ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
67. Papanya tidak bisa di harapkan, Sera harus merencanakan program khusus...


__ADS_3

Dengan ini perusahaan Triyanto berhasil di akuisisi. Peralihan yang dipersingkat itu membuat Reksa punya banyak waktu luang, dan meski dia duduk diantara tumpukan dokumen, rasanya udara lebih segar.


Menjatuhkan Erik terbilang mudah, dia hanya perlu melakukan kasus lama, memasukkannya kembali ke penjara, sampai Erik sadar siapa yang dia singgung, mungkin barulah orang itu akan sadar bahwa mendekati Sera hanya akan membawanya pada kehancuran.


Reksa memperhatikan kalender dan memutuskan bahwa ini saatnya dia mengambil libur. Di masa ini jugalah, Joe akan merasa was-was. Joe selalu datang awal dan pulang terakhir, sampai di rumah dia akan memeriksa dokumen dan memastikan Reksa menyelesaikannya sebelum bisa memejamkan mata.


“Saya mau libur tiga hari.” kata Reksa pagi itu tanpa angin, tanpa hujan. Joe yang sudah tahu bahwa ini adalah musim untuk Bos-nya menghabiskan quality-time bersama putrinya, menghela nafas dalam hati. Untung dia sudah persiapan, dan sisa dokumen bisa dikerjakan dengan sedikit santai.


Reksa menelpon putrinya begitu Joe meninggalkan ruangan. Dering pertama belum selesai, telepon sudah diangkat.


“Sudah istirahat?”


Dari seberang terdengar keramaian suara anak-anak lalu perlahan suaranya lenyap. “Em. Papa kenapa telpon?”


Salah satu masalah yang membuat Reksa resah belakangan ini adalah, setiap dirinya mencari putrinya, putrinya akan bertanya ‘ada apa?’


Sangat berbeda dengan respon biasa, memanggil ‘Papa!’ dengan manjanya. Reksa berusaha mengenyahkan pikiran itu, mungkin dia hanya terlalu sensitif.


“Gimana kalau kita liburan? Sabtu sekarang sekolahnya ekskul biasa kan? Kamu gak usah ikut. Kita berangkat jumat sore…,”


“Wow! Betulan?!”


Menerima seruan itu, Reksa tersenyum puas. Benar sekali, beginilah respon semestinya.


“Papa udah kasih tahu Kak Arina?”


Senyum Reksa membeku sesaat, dan muncul semburat aneh di pipinya. Dia berdehem dan melihat sekeliling ruangannya, seperti takut akan ketahuan seseorang.


“Kenapa kamu tanya soal Kak Arina? Ini kan hanya antara kita?” tanya Reksa hampir berbisik.


“Haa…” terdengar hembusan nafas panjang di seberang yang membuat Reksa meragukan telinganya. Kenapa kedengarannya seperti putrinya kecewa pada dirinya? Kenapa?!


“Papa kan sekarang tunangan sama Kak Arina.” meski Sera sangat senang bisa liburan berdua, tapi dia masih ingat niatnya untuk mencarikan Papa-nya istri. Dia sebagai anak harus mulai mencari kesibukan tersendiri supaya Papa-nya akan terpikir untuk jalan-jalan berdua dengan Kak Arina. Memang katanya laki-laki kalau sudah punya anak susah cari pasangan. Hm.


Berhubung hubungan ini masih sebatas tunangan, tidak mungkin mereka pergi berdua, kan? Konsep yang Sera ketahui adalah hanya suami-istri yang boleh pergi berdua. Karena Papa-nya dan Kak Arina belum menikah, mereka tak bisa dibiarkan pergi berdua saja, dengan terpaksa Sera harus ikut kali ini.


Tentu saja, Sera tidak ingin mengatakan bahwa dia khawatir kalau Papa pergi berdua saja dengan Kak Arina. Sera berharap dia bisa memberikan cermin pada Papa-nya, menunjukan bagaimana mata itu menatap Kak Arina. Mungkinkah Papa-nya masih tidak sadar? Meskipun Sera tidak pernah merasakan, dia pernah melihat bagaimana orang-orang saling menatap, sebelum mereka jatuh cinta. Seperti itulah yang dia saksikan di TV!!


Meskipun Sera tahu dalam pertunangan ini ada sesuatu yang lain di belakang, dia tidak akan sampai menebak bahwa tunangan itu hanyalah pura-pura.

__ADS_1


“Ayo ajak Kak Arina juga.”


“Um…, Papa gak tau apakah Kak Arina mau atau ngga..,” kata Reksa pelan. Dia harus mengajak Arina langsung, dia mesti bilang apa? Reksa menolak melakukannya yang mana langka. "Banyak kerjaan juga di kantor."


"Kak Arina kan tunangan Papa. Papa segini berkuasa masa gak bisa kasih tunangan Papa libur!"


"Bisa.... bisa... tapi kalau Kak Arina ingin fokus kerja kan Papa gak bisa maksa?" kata Reksa beralasan.


“Gak apa-apa, aku coba tanyain kak Arina.” kata Sera sebelum menutup sambungan.


