
Reksa meletakkan teleponnya dan mengalihkan pandangan ke perempuan yang sedang duduk di sofa, sebelum beralih ke Wana yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya. Kalau dia tak menyelesaikan ini, putri kecilnya pasti tidak akan berhenti mendesak jawaban darinya.
“Atur kerjaan yang ringan untuk dia.” kata Reksa pada Wana.
Wana yang sudah resmi jadi kaki tangan Reksa membulatkan matanya (tentu saja di dalam hati). Di depan, mukanya masih tanpa ekspresi dan mengiyakan seperti prajurit paling patuh.
“Sebelah sini, Bu.” Wana berbalik ke Arina dan menunjukkan senyum bisnis.
Ya ampun, ya ampun. Siapakah perempuan yang Bos bawa ini? Mungkinkah tiba masanya dimana aku akan melihat Bos menggunakan kekuasaannya untuk melancarkan karir kekasihnya?
CEO dan Sekretaris? Kekasih tersembunyi?
Wana tahu berapa lama Reksa berhenti dengan sikap playboy-nya. Bos-nya itu berhenti demi putrinya, namun kini muncul rubah penggoda yang bisa menggeserkan posisi Nona kecil!
Mungkinkah drama keluarga akan dimulai di fase ini?
“Ya Ampun!” Wana berdecak kaget tanpa sadar. Arina yang mengikuti terkejut, kenapa sekretaris yang sejak tadi tenang dan sopan ini tiba-tiba…? Ekspresinya agak mencurigakan.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Arina hati-hati.
“Oh, iya. Mohon maaf, saya jadi teringat dengan pekerjaan saya yang terlupa.”
“Oh, apa saya mengganggu kamu?”
“Engga, engga, engga. Itu pekerjaan sampingan jadi gak terlalu penting.”
Mungkinkah perempuan ini mengandung anak bos?! Benar juga, kalau tidak, kenapa dia bisa masuk ke kantor ini sampai menggeser posisi Nona kecil?! Bos paling lemah dengan anaknya sendiri!
Yaampun, aku harus bagaimana?! Siapa yang harus kupihak??
Narasi panjang itu tidak menghentikan Wana dengan interaksinya bersama Arina. Di luar ruangan Reksa, kubikel para sekretaris berjajar. Wana menyapa rekan kerjanya sebelum mengarahkan Arina ke kubikel yang kosong. Dia lalu memberi pekerjaan sederhana sebelum pergi mengerjakan urusannya.
Rekan sekretaris yang lain menaruh perhatian pada anggota baru yang sangat cantik ini. Lihatlah posisi duduknya, seperti Nona muda dari keluarga kaya. Tapi pakaiannya merk biasa. Mungkinkah dia hanya pamer? Lihatlah bibir dan mata itu, ckckck.... pantas saja bos mereka mau membukakan pintu belakang untuk wanita ini. Sungguh keberuntungan dan fisik yang membuat iri.
Yang lain melihat bahwa Arina keluar dari kantor Reksa. Meski salah satu dari mereka sempat ada perasaan pada Bos, dan bermimpi untuk jadi kekasihnya, namun waktu lembur dan keganasan Bos mereka melenyapkan perasaan itu. Hanya saja, sejak kenal dengan Sera, mereka kini jadi Squad pendukung Sera dengan nama resmi di grup chat mereka ‘Peri Kecil Terbang Tinggi’. Khususnya Wana, yang sering berinteraksi dengan Reksa. Setiap melihat Sera, Wana akan mengetik paragraf panjang untuk menceritakan kegiatan Nona kecil di saat itu.
Beragam spekulasi bermunculan mengenai Arina.
Jam tiga sore, lift terbuka dan sosok gadis kecil yang akrab oleh semua mata berjalan keluar.
“Nona kecil. Sudah pulang sekolah?” Salah satu sekretaris yang mengerjakan dokumen menyapa nona-nya di sela-sela kesibukan.
“Halo. Sekolah selesai dua puluh menit yang lalu.”
Setiap di tanya dan setiap ada yang bicara, Sera selalu berhenti dan menjawab dengan serius. Para sekretaris yang hadir melihat pertumbuhan Sera sejak dia masih usia 4.
Satu sekretaris yang lain bantu membuka pintu. Sera berhenti sebentar sebelum masuk dan mengucapkan terimakasih.
Tak lama suara keyboard berbunyi keras. Para anggota sekretaris sibuk mendiskusikan betapa manisnya Nona kecil hari ini.
Andai bisa bertemu tiap hari, pekerjaan mereka akan lebih sempurna!
Bisa melihat Nona kecil, dan bos mereka jadi jinak seharian, sungguh mimpi yang indah!
Ah, tapi Nona kecil sekarang sudah mau kelas tiga SD, tidak terasa sudah bertahun-tahun.
Para sekretaris akhirnya merasa bahwa mereka semakin menua dan memutuskan untuk makan bersama guna merayakan nasib yang sama sepulang kerja nanti. Yup, setiap nona kecil datang, hari itu positif tidak ada lembur dan bos mereka pasti akan pulang lebih awal.
Saat Sera datang, Reksa masih rapat, karenanya tidak ada siapapun di kantor. Sera duduk di sofa bersama camilan yang sudah disiapkan lebih dulu. Gadis kecil itu melepas tasnya dan mengeluarkan buku tugasnya.
Tak lama kemudian, pintu kantor di buka. Sera kira itu Papanya, namun dia tak menyangka dia justru melihat Arina.
“Kak Arina?”
“Oh, Sera?” Arina diam sejenak sebelum melanjutkan. “Udah beres sekolahnya?”
“Em. Kakak… kenapa…,”
Arina tersenyum kecil dan berdiri di belakang sofa di seberang Sera. “Kakak kerja disini,”
“Hah? Kerja disini?”
Sera dalam hati penasaran. Mungkin Papanya ingin kerja bersama kekasihnya, mungkin itu sebabnya…. nah, gak mungkin deh.
“Tapi kan Kakak keahliannya memasak?” Sera masih tidak lupa dengan kriteria Arina sebelumnya.
Arina tidak heran dengan kejelian Sera. Anak-anak aristokrat kadang lebih kekanakkan namun cenderung lebih dewasa dalam beberapa aspek. “Eh… karena beberapa alasan, Kakak jadi kerja disini.”
“Hm…,” Sera menggumam sambil menggoreskan pensilnya di kertas. “Kakak aku boleh nanya ngga?”
__ADS_1
“Boleh, tanya aja.”
“Kakak deket gak sama Oma?”
“Huh?”
Arina kira, Sera akan bertanya soal hubungan dia dan Papanya. Meski Sera menunjukkan kesukaan pada Arina, Arina tidak berpikir bahwa artinya positif. Anak-anak dari keluarga sejenis Triyanto, kadang memiliki hati yang mengerikan meski mereka masih berwajah seperti malaikat.
Arina tidak menyangka Sera akan bertanya soal neneknya sendiri. Pertanyaan ini mungkin aneh karena di tanyakan langsung oleh Sera, yang sebenarnya adalah cucunya sendiri. Namun mengingat hubungan Reksa dan keluarganya, Arina mengerti.
“Bisa dibilang iya, bisa dibilang nggak.”
Sera berdehem lama, “.. kata Kakak Oma orangnya kaya gimana?”
“Oma.. orangnya..,” Arina mengingat tatapan Ningsih setiap kali bertemu. Tangan Arina mengepal tanpa sadar di belakang punggungnya, namun di saat yang bersamaan, nada Arina tak berdaya. “Oma orangnya baik, keturunan ningrat, dermawan, dan sudah pasti pribadi yang mengagumkan.”
Sera menatap Arina, mendengarkan dan di saat yang sama merasa heran. “Benarkah?”
“Eh?”
“Kenapa Sera ngerasa Oma bukan orang yang baik?” Sera mengeluarkan buku tugas lain lalu tersadar, dia mengoreksi. “Mungkin Oma baik ke kak Arina dan orang lain, tapi kalau ke Papa, Oma gak baik.”
Sera tentu saja tidak akan mengatakan kalimat ini di hadapan publik karena dia tahu perkataan menjelekkan orang tua tidak pantas dilakukan.
“Kamu ngga takut nanti Kakak laporin ke Oma?” tanya Arina setengah bercanda.
“Eh, Sera tahu kok kakak gak akan bisa bilang kaya gini ke Oma.” kata Sera pelan. “Kalau pun Kak Arina bilang ke Oma, gak akan ada pengaruhnya ke Sera dan Papa.”
Apalah posisi Arina? Dia hanya sebuah alat di mata orang-orang itu. Oleh keluarganya dia dijadikan alat pertukaran untuk hidup enak. Oleh Ningsih dia dijadikan alat penggoda untuk mengontrol Reksa.
Arina mungkin akan mendapat pujian saat Ningsih tahu soal ini, mengatakan bahwa dia berhasil menjadi teman dekat Sera. Sampai gadis kecil itu bisa mengatakan isi hatinya.
Tapi apa gunanya? Dia hanya akan terus dikontrol dan diarahkan.
Di tambah, Arina tidak ada niat sedemikian sejak awal pada pasangan ayah dan anak ini.
Arina hanya tersenyum pada Sera.
“Papa kamu bantuin Kak Arina.”
“Bantuin Kakak?”
Sera tahu Papanya selalu membantu orang yang kesusahan. Dalam hati gadis kecil itu merasa bangga.
“Sekarang gimana?”
“Gimana... apanya?”
“Kakak udah jadian sama Papa?”
“Uhuk,uhuk, uhuk!!”
Keduanya beralih ke pintu yang sudah terbuka entah sejak kapan. Reksa berdiri di muka pintu sementara di belakangnya beberapa manajer mengikuti. Joe jadi pelaku yang barusan batuk untuk memecah suasana dan mengingatkan orang di dalam soal kedatangan Reksa.
“Papa!!” Sera langsung berdiri dan menyeret buku tugasnya. Dia mengikuti Papanya ke meja kerja.
Arina yang di kejutkan dengan pertanyaan tadi tidak sempat bereaksi namun wajahnya memerah karena malu, dilihat banyak orang. Perempuan itu segera pamit dan keluar dari ruangan setelah meletakkan dokumen di meja Reksa di bawah tatapan orang-orang.
Reksa duduk di kursinya dan menepuk puncak kepala putrinya, sebelum Sera duduk di meja kecil, disamping meja kerja Reksa.
Benar, sekarang dia memiliki meja pribadi di samping meja kerja Papanya. Kaki kursinya di tinggikan, namun Sera tidak kesulitan untuk naik.
Dia senang bisa duduk bersama Papanya dan bekerja. Rasanya seperti dia berada di tempat yang sama dengan Papanya.
Reksa menunggu sampai orang-orang keluar sebelum beralih ke Sera.
“Kenapa ngomong kaya barusan?”
Sera mengerti tapi pura-pura berpikir.
“Papa tahu kamu ngerti.”
“Huh, Papa ngga bisa kaya gitu ke Sera. Papa kemarin bilangnya gak suka, tapi berangkat kerja bareng sama Kak Arina?”
“Ini urusan orang dewasa, kamu masih kecil gak akan ngerti.”
Papa selalu begini kalau mau mengalihkan pembicaraan, Sera menggumam.
“Jadi Papa gak suka sama Kak Arina?”
__ADS_1
“Kenapa kesini lagi topiknya.”
Sera diam dan tak membalas. Dia bisa menanggapi, tapi Sera merasa dia tidak begitu senang memikirkan ada orang asing baru di rumahnya. Mungkin Sera tidak benar-benar mengharapkan Papa punya istri baru?
Disatu sisi dia penasaran, di sisi yang lain dia enggan.. ah, membingungkan.
****
Malam itu Sera berbaring di kasur dengan ponselnya. Dia mengirim pesan pada Abima.
Abima: km blm tidur?
Sera: gimana ya
Abima: kenapah??
Sera: ak seneng papaku punya pacar. Tp aku kaya gak mau jg
Abima: papa km punya pacar????
Sera: iy
Abima: orgnya ky gimana?
Sera: kayaknya sih baik, aku jg suka sma dia.
Abima: kok papa km punya pacar sih??
Sera: belum jadi pacar sih, tp masih calon
Abima: knp bisa jadi calon?
Sera: soalnya aku bilang k papa pacar papa dia aja
Abima: hah? gimana sih??
Abima: km yg pilihin papa km pacar?
Sera: iy
Abima: kenapa??
Sera: kan km bilang waktu itu biar aku aj yg cariin istri buat papa
Abima: trus km cariin beneran??
Sera: iy
Abima:...
Abima: oh
Abima: yaudah trus skrg knp?
Sera: aku jg sedih gt
Abima: gak usah bingung kan blm jadian papa kmnya
Abima: papa km seneng gak?
Sera:....
Sera: aku gak tau sih. Kayaknya biasa aja?
Abima: kan km bilangnya waktu itu pingin bikin papa km seneng. Skrg papa km biasa aja alias gak seneng berati ini bukan pilihan bagus.
Sera: masa sih???
Abima: gimana kalo km tanya langsung k papa km aja
Sera: iya ya
Sera: makasih Abima
Abima: iya, jgn lupa suratnya ya
Sera: udh aku kirim kok lagi di jalan
Abima: okk
__ADS_1
Untuk anak-anak seperti dirinya, perlu waktu lama untuk bertukar pesan. Begitu obrolan mereka selesai waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.