
Satu jam setelah Joe pergi, Sera membuka mata. Reksa sempat bimbang apakah dia harus membangunkan putrinya untuk sarapan atau membiarkannya.
Meski infusan sedang diberikan, bukan berarti orang tidak perlu makan. Infusan kali itu bertujuan mengganti energi yang hilang sebelumnya. Tidak ada hubungannya dengan makan. Setidaknya begitu pemahaman Reksa.
“..Papa,” suara Sera terdengar lemah, tapi Reksa merasa tatapannya putrinya itu sedikit aneh. Menatap lurus ke dagunya(?)
Saat Reksa menggeser kursinya mendekat, tatapan Sera kembali normal. Merengek kenapa semalam tidak pulang. Reksa menghela napas lega.
“...Papa kerja, sampe malam.” kata Reksa tanpa kesadaran diri.
Apalagi yang bisa dia katakan?
Nak, papa lagi jajan di luar, tadinya malem mau pulang tapi ketiduran. Gak jadi kok jajannya?! Kalau dia mengatakan itu, ada yang salah dengan otaknya.
“Ini.. lusak.” Sera menunjuk jam teleponnya yang sejak datang di letakkan di meja.
“Sela papa lusak.” wajah Sera penuh kegelisahan, menatap jam dan Reksa bergantian.
Reksa mengerti. Sera menghubungi sepanjang malam, tapi dia tidak mengangkatnya sama sekali. Reksa beralasan dia sedang bekerja. Sera dengan polosnya sudah menciptakan alasan untuknya: jam-nya rusak.
“Iya, nanti beli yang baru, ya? Yang ini di buang aja.” Reksa mengelus puncak kepala Sera. “Sera makan dulu, aa…,”
Sera menatap ayahnya kemudian ke sendok, sebelum membuka mulutnya dan makan.
Reksa tidak sadar, di balik jejak panggilan Sera yang panjang, di pertengahan terdapat dua jejak panggilan tak terjawab berasal dari nomor Bi Sri.
Saking paniknya dia tidak memeriksa. Dan tidak akan terpikir untuknya memeriksanya di masa depan.
Sera makan dalam diam, mata bulat itu sesekali menatap Reksa. Penuh senyum.
***
Sera kembali sekolah esok harinya. Meski Reksa membujuk untuk ‘di rumah dulu’, Sera bersikeras mau sekolah.
Pagi itu Reksa mengantarnya berangkat seperti biasa.
Dua bulan lagi Sera masuk empat tahun dan akan pindah ke kelas Pra-TK.
Kalau sebelumnya di usia tiga Sera masih meraba, kini dia akan mulai belajar hal-hal kecil.
Usia lima Sera akan masuk TK, usia enam dia akan mendaftar sekolah dasar.
PAUD Sun dan Shine mencakup pendidikan anak usia dini/Pra-TK, sekaligus daycare.
Sistemnya daycare-nya agak berbeda dengan pengasuhan biasa. Sera masuk ke kelas usia tiga, namun selepas jam tidur siang, dia biasanya ikut ke kelas usia empat untuk mempelajari kata sederhana, hitungan kecil, jenis-jenis hewan, dan seterusnya.
Sebelumnya Reksa berniat untuk mengambil setengah hari, setelahnya Sera akan dijemput pulang ke kantornya supaya dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Sera. Tapi dia kan bekerja, jadi dia berniat untuk menyewa tutor. Sementara dia kerja, Sera akan belajar.
Hanya saja hal demikian terasa agak berat untuk anak usia 3, terutama Sera yang lepas dari interaksi sosial agak lama, kurang bimbingan orang dewasa, dan kurang komunikasi.
Reksa bersyukur dan kagum, soal keterbukaan Sera dalam menerima hal baru. Beruntung dia tidak memiliki kecenderungan negatif akan hal yang sudah dia alami.
__ADS_1
Dia pikir kalau mau belajar, sudah saja di PAUD-nya. Selain ringan, banyak teman, Sera bisa menghabiskan waktunya dengan santai. Reksa pun akhirnya mengambil kelas all day untuk Sera.
Peran Bi Sri tidak banyak, bisa dibilang hanya untuk mengisi kekosongan peran Reksa dari jam 4 sampai jam 7.
Kadang, dia juga yang menyiapkan Sera untuk tidur dan makan malam bersama kalau dia pulang awal.
Sebelumnya dia berniat untuk membawa Sera ikut ke kantornya sepulang sekolah, karena dia sadar sebagai seorang ayah, presensinya terlalu tipis. Terutama usia anak yang masih muda, Reksa tidak mau dia berakhir di kenal wajah dan statusnya sebagai ‘ayah’, tapi kenyataannya hanya orang asing. Tapi kesibukannya membuat hal itu mustahil dilakukan. Dia juga tidak bisa mempercayakan Sera pada Wana, karena ini bukan bidangnya.
Dia tidak ingin ada sosok lain yang mengambil peran ‘dekat’ Sera, sebagaimana dia harus mengawasi tumbuh kembangnya sejak kecil, dan memastikan putrinya tidak akan melakukan kesalahan ketika tumbuh. Dia ingin ketika dia bersuara mengubah hidup putrinya, Sera akan mempertimbangkan posisi Reksa di hati anak itu dan mungkin mendengarkannya.
Terutama.. soal kesalahan yang berhubungan dengan anaknya orang itu…ugh. Siapa namanya? Denata? Denada? Entahlah.
Kalau hitungan mimpi itu benar, anak perempuan itu masih belum lahir. Reksa masih bisa tenang.