Putrinya masih yang paling manis sedunia, Reksa mengangguk dalam hati. Juga yang paling pintar. Reksa bertanya-tanya apakah isi pikirannya dia katakan dengan lantang tanpa Reksa sadari? Kalau tidak, kenapa putrinya seperti ingin mendorong dirinya untuk bersama Arina? Arina benar-benar tipe Reksa....


Senang? Tentu saja...


Ini tidak ada hubungannya dengan senang! Ini soal putrinya!


Hanya saja belakangan ini putrinya tidak selengket dulu, Reksa sungguh merindukannya. Dengan sedih pria tiga puluh itu mengeluarkan kertas foto Sera yang masih berusia empat tahun.


Belum semenit dia menghayati, Sera kembali menelepon.


“Pa?”


“Pa, aku udah bilang sama Kak Arina. Kita berangkat jumat ya.”


“Oh oke..–A-pa??” Reksa membulatkan matanya.


“Iya, aku ajak Kak Arina, kak Arina mau banget. Katanya ini pertama kali dia jalan-jalan ke luar negeri jadi aku harus bikin referensi buat destinasinya.” Sera mengatakan banyak hal namun Reksa tidak fokus mendengarkan. Saat dia sadar telepon sudah berakhir.


“.....” bukankah Arina ada di luar(ruangan kerjanya)?Perempuan itu tidak akan berpikir Reksa aneh, kan? Apa yang harus dia katakan kalau mereka bertemu?


Tok tok tok


“Masuk.” Reksa menjawab tanpa berpikir.


Arina muncul dan Reksa mendadak jadi tegang. “A-ah, kamu. Kenapa?” dia menggeser keyboard dan mulai mengetik(akting).


Arina berkedip sebelum bertanya, “Saya… datang lagi nanti aja?” melihat Reksa yang serius mengerjakan pekerjaannya, Arina berniat kembali keluar.


“Kenapa buru-buru?” respon Reksa tanpa berubah ekspresi wajahnya. Tangannya mengetik di sticky notes ‘Pikiran yang kuat tidak akan gentar meski badai menerjang’. Setelah merasa puas dia lalu berpaling ke Arina. Setelah menulis kalimat tadi, kini hatinya jauh lebih tenang.

__ADS_1


“Gimana?” tanya Reksa.


“Sera tadi nelpon saya.”


“Uh-uh.” Reksa mengangguk-angguk.


“Saya pikir… soal perjanjian kita itu..” Arina berkata dengan nada panjang. Biasanya Reksa akan langsung menangkap, tapi Reksa yang sekarang blank sesaat karena teringat kata-kata putrinya soal 'mengajak Arina liburan bersama'.


Arina akhirnya menyelesaikan kalimatnya.


“Saya ingin cari referensi kampus saya. Jadi.., apakah bisa saat kita liburan nanti mengunjungi area yang dekat di sekitaran universitas?” yang Arina maksud tentu saja mereka bertiga. Namun Reksa fokus ke kalimat ‘kita’.


Dengan wajah bodoh Reksa hanya mengangguk dan setuju. Setelah Arina keluar ruangan, Reksa langsung sadar. Dengan kecepatan cahaya dia mengetik di mesin pencarian. Wajahnya begitu serius dan dia membaca setiap artikel dengan hati-hati.


Negara M? Bagus, bahasanya mudah dimengerti, kebiasaan dan adat yang tidak beda jauh namun menyimpan budaya yang beragam. Tapi jaraknya terlalu mudah untuk dikejar. Reksa khawatir keluarga Arina akan membuat masalah dan datang ke Negara M.


Kalau begitu negara yang jauh? Tapi kalau dia misalnya..... misalnya, nih, ya, pergi berkunjung, akan memakan waktu yang terlalu lama.


Kalau begitu pilih Negara yang agak singkat waktu terbangnya namun area yang terpencil. Supaya orang-orang aneh tidak mendekat.


Yang ini tinggi tingkat kriminalnya, yang ini terlalu aneh budayanya, yang ini… ah terlalu banyak populasi pria-nya.


Kenapa sesulit ini memilih universitas yang bagus, aman, dekat dan berkualitas?!


Saat itu, Sera mengirim pesan pada Reksa:


Sera: Sera udah pilih destinasinya.


Reksa yang menerima pesan itu hampir lupa. Tidak apa, dia hanya perlu mencocokkan seleranya. Putrinya selalu mengalah, ah… maksudnya selalu setuju dengan pilihan Reksa.


Reksa: kemana?


Sera: Kita ke Negara T. Yang ada balon udaranya.


Bahkan caranya Sera membalas pesan pada Papa-nya, persis seperti Reksa sendiri. Langsung to the point, tegas, dan tidak mau di bantah.


Negara T? Meskipun tempat itu memadai dengan kriteria yang dia perlukan, tapi bahasanya memerlukan waktu lama untuk dikuasai.


Ah, tapi kalau mengambil bahasa asing, mungkin bisa diatur? Arina kan bukannya tidak bisa bahasa asing. Meski tidak sekolah formal, Arina bisa berbahasa Inggris sebatas obrolan sederhana.

__ADS_1


Reksa: Ok. T kalau begitu.


__ADS_2