ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
53. Memelihara gajah..


__ADS_3

Sera di bawa keliling kantor. Meski kecil tempat itu tak jauh mengagumkan dengan kantor Papa-nya. Menurutnya, pekerjaan menyelamatkan dan membela kebenaran adalah pekerjaan yang mulia. Setiap anak akan selalu kagum pada pahlawan.


Dia juga di tunjukkan sistem baru yang di kembangkan kantor Detektif Amar.


Sera memiliki Kartu Identitas Anak, atas kerjasama dengan badan keamanan negara, ketika sistem mencari identitas Sera, kamera yang terhubung otomatis akan membaca data wajah Sera yang terekam kamera di setiap jalan.


Untuk saat ini, jangkauannya sedang dikembangkan guna mencakup tiap provinsi di pulau. Bagaimanapun, kantor detektif seperti milik Reksa, sekalipun dia kaya raya dan memiliki harta melimpah, ada beberapa aspek yang dia sendiri masih meraba.


Kantor itu sebenarnya membosankan. Hanya saja menyelamatkan yang kesulitan, menolong yang lemah, senantiasa menjadi slogan yang menggerakkan jiwa heroik anak-anak.


Selagi menunggu Papa-nya membayar es  krim, Sera duduk di bangku taman.  Area itu bisa dibilang agak gersang, dengan sedikit kendaraan yang lalu lalang, tapi parkiran disini cukup populer.


Sera melirik ke belakang, ke arah Papa-nya untuk yang kesekian kalinya. Akhirnya dia melihat Papanya datang menghampiri. Sera langsung menghela nafas lega.


“Cape?” tanya Reksa.


Sera menggeleng sambil menerima es krim dengan kedua tangannya. 


Meresapi pemandangan taman yang biasa-biasa saja, Reksa dan Sera menikmati es krim di sore yang teduh itu.


“Sera, Papa mau ngomong.”


“Em.”


-slurp


Diselingi suara jilatan es krim, kedua ayah dan anak itu mengobrol sambil menatap lurus ke sembarang benda.


Meski Reksa merawat Sera, sebagai satu-satunya putri, dia tidak bisa membedakan anak laki-laki dan anak perempuan saat mengajarkan tanggung jawab dan prinsip.


Dia bisa bilang, senakal apapun kamu, semanja apapun kamu, kamu bisa melakukannya  di depan Papa.


Tapi di depan edukasi yang sesungguhnya, dia tidak membedakan gender sama sekali.


“Papa dapet undangan nikah dari sepupu Papa.” kata Reksa pelan. “Sera tahu kan waktu kemarin-kemarin Kak Shain anterin kartu undangan itu.”


“Oh.”


“Sera juga diundang. Sera terserah mau ikut atau engga.”


“.....” bukankah mereka sudah mendiskusikan hal ini kemarin? Sepertinya Papa sangat terganggu dengan 'undangan' ini.


“Kalo Papa pribadi engga mau Sera datang kesana.” ujar Reksa plin-plan. “Tapi Sera maunya gimana?”


“..Papa deket sama keluarga Papa?”


“....” hm, pertanyaannya agak menusuk, Reksa membuka mulut untuk menukas. Pada akhirnya dia mengiyakan. Apa yang harus disembunyikan?


“Papa dari kapan jauh sama keluarga Papa?” tanya Sera jauh dari topik pertanyaan Reksa.


“..Mungkin dari kuliah?” kata Reksa tidak yakin. Dia sudah lupa sebenarnya. Mungkin dia sudah mulai jauh dari waktu SMA. Tapi agak sedikit menyedihkan kedengarannya kalau dia bilang begitu. 


“Sera sebenernya gak mau dateng.” kata Sera akhirnya setelah berpikir lama. Mulutnya bersih dari jejak es krim, tapi karena dia makan perlahan, jari-jarinya mulai basah karena es yang meleleh.


Reksa menarik es krim dari pegangan Sera. Dia melapiskan tisu di bawah cone dan memegangnya, sementara Sera makan es krim sedikit demi sedikit. 


“Tapi Papa datang, gak?”


Cepat atau lambat, Reksa tahu dia harus berhadapan dengan keluarganya. “Em, Papa datang.” Kalau tidak, dia tidak tahu orang-orang itu akan melakukan apa. Mungkin dia terlalu narsis, berpikir dia ini orang penting untuk mereka, haha.


“Yaudah Sera juga mau datang.”


“...?” Reksa tidak menyangka, namun secuil hatinya bahagia mendengar hal itu. Hati bapak-bapak tua ini sangat mudah tersentuh.


“Sera mau ikut Papa.” ulang gadis kecil itu.

__ADS_1


“Tapi disana gak seru, banyak orang tua, banyak…” nenek sihir. “Pokoknya gak seru lah.” kata Reksa membujuk setengah tidak rela.


“Biarin.. Sera mau nemenin Papa.”


Reksa: ^^ Putriku manis sekali.


“Yaudah, Sera ikut ya.”


“Humm.” Sera merasa puas dalam hati.


***


Tanpa terasa liburan semester selesai. Sera kembali sekolah. Di akhir pekan, waktu undangan pernikahan itu pun akhirnya tiba.


Sera mengenakan gaun biru muda dengan rok berlapis. Bi Sri memakaikan pita dengan warna serupa di leher Sera yang pada lapisannya tersemat batu berlian seukuran remah-remah.


Rambut gadis kecil itu di kepang setengah dan di sematkan tiara dengan warna dalam yang berkilau di bawah pantulan cahaya. 


Sera terlihat seperti peri, hanya kurang sayap saja di punggungnya.


Bi Sri bekerja beberapa tahun di kediaman Reksa, ini pertama kalinya dia mendandani nona kecil-nya seperti ini. Dari ujung kaki sampai kepala. tidak ada yang nilainya kecil pada setiap aksesoris yang dipakai. Bi Sri sampai gemetar takut melakukan kesalahan.


Sera tidak ada ide soal kegelisahan Bi Sri. Dia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin agak lama. Tidak terpesona sama sekali dengan penampilannya yang manis dan menggemaskan.


Dia hanya berusaha mencari kekurangan. Bagaimana pun, dia akan bertemu keluarga…nya. Dia harus sempurna.


Meski begitu, dia tidak lupa untuk menyisipkan selembar foto penampilannya untuk dikirim ke Abima.


“Udah siap?” suara rendah terdengar di pintu masuk. Sera berbalik dan tidak bisa menutup mulutnