ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
17. Menemani Makan Putrinya dari Jauh


__ADS_3

Bisa dibilang, Reksa adalah yang paling muda di antara tamu-tamu yang hadir. Beberapa orang yang lain membawa serta anaknya, atau muridnya, namun tidak banyak yang patut diperhatikan. Orang-orang mengabaikannya.


Juno mulai pembicaraan dengan Trio, menunjukkan seberapa dekat keduanya. Meskipun jabatan Trio akan segera selesai dia bukannya akan berhenti dalam barisan. Reksa hanya memasang senyum bisnis sepanjang obrolan.


“Bagaimana proyekmu belakangan ini?”


Reksa mengangguk dan menjawab sejujurnya. “Bagus, bagus. Alhamdulillah, lancar.”


“Hahaha, katanya proyek-proyek itu rata-rata dari Badan Usaha Negara?”


Reksa mengangguk, tidak cepat dan tidak lambat, dia membalas. “Kebanyakan proyek saya fokus pada pembangunan instansi, sekolah dinas, dan seterusnya…. Ada beberapa proyek yang terhambat karena izinnya turun… masih di tunggu-lah, untuk pembangunannya..”


“Oh iya, saya tahu itu, yang baru berlaku itu kan? Sekarang bukan izin lagi, tapi persetujuan.”


Reksa mengangguk lagi dan membalas.


Ketiganya bertukar kata sebelum kembali lagi ke topik awal. “Tapi Pak Ilyas itu gimana ya, haduh,” Trio menggelengkan kepala. “Saya kira meskipun dia ini orang yang sangat peduli, saya kagumi-lah. Tapi berlaku seperti itu di publik kan tidak pantas istilahnya gitu, ya….,”


Topik ini sudah tiga kali dibahas. Reksa hanya pura-pura tidak sadar. Omong-omong, Pak Ilyas adalah Menteri Purbakala yang sempat viral sebelumnya.


“Memang sih, Pak Ilyas yang biasanya dormant itu tiba-tiba jadi antusias, kaget saya juga.” gumam Juno. Reksa dalam hati mengangkat alisnya.  Kedua orang di depannya begitu semangat memainkan drama.


“Tapi saya nggak lihat perkembangan penemuan purbakala itu.” Trio melirik Reksa. “Banyak kan sekarang barang palsu yang dianggapnya peninggalan kuno. Ada juga yang aslinya peninggalan kuno tapi dikira barang murahan. Yang begini nih yang bikin orang mudah ditipu.”


Reksa tidak membicarakan banyak hal. Sebagai orang konstruksi, dia tidak ada hubungannya dengan penelitian. Tapi sebagai yang membuat tempat penyimpanan barang purbakala ini, dia punya sedikit pengetahuan.


Reksa tersenyum misterius.


Melihat reaksi Reksa yang hangat, keduanya semakin bersemangat. Sungguh jamuan yang panjang.


****


Jam enam sore, Reksa bersama Joe memutuskan untuk pulang. Karena jamuan ini bukan acara penting dan urusannya sudah selesai, Reksa berusaha untuk mengejar jam pulangnya. Sera pasti sudah menunggu di depan jam dinding.


“Sekumpulan orang kurang kerjaan.” Reksa menghembuskan napas dan melonggarkan dasinya. Dia memejamkan mata sejenak sementara Joe duduk di depan bersama supir bertukar pembicaraan ringan.


“Pak, mau makan malam dulu atau langsung pulang?” tanya Joe di sela-sela. Dia tidak bertanya apakah bos-nya akan pergi ke kantor dulu. Sejak pagi bos-nya sudah gelisah karena tidak bisa menjemput nona kecil.


“Tunggu.” Reksa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor telepon Pengasuh Sri.


“Halo, pak?”


“Bi? Sera ada?”


Mendengar itu, pengasuh Sri langsung berbisik seperti takut nona kecil mendengar. “Iya, Pak. Nona sedang menunggu di ruang tengah… dia ngga mau di ajak ke kamar atau bermain. Apalagi makan…”


Reksa mengerutkan kening. “Oke.”


Dia langsung ganti ke jam pintar Sera.


“Ha—,”

__ADS_1


“Papa!!”


“Sera belum makan?”


“Papa Sela tunggu!”


“..Iya, Papa sedang di jalan. Sera kenapa belum makan?”


“Sela tunggu.” Sera mengulang. Bersikeras tidak akan makan sampai Reksa tiba di rumah. Kalau sekali dua kali Reksa bisa mengiyakan. Tapi Reksa tidak selalu bisa pulang tepat waktu.


Kalau dia bilang pulang jam sekian tapi terlambat, Sera akan telat makan. Hal ini tidak bisa dibiarkan dalam jangka panjang.


“Sera makan dulu, ya.”


“Sela tunggu….,” dia tidak lapar, dia ingin makan bersama ayahnya.


Reksa tidak habis pikir. Mungkinkah dengan makan, Sera akan melewatkan kepulangannya?? Dia tidak mengerti jalan pikiran anak tiga tahun.


Meski ada rasa senang di hatinya, tapi kesehatan Sera masih yang utama. Mengingat badan kecil dan kurus gadis kecilnya, Reksa mengeraskan hatinya.


“Sera makan dulu, nanti setelah makan, Papa langsung sampai.”


“.....”


Reksa mengulang lagi. “Setelah Sera makan, Papa sudah sampai rumah.”


“Oh…,”


“Ya? Sera makan, sambil ngobrol dengan papa?” tanpa menunggu Sera menjawab, Reksa langsung memanggil Pengasuh Sri lewat jam tangan Sera.


Mendengar arahan itu, Pengasuh Sri langsung menyiapkan makan dan membawa Sera ke meja makan.


Reksa mengatur bahwa makan di manapun, meski masih kecil, Sera harus duduk di meja makan. Tidak bisa Pengasuh Sri menyuapi ke segala ruangan.


Sera juga mulai terbiasa makan di meja makan selama bersama Reksa. Dia pikir ayahnya selalu benar. Dan apa yang Sera lihat selama ini adalah kesalahan. Ketika dia melihat ibu-ibu berlari menyuapi anaknya yang sedang bermain, Sera pikir itu hal yang wajar.


Tapi di sekolah dia diajak untuk duduk yang tertib ketika makan.


Sejak awal Sera bukan anak yang sangat aktif, jadi dia menerima dengan mudah kebiasaan yang Reksa tetapkan.


“Sera makan sama apa?”


Sera yang tadinya makan dengan serius, mulai ingat bahwa ayahnya sedang menelepon. Gadis kecil itu menatap polos ke Pengasuh Sri, di tangannya ada sepotong naget.


“Ini naget.” bisik Pengasuh Sri.


“Naget.” ulang Sera pada ayahnya.


Reksa bertanya lagi. “Naget rasa apa?”


Sera: ???

__ADS_1


Mata bulan hitam itu menatap lagi ke Pengasuh Sri, namun tidak menunggu Pengasuh Sri membalas, Sera langsung menjawab. “Manis, asin. Lasanya enak!”


Hening beberapa detik sebelum tawa Reksa pecah di seberang.


“Enak?”


“Enak…”


“Sayurnya dimakan?”


Awalnya Sera memakan semua makanan di piringnya. Namun semakin kesini, dia mulai lebih sering menyentuh daging. Meski Sera selalu menghabiskan makanan di piringnya, Reksa selalu mengingatkan. Anak sepertinya memiliki penolakan alami terhadap sayuran.. dibandingkan daging.


“Satu Bi Sii Enak.” Sera nampak lagging sesaat. “Sayul," ralatnya.


“Iya, sayur. Sayur-nya sayur apa?”


“Sayul ail.” kata Sera semangat sambil menyendok sayur tahu-taogenya ke mulut.


“...” cara Sera bersikeras untuk menjawab dan bertukar kata terdengar sangat menggemaskan. Belum lagi kadang Reksa tidak mengerti apa yang Sera bicarakan, membuat Sera nampak lucu dan polos sekaligus di matanya.


“Sera mau puding, ngga?” tanya Reksa tiba-tiba.


“Mau, mau! Sela puding suka!”


“Iya, Papa beliin ya. Tapi Sera makan yang betul.”


“Sela makan!”


“Iya,” setelah mengucap beberapa kata, Reksa memutus sambungan.


Setelah mengobrol dengan putrinya, kelembutan di wajah Reksa tidak langsung hilang. Dia menekan satu angka dan menunggu sebelum suara Wana terdengar di seberang.


Wana yang berniat tidak lembur karena bos-nya tidak kembali ke kantor, kembali duduk begitu menerima telepon dari Reksa. Firasatnya bilang pulang awalnya kali ini akan batal.


“Coba kamu sekalian cari edukasi sayur, buah, nama-nama objek dan sejenisnya. Kalau bisa jangan yang asal.” Reksa diam sejenak. “Kamu tahu kan sekarang itu video untuk anak-anak ngga semuanya bagus? Gambar-gambar yang menjijikkan, kaya film apa tuh, yang kuning-kuning buat cuci piring. Contohnya kaya gitu. Saya ngga mau yang gitu. Kalau ada yang bagus tapi berbayar beli aja sekalian.”


“...Iya, Pak.” bisa tahu bagus-jeleknya gimana? Wana harus menontonnya sendiri!


“Kirimin malam ini sebelum jam sembilan, ya.”


“!!” Wana kembali duduk, mengeluarkan kembali botol minum dan ponselnya dari tas.


“Iya, Pak. Saya kirim sebelum jam 9.”


Dia tidak tahu harus senang atau sedih? Jam lemburnya kembali berjalan bukan untuk kesibukan bos-nya, melainkan untuk nona kecil!!


Wana menggerutu lama sebelum dia tenggelam menyaksikan video edukasi.


***


it's been a long time.~

__ADS_1


__ADS_2