ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
29. Puding untukku


__ADS_3

Sera dihukum tidak boleh makan puding selama seminggu. Gadis kecil itu baru sadar kesalahan besar yang dia lakukan ketika dia di larang makan makanan kesukaannya.


Reksa tidak bisa memarahi keras soal kejadian kamar mandi itu. Banyak sebab yang terlibat. Selain perutnya yang sempat abnormal, Joe kini harus merana dengan lembur berlipat ganda.


Reksa sudah memakai sepatunya dan berdiri di depan pintu, sementara Sera berdiri dengan seragam mungilnya, berhadapan dengan Reksa.


Sejak Sera masuk sekolah baru dan Reksa pindah ke kantor baru, keduanya jarang berangkat bersama. Reksa harus berangkat lebih pagi.


"Sun Papa." Reksa setengah jongkok, kali ini dia sudah tidak merasa malu mengatakan kalimat-kalimat menggelikan ini.


Sera masih dengan wajah cemberut tetap mencium pipinya. Saat Reksa hendak berdiri, gadis kecil itu malah mengalungkan lengannya di leher Reksa. Alhasil kakinya menggantung saat Reksa hampir berdiri.


"Sera."


"....Papa main ayunan."


Reksa sudah tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran anak ini. Awalnya dia pikir Sera begitu pemalu dan manis. Namun belakangan ini sikap jahilnya mulai menjadi-jadi.


"Turun."


"Oke."


Gadis kecil itu menurunkan tangannya saat kakinya mendarat lalu mencium punggung tangan Reksa, sebelum menyaksikan Papa-nya berangkat.


Sera setengah berlari masuk. Dia meraih tasnya di kamar, menolak waktu Pengasuh Sri mau membawakannya, kemudian memeriksa kembali isi tasnya.


"Bi Sii, Sela makan apa siang?" Biasanya setelah makan siang di sekolah, camilan kecil yang dibawa dari rumah boleh dimakan. Sebelumnya puding jadi favorit Sera. Tapi karena dia tidak boleh makan.. dia tidak tahu apa yang akan dia makan.


"Cokelat, Nona."


"Apa? Cokelat?" Sera berseru dengan dramatis. "No choco." Gadis kecil itu berlari ke dapur dan menggelengkan kepala.


"Buah mau?" Tanya Pengasuh Sri sambil bergerak mengemasi stroberi.


"..." Cokelat sangat manis, gigi Sera sampai seperti dikerumuni semut waktu dia makan. Stroberi, terlalu asam. Tidak bisakah dia bekal puding saja?


Mengingat wajah Papa-nya yang menggelap seperti raksasa, Sera tidak berani merengek. Dia hanya bisa menghela napas dan pasrah.


"Melon?" Setidaknya melon dia suka.


"Melon ada. Bi Sri siapkan, ya."


"Oke."


Sera kembali ke ruang tengah. Dia memasukkan kembali buku dongeng yang selesai dia periksa.


"Nona mau saya bantu?" Shain yang baru selesai memanaskan mobil masuk ke dalam, melihat Sera sibuk dengan tasnya.


"Ngga." Padahal jarak keduanya masih jauh, tapi Sera menarik tas ranselnya menjauh.

__ADS_1


Shain: …


Beberapa menit kemudian, bekal Sera jadi.


Sera dan Shain siap berangkat.


Sera masih duduk di kursi mobil anak, karena Papa-nya bilang baru setelah lima tahun dia boleh coba duduk di kursi biasa.


Sera merasa dia sudah bukan bayi lagi. Tapi tidak masalah, dia akan jadi anak lima tahun tak lama lagi.


"Kak Sha, kapan punya pacal?" Rupanya Sera masih gelisah dengan status Shain yang masih jomblo.


Shain: …


Shain sudah biasa. Sejak topik terakhir, pertanyaan ini seperti jadi rutinitas untuknya setiap pagi. Anak kecil kadang bisa melakukan hal yang keji tanpa sadar…


"Nona carikan untuk Kak Sha, gimana?" Goda Shain masih dengan wajah tanpa ekspresi. Orang dewasa menilainya sebagai sarkas, tapi Shain benar-benar sedang bercanda.


Sayang sekali, Sera menanggapinya bukan sarkas ataupun candaan.


Gadis kecil itu berpikir dalam. "Kak Sha tipenya apa?"


"Um… ganteng? Kaya? Pinter?" Shain bertanya-tanya apakah dia boleh berkata begini? Dia tidak menanamkan hal aneh dalam diri Nona kecilnya, kan?


