ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
16. Video angka yang mudah dicerna, hmm.....


__ADS_3

Pukul empat sore, Sera menunggu di ruang rekreasi, menyaksikan yang lain pulang bersama orang tuanya. Gadis kecil itu berpikir, ayahnya akan datang tak lama lagi. Namun begitu melihat sosok Pengasuh Sri di pintu ketika Guru Irna menghampiri, Sera menatap ke sekeliling, menahan rasa hilang yang tidak dia pahami.


“Papa?”


“Papa masih kerja. Sera ikut pulang sama Bi Sri, ya?” Pengasuh Sri duduk di depan Sera dan membujuk.


“...” Sera tidak membalas, dia hanya menunduk, memainkan balok-balok kayu tak tentu arah. Sesekali dia menggelindingkannya.


“Atau Sera bisa telepon Papa.” Kata Pengasuh Sri lagi saat Guru Irna menyerahkan barang-barang Sera.


Mata Sera yang tersembunyi di balik kelopak itu terangkat dan cerah seketika.


“Telepon Papa!” kata Sera sambil melompat.


“Iya, pulang sekarang terus telepon Papa, ya?”


Tanpa diminta Sera mengembalikan balok-balok bekas mainannya, sebelum pamit pada Guru Irna dan pulang kerumah.


Pengasuh Irna tidak menghambat dengan sengaja. Begitu di mobil, dia langsung memandu Sera untuk menekan nomor Reksa.


Setelah dua kali dering, telepon diangkat. Dari seberang terdengar suara berat pria yang Sera kenal baik.


“Sera?”


Namun, mendengar suara Papa-nya, Sera bukannya senang. Mata yang tadinya cerah tiba-tiba memerah.


“..Papa!”


Pengasuh Sri yang duduk di samping Sera menyaksikan nona kecilnya masih baik-baik saja barusan, kini kaget.


“Kenapa Sera? Sera sudah pulang?”


“...Sudah.” di sela-sela, suara tersendat menyela.


Reksa:....


Kenapa ini? Ada apa? Mungkinkah setelah dia pulang putrinya di tindas?


“Sera pulang dengan siapa?”


“Bi Sii… Papa mana?” Papa-nya pergi tak bilang apa-apa. Dan saat dia pulang sekolah, Papa-nya tidak menjemput. Dia menyaksikan anak-anak lain pulang dengan orangtuanya.


Sejak Sera menerima perhatian dari Reksa, gadis kecil itu mulai bisa bertingkah manja dan merajuk. Dia melihat tempat kerja ayahnya yang besar. Sera melihat bagaimana orang-orang mendengarkan kata-kata ayahnya tanpa membantah. Bagaimana orang-orang menatap takut ayahnya. Semua orang yang melihat Sera kini menyapanya dengan senyum. Apalagi di tempat kerja papa-nya, orang-orang memberinya cokelat dan mainan. Meski Sera tidak menerimanya karena papa bilang Sera bisa mendapatkan semuanya dari Papa-nya.


Sera bisa sekolah, dia tidak mendengar orang-orang berkata jahat lagi padanya. Dia punya kamar besar, punya banyak mainan. Sera pikir ayahnya sangat kuat. Tanpa sadar sikap Sera yang selalu menahan diri mulai menghilang sedikit demi sedikit.


Tanpa sadar Sera membandingkan dirinya saat masih bersama Mama-nya. Meski Sera belum mengerti, dengan perbandingan yang begitu kentara, Sera bisa menilai bahwa orang-orang dulu memperlakukannya tidak baik.


“Iya…,” Reksa menghembus pelan, nada suaranya lembut dan penuh memanjakan. “Papa masih kerja. Sera sama Bibi Sri dulu bisa?”


Sera tidak mengiyakan dan bertanya hal lain. Dia masih ingat soal jam yang di ingatkan ayahnya sebelumnya. Sera melirik sekeliling mobil, namun dia tidak melihat jam dinding di sini. Dia ingat dia sedang ke rumah sekarang, di rumah tentunya ada jam dinding. Dia bisa melihatnya di rumah!


“Papa ‘wang jam??” Papa pulang jam berapa?


Reksa perlu memutar otak untuk mengerti apa maksudnya. Wang? Minta uang? Seingatnya dia sudah memberi uang jajan, sekedar pegangan. Sera belum memerlukan sejumlah uang.


Mendengar nada penuh tuduhan yang Sera lontarkan dan kata ‘jam’ yang diangkat, Reksa menebak-nebak.


“Papa pulang jam tujuh.” kata Reksa lagi, di sambut suara kental Sera. “Tujuh!”


“Ya, Papa pulang jam tujuh. Sera tahu jam tujuh?”


“...” Mata Sera menatap serius ke udara. Dalam hati dia menghitung satu, dua, tiga, namun setelah lima dia tidak tahu lagi.

__ADS_1


Sera mengulanginya lagi dan tanpa sadar dia mengeraskan suaranya.


