ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
62. Kapan nikah?


__ADS_3

Sera keluar kelas menggandeng tasnya. Gadis kecil itu langsung tersenyum begitu melihat sosok Arina yang berdiri tak jauh.


Dengan begitu akrab, Sera berjalan cepat ke arah Arina, menghiraukan sosok-sosok asing yang mencari perhatian.


“Kakak makan gak?” adalah hal yang pertama Sera tanyakan pada Arina.


Arina tersenyum kecil dan menggeleng. “Nggak, tapi Kak Rina beli permen.”


“Eh, permen bagus. Cemilanku mana, kak?”


“Ini, di tas kertas.”


“Kita makan dulu aja, kak.”


“Huh?”


“Aku lapar banget soalnya.”


Arina ingin bertanya, kenapa tidak di mobil saja? Namun Sera sudah duduk duluan di kursi. Arina akhirnya ikut duduk dan mengeluarkan camilan yang sudah dia bungkus. Risoles, lemper, susu jeli, kue tiramisu, dan beragam permen empuk.


“Kakak cuma beli dua permen buat kamu.” Bagaimanapun anak kecil harus berhati-hati demi kesehatan giginya. Kue tiramisu pun, Rina beli yang potongannya paling kecil.


“Kakak juga ikut ngemil bareng aku.” kata Sera dengan nada yang tak bisa di bantah.


“Oke.” Arina membuka bungkus makanan dan menyajikannya di meja kayu. Sebelum dia menyerahkan garpu kecil, Sera sudah berkata duluan, “Kak Rina cobain ini kuenya enak, loh,”


“Eh?” bukannya dia beli ini untuk Sera makan? Omong-omong sepertinya sikap Sera agak aneh sejak awal mereka bertemu? Atau ini hanya perasaan Arina saja?


“Ayo kak.”


“Em… baiklah.” Arina akhirnya mencicipi kue tiramisu yang krim kentalnya terlihat menggoda sejak tadi. Arina berpikir dia harus berlari lima menit lebih lama untuk setiap gigitan kue yang dia makan.


“Enak kak.”


“Enak.” sebagai seorang murid tata boga, Arina akui rasa kue ini unik dan istimewa. Daripada kantin sekolah, tempat makan di sini lebih pantas disebut kafe.


“Aku mau coba dong, kak.” Sera membuka mulutnya sementara kedua tangannya memeluk tas sekolah. Arina canggung sedetik sebelum memotong kue dengan garpu bekas dirinya dan menyuapinya ke Sera.


“Tapi ini bekas Kakak loh, garpunya…,”


“?” Sera mengunyah kue perlahan, matanya menunjukkan kebingungan seperti bertanya ‘apa masalahnya?’


Arina merasa dia membesar-besarkan masalah kalau memperpanjang masalah ini. Akhirnya dia diam.


Walhasil mereka menghabiskan kue tiramisu itu berdua, dengan Arina yang menyuapi Sera dan makan bergantian. Setiap sendoknya begitu kecil; meski tidak kenyang, tapi keduanya merasa senang.


Sera terutama, dia merasa cara yang dia gunakan benar-benar jenius. Selama dia bersama Arina, tidak ada satupun perempuan yang datang untuk cari perhatian padanya. Akhirnya dia bisa tenang juga.


Kehadiran Arina yang tidak disangka membuat orang-orang menanyakan identitas Arina. Sekretaris? Bisakah sekretaris bersikap sebegitu akrab, sampai makan satu garpu berdua? Ayahnya Sera sudah pasti tidak akan mengizinkan hal demikian dilakukan oleh bawahannya pada putrinya.


Ditambah Sera terlihat dekat sekali, para wanita yang berniat untuk mengetes keberuntungan langsung mundur begitu melihat sosok Arina.


Jam tiga kurang, Arina membawa Sera ke butik untuk memilih gaun.


Arina memilihkan gaun putih dengan jejak bunga di bagian atas; bagian bawahnya berupa rok berlapis kain organza yang dibentuk seperti kelopak bunga.


Untuk modelnya tidak begitu manis seperti model gaun yang Sera kenakan sebelumnya, namun model ini terlihat elegan dan manis, menunjukkan wibawa nona dari keluarga kelas atas. Dengan pembawaan Sera yang tenang dan ceria, gaun ini tidak akan terlihat tua dipakai olehnya. Karena Sera sudah kelas tiga SD, sudah waktunya untuk Sera melepas sedikit demi sedikit kesan kekanakannya, meski tentu saja, dia masih anak-anak.


Bersama gaun satu set sepatu pantofel perak dan pin rambut dengan motif asteria putih. Ukirannya indah dan mendetail, di bawah cahaya lampu, garis bunganya semakin jelas.


Karena waktu yang mepet, Sera yang berkeringat mandi di ruang pribadi di butik, sebelum mengganti pakaiannya. Arina menata sendiri rambut Sera meskipun butik itu menyediakan hairstylist.

__ADS_1


Arina memberikan sanggul balerina untuk memudahkan Sera bergerak. Ikatannya kukuh namun tidak erat. Membuat Sera leluasa dengan sanggul ini untuk waktu yang lama.


Sera duduk menunggu Arina berganti gaun di meja, sambil mengirimi pesan pada Papa-nya; bertanya kapan Papanya datang menjemput.


Sepuluh menit kemudian, Arina keluar dari ruang ganti dengan gaun putih bardot selutut berlengan pendek dengan bagian rok melingkari badannya dengan sempurna. Motif gaunnya serupa dengan yang Sera pakai, hanya Arina menata rambutnya di sanggul rendah ke samping.


Sera berdecak dalam hati, apakah mungkin ketika besar nanti dia bisa secantik kak Arina?


Di saat yang sama, jam tangan yang Sera pegang berdenting; Papanya sudah sampai.


Ketika Reksa sampai, dia melihat dua perempuan yang membuatnya tertegun. Setiap melihat Sera, tentu saja Reksa selalu berpikir bahwa putrinya adalah malaikat kecil termanis sedunia. Tapi dengan Arina di sampingnya, kesan itu bertambah berkali lipat, dia seperti melihat cahaya di belakang keduanya… Reksa berdehem menyadarkan dirinya. Untung saja Wana memilihkan setelan jas yang sesuai dengan gaun keduanya.


“Papa~” Sera tidak lagi berlari saat melihat Reksa, namun gadis kecil itu akan berbinar matanya, seperti bintang kecil tersimpan di dalamnya. Mata Sera menunjukkan harapan untuk pujian atas penampilan dirinya.


“Em, cantik sekali, datang dari mana peri kecil ini?” Reksa bersimpuh dan memperhatikan dengan seksama penampilan Sera dari ujung ke ujung.


“Kak Arina yang dandanin Sera.”


Reksa memberi senyum terimakasih pada Arina yang di balas dengan senyum ramah darinya.


Ketiganya berangkat dengan Wana yang mengemudi. Sera duduk di tengah diapit Arina dan Reksa.


Hotel tempat acara berlangsung terletak tak jauh dari butik, Sera banyak mengobrol dengan Arina di jalan dan tanpa terasa mereka sampai.


Reksa keluar mobil dan menyambut tangan Arina, yang turun beriringan dengan Sera.


Diiringi perempuan di kanan kirinya, Reksa memasuki aula dan langsung mencuri perhatian. Karena acara petang itu masih acara keluarga, bukan berarti tidak ada orang lain yang hadir. Dan omong-omong, Reksa merupakan tokoh utama kali itu.


Meski begitu, dia tetap berinteraksi dengan tamu yang sudah datang lebih dulu sambil menunggu Ayahnya hadir.


Pukul empat lewat, MC maju ke depan panggung dan mengumumkan bahwa acara pertunangan Reksa dan Arina resmi di mulai.


Sera yang tengah menggigit kue, masih belum mencerna kata-kata MC. Sampai dia dipandu Wana untuk berdiri di samping sementara Papa-nya bertukar cincin dengan Arina, barulah Sera sadar.


Papa menikah? Ah, mana mungkin?


Meski pikiran Sera kosong saat itu, dia ikut bertepuk tangan saat tamu yang lain bertepuk tangan juga. Lalu, ketiganya, Reksa, Arina dan Sera berfoto seperti foto keluarga. Sungguh pemandangan yang indah.


Akhirnya setelah kesadaran Sera kembali, dia mendengar bahwa ini adalah acara pertunangan Papa-nya dengan Kak Arina?!


Petanyaannya, kenapa dia yang anaknya Papa tidak tahu menahu soal ini sama sekali?!


Oke, mungkin memang dia yang mendukung hubungan Papa-nya dengan Kak Arina, tapi dia sebagai anak, sebagai anggota keluarga langsung Papa, berhak tahu soal acara ini, kan?!


Sera merasa sangat sedih dan dia mulai berhenti tersenyum. Hanya fokus pada hidangan di piringnya.


Acaranya tidak berlangsung lama, sebelum jam enam, Reksa sudah membawa Sera pulang; semetara Arina tetap di hotel untuk menjamu tamu yang lain. Acara akan dimulai kembali pukul 7, dan selesai pukul sembilan.


Reksa tidak suka acara yang panjang dan berbelit-belit, namun Ningsih ingin menjaga wibawa keluarga dan bersikeras untuk memperpanjang acara. Akhirnya Reksa setuju, namun dengan syarat acara inti di selesaikan di awal, sisa waktunya untuk menjamu tamu. Tidak perlu untuk dia hadir sampai acara selesai.


Ningsih akhirnya terima, selama Arina berada di sampingnya selama acara berlangsung, wanita itu tidak akan meminta yang macam-macam.


