ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
50. Musim Semi kedua


__ADS_3

Bulan juli-agustus di Negara J adalah waktunya musim panas, karena itu Reksa membawa Sera ke pulau H yang terbilang lebih dingin. Pada bulan-bulan ini, suhu di Kota H justru tak berbeda dengan di dalam negeri.


Reksa membawa Sera mengunjungi menara yang terkenal di daerah, juga menyambangi festival yang tengah berlangsung tak jauh dari rumah tinggal mereka.


Bi Sri khusus memasak untuk menu makan mereka, karena mencari hidangan yang halal perlu sedikit usaha di tempat ini.


“Toko ini bisa dikunjungi, Tuan.” kata Bi Sri tiba-tiba ketika mereka berjalan santai di dalam gang.


Pemandu yang menemani kali itu mengangguk. “Komunitas muslim negara J punya aplikasi khusus  berisi database tempat dan juga produk yang halal untuk dikonsumsi. Restoran juga ada di dalamnya. Tentu saja ada juga restoran halal yang tidak terdaftar karena lokasinya terpencar. Tidak semua orang pakai aplikasi ini juga.”


Restoran itu tidak jauh berbeda dengan restoran tradisional lainnya. Namun begitu melewati setapak batu, di dinding depan bangunan di tempel sertifikat halal.


Pemandu itu menjelaskan bahwa pendirinya adalah orang lokal asli, namun dia memiliki empati tinggi terhadap muslim yang berkunjung dan kesulitan mencari makan. Mulailah dia merintis restoran ini. Tidak hanya dari cara mengolah daging, sampai bumbu-bumbu dapurnya semua homemade.


Sayang sekali, pemiliknya sedang absen di restoran. Tak masalah, Reksa tetap bisa menikmati hidangan otentik pulau H tanpa harus bimbang dan ragu.


Sera yang makan pertama kali merasa bahwa hidangan di pulau H adalah yang terbaik sedunia. Dia berharap dia bisa memakannya setiap hari.


Malam harinya terdapat konser, menyambung kegiatan festival musim panas. Namun karena Sera memiliki jam tidur yang rutin, Reksa hanya membawa putrinya untuk menikmati konser sampai jam sebelas malam waktu luar negeri.


Waktu tiga hari terbilang sebentar. Hanya sekejap memejamkan mata, mereka sudah siap untuk kembali terbang untuk pulang.


Di hari terakhir sebelum ke tempat wisata, Sera menarik Reksa ke ke supermarket berisi barang bekas pakai. Istilahnya, barang chuko.


“...” Reksa melirik bangunan besar di depan lalu pada putrinya.


“Kamu mau beli oleh-oleh buat temen kamu, kan?” Reksa bukannya tidak sadar seperti apa orang-orang yang menghadiri sekolah Sera. Dari penjelasan pemandu, tempat ini sepertinya berisi barang second?


Reksa setengah jongkok menghadap Sera dan berbisik. "Uang Papa banyak." kamu ngapain beli disini? Nanti kalo temen kamu ngebully kamu gimana?


Dan lagi, bukankah terlalu tidak tulus kalau membeli oleh-oleh berupa barang bekas?


Darimana juga putrinya tahu soal chuko?


“Engga, Sera mau cari disini.” temannya tidak perlu dikasih yang mahal-mahal. Mereka harus bersyukur Sera masih ingat mereka.


Mungkin dia akan beli souvenir khusus untuk Khalia. Em, hanya untuk Khalia. Oh, dan juga Abima.


Sera berniat untuk mencari benda unik disini.


“Pa, ayo!”


Reksa akhirnya ikut. Sera menelusuri koleksi barang sehari-hari sebelum berhenti di bagian aksesoris kecil. Sera beli kalkulator transparan untuk Daud sebelum mencari barang lain.


Setelah berkeliling satu jam, dia tidak menemukan barang yang menarik. Sera kembali ke tempat pertama dan mengambil kalkulator transparan untuk orang yang bisa di bilang 'teman'nya.

__ADS_1


Namun untuk Khalia dan Abima, Sera tidak bisa memutuskan mau beli apa.


"Ayo ini bentar lagi mau berangkat," Reksa mendesak setengah menggoda.


"Tunggu Pa, tunggu." gadis kecil itu menengadah. "Emangnya kita mau kemana?"


"Lihat bunga." kata Reksa.


Mendengar itu, Sera seperti langsung mendapatkan ide. Dia bergerak ke jajaran toples kaca dan mengambil dua botol ukuran 10. Reksa yang menemani sejak tadi bertanya.


“Botol buat siapa? Di rumah juga kan ada.”


“Sera mau masukin bunga sakura kesini, Pa.”


“Gaboleh loh, cabutin bunga sembarangan.” kata Reksa asal.


Sera yang mendengarkan ragu sesaat namun tak ambil pusing. “Gapapa, Pa. Sera mau ambil bunga yang gugur aja.”


Setelah berkeliling keduanya siap berangkat ke taman bunga. Suhu rendah di Hokkaido meskipun musim panas, tidak mengadakan bunga yang diidamkan Sera.


“Bunga Sakura mekar di musim semi.” kata  pemandu yang menemani. “Tapi di musim panas di wilayah H ada hamparan bunga lavender yang sangat indah, selain itu ada bunga yang lain juga. Bisa kesana.”


“Anak saya ingin bawa pulang bunga lavender juga, bisa gak?” tanya Reksa sambil menunjuk dua botol yang dipeluk Sera. Gadis kecil itu menatap penuh harap keluar jendela, berlagak tidak peduli. Namun telinganya dipasang dengan tajam.


Pemandu itu tertawa. “Tentu saja. Ada satu pertanian yang menyediakan kegiatan khusus untuk pengunjung. Kita bisa memotong bunga, dan membuatnya jadi kerajinan tangan.”


Meskipun lavender tidak hanya ada di Negara J, tapi yang penting, lavender yang akan Sera siapkan berasal dari Negara J.


**


Yang paling mengagumkan dari hamparan bunga yang membentang adalah garis yang nampak seperti pembatas antara langit dan bumi.


Reksa tidak menyesal datang kemari.


Sera membuat tiga pembatas buku untuk Abima dan Khalia. Satu lagi untuk dirinya. 


Reksa yang memperhatikan dan mengawasi menatap dengan cemburu. Omong-omong, ini sepertinya kali pertama Sera membuat kerajinan khusus? Dia tidak bisa mengatakannya langsung dan hanya bisa memberi sinyal yang tidak berarti.


Reksa  mengalihkan pandangannya dan memutuskan untuk keluar sementara Sera membuat kerajian di temani Bi Sri dan Kak Shain.


Dari jauh tempat ini tentu indah, tapi dari dekat tidak ubahnya dengan pertanian yang lain. Bunga-bunga ditanam berjarak dengan rapi, namun tanah cokelat yang basah tidak terlihat indah untuk Reksa.


Reksa menyusuri jalan setapak dan memandang ke depan. Awan di langit yang berkumpul terlihat begitu dekat ke wajahnya. Memang ketika manusia bertemu dengan alam, jauh dari tipu muslihat orang-orang, rasanya seperti terlempar ke negeri dongeng.


Reksa memutar badannya setelah merenung. Saat itu, tak jauh dari tempat dia berdiri, seorang wanita lokal setengah bersimpuh, mengenakan rok panjang dan kaus musim panas berlengan pendek.

__ADS_1


Rambutnya dikuncir rendah dan dia mengulas senyum kecil sambil berseru pada kumbang di atas kelopak bunga.


Merasakan ada yang menatap, wanita itu menoleh dan keduanya bertatapan.


Apa sih, momen ini kata orang? Cinta pada pandangan pertama?


Bukan.


Pubertas kedua.


Reksa menarik senyum menawan yang membuat pipi wanita itu langsung memerah. Kulitnya yang putih membuat pemandangan itu semakin jelas meskipun ada jarak diantara keduanya. Bisa di bilang, Reksa merupakan all-type yang bisa diterima oleh semua ras.


Oh, sepertinya dia akan menikmati musim semi di malam terakhir ini.


****


Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Kana. Tidak perlu memeriksa apakah benar atau tidak, urusan mereka hanya sebatas itu.


Reksa membawa Kana menuju salah satu bar yang tak jauh dari tempat mereka janjian. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Sementara Sera sedang tidur siang, Reksa memanfaatkan waktu ini untuk kesenangannya sendiri. Dia tidak punya banyak waktu karena malam nanti mereka harus bersiap untuk pulang.


Beranjak menuju destinasi selanjutnya, keduanya melewati sebuah gereja kecil. Meski tidak megah, bangunannya terlihat klasik. Kana memandang dengan senyum di matanya pada dua pasangan yang sedang berfoto. Si pria mengenakan tuksedo sementara wanitanya memakai gaun pengantin berwarna putih tulang. Di sekeliling keduanya tidak ramai namun kebahagiaan terpancar dari setiap orang yang hadir.


Di sebelah kanan mempelai pria posisinya kosong, namun di sebelah kiri mempelai wanita, berdiri seorang pria paruh baya.


Reksa kemudian teringat satu hal yang selama ini terlupakan. Rasanya seperti tenggorokan seret bertemu air.


"...Aku ingin menikah seperti itu." kata Kana pelan dengan bahasanya sendiri. Dari awal keduanya memang memiliki kendala bahasa, namun hal itu tidak menghentikan mereka untuk lebih dekat satu sama lain.


Sayangnya kali ini Reksa merasa berat di dadanya. Meski dia tidak tahu arti dari kata-kata Kana, Reksa seperti sadar maksudnya apa.


"Berjalan di plataran, dengan tiara dan orang tercinta yang mendampingiku."


Kana menatap Reksa penuh senyum. Namun Reksa balas menatap dengan hati sedikit kosong dan mulut terkatup dan rahang yang kaku. Tak bisa berkata apa-apa.


"Aku ingin pernikahanku jadi hal paling indah untuk dikenang meski di masa depan aku tak lagi mencintai pasanganku."


Reksa merasa hatinya mencelos. Dia menatap kembali ke arah pengantin jauh di depan.


Mendampingi putrinya menikah. Reksa seharusnya bisa melakukannya.


Namun karena kecerobohannya, dia tidak bisa.


Dia tidak bisa menjadi wali nikah Sera. Orang yang menjadi pilar pertama di balik janji suci putrinya dan pasangannya di hadapan Tuhan.


Dan gadis kecilnya tak akan memiliki nama Reksa di belakangnya.

__ADS_1


Sera binti Reksa. Mustahil.


Reksa merasakan dorongan untuk menangis yang tidak pernah dia rasakan. Hatinya hancur saat itu juga.


__ADS_2