ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
40. Kadang berpikir dalam namun sebetulnya sederhana..


__ADS_3

Sera berdiri di balkon lantai dua, memandang lurus ke tanah hijau sepanjang mata memandang. Gadis kecil itu mengenakan topi warna putih susu, dengan jaket beludru yang Bi Sri pakaikan, karena angin sore yang bertiup. Terlihat hangat, dan wajah seriusnya membuat gadis kecil itu semakin terlihat menggemaskan.


Sementara di belakangnya, duduk Guru Bahasa Inggris di kursi santai. Guru itu muda, cantik, tapi sayangnya sudah menikah dan punya anak. Dari observasi Sera, guru perempuan ini juga setia. Mustahil tertarik pada ayahnya. Sera melihat foto suaminya, sangat tampan–kulit putih wajah lembut, meski menurut Sera tidak begitu jantan. Emm. Dimatanya, Papa adalah cerminan tipe ideal.


Pembelajaran kali ini sudah memasuki sesi percakapan, setelah sebelumnya Sera mengulang hafalan kosakatanya. Belakangan ini, dia menghafal kosakata Bahasa Inggris dengan begitu lancar. Sebaliknya, hafalan surat-nya semakin kesini semakin sulit diingat. Untuk Sera yang menuntut kesempurnaan, hal ini tidak bisa disepelekan.


Akmal bilang, semua tergantung amal.


Sera tidak mengerti maksud kalimat itu, tapi kapan-lah Akmal tidak mengejek dia? Sera ingin menjenggut rambut anak laki-laki itu.


Jadi, saat ini, atas permintaan Sera, Miss Jenna, setuju untuk mengetes hafalan ‘terjemah bahasa Inggris’ surat Al-maun.


Dengan tatapan lurus ke lapang luas, mata Sera memicing penuh keberanian.


“..Have you seen the one who.. denies Recompense?”


Miss Jenna membetulkan kerudung–lebih ke selendang sebetulnya. Aslinya Miss Jenna tidak mengenakan kerudung, khusus untuk sesi ini Bi Sri meminjamkannya.


Kalau mengikuti kamus, denies bermakna menyangkal. Namun terjemah untuk ayat pertama ini ialah ‘mendustakan’.


Miss Jenna sudah bilang sebelumnya bahwa dia tidak ahli di bidang ini. Sera hanya minta untuk Miss Jenna jadi pendengar.


Sera menyelesaikan hafalan terjemah seluruh ayat, kemudian menghembuskan napas. Akhirnya dia berhasil menyebrangi jembatan kesulitan ini.


Dia merasa, saat membaca ayat, dia akan langsung teringat terjemahnya.


"Gimana, Miss?" Sera bertanya masih dengan bahasa Inggris.


"Bagus. Tapi kamu harus mengulang dengan rutin, memorize by heart."


Jenis yang meski tidak melihat teks atau pikiran sedang kosong, mulut tetap bisa bergerak tanpa kesalahan.


Pi pi pi–


Dering jam digital di ponsel Miss Jenna sudah berbunyi, tanda waktu les sudah habis.


Miss Jenna bisa menjamin, Sera adalah salah satu murid brilian yang aktif yang pernah dia ajari. Kalau golongan manusia dikelompokkan dengan alpha, beta, omega, maka Sera adalah alpha.


Sera mungkin memulai agak terlambat. Sementara anak lain tinggal di luar negeri dan sudah biasa diajak berbicara dengan bahasa asing oleh orangtua dan lingkungan, Sera tidak terlambat sama sekali.


Kadang gadis kecil itu diam dan bertingkah seperti anak kecil, namun matanya menunjukkan kecerdasan. Beberapa kali, Miss Jenna merasa bahwa tingkah lakunya lebih dewasa dari anak seusianya. EQ dan IQ yang seimbang.


Kemampuannya sudah menyusul Akmal dan yang lain. Sera sudah bisa mengerti pembicaraan anak-anak kelasnya. Dia tidak pernah lepas membawa kamus kecil.


Meski dia masih sering tertinggal obrolan.


“Kamu hebat banget, semangat ngapalin.” membandingkan Sera dengan kelakuan putranya di rumah, membuat Miss Jenna sedih, namun dia tak berkecil hati.


Siapa yang tidak berharap memiliki anak sholeh/sholehah?


“Kenapa emangnya, Miss?” bagi Sera ini bukan hal yang aneh atau membanggakan.


Sera kecil masih terbatas lingkup pengetahuannya. Tapi dia ingat bahwa surat-surat yang dia hafal akan jadi payung dari kesulitan, panas, atau sejenisnya, setelah dia mati


Sera hanya membentuk masa depan.


Menurut Sera ini hal yang wajar. Sebaliknya, dia kadang heran dengan teman-temannya, yang waktu dia menghafal surat dan minta bantuan, mereka tidak tahu sama sekali.


Sera menanyakannya ke Bi Sri. Bi Sri bilang, semua orang sedang belajar. Tua muda semua sama. Dia tidak bisa menilai tingkatan demikian untuk menilai baik/buruk seseorang.


Oh, Sera tidak menilai mereka baik atau buruk. Dia hanya kasihan saja. Sayang sekali, rasa kasihan ini tidak ada manfaatnya. Dia hanya bisa menyampaikan ulang pesan yang Bi Sri sampaikan pada teman sekelasnya.


Sera berniat untuk membawa payung ini untuk Mama-nya. Papa-nya, juga. Tapi Papa belum mati.


Mungkin karena kematian itu terjadi pada orang terdekatnya, Sera jadi selalu ingat.


Dia sudah tidak kebingungan lagi dengan istilah ‘tidur’ dan ‘mati’.


Sera merenung dalam sambil mengantar Miss Jenna ke pintu.


“See you tomorrow.”


“See you tomorrow, Miss. Be careful on the way.”


Sera pikir, payungnya tidak akan muat untuk bertiga. Sera tidak bisa meminta Mama-nya untuk menghafal. Dia hanya bisa memastikan Papa-nya hafal. Biar Papa-nya pakai payung itu sendirian supaya lebih leluasa.


Sera kembali ke kamar dan menelepon Papa-nya.


Reksa yang ingat jadwal kegiatan Sera, menerima panggilan. Tahu bahwa putrinya sudah selesai les.


“Papa!”


“Gimana belajarnya hari ini?”


“Sekarang kosakata Sera udah ada.. seratus!” Sera sebenarnya tidak menghitung berapa jumlah kosakata yang sudah dia hafal. Dia hanya merasa jumlahnya banyak. Seratus juga angka yang banyak.


“Nanti aku coba hitung, deh.” tambah Sera sedikit gelisah.


Reksa tertawa. “Terus apalagi?”


“Sama hafalan surat.”

__ADS_1


Mendadak Reksa merasa tidak enak.


“Coba papa sekarang tes surat Al-Maun.” kata Sera dengan nada suara serius.


Joe yang menyerahkan laporan sore itu, samar-samar mendengar bos-nya menggumam di telepon–jadwal sore biasanya waktu telepon dengan nona kecil.


Yang keluar dari mulut bosnya itu bahasa Arab. Apakah bos-nya punya klien dari sana? Seingatnya tidak.


Mata Joe menunjukkan ketakjuban.


Hey, dia bukannya tidak tahu seberapa ‘bebas’ bos-nya ini. Sebagai orang dewasa, perbedaan keyakinan kadang jadi hal pelik, sekaligus hal yang sederhana.


Joe juga jadi termotivasi untuk mengunjungi rumah ibadahnya.


Nona kecil benar-benar sesuatu.


***


Esok paginya, Sera berangkat ke sekolah seperti biasa. Masalah dirinya yang mau belajar beladiri masih jadi pertimbangan. Sera sedang berpikir untuk cari jalan lain.


Sera sebenarnya ingin sesuatu yang praktikal, yang bisa membuatnya mengalahkan orang jahat. Yang bisa membuatnya bisa melindungi orang disekitarnya. Dia sempat terpikir untuk minta usul pada Shain, sebagaimana topik ini sejalan dengan pekerjaannya. Tapi tiap sore, Sera hanya melihat Shain menyiram tanaman. Dia tak ada harapan.


