
Anggota sekretaris tahu bahwa Arina cuti di saat yang sama ketika bos mereka ambil libur sebagaimana jadwal rutinnya. Meski hanya 3 hari, untuk mereka yang kerja sebulan penuh, mengambil cuti adalah hal yang sangat jarang. Orang bertanya-tanya ada urusan apa Arina sampai cuti, namun sejauh ini belum ada yang mengaitkannya dengan Reksa.
Reksa dan rombongan berangkat bersama di jumat sore, dengan lima personel tambahan; Wana, Bi Sri, dan sisanya pengawal. Ketiga pengawal itu merupakan personel lama yang sudah menemani Reksa setiap dia ada perjalanan bisnis.
Sera menunjukkan daftar destinasi yang harus dikunjungi di Negara T. Banyak tempat bersejarah yang pemandangannya menyimpan banyak cerita.
Jam satu siang, hari sabtu Reksa dan rombongan mendarat. Mungkin dia harus berpikir ulang, jam terbang 15 jam terlalu lama.
“Ahem, bukannya ini terlalu lama jam terbangnya?”
“Ya?” Perlu beberapa detik untuk Arina sadar bahwa Reksa sedang bicara padanya. Arina tidak berpikir panjang dan menjawab, “Iya lumayan lama.”
“Dari segi efisiensi dan kultur Negara T bukan tujuan yang ideal. Meskipun bahasa Inggris jadi bahasa kedua, tapi kebanyakan penduduknya menggunakan bahasa lokal.”
“Ya..” Arina melirik heran pada Reksa. “Kita kan mau liburan?”
Reksa diam sejenak. “Maksud saya, kalau untuk liburan tempat ini bagus, sangat bagus. Tapi kalau untuk ditinggali kurang nyaman.”
“Oh..,” mendengar itu barulah Arina mengerti. Awalnya Negara T jadi salah satu pilihan untuk rencana Arina kuliah. Tapi mendengar kata-kata Reksa, dia setuju.
Reksa memikirkan video yang baru diterima dari Joe. Entah apa yang salah dengan sekretarisnya itu, dia mengirimkan link soal mafia negara T yang populer di sebuah platform video. Joe itu kadang cekatan di saat yang tidak tepat. Harusnya dia kirim sebelum Reksa berangkat.
Videonya baru terbit belum berapa minggu lalu dan menembus jutaan viewers, katanya video itu cukup populer di kalangan penduduk lokal.
Pikirkan, bagaimana bisa kriminal sejenis mafia bisa populer? Hal seperti ini sungguh mengkhawatirkan. Tentu saja, satuan keamanan Negara T bisa dibilang salah satu yang terbaik di dunia.
“Saya akan pilih baik-baik, Pak Reksa tenang aja.” Arina menerima masukan Reksa dengan pikiran terbuka.
“Wooow!” Sera yang melesat berlari dari belakang membulatkan mulutnya dan berdecak kecil melihat bentuk interior bandara yang tidak biasa.
“Hati-hati,” Arina tersenyum kecil dan menyusul Sera.
“Dari jauh bentuk langit-langitnya kaya Papa.” celetuk Sera tiba-tiba. Arina dan Reksa yang mendengarkan loading sesaat namun tetap tidak paham meski sudah mencerna kalimat itu.
“Mirip Papa dari mananya?” tanya Reksa sambil mengusap puncak kepala putrinya. Kadang dia gemas dengan isi pikiran putrinya.
“Iya, ini bentuknya kaya perut Papa.”
Arina: ….
Reksa: ….Haha
Maksudnya six pack? Meski Reksa merasa bangga Sera membocorkannya di depan umum(lebih tepatnya di depan Arina), tapi kan dia tetap merasa malu juga…
Bandara Internasional Negara T, bagian langit-langitnya berongga cekung, kebetulan dari arah mereka keluar bentuk kanan kirinya terlihat simetris, seperti yang Sera katakan, mirip otot perut yang berbaris.
__ADS_1
Reksa berdehem menghapus rasa malunya. “Perut Papa tidak berbaris sebanyak ini.” Lah, kenapa malah memperpanjang topik ini?
“Kita langsung keluar aja?” kata Reksa cepat.
“Oke.”
Reksa dan rombongan masuk ke mobil. Karena jadwal terbang yang panjang, Sera dan Arina sudah tidur lama. Keduanya menolak untuk istirahat dan memilih langsung berangkat ke destinasi. Reksa mengirim Wana untuk cek in sementara dia dan rombongan berangkat ke objek wisata.
Ketiganya berjalan-jalan menyusuri kota I, sesekali akan ada orang yang menyapa; kebanyakan pedagang, menawarkan dagangan.
Reksa berniat untuk menghabiskan waktu sampai sore bersama-sama, namun di pertengahan dia menerima panggilan darurat yang mengharuskannya untuk pergi. Reksa membawa satu pengawal bersama dan meninggalkan dua lainnya untuk menjaga Arina dan Sera.
Di negara asing ini, hanya sedikit orang yang tahu soal dirinya, jadi Reksa tidak terlalu khawatir. Namun dia sedikit menyesal tidak membawa personel lebih.
“Apa ada perusahaan keamanan terpercaya di sekitar?” tanya Reksa pada pengawalnya.
“Ada, Bos. Rekan militer saya sempat kerjasama dengan personel Keamanan Cerdas di area ini, kebetulan saya ada kontaknya.”
“Bagus kalau begitu, saya mau yang all-round bodyguard. Langsung kirim buat jaga Sera dan Arina.”
“Baik, bos."
Reksa masuk ke ruang pertemuan hotel dan memulai rapat. Bersama dia duduk tiga orang lainnya.
Kali ini perusahaan Reksa bekerjasama dengan Menteri Pariwisata membuat persinggahan di tepi Ibukota Negara T berupa kampung yang dihuni serta penuh atraksi dan kebudayaan negeri.
Untuk proyek sejenis ini, biasanya perusahaan konstruksi Reksa jadi pilihan pertama.
Dia hanya tidak menyangka saja, di saat dia memisahkan diri, masalah terjadi pada putrinya dan pada Arina.
***
Distrik yang banyak diduduki oleh warga negara I sudah pasti jadi tempat ideal, harga tanahnya pun terbilang sangat murah dibandingkan dengan area lain. Hanya memang menjadikannya tempat singgah/tempat wisata perlu waktu yang panjang.
Bisa dibilang area itu diduduki penduduk Negara I, namun banyak diantaranya yang masuk ke Negara T secara ilegal. Tentu saja imigran dari negara lain pun banyak berkumpul. Dari informasi yang diterima, area itu ‘dijaga’ oleh gangster setempat. Bagaimana bisa gangster daerah berkuasa menyeimbangi polisi? Tentu saja Reksa berpikir, di belakangnya berdiri sindikat yang lebih besar.
Pihak Polisi Negara T menahan banyak imigran gelap dan membongkar beberapa kasus di area tersebut, namun setiap penggeraknya ditangkap, kasus akan terputus. Selama ini gangster di wilayah tersebut menjaga jarak aman dan polisi tidak bisa menindak tanpa bukti yang nyata. Bisa dikatakan selama beberapa waktu keduanya stalemate.
Tentu saja soal legalisasi Reksa bisa menyelesaikannya dengan mudah, karena tidak ada halangan dari pihaknya. Tapi sebagai bagian konstruksi dia tahu betul bahayanya kalau masalah ini tidak diselesaikan dengan hati-hati. Beberapa proyek besar bisa sampai batal ketika perselisihan dengan warga setempat terjadi. Apalagi dengan ancaman sindikat yang sudah mengakar sekian lama.
“Petugas migrasi lokal bersedia bekerjasama dalam menertibkan imigran ilegal. Selain masalah ini, keamanan juga jadi salah satu faktor yang jadi bahan pertimbangan.” Handian, tangan kanannya yang selama sebulan ini survey di Negara T menyampaikan laporan. “Pak, saya kira meski harga tanahnya murah… bahkan di bandingkan harga tanah di Ibukota, tapi pemerintah negara T menawarkan ini seperti meminta kita untuk menyelesaikan sindikat berbahaya…” Handian menghela nafas dalam. Sebagai perusahaan konstruksi biasa, mereka mana bisa?
Reksa berpikir sejenak sebelum menjawab, “Saya tahu.” Dia membuka dokumen lain, “Harga tanah yang lain bagaimana?”
“Ada beberapa wilayah yang memadai, Peternakan dan Pertanian wilayah ini tidak lagi digarap.” Handian menyerahkan dokumen pada Reksa. “Pemiliknya berniat untuk pindah ke kota dan menjual tanahnya karena keadaan tanahnya tidak begitu subur. Selain kita ada beberapa perusahaan yang mengincarnya, namun tingkat perusahaannya menengah ke bawah. Selain keuntungan mereka sebagai warga lokal, kita tidak perlu khawatir soal yang faktor yang lain.”