Reksa menyetir pulang bersama Sera, sementara Wana tetap di hotel mendampingi Arina sebagai tangan kanan Reksa.


Reksa menyetir dalam diam, pikirannya penuh dengan urusan yang belum diselesaikan. Kemudian dia tersadar sesuatu yang janggal.


Reksa menoleh ke spion dan mengumpat dalam hati saat melihat putrinya duduk di kursi belakang tanpa suara, hanya memandangi pemandangan lewat jendela.


Reksa mengatupkan mulutnya, jangankan memberitahu Sera, dia saja hampir lupa bahwa acara ini akan digelar. Namun dia teringat bagaimana putrinya menjawab pertanyaan dan interaksinya dengan tamu yang hadir. Seketika dia merasa bersalah.


“...Cape?” tanya Reksa hati-hati. Dia menunggu beberapa detik sebelum putrinya menjawab.

__ADS_1


“Engga.”


“Tetep aja hari ini kan habis berdiri lama. Besok izin aja gak sekolah biar kamu istirahat di rumah.”


“Ngga.” kata Sera kalem. “Besok, Sera mau sekolah.” Sebenarnya dia tidak mau sekolah. Pasti teman-teman sekelasnya akan mendengar berita ini. Sera hanya bisa merancang alasan dan pura-pura bahwa acara ini kejutan untuk dunia luar.


Kan, tidak lucu, dia sebagai putri Reksa tidak tahu sama sekali.


Kesannya seperti Sera tidak penting untuk mengetahui hal seperti ini.


Sera tahu Papanya tidak berpikir demikian. Tapi Sera tidak bisa menahan diri untuk overthinking. Mungkinkah benar, posisi dia sebagai anak, posisi yang paling berharga untuk Papa-nya mulai bergeser sedikit demi sedikit?


Dia membayangkan wajah Kak Arina, dan Papanya. Tidak mungkin kan?


“Sera.”


Saat lamunannya buyar, Sera melihat dia masih duduk di mobil. Namun pintu mobil sudah di buka dan Reksa setengah bersimpuh menatap wajahnya.


“Em.” Sera berdehem.


“Sini.” tanpa diminta Reksa langsung menggendong putrinya. Sera memeluk leher Papa-nya erat dan menenggelamkan wajahnya di bahunya.


Reksa menghela napas dalam. “Papa minta maaf karena ngga kasih tahu kamu, sayang.” Reksa mulai menepuk punggung Sera. Bi Sri yang membukakan pintu langsung diam dan undur diri begitu menyadari Reksa hendak menghabiskan waktu bersama Sera.


“Papa mau berkata jujur sama kamu, untuk saat ini, Papa dan Kak Arina ngga ada hubungan khusus.”


“Meski Papa dan Kak Arina barusan tunangan?”


“Em, meski tunangan sekali pun.”


“Trus kenapa ngelakuin itu? Ngga kasih tahu Sera.”


Reksa merasa sakit kepala. Bisakah dia katakan bahwa dia lupa? Kedengarannya seperti omong kosong.


“Jangan bilang Papa lupa?”


“...”


“Papa lupa kan?”


“Engga lupa, sayang. Papa terlalu sibuk jadi baru kepikiran..” itu pun terpikir saat Wana mengingatkan dia.


“Oke, jadi Papa betulan gak ada niat untuk… ke jenjang yang lebih jauh?”


Reksa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum mendengar kalimat putrinya.


“Em.”


Keduanya diam untuk beberapa saat sampai Sera membuka suara. “Pa, Sera ngga menolak Papa untuk menikah. Tapi Sera harap Papa kasih tahu Sera.” di ujung kalimatnya sedikit rendah. Reksa menunduk dan melihat mata putrinya sudah berlinang.


“Kenapa putri Papa nangis, hm?”


“Sera pikir Papa udah gak mikirin Sera lagi.” sudah jelas dia keluarga terdekat Papa, tapi dia diasingkan untuk acara penting seperti ini. “Meskipun Papa dan Kak Arina gak saling suka, tapi tunangan ini kan asli.”


Kapankah terakhir Sera menangis? Reksa merasa hatinya tercubit melihat air mata berjatuhan dari mata putrinya. Dia mulai menyadari bahwa Sera jauh lebih dewasa dengan anak lainnya. Gadis kecilnya begitu pengertian dan tidak ingin membuat dirinya khawatir, selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.


“Sera sayang, putri kesayangan Papa.” Reksa mengecup kening Sera. “Next time, Papa ngga akan lupa lagi.” kata Reksa kemudian memeluk Sera.


“Janji?”


“Em, janji.”

__ADS_1


“Oke.” Sera berhenti menangis namun suaranya masih sedikit sumbang. Tiba-tiba putri kecilnya melontarkan pertanyaan mengejutkan. “Jadi nikahnya kapan?”


Reksa: …..


__ADS_2