.


Sera langsung bertanya to the point. “Papa, kalau nanti Papa ada anak baru Papa tetep sayang ke Sera, kan?”


Reksa yang di seberang tengah menyesap kopinya hampir tersedak.


“Papa punya anak dari mana, Nak?” tanya Reksa sedikit menekan. Akhirnya setelah beberapa hari mereka perang dingin, hubungan mereka kembali menghangat. Tapi putrinya yang menggemaskan ini justru menanyakan hal ini?

__ADS_1


Reksa sungguh ingin tahu apa yang ada di pikiran kecil putrinya selama ini.


“Ya, kalo Papa punya istri baru mungkin Papa bakal punya anak.”


Kali ini Reksa jauh lebih tenang. Dia sengaja menjauhkan kopinya, menunggu sampai putrinya selesai bicara. Eh, untung saja dia tidak tersedak lagi.


“Istri dari mana, Sera sayang?”


“Papa jangan mengalihkan topik,”


“...” Reksa meluruskan bibirnya berusaha untuk tidak tersenyum. Putrinya begitu menggemaskan. “Papa gak akan punya anak, cukup Sera aja satu. Iyalah, Sera selalu jadi kesayangan Papa.”


Sera tersenyum puas mendengar jawaban dari Papanya, matanya menunjukkan kebanggaan pada dua kawannya; sementara Daud menatap Sera kasihan.


Sera masih terlalu naif, Daud menghembuskan napas.


Setelah mendapat jaminan dari Papa-nya, Sera menangkap topik lain. “Maksudnya gak akan punya anak?? Kenapa engga, Pa? Kan bagus kalau aku punya adik??”


Reksa: ????


Daud: Ckckck


Khalia: Haha, lucu banget.


Berhubung Sera akan selalu jadi yang nomor satu di hati Papanya, dia tidak perlu khawatir soal memiliki saudara baru, kan? Punya adik pasti menyenangkan. Sera jadi mendambakan sosok itu begitu membayangkan adik kecil yang akan memanggilnya, “Kakak”.


“Emangnya Papa mau kasih kamu adik kamu dari mana?” Reksa pikir Sera tertarik memiliki adik dari panti asuhan.


“Kan bisa sama Kak Arina?”


Kali ini tanpa minum pun, Reksa tersedak ludahnya sendiri. “Kenapa kamu punya pikiran kaya gitu?” anak kelas 2 SD rupa-rupa, ya pikirannya?!


“Bukannya Papa resmi sama Kak Arina?”


“...”


“Resmi jadi kekasih?”


“Gurumu belum datang? Jam segini kamu telepon Papa nanti disita jamnya.”


“Belum bel kok, Pa.”


“Tetep aja harus siap-siap buat pelajaran. Jangan males-malesan. Waktu kosong sebelum bel bunyi itu kamu baca-baca lagi buku pelajaran.”


“......iya.”


Reksa tersenyum lebar memikirkan dirinya berhasil mengalihkan topik.


“Yaudah belajar yang rajin ya.”


“Iyaa.”


Sera menutup sambungan dan langsung membuka buku pelajaran, mengikuti nasihat Papa-nya.


'That's it?' Daud tak sanggup lagi.

__ADS_1


Khalia yang menyaksikan sejak tadi hanya mengusap puncak kepala Sera sebelum kembali ke kursinya. Sementara Daud hanya bisa menatap Sera penuh simpati. Kalau nanti Sera mulai menderita, mungkin dia bisa sedikit menghiburnya.


__ADS_2