Di waktu istirahat, Sera menarik Akmal ke dalam kelas untuk mengobrol dengan Khalia.


“Aku ngga mau, ah.” kata Akmal malas. Di Sekolah ini dia punya banyak anak yang mengerti dirinya; tidak seperti waktu di TK. Sera bukan lagi jadi panutannya. Jadi dia merasa kesal begitu diatur ini itu.


“Sebentar aja.” kata Sera berbisik.


Akmal tidak repot-repot balas berbisik. Dia bicara dengan suara keras.


“Kamu temenin dia sendiri aja sih, kenapa.” namun Akmal tetap duduk di bangku Sera. Dengan kursi dibalikkan, menghadap ke arah Khalia di belakang.


“Hai.” Khalia selalu ramah pada siapa saja.


“Ck.”


“Aku baru dapat ini dari tanteku, lihat deh.” Khalia mengabaikan decakan Akmal, menunjukkan puzzle kayu berbentuk kotak pensil. Khalia menggerakkan setiap sisi kotak pinsil itu, namun tak terbuka.


“Rusak gitu ya?” kata Khalia ragu. "Tante aku bawa pas pulang dari Negeri J, mungkin rusak di jalan?"


Akmal tidak pernah memainkan puzzle seperti ini, tapi dia tahu bahwa benda ini tidak rusak. Rasa penasarannya terpancing seketika.


“Coba aku lihat.” keduanya lalu tenggelam dalam diskusi untuk memecah misteri puzzle, sementara Sera berjalan ke Rumah Kaca untuk menyampaikan pesan Khalia pada Abima.


Shain mengikuti di belakangnya kali itu.


Sampai di area berkebun, Sera memeriksa sekitar. Bukan hanya tukang kebun itu tak ada, dia juga tidak melihat Abima. Namun dia melihat gembor di sisi petak bunga.


Shain memeriksa sekeliling dengan seksama. Waktu memeriksa kemarin, hasilnya menunjukkan bahwa tukang kebun kemarin adalah pegawai sementara yang menggantikan tukang kebun sekolah yang patah kakinya karena terjatuh dari tangga lipat.


Sera yang tidak menemukan siapa-siapa, berjalan ke kandang kelinci. Shain yang lebih tinggi mengiringi di samping Sera. Sebagai orang dewasa, dia memiliki jangka pandangan yang lebih luas. Sosok di kandang kelinci itu membuat Shain merasa ada yang tidak beres. Dengan segera tangannya menahan bahu Sera.


“Nona, tunggu disini.”


“Ah–?” Sera hendak protes, namun melihat Shain melesat maju, intuisi Sera mengatakan ada yang salah.


Gadis itu tentu saja tidak akan diam hanya karena disuruh diam! Sera berlari menyusul.


Kandang kelinci itu berukuran 2x2 dengan dinding jaring besi dan atap tinggi. Pemandangan di dalam akan terlihat dengan jelas. Namun jika dinilai dari arah lalu lalang orang-orang, kandang ini terhalang rumah kaca yang buram. Orang tidak akan tahu apa yang terjadi kecuali berjalan ke samping rumah kaca.


Meski sempit, masih ada ruang untuk masuk. Sera melihat tukang kebun kemarin ditahan Shain dengan posisi telungkup. Kedua tangannya di tahan di belakang punggung dan Shain menutup setiap ruang terbuka untuk melawan. Sera mengerutkan kening namun segera teralihkan begitu melihat Abima duduk di tanah, bersandar ke jaring besi, tidak memedulikan kotoran dan makanan kelinci yang berantakan. Tangan anak laki-laki itu menggosok mulutnya kasar dan wajahnya yang merah penuh air mata.


Sementara Shain sudah menelepon satpam sekolah, Sera segera bergerak menarik Abima yang sesenggukan keluar dari kandang.


Selama itu, wajah Sera tidak berhenti berkerut.


“Sini.” kata Sera pelan, mengimitasi nada lembut Papa-nya setiap Sera sedih. Gadis kecil itu menepuk-nepuk seragam Abima yang kotor tanpa merasa jijik sedikitpun–sebelum membawa anak laki-laki itu ke petak bunga, jauh dari pemandangan kandang.


“Hiks, hiks.”


Sera mengeluarkan sarung tangan dari saku roknya, lalu dengan hati-hati menghapus air mata Abima. Meski air mata itu terus menetes, Sera tidak merasa usahanya percuma.


Dia sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, tapi Sera paling sensitif dengan perasaan.


Dia menyadari bahwa Abima kini merasa takut dan sedih yang amat sangat. Kenapa?


Mungkin sedih ini sama seperti waktu Sera musuhan dengan Papa-nya? Mungkin waktu Mama-nya tak lagi disisi Sera?


Sera tidak bertanya ‘kenapa’ atau ‘apa yang terjadi’. Dia hanya berdiri lalu memeluk Abima. Anak laki-laki itu duduk di petak bunga, dengan kedua tangan menggenggam pinggang Sera dengan kuat.


“Hush, hush.” Sera berbisik pelan sambil terus mengusap punggung Abima.


Tak lama Pak Satpam datang, lalu putar balik dan muncul lagi bersama Kepala Sekolah dan guru inti.


Shain tidak berniat membuat berita ini rahasia. Dia memanggil polisi saat itu juga. Namun mempertimbangkan reputasi sekolah, juga anak-anak yang terlibat, polisi yang datang tidak membunyikan sirine.


Hanya ada beberapa pengasuh yang sedang menunggu, mereka menyangka ada kunjungan dari kepolisian, tidak berpikir bahwa polisi itu datang untuk menangkap seseorang. Tapi beberapa keluarga selalu bisa mendapatkan informasi penting dengan cepat.


Robert, pengawal Akmal adalah salah satunya. Melihat polisi datang, dia sudah memeriksa jadwal. Tidak ada pelatihan atau simulasi yang melibatkan keamanan. Robert memeriksa lebih lanjut dan langsung melapor pada majikannya.


Reksa, sebagai orang tua murid yang menerima laporan langsung dari Shain yang terlibat di TKP, berubah murka wajahnya, membuat para eksekutif yang hadir di rapat kali langsung tutup mulut.

__ADS_1


Mata Reksa melotot memerah. Dia melesat turun menyetir ke sekolah Sera setelah membanting pintu ruang rapat.


Joe yang juga menerima berita singkat itu, menyerahkan pekerjaannya pada sekretaris lain sebelum menyusul Reksa ke sekolah didampingi kuasa hukum, untuk berjaga-jaga.


***


Lorong sudah sepi dan waktu masuk pelajaran dipercepat sepuluh menit, mau tak mau membuat masyarakat sekolah bingung dan penasaran. Namun guru-guru tetap masuk kelas, menekan sebelum keributan berlangsung. Jam pelajaran berjalan normal.


Sera duduk di bangku panjang di luar kantor Kepala Sekolah bersama Abima.


Sebelah tangan pasangan anak kecil itu masing-masing menggenggam erat satu sama lain.


Keadaan di dalam terdengar kacau, meski suara para orang dewasa itu sengaja di pelankan, Sera bisa mendengar suara Papa-nya yang penuh emosi.


Sera melirik Abima yang terdiam, lalu menoleh ke Shain.


“Jaketku ada di kelas.” Sera merasa suhu tubuh Abima sedikit dingin. Pipinya yang kemerahan kini hilang cahaya. “Sama air madu di termos.”


Shain meragu sesaat, namun berpikir bahwa kelas Sera terletak di belokan, dia segera berlari.


Sera menerima jaketnya tak lebih dari semenit, sebelum memakaiannya pada Abima.


“...Aku juga bawa jaket.” kata Abima serak.


“Kelasmu jauh, kelasku lebih dekat.” kata Sera tenang. Dengan apa yang baru saja terjadi, Shain tidak akan mau naik ke lantai atas meninggalkan dua anak ini sendirian. Meski keadaan aman, hal itu bertolak belakang dengan kode etik pekerjaannya.