Reksa yang di seberang tidak bisa menahan senyum. Ini juga kali pertama untuknya mendapatkan seseorang yang begitu ingin dirinya pulang. Hati Reksa meleleh seketika membayangkannya. Rasa sedih Reksa yang diabaikan pagi tadi langsung lenyap.


Wana yang berdiri tak jauh merasakan dengan jelas perubahan emosi Bos-nya. Dia tidak menyangka bos-nya yang menyebalkan dan ‘terkenal’ playboy ini memiliki sisi demikian untuk putrinya yang baru tinggal bersama beberapa minggu.


“Sera hitung sama-sama Papa, ya. Satu, dua, tiga,”


Sera mengikuti paduan Reksa dan berhasil menghitung sampai tujuh. Reksa mengulanginya tiga kali sampai Sera berhasil mengulang sendiri.


“Sela tau tujuh!” seru Sera.


“Iya, Sera pintar. Sera anak papa, saangat pintar.”


“Papa ‘wang jam tujuh.” masalah datang kemudian. Sera sadar bahwa dia tidak tahu bentuk tujuh seperti apa.


Reksa yang bicara di seberang menyadari putrinya yang berhenti menanggapi.


“Sera kenapa?” dia tidak hilang kesabaran sama sekali. Dia seperti sudah bisa membayangkan bahwa putrinya selalu berpikir ke arah yang tidak terduga.


Katanya anak memiliki keingintahuan yang luas, jadi ketertarikan mereka pendek namun tak terbatas.


“..Papa tujuh apa?”


Tujuh itu apa? Tujuh ya tujuh. Ah, tapi dia ingat soal kejadian sebelumnya. Setelah dipikir ulang, Reksa akhirnya sadar bahwa Sera berniat untuk menunggunya, seperti sebelumnya waktu dia bilang akan pulang jam empat.


“....” putriku! Reksa akhirnya merasa menyesal karena tidak menjemput Sera langsung.


“Bi Sri?” dari jam pintar Sera, Reksa memanggil.


“Iya, Pak.”


“Nanti tunjukin angka tujuh di jam dinding untuk Sera, ya.”


Reksa lalu beralih kembali ke Sera. Belajar dari Guru Irna, Reksa mengucapkan kalimat yang panjang dengan perlahan dan pengucapan yang jelas. Dia mengulanginya sebanyak dua kali.


“Nanti Bi Sri kasih tau Sera apa itu tujuh, di rumah.”


Sera melirik Pengasuh Sri. Kalimat ini terlalu panjang untuknya, dia hanya mengerti ‘Bi Sri dan ‘rumah’’.


Reksa berkata lagi. “Bi Sri tahu angka tujuh.”


Sera: !!


Dia rasanya ingin langsung bertanya ke Pengasuh Sri, namun menyadari ayahnya masih di telepon, Sera menahan diri.


Sampai di apartemen, Reksa tidak bisa memperpanjang obrolan. Dia sudah menghabiskan lima belas menit untuk mengobrol dengan Sera, di depannya, Joe sudah menatap tanpa kata. Menunggu seperti roh gentayangan, di tambah kelopak mata hitamnya itu. Reksa terpaksa mengakhiri panggilan.


Tuk, tuk.


Sebelum menaiki lift, Reksa mengetuk meja Wana yang bersebelahan dengan meja sekretaris di luar ruangannya. Wana langsung berdiri dari kursinya.


“Coba kamu cari video angka-angka.”


“Angka-angka, Pak?” angka pendapatan tahunan, angka rasional, angka babel, angka indeks, angka apa nih, pak?


“Angka yang mudah..,” kata Reksa menggantung.


“...” Mungkinkah maksudnya cara cepat meningkatkan omset? Wana tidak mengerti kenapa bos-nya minta dia untuk mencarikannya angka/jumlah?


“Kalau bisa ada lagunya sekalian. Supaya mudah dicerna.” Reksa tidak mau mengatakan terlalu banyak, nanti dia malah disangka merendahkan Sera; menilai putrinya kurang cerdas.


Joe di belakang Reksa memberi isyarat dengan telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


“Oh, oo… iya, baik, Pak.” Wana mengangguk mengerti. Ternyata untuk nona kecil, toh.


***


Jamuan kali ini diadakan oleh salah satu pejabat daerah. Reksa hanya bagian yang mengisi daftar tamu dan bukan orang yang penting-penting amat.., namun untuk sekarang hal itu mungkin akan berubah. Apalagi dalam ranah politik. Namun dari informasi yang dia terima, ada beberapa figur penting yang akan menjadi kunci untuk proyeknya ke depan.


Orang-orang yang melihat dengan seksama, menyadari bahwa perusahaan yang Reksa pimpin memiliki pergerakan yang tidak biasa. Beberapa orang yang hadir di jamuan itu juga berniat untuk mencari tahu langsung pada Reksa yang katanya akan hadir.


Untuk menjadi perusahaan konstruksi multinasional, mungkin perlu waktu satu sampai dua dekade. Bisa saja lebih dari itu. Mungkin Reksa akan menghabiskan seumur hidupnya untuk bisa mewujudkannya.


Tapi Reksa tidak gelisah.


Beberapa proyek yang sedang berjalan saat ini adalah pembangunan instansi pendidikan ialah: dua sekolah menengah pertama di luar daerah; enam sekolah Luar Negeri di Negara G; satu museum arkeologi, renovasi Kebun Binatang Kota B. Kebanyakan semua ini proyek dari Negara.


Isu yang berhembus belakangan ini, ada salah satu perusahaan kelas menengah ke bawah, yang sedang tercium bau kecurangan. Kalau isunya sampai beredar, bisa di pastikan hal itu memang terjadi dan tidak bisa di tutupi. Perusahaan itu bergerak di bidang wisata, dalam mengekspor flora berupa batu karang. Namun, apa yang bisa diandalkan dari perusahan lokal sejenis ini? Reksa sudah lebih dulu menggali informasi, dan dia berniat mengambil alih bidang ini.


Yang mengesalkan adalah, perusahaan ini jelas-jelas memegang wewenang mutlak sebagai pengekspor istimewa, tapi kesempatan itu tidak diperlakukan dengan semestinya.


Dia sudah setengah jalan, setengahnya lagi, dia tinggal menunggu Menteri Lingkungan Hidup untuk memberikan PASS. Hal itu jugalah yang membuatnya datang kemari.


Menteri Trio, merupakan kerabat dekat pejabat daerah yang kini dia sambangi pestanya.


Menteri Trio saat ini hampir berakhir masa jabatannya.  Banyak orang-orang yang mengincar posisinya, namun banyak juga yang enggan meliriknya. Bukan rahasia, selama empat tahun ini sudah lebih dari empat kasus penyelundupan tanaman dan satwa langka, dua lainnya yang tidak dihitung berhasil melewati pemeriksaan.


Reksa bekerjasama dengan Satria, salah satu pejabat dari kubu seberang Trio, untuk membuat kelengahan Trio timbul ke permukaan.


Hal ini jugalah yang menjadi pertimbangan Reksa saat melepas berita soal Domico. Dia bertaruh dan menghubungi Satria. Untung ruginya belum terlihat, tapi kalau dia gagal maka dia akan kehilangan banyak hal.


Reksa melihat ke depannya. Pengorbanan tidak terhindarkan.


Reksa sudah sampai di aula jamuan lebih dulu. Sementara dia mengobrol dengan beberapa orang yang sempat dia kenal namanya; Joe disudut lain sudah sibuk bertukar sapa dan bertukar kartu nama dengan tamu lain.


Reksa masih mengobrol saat tamu lain mulai berbisik-bisik dari segala arah dan menghadap ke pintu masuk. Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan mata berkabut masuk mengenakan kemeja batik. Wajahnya gelap, rambutnya setengah botak, Reksa mencibir dalam hati.


Meski begitu wajah Reksa mengulas senyu, menyambut kedatangan Trio dengan penuh sukacita.


“Oho, kamu bukannya orang yang nongol di tv sama Pak Ridho itu, ya?” sapa Trio begitu melihat Reksa diantara pria-pria tua di aula.


Pak Ridho adalah gubernur yang memintanya membuat stadion tempo hari. Orang biasa tidak akan menaruh perhatian pada Reksa untuk waktu yang lama. Dia juga tidak akrab dengan politik. Masyarakat Negara I tidak begitu antusias soal yang begini. Bisa dibilang, masa-masa ini persaingan dalam Negara ini masih memberi banyak luang untuknya bernapas.


Reksa mengabaikan kalimat Trio yang menatapnya sebagai anak muda, sebagai bawahannya.


Kalimat yang semestinya dilontarkan dalam acara semi-formal, kecuali untuk orang-orang sudah akrab; pantasnya menggunakan saya-anda.


“Benar, Pak.”


Alasan kenapa orang-orang besar mengenal namanya adalah karena dia memegang projek pembangunan museum nasional terbesar saat ini.


“Saya tahu kamu. Emm.., kalau di lihat dari prospek, kamu masih muda, tapi masih perlu banyak mengumpulkan pengalaman, lah.”


Reksa membiarkan Trio mengoceh sepuasnya. Sampai Trio melihat kerabat (si pejabat daerah) di sisi lain, pria itu menatap Reksa dengan licik. “Pak Reksa, kan? Sudah bertemu dengan Pak Juno?”


“Belum, Pak.” Juno sepertinya nama pejabat yang menyelenggarakan jamuan ini?


“Pergilah..” kata Trio lagi.


“Bareng, kalo gitu, Pak?” tawar Reksa yang sudah menduga arah pembicaraan.


“Hahaha, ayo, ayo.”


Karena jamuan sudah setengah jalan, Juno, Trio, dan Reksa naik ke lantai dua untuk mengobrol secara pribadi.


******

__ADS_1


semua topik soal bisnis adalah omong kosong penulis. Makasih. Maaf menghilang lama. Hehe lopyu.


__ADS_2