__ADS_1
Handian menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Hanya saja, dengan tanah yang kosong melompong, perlu usaha yang panjang untuk meningkatkan populasi,” dan uang.
“Populasi…,” Reksa membuka dokumen demi dokumen. “Kalau orang yang mengerti mereka akan mengambil kesempatan ini sebelum didahului orang lain.” Meski Reksa berkata demikian, dia merasa hal ini juga tantangan untuknya. Tapi dia tidak bisa merasa ragu atau menunjukkannya.
“Kita ambil tanah ini. Sosialisasi yang sudah dimulai sejak enam bulan lalu kita tingkatkan di masa-masa ini. Hubungi pedagang negeri I dan pedagang lokal negara T, utamakan kerajinan dan kesenian.” kata-kata Reksa yang meluncur tanpa jeda langsung dicatat oleh tenaga kerja yang bersangkutan. “Meski ini khusus untuk memperluas budaya negeri kita, lokal tidak bisa dikesampingkan. Paling tidak untuk hal yang mendasar.”
Reksa melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Kalau di waktu biasa, Reksa akan terus gas hingga larut. Tapi kali ini dia sedang liburan dan ingat soal putrinya. Dia berniat untuk menghelat sampai waktu makan malam dan melanjutkannya nanti.
“Kita lanjut jam delapan malam nanti…” saat itu pintu rapat terbuka tanpa di ketuk. Pengawal Reksa yang barusan keluar sesaat, kini masuk dengan wajah tegang sebelum berbisik ke telinga Reksa.
Handian (herannya) merasakan udara seperti turun sekian derajat bersamaan dengan ekspresi Reksa yang damai berubah kaku dan menyeramkan.
Dia yakin rapatnya tidak akan dilanjutkan.
“Rapat di lanjut nanti, tunggu informasi saja.” kata Reksa terdengar asal sebelum melesat keluar ruangan, meninggalkan yang lain kebingungan di tempat.
Reksa berjalan cepat di koridor hotel. “Kau bilang apa tadi?”
Pengawalnya mengingat laporan yang diterima dari rekannya, bahwa ‘Nona Sera dan Nona Arina menghilang setelah membantu seorang pria yang terluka di sebuah gang’. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, dia tidak bisa mengatakan hal demikian terang-terangan pada Reksa.
Si pengawal menelan ludah dan berusaha berkata dengan nada stabil. Sebelum dia membuka mulut, dia menerima informasi baru melalui ponselnya. Kali ini dia sedikit lega, namun segera ekspresinya berubah tegang.
Melihat Reksa yang sudah gelap wajahnya seperti badai yang siap mengamuk, si pengawal pasrah. Keselamatan kedua Nona ini sangatlah penting. Yang satu putrinya Reksa, satunya lagi tunangan Reksa, si pengawal tidak berani menunda.
“Bos, Nona Arina dan Nona Sera di tahan oleh Givanne…,”
“Bajingan mana Givanne ini?” potong Reksa geram.
“....dia pernah ditahan atas kecurigaan penyebaran obat berbahaya dan bisnis judi ilegal namun dibebaskan karena kurangnya bukti..,”
Prrk. Ponsel yang Reksa genggam retak layarnya. Si pengawal langsung bungkam, namun raut muka Reksa memaksa dia untuk melanjutkan.
“Kenapa bisa Sera dan Arina terlibat dengan orang yang entah dari mana ini?” mata Reksa menusuk si pengawal seperti pisau. “Bukannya saya sudah minta untuk personel baru itu? Apa kegunaan mereka, hah?”
“Anu, ahem, Nona Arina menyelamatkan seorang pria dan membawanya ke rumah sakit…, Nona ditahan karena…”
Mendengar bahwa Arina tidak dalam bahaya, kekhawatiran Reksa berkurang sedikit. Berarti putrinya harusnya baik-baik saja.
Tetap saja, dia harus segera menjauhkan keluarganya dari malapetaka bernama Givanne ini.
“Apa? Lanjutkan omonganmu.”
“Orang yang diselamatkan ini kebetulan Givanne, dan dia tertarik pada Nona Arina…, makannya… sekarang ditahan di Rumah Sakit.”
“.....Ah,” Reksa menghela nafas berat dan panjang setelah sekian lama terdiam. Si pengawal seperti bisa mendengar suara imajiner urat Reksa yang putus saking geramnya.
__ADS_1