Sera mengerutkan dahinya. Dari kriteria ini, semuanya sulit untuk dicapai. Kalau orang lain, hal ini mustahil. Tapi melihat wajah mulus Shain yang heroik sekaligus dingin, mungkin ada harapan.


Shain tidak menganggap serius kalimat itu. Di perjalanan, radio dinyalakan; bersamaan dengan itu, berita pagi yang singkat disiarkan.


[Seorang pencuri yang ditangkap polisi berhasil melarikan diri membawa… dengan berciri-ciri…]


Berita itu di siarkan sesaat dan begitu selesai, lagu ringan di putar. Shain menganggap hal itu sebagai berita lalu. Meski demikian, matanya memicing; tetap berpikir bahwa dia harus terus siaga menjaga Nona-nya.


Keduanya sampai disambut guru yang berdiri di luar kelas.


Sera dengan cekatan dan gerakan yang ahli meletakkan sepatunya di rak dan tasnya di loker tanpa membiarkan baik Shain dan gurunya membantunya.


Begitu masuk kelas, Shain akan berjaga di sekitar tanpa mengganggu pembelajaran. Meski dia tetap memeriksa setiap lima menit sekali.


Sera kadang heran dengan tingkah laku Shain. Orang lain yang mengantar tidak bersikap demikian. Untungnya, bukan hanya Sera saja yang punya pengawal.


Salah satu anak di kelas Sera juga memiliki pengawal. Malah lebih parah dari dia. Sebelum bel berbunyi pengawalnya akan ikut duduk di dalam kelas.


Sera menghampiri anak lelaki pendiam yang sedang bermain rubik dan bersandar di dinding kelas. Tak mengganggu sama sekali dengan anak lain duduk ramai di tengah-tengah ruangan dan bercanda ria.


"Akmal." Panggil Sera.


Yang di panggil tidak menyahut. Dia bukannya mengabaikan, dia hanya sedang konsentrasi.


"Akmal, bental lagi mau masuk." Barulah setelah Sera menyenggol bahu anak laki-laki itu, yang di panggil Akmal itu sadar.

__ADS_1


Dia lalu menatap pengawalnya dan memperhatikannya berjalan keluar ruangan. Matanya lalu kembali fokus bermain rubik.


"Hali ini Sela gabole makan puding." Kata Sera lalu duduk di sisi Akmal.


Mendengar itu Akmal merasa heran. Perhatiannya teralihkan untuk bertanya.


"Kenapa?"


Sera baru saja di nasehati Reksa soal privasi dan pribadi orang dewasa. Meskipun Akmal adalah temannya, Sera masih takut dengan Papa-nya. Mana mungkin dia akan cerita.


"Gabole makan puding seminggu."


Akmal tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan rubiknya. "Kamu lagi dihukum kan."


"Iya." Sera sudah biasa dengan Akmal yang tiba-tiba bisa tahu banyak hal. Sera sudah tidak terkejut lagi.


Lima detik kemudian rubiknya berhasil duduk di tempat yang sesuai.


Merasa puas, Akmal berbaik hati untuk berbagi cerita. "Aku ada puding."


"!!!" Sera membulatkan matanya. Sebelum berseru, gadis kecil itu tak lupa melihat ke jendela kalau-kalau Shain sedang memperhatikan.


"Sela boleh minta?"


Bersamaan dengan itu bel berbunyi dan lagu senam pagi di putar.


"Gak boleh." Balas Akmal. Dia hanya memberitahu saja, bukannya mau memberi.


Sera hanya cemberut. Dia sudah tahu kalau dia tidak boleh memaksa apa yang bukan miliknya apalagi kalau orang lain tidak memberikan.


"Sedikit aja?" Karena itu Sera berusaha membujuk.


"Setengahnya sedikit." Kata Sera lagi.


Akmal dalam hati heran. Setengahnya dari sedikit itu seberapa banyak? Kadang anak perempuan di depannya bisa sangat bodoh. Sayang sekali di TK ini hanya Sera yang agak pintar.


Setidaknya bisa mengimbangi jalan pikiran Akmal.


"Setengah dali setengannya sedikit?"


"Nanti aku kasi satu sendok kecil deh." Akhirnya Akmal setuju.


Sera yang mendengar itu langsung berseri.


"Besok juga bawa puding ya." Tidak cukup di kasih hati, Sera minta jantung. "Besok bawa yang banyak."


Akmal tidak bicara dan hanya menepikan rubiknya kemudian ikut berkumpul dengan anak-anak yang lain untuk memulai kegiatan.


***

__ADS_1


__ADS_2