Sera menuangkan air madu hangat ke tutup termos. Sebelumnya Abima ditawari air minum… untuk berkumur. Sera tidak paham apa gunanya. Kalau mau kasih minum, ya minum untuk di telan. Tapi dia tahu dunia orang dewasa selalu penuh misteri.


Sayangnya, Abima tidak mau kemanapun dan tidak mau melakukan apapun selain memeluk Sera saat para guru mendekati dan membujuknya.


Tutup gelas termos yang Sera serahkan diterima Abima dengan kedua tangan.


“Minum dulu, enak kok. Manis ini.”


“O-oke.”


Sera menutup kembali termos setelah Abima menolak untuk minum kedua-kalinya.


“Temenin aku.” kata Abima lirih.


“Oke.” Sera lanjut menggenggam tangan Abima dan duduk disampingnya.


“Kemarin aku ngapalin surat.” kata Sera, tiba-tiba terlintas untuk berbagi dengan Abima. “Dibantu sama Miss Jenna. Dia guru Bahasa aku.” Duduk diam dan depresi benar-benar bukan ciri khas anak-anak.


“..Kamu, les?” tanya Abima yang akhirnya teralihkan perhatiannya.


“Iya. Aku sebenernya ngga lancar kalo bicara bahasa asing.”


“Aku, aku ngga les.”


“Iya soalnya kamu udah pinter.”


Abima menggeleng pelan, “Aku diajarin Opa.” cara bicaranya masih sedikit tersendat dan serak bekas menangis tadi. Tapi mendengar Sera memujinya, Abima menarik senyum.


Melihat itu, Sera langsung lega.


Dia bercerita lagi. “Papaku jago, tapi dia gak ngajarin aku.”


“Papamu, itu.. yang di dalam?” bersamaan dengan pertanyaan Abima, terdengar gebrakan meja, disusul suara dalam Reksa.


“Yup. Itu Papaku. Dia lagi marahin orang.” kata Sera. Meski dia tahu Papa-nya berhadapan dengan guru-guru, Sera sudah bisa menyaksikan Papa-nya menegur orang di tempat kerjanya. Sementara tukang kebun gadungan itu, melihat Shain meringkus tanpa bicara, orang itu pasti sudah melakukan kejahatan.


Kalau tidak, kenapa Abima menangis seperti tadi?


Gadis kecil itu menatap Abima dalam dan berkata dengan serius. “Kamu tenang aja, Papaku pasti masukin orang jahat ke penjara. Kamu gak akan bakal ketemu orang itu lagi selamanya.”


Abima mencerna kalimat itu dalam-dalam. Rasa takutnya ketika sendirian tiba-tiba terhalang oleh Sera yang datang membawanya pergi keluar kandang. Ruangan sempit yang bau itu seketika jadi cerah, langit biru kembali muncul dan aroma bunga kembali tercium.


Rasa hangat yang menyelimutinya m membuat Abima merasa aman.


Meski ini baru kedua kali dia bertemu Sera, dia percaya kata-katanya.


“Ayahku paling hebat di dunia.” kata Sera pelan, dengan senyum manis.


Abima terpaku sesaat, segera menjawab dengan terbata, “A-ayahku juga.”


“Iya, ayahmu juga.” Sera setengah membujuk.


“Tapi…” Abima menunduk. Mereka belum kemari.. mereka tidak datang saat dia ketakutan.


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari ujung lorong. Seorang wanita berkerudung formal dan mengenakan jas menghampiri dengan tergesa-gesa, bersama pria berjas putih dan berkacamata disampingnya.


Dilihat lebih dekat, pakaian mereka sedikit berantakan, pria berjas itu tidak repot-repot membetulkan kacamatanya yang miring dan langsung melesat ke Abima.


Sera hendak melepas genggamannya, namun Abima menolak.


Jadi dia ikut di peluk bersama kedua orangtua Abima.


Sera berkata dalam hati.


Ayahmu hebat.

__ADS_1


Mamamu juga.


***


__ADS_2