ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
57. Anak kecil gak boleh ikut-ikutan


__ADS_3

Suka????


“Gadis kecil, ini bukan hal yang bisa diputuskan dengan kamu suka atau gak suka.” bisik Reksa pelan. Sayang sekali, Ningsih yang melihat gelagat itu tidak melepaskannya.


“Ini kabar yang sangat bagus.” kemudian dia tertawa penuh energi. Wajah Raja sendiri di sampingnya kini tak lagi muram, alisnya kembali lurus. Sudah pasti Raja berhasil di bujuk. Awalnya, sebagus apapun Arina, Raja tetap tidak menyukai cara ini. Namun berhubung Sera bilang dia suka, Raja tak berniat untuk berargumen.


“Ibu.” Reksa memanggil, mengingatkan Ningsih sambil mengeritkan gigi. Sayang sekali, wanita itu belum merasakan kemarahan Reksa. Di mata Ningsih, Reksa masih anak tirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Reksa sendiri merasakan bagaimana rasanya punya ibu tiri. Dia tidak ingin Sera merasakan kepayahan yang pernah dia alami.


“Pikirkan lagi, mengurus anak sendirian, meski kau bisa, tidak sesempurna merawat dengan sepasang ibu dan ayah. Lihat kamu sekarang. Kamu mungkin berpikir Ibu dulu galak dan tegas padamu… tapi kamu bisa jadi orang besar seperti sekarang dan memiliki putri secantik Sera.” Kali ini Ningsih tidak masalah memuji Sera sedikit. “Sekarang bahkan tidak memperlakukan Milwan lebih keras… supaya dia lebih sukses. Jadi kamu gak perlu memikirkan bagaimana Sera kedepannya dengan kehadiran Arina–misalnya.”


Reksa tidak tahan mendengar kata-kata penuh omong kosong yang Ningsih ucapkan. Namun semua orang di ruangan seperti di beri pencerahan. Memang benar pendidikan yang keras menumbuhkan mental baja. Raja sendiri yang sejak tadi diam mulai menerawang, mungkinkah ini cara yang benar? Barangkali rasa bersalahnya sudah berkurang mendengar hal itu.


“Tidak perlu tergesa-gesa, kalian bisa kenalan dulu. Kan? Ibu mendukung sekali hubungan kalian. Reksa, nak, gimana kalau kamu antar Arina pulang ke rumahnya sekalian nanti?”


****


Di mobil keadaan hening dan tegang. Sera merasa dia habis melakukan hal yang gawat. Tiba-tiba  dia memiliki impulse untuk mengatakan hal itu, anehnya, dia tidak menyesal. Tapi pastinya dia harus menerima ceramah Papa-nya.


Hm, Papa orangnya baik. Dimarahi sedikit tidak apa-apa.


Gadis kecil itu melirik dari ujung matanya ke arah Arina yang duduk di sampingnya. Wanita itu duduk tegak dengan ekpresi wajah seperti mengambang–memikirkan entah apa.


Reksa yang menyetir di depan pun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya sudah tidak sekaku sebelumnya, namun masih ada hawa-hawa yang tidak mengenakkan.


Setelah melewati hening di mobil yang terasa begitu lama, ketiganya sampai di villa. Reksa tidak ada waktu untuk mengantar Arina, jadi dia turun dan memanggil supir untuk menggantikannya.


“Sera.” panggil Reksa.


Sera menelan ludah dan mengikuti Reksa ke ruang kerja.


Terhitung ini kali pertama Reksa begitu emosi terhadap putrinya. Meski wajah dan sikapnya biasa, hal itu terjadi di dalam hatinya. Seperti biasa, Reksa membawa Sera duduk di sofa.


“Papa kasih kamu kesempatan buat ngomong.”


“Ngomong….”


“Apa aja.”


Sera berkedip beberapa kali, matanya mendarat ke sembarang arah sebelum menatap Reksa. “Kak Arina yang paling aku suka diantara yang lain.”


Maksud Reksa memberikan kesempatan adalah untuk Sera memberi alasan, supaya bisa membela diri. Tapi kenapa putrinya malah membela wanita asing yang baru dia kenal beberapa jam? Reksa menarik napas panjang sebelum dia terpekur. Sepertinya ada yang aneh dari kata-kata Sera barusan?


“...Dari yang lain?” Reksa mengulang kalimat itu. “Maksudnya apa?” maksudnya ada calon yang lain kah?


Sudah sejauh ini, Sera tidak lagi repot-repot untuk menyembunyikan. Dia menceritakan kegiatannya dengan dua sepupu barunya, juga kebingungan Sera selama ini. Akhirnya dia sampai di satu kesimpulan.


“Kamu…,” Reksa memegang dahinya yang berdenyut-denyut. Pikirannya yang pusing menular sampai ke kepalanya–dalam artian fisik.  “Kamu mau bantuin Papa cari istri?”

__ADS_1


Sera berkedip beberapa kali sebelum bergegas mengoreksi. “Sera bantu menyaring, Pa. Selama ini perempuan yang deket sama Papa selalu kurang, kan. Sera ngerasa Papa nggak akan menikah kalau Sera gak suka sama mereka.” gadis kecil itu menarik napas panjang. “Sera cuma kasih tahu Papa selera Sera…. tapi mau atau nggaknya Papa, itu, gimana Papa.”


Tentu saja, Reksa berkata dalam hati. Tidak mungkin dia akan langsung memacari–menikahi orang yang Sera pilih; kalau dia tidak suka. Masalahnya, Arina masuk dalam kriteria favoritnya. Dengan persetujuan Sera, Reksa merasa kali ini mungkin….


“Atau…” suara Sera memecahkan lamunannya. “Papa mau Sera cari yang lain?”


“.....” Reksa menarik nafas dan membuangnya perlahan. “Sera.”


“?”


“Denger Papa, ya. Ini bukan hal yang pantas untuk kamu kerjakan.” kata Reksa pelan-pelan. Mungkinkah dia terlalu longgar pada Sera dan kurang keras selama ini?


“Urusan Papa, terutama soal pasangan ini, kamu boleh kasih saran dan seterusnya, tapi ikut campur seperti tadi di depan keluarga hal yang gak boleh dilakukan.”


Sera diam mendengarkan namun dalam hatinya dia merasa tidak menerima. Reksa membaca raut wajah Sera dan langsung tahu isi pikiran putrinya. Dia menghembuskan napas panjang lagi.


“Kamu masuk ke kamar. Sebulan ini, gak ada main game di tablet.”


Sera duduk beberapa saat kemudian berdiri dan berbalik–keluar dari ruang kerja Reksa, gadis kecil itu langsung pergi ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat tanpa mengatakan apa-apa.


Reksa mengusap rambutnya pelan dan memutuskan untuk mandi, melupakan kejadian hari ini sementara waktu.


Pagi itu selesai lari pagi, Sera melihat mobil Papa-nya yang biasa dipakai untuk berangkat kerja sudah melaju keluar gerbang villa. Sera berdiri diam beberapa saat di tempatnya sebelum masuk ke dalam dengan wajah muram.


“Nona, Tuan sudah berangkat.”


“Em, Sera tahu.” kata Sera datar dan langsung masuk ke kamarnya untuk siap-siap. Di malam hari ketika Reksa pulang, dia melihat tak ada kaki-kaki kecil yang berlari menyambutnya.


“Nona habis makan malam dan sholat isya, gak keluar kamar lagi. Mau langsung tidur katanya.” Bi Sri juga heran, jam normal tidur Sera biasanya sembilan lewat tiga puluh. Tapi ini masih jam delapan, nona kecilnya sudah tidur.


Reksa hanya mengangguk dan pergi ke kamar.


Selesai mandi, ponsel Reksa berdering. Dia mengangkatnya dan langsung disibukkan lagi dengan pekerjaannya, melupakan masalahnya dengan putrinya.


Pukul dua malam Reksa selesai dengan dokumennya dan tidur. Karena ada pertemuan penting di besok hari, beberapa dokumen yang belum dia lirik harus dia urus segera.


Biasanya dia berangkat pagi-pagi; tapi karena urusan ini dia berangkat lebih pagi lagi.


Hal itu jugalah yang membuat dia tidak sempat bertemu dan berangkat bersama Sera.


Keadaan rikuh itu berlangsung tiga hari, sampai Reksa selesai dengan pekerjaannya, barulah dia bisa memikirkan soal dia dan putrinya.


Selesai sholat subuh, Sera duduk di kursi teras dan mengikat tali sepatunya; bersiap untuk lari pagi. Saat itu dia melihat sepatu lain dengan ukuran lebih besar diletakkan di sampingnya. Sera mengangkat wajahnya dan melihat Papanya memasang tali sepatu.


“Kenapa? Ngeliatin Papa kaya gitu.” kata Reksa tenang.


“Oh.” Sera mengembalikan pandangannya ke sepatu miliknya. Awal-awal Sera latihan tarung derajat, Papanya selalu ikut lari pagi. Namun karena kesibukan pekerjaannya, Reksa tidak lari setiap hari.


Setelah tidak bertemu tiga hari, Sera bertemu dengan Papa-nya lagi. Entah kenapa Sera merasa wajah Papa-nya kelihatan agak lesu.

__ADS_1


“Papa sakit?” tanya Sera berusaha setenang mungkin. Namun ekspresinya tidak bisa di sembunyikan.


Mendengar itu, Reksa mengusap puncak kepala putrinya. “Papa gak sakit.”


Sera melihat bibir Reksa yang pucat. “Papa jangan ikut lari sama Sera.” kata Sera serius dan berdiri. Karena hubungan mereka sedang renggang, Sera langsung pergi lari tanpa menjelaskan alasannya; membuat Reksa salah paham.


“....” jadi aku ikut lari atau ngga? Reksa berpikir dalam dengan wajah serius. Pada akhirnya dia hanya melakukan pemanasan singkat di depan villa.


Sekembalinya Sera, dia melihat Papanya berdiri di depan villa; dan gadis kecil itu mengerutkan bibirnya kecut.


“Papa olahraga?”


“Papa ngga olahraga, cuma pemanasan sedikit.”


Wajah Sera berkerut mendengarnya. Meski pemanasan itu ringan, pemanasan yang biasa Reksa kerjakan kelasnya beda. Sera tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk.


Saat gadis kecil itu sudah siap dengan seragamnya dan duduk di meja makan, dia melihat kursi di depannya kosong.


‘Mungkin Papa sudah berangkat kerja’–seperti hari-hari kemarin. Sera menghela napas kesal.kKesal pada dirinya sendiri.


Tidak, harusnya Papa tidak berangkat kerja; Papa kelihatan lemah dan letih. dia hendak menelpon Joe, namun berhenti saat mendengar suara pintu dibuka.


Dia melihat Papa-nya keluar dari kamar mengenakan kaos santai dan celana yangke.


Sera membulatkan matanya. “Papa?”


“Em.” Reksa duduk di kursi makan, sambil lewat dia membetulkan ikatan rambut Sera. “Sera mau berangkat?”


Meski itu pertanyaan konyol, tapi Sera tetap menjawab dengan serius. “Sera mau berangkat sekolah.” jeda, “Papa nggak kerja?”


“Papa berangkat kerja, tapi nanti agak siangan.” sejak pagi tadi Reksa merasa badannya tidak enak. Karena urusan mendesak di perusahaan sudah selesai, dia bisa berangkat lebih lambat dari biasanya.


“Papa gak usah kerja hari ini.”


“Huh?”


“Papa kelihatan pucat dan lemes. Kalau Papa kerja nanti Papa sakit gimana?”


“Hm. Papa tahu.”


“Jadi Papa berangkat gak, hari ini?”


Putrinya sudah mendesak seperti ini, mana mungkin Reksa bisa menolak?


“Iya, Papa gak akan berangkat kerja hari ini. Papa istirahat dirumah.”


Barulah Sera puas setelah mendengar jawaban itu.


Setelah Sera berangkat sekolah, Reksa pikir untuk melakukan sesuatu. Jarang untuknya memiliki waktu luang sendirian. Selalunya dia akan menghabiskan waktu libur dengan Sera, mengajaknya bermain dan jalan-jalan.

__ADS_1


Hanya saja Reksa orang yang hobi bekerja. Tanpa Sera, Reksa langsung memikirkan hal lain. Dia lalu teringat dengan Arina.


Mungkin dia bisa menyelesaikan masalah itu hari ini?


__ADS_2