
Reksa kembali ke meja setelah bertukar sapa dengan tamu lain. Beberapa orang tidak mengerti namun yang lain tahu bahwa acara saat ini bukan waktu yang tepat untuk mendesak Reksa.
Ketika dia kembali ke meja, dia melihat mejanya kosong, di samping meja berdiri tegak seorang wanita paruh baya. Melihat kedatangan Reksa, wanita itu langsung menunduk memberi hormat.
“Saya Bayn, pengasuh None Leiya dan Lily. Nona Sera diajak bermain berkeliling aula.” kata-katanya tidak cepat dan tidak lambat. Nada suaranya submisif namun tidak merendah. Tapi sejak awal Reksa tidak berkata apa-apa.
Saat Bayn mengangkat wajahnya, yang dia lihat adalah mata dingin Reksa.
Mata itu tanpa perasaan, membekukan sekujur badan Bayn.
“Cari.”
“Ma-maaf?”
“Saya ingin putri saya kembali.”
“Oh, T-tapi, Nona Leiya dan Lily..,”
Reksa terkenal sebagai bos yang pilih-pilih, kadang juga dia meledak-ledak saat kepalanya panas. Namun sejak Sera hadir dan tumbuh besar, hal itu pelan-pelan berubah.
Dia hanya pergi mengambil makan dan ketika kembali putri kesayangannya sudah menghilang di bawah dua setan tak dikenal bernama L dan L?
Dia masih diam karena memikirkan bahwa ini acara penting. Tapi tidak hanya menurut, wanita di depannya malah mengelak juga.
“Tuanmu siapa?” kata Reksa dingin. Mendengar gertakan gigi Reksa, Bayn langsung bergidik. Dia akhirnya sadar bahwa hal ini akan jadi gawat kalau dia yang menangani.
“..Tuan saya Tuan Milwan,”
“Milwan?” dia berpikir dimana Reksa mendengar nama ini. Bayangan seorang bocah ingusan timbul di ingatannya.
“Milwan…,” Reksa akhirnya ingat bahwa dia sepertinya punya adik tiri bernama Milwan.
“Dengar, kamu cari anak saya, bawa dia kesini atau panggil Tuanmu.”
“....” Bayn meragu sesaat.
“Atau saya cari sendiri, begitu ketemu, dua anak yang bawa putri saya, saya patahin kakinya?” ancam Reksa tanpa perubahan di wajahnya.
Bayn tidak pernah berinteraksi dengan Reksa, dan dia tidak tahu seperti apa dia. Namun dia tahu bahwa Tuan dan Nyonya besar menaruh perhatian penting pada Reksa. Mendengar ancaman itu, Bayn merasa marah dalam hati. Seseorang mengancam nona-nona kecil yang dia asuh penuh cinta. Namun dia juga merasa ngeri, bagaimana kalau ancaman itu benar-benar dilaksanakan?
“S-segera, Tuan Reksa.”
Tak lama, Milwan datang bersama istrinya, Alyona.
Melihat kakaknya yang sudah lama tak terlihat, Milwan menarik senyum tertahan.
“Kak, sudah lama tak berjumpa.” Milwan mengulurkan tangan yang diabaikan Reksa. Dia hanya berdiri dengan kue bawaannya dan menatap lurus tanpa ekspresi.
Milwan berdehem berusaha menutupi kecanggungannya.
Dia sudah dengar alasannya dari Bayn. Dia sendiri membiarkan kedua putrinya berlari sesukanya di manor ini. Dia tak menyangka Reksa akan sebegitu emosinya begitu putrinya di bawa main…
“Kak, bagaimana kalau kita duduk dulu dan ngobrol? Sudah lama…”
__ADS_1
“Oh, saya gak begitu familiar. Sepertinya tidak perlu ada obrolan apa-apa.” jawaban dingin itu membuat Milwan hampir tersedak, namun dia tetap memberi isyarat pada Alyona, yang segera pergi untuk mencari keberadaan si kembar. Kali ini, bagaimanapun, dia yang salah.
“Alyona sedang cari anak-anak. Kakak tenang saja.”
Mendengar itu, Reksa akhirnya bersedia duduk dan menunggu. Sementara Milwan mengambil tempat duduk di seberang Reksa secara alami.
“Kakak mungkin baru lihat, Alyona, istriku.. dia keturunan Negara R… sayang sekali kakak tidak bisa hadir waktu itu..,”
Mendengar kalimat itu, Reksa tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyeringai.
Milwan langsung merasa malu. Dia hanya bisa duduk menunggu.
“Papa!” suara itu memecah atmosfer di sekeliling Reksa, seakan es yang beku perlahan meleleh. Reksa melihat putrinya menghampiri di tuntun Alyona. Di belakangnya, dua setan–dua keponakannya yang membawa putrinya mengikuti.
“Habis dari mana?” meski wajahnya masih mengerikan, namun nada suara Reksa lembut.
“Sera habis jalan-jalan sama Leiya, sama Lily juga.”
Mendengar kalimat yang terdengar menunjukkan keakraban itu, Milwan mengangguk dalam hati. Dia memutuskan untuk menghadiahi si kembar dengan sesuatu. Mata Milwan tertuju ke tiara yang Sera pakai. Bukankah dua putri kembarnya juga menyukai tiara itu? Milwan akan coba cek, barangkali tiara itu masih tersedia.
Reksa tidak bisa mengatakan ‘jangan bermain dengan saudaramu’ dan sejenisnya. Tapi dia harus menunjukkan posisinya dengan jelas.
“Harusnya apa dulu kalau mau main?”
“Izin dulu.” Sera menjawab pelan-pelan.
“Hm. Kalau kamu main gak bilang, lalu Papa cari kamu gak ada… misalnya Papa telepon polisi gimana?”
Membayangkan polisi datang ke pernikahan ini, membuat panik orang-orang demi untunk mencarinya, Sera langsung sadar.
“Um, Kak… gak seberlebihan itu kayaknya…,” kata-kata Milwan menghilang di tengah-tengah begitu berhadapan dengan tatapan dingin Reksa.
“Iya, Sera lupa.” kata Sera langsung setuju. “Lain kali Sera gak akan lupa.”
“Oke.” Reksa mengusap puncak kepala Sera pelan.
Saat itu dua pasang sepatu putih masuk ke pandangan Reksa.
“Om Reksa, Halo. Aku Leiya.” Dengan pipi merona dan mata bulat, gadis kecil itu melambaikan tangan.
“Om Reksa, Aku Lily.” Lily mengedipkan mata birunya pelan. Keduanya terlihat manis dan menggemaskan. Namun di mata Reksa, tidak ada peri kecil lain selain Sera.
Reksa menatap keduanya bergantian dan berdehem. Karena dia punya seorang putri, meski kesal, dia memutuskan untuk melupakan perihal barusan.
“Mau makan?” tanya Reksa.
Sera mengangguk.
Reksa memanggil Joe dan memintanya untuk menemani Sera makan di meja lain.
Melihat gerakan itu, Alyona langsung ikut bergabung bersama dua putrinya dan membiarkan Reksa dan Milwan bicara berdua.
Milwan memanggil pelayan yang berlalu untuk membawakan makanan ringan dan minuman.
__ADS_1
“Kakak gimana kabarnya?” tanya Milwan setengah tulus. Dia sebenarnya penasaran dengan kabar kakaknya selama bertahun-tahun ini. “Makin dilihat kakak makin berwibawa. Sepertinya bertahun-tahun ini malah jadi tambah muda.” pujinya tanpa perubahan ekspresi. “Aku masih ingat Kakak yang melompati tembok sekolah. Rasanya baru kemarin.”
Reksa menerima minuman yang di bawakan pelayan dan meneguknya.
“Hidup ya begitu. Kadang maju, mundur, diam di tempat.” balas Reksa tenang. Dihitung-hitung, sudah empat belas tahun mereka tidak bertemu. Kalau Milwan tidak menyapa dan memanggil Reksa ‘Kakak’ duluan, Reksa tidak akan kenal bilamana mereka berpapasan.
“Selama bertahun-tahun ini Ibu dan Ayah rindu Kakak pastinya.” Milwan menarik senyum dengan mata seakan menunjukkan nostalgia.
Reksa mendengus namun tidak mengatakan apa-apa.
“Kakak kenapa tidak pulang?”
“Ngga masalah saya pulang atau engga.”
“Tapi Ibu dan Ayah tidak pernah berhenti mengawasi. Kalau bukan karena Kakak yang tidak mau kembali, Ayah sudah membawa Kakak pulang dari dulu,”
Reksa menarik senyum tipis yang nampak seperti mengejek.
Di akhir tahun menjelang kelulusannya, dia mendengar bahwa dirinya akan di terbangkan ke luar negeri. Tempat yang dipilih memiliki musim salju selama setengah tahun. Reksa bahkan tidak bisa memilih universitas yang dia inginkan. Orangtuanya–lebih tepatnya ibu tirinya, sementara ayahnya terbawa arus, memilih universitas daerah di luar negeri yang tak jauh lebih baik dari pada di dalam negeri.
Alasannya waktu itu apa? Untuk melatih mental dan membentuk kepribadian. Waktu itu tahun yang tidak menyenangkan untuk Reksa baik itu di sekolah dan di rumah. Isu dirinya di sekolah sangat tidak menyenangkan, sampai sekarang dia tidak pernah menghadiri reuni sekolah. Bahkan ibu tirinya menawarkan jika dia menolak ke luar negeri–untuk tinggal di pondok pesantren.
Sementara ibu tirinya mendorong Milwan untuk berpartisipasi di perusahaan, belajar ekonomi dan bisnis sedari dini, dia malah didorong untuk mencari kesenangan di luar topik itu secara terbuka dan tersirat. Berusaha memutus niat dan hasrat Reksa yang menjurus ke perusahaan. Seakan takut dia mengambilnya. Secara logika, dia ini anak pertama. Dia lebih berhak.
Hal itu sudah jadi lumrah di rumah. Dia selalu mengalah untuk adiknya. Setelah dia besar, barulah dia sadar perasaan macam apa yang ibu tirinya tunjukkan pada dirinya.
Reksa langsung hengkang dari rumah dan menghilang.
Soal apakah dia diawasi terus dia tidak tahu dan dia tidak memikirkannya. Selama bertahun-tahun ini dia pergi, satu-satunya panggilan yang datang adalah dari ayahnya yang memintanya untuk berangkat saja kuliah di luar negeri.
Dia menolak dan hal itu jadi hal terakhir yang dia ingat soal ayahnya.
Waktu itu keduanya sama-sama keras kepala. Ayahnya yang linglung, dan dirinya yang baru lulus SMA, masih dalam proses untuk dewasa.
Reksa tidak berpikir dia harus mengalah. Di antara keduanya siapa yang lebih tua?
Alasan Reksa datang ke sini adalah hanya untuk memeriksa apa yang ayahnya inginkan. Di satu sisi, dia masih mengingat niatnya untuk ‘mengumpulkan kebaikan’, demi hidup putrinya di masa mendatang.
Katanya, dengan menyambung silaturahmi bisa menambah kebaikan yang tak terhingga. Dia akan memeriksa apakah hubungan ini layak disambung atau tidak. Kalau tidak, Reksa hanya akan pindah subjek, mencari kebaikan lewat hal lain.
“Kak, aku gak bisa mengatakan apapun soal Ibu.” kata Milwan. Dia mengerti sikap ibunya. “Tapi Ayah banyak berubah beberapa tahun ini.” Milwan bisa di bilang anak yang tumbuh bahagia. Meskipun dia memiliki kakak tiri, namun kakaknya baik padanya. Keluarganya harmonis, dan dia memiliki semua yang dia mau dengan mudah.
Hanya setelah kakaknya pergi barulah dia sadar dengan kesenjangan di antara mereka. Namun ketidak-nyamanan di hatinya hanya berlangsung sementara. Atas arahan ibunya dia akhirnya memanfaatkan kesempatan itu untuk maju. Melupakan kakaknya yang kesusahan dan senang sendirian.
Selama bertahun-tahun itu, Reksa benar-benar merintis dari keringatnya. Dia tak meminta uang, dan ayahnya pun tidak mengirimkan uang. Dia yang mulanya memiliki segala hal, meski tidak sampai ke tingkat tak terbatas, tidak pernah dia bekerja siang malam hanya supaya bisa makan.
Milwan juga tidak menyangka, selama bertahun-tahun ini, perusahaan mereka semakin turun dan turun. Puncaknya terjadi tiga tahun yang lalu. Bersamaan dengan masuknya investor asing, keluarga mereka merasakan guncangan demi guncangan. Milwan masih memiliki Alyona, namun hal itu tetap tak sebanding dengan perusahaan yang dirintis oleh Ayahnya.
Hal yang membuat inti perusahaan mereka mulai runtuh bermula sejak Milwan memasukkan kerabat keluarga dari pihak ibunya untuk ikut serta dalam mengatur perusahaan.
“Kamu gak perlu buka suara untuk mereka.” kata Reksa setelah mendengar Milwan bicara panjang lebar. “Saya datang untuk memperkenalkan Sera. Apakah saya masih bisa berkumpul atau tidak, semuanya tergantung Sera.”
Mendengar itu, Milwan tidak berkecil hati. Kalau begitu, syaratnya hanya dengan membuat gadis kecil itu senang, kan? Ini hal yang mudah. Bahkan putri kembarnya pun sudah berhasil dekat dengan Sera.
__ADS_1
“Kakak ngga perlu khawatir. Tidak ada yang paling peduli pada diri kita selain keluarga.”
Reksa hanya mengulas senyum jenuh.