Karena itu, Bi Sri sudah cukup.
Omong-omong, memasuki usia empat ini, Reksa berniat untuk pindah tempat ke vila yang sudah selesai direnovasi. Hanya dia bimbang, haruskah Sera ikut pindah sekolahnya?
Sekolahnya yang sekarang dekat dengan kantor Reksa, sementara sekolahnya yang baru masih satu kawasan dengan vila, sudah pasti lebih dekat dan lebih efisien. Keamanan di kawasan villa juga ketat, Reksa inginnya Sera pindah kesana.
Kalau pun pindah sekolah, tidak ada perubahan juga soal jam temu antara dirinya dan putrinya.
Reksa menatap dokumen di tangannya dengan tatapan sedemikian dalam.
Pak Manajer di depannya sampai berkeringat, berpikir apakah ada yang salah dengan laporannya? Bukannya ini laporan bulanan biasa? Dia yakin dia tidak melakukan kesalahan.. kalau hal seperti ini dia melakukan kesalahan, lebih baik dia jadi petani saja di kampung halamannya!
Masih dengan keseriusan yang sama, Reksa menandatangani laporan. Pak Manajer segera menerima laporan itu dan bergegas keluar, berpapasan dengan Wana yang membawa menu makan siang untuk Reksa.
Wana mengetuk pintu dua kali, dan masuk setelah terdengar sahutan dari dalam.
“Pak, menu makan siang kali ini saya beli di Kedai Tingah.” Wana lalu menyebutkan menu makan siang kali itu dengan rinci. Kedai Tingah berasal dari singkatan kedai Timur Tengah. Menunya fokus ke hidangan timur tengah. Kemarin bos-nya bilang dia ingin makan daging kambing.
Reksa menatap layar komputer lama, seperti sedang fokus dengan sesuatu–apapun itu yang menarik di komputer, entahlah. Tapi Wana tahu, Reksa mendengarkan.
Langkah selanjutnya, kalau tidak menerima, bos-nya akan merubah pilihan dengan berbagai alasan.
“...Saya ingin hidup dengan umur panjang.”
Wana pikir, demi apa!! Tidak ada hubungannya!
Tapi pengalamannya sudah mengasah ketajaman Wana. Dia menghubungkannya dengan menu makan siang kali ini.
“Saya harus mengubah pola makan saya. Ngga bisa makan-makanan berminyak, kalau darah saya naik, gimana?” gumam Reksa. Dia harus hidup panjang untuk memastikan putrinya tumbuh baik.
Wana tersenyum dalam hati.
“Jangan khawatir Pak, Kedai Tingah punya ahli gizi sendiri dan tukang masak khusus yang dibawa langsung dari timur tengah. Cara masak mereka berbeda dengan kita, yang tentunya menurunkan resiko darah tinggi, dan dagingnya juga tidak berbau. Inspeksi daging dan pemotongannya sangat ketat. Se-Negeri ini, kedai Tingah yang nomor satu.”
Reksa diam sejenak, menatap Wana, tak bisa berkata apa-apa. “Kamu cocok juga jadi sales, ya.”
“Makasih, Pak.” sebetulnya dia sempat bekerja sales sebelumnya. Tapi Wana tidak repot menjelaskannya. Dia menganggapnya sebagai pujian.
__ADS_1
Detik selanjutnya, Reksa membawa menu makan siangnya ke meja tamu. Dia duduk di sofa dan siap makan.
Wana dalam hati berdenting ria.
Reksa membuka kotak makan.
Saat terdengar ketukan di pintu, dia baru makan sesuap.
“Coba kamu lihat siapa.”
Orang bodoh mana yang tidak mengerti ini jam makan siang bos-nya? Wana menghela napas.
"Baik, Pak." Wana bergerak dan membuka pintu. Di depannya, sekretaris nomor 2, asisten Joe--masih rekan Wana juga, berdiri gelisah. Wana menutup pintu di belakangnya.
“Kenapa Han?” namanya Jehan, tapi Wana dan orang sekitar memanggilnya Han, kadang Hani. Dan, dia perempuan.
“Kak Wana, di depan ada orang dari MDC ngotot pingin ketemu sama Pak Reksa!” bisik Hani gusar.
“MDC? Ngapain?” MDC dan perusahaan Reksa bekerjasama dalam pembangunan museum arkeologi kali itu. Sudah 75 persen pembangunan fase pertama, diperkirakan selesai sebelum tahun baru.
Hani menggeleng. Saat itu, pintu lift terbuka dan Joe keluar. Wana bernapas lega.
Ketiganya saling mengangguk sebelum Wana dan Hani keluar ruangan.
Reksa melihat pintu yang tertutup kembali terbuka dan Joe masuk.
Reksa mengangkat sebelah alisnya. Biasanya Joe langsung masuk setelah mengetuk pintu, tidak akan menunggu dulu. Sepertinya ada hal yang terjadi di luar?
“Kenapa?”
“Ada MDC, pak.”
Reksa diam sejenak, masih meneruskan makannya.
“Apa katanya?”
“Ada konflik soal penggunaan bahan bangunan lanjutan. MDC ingin mengganti bahan pembangunan sisanya dengan yang lain.” Joe menyipitkan mata, dia sendiri tidak habis pikir dengan pikiran pihak MDC.
"Siapa yang datang?"
Joe menjawab lambat sedetik, "Pak Bintara, Pak."
“Orang bodoh.” gumam Reksa.
Joe setuju.
"Jadwalkan meeting jam satu ini.”
“Baik, Pak.”
***
__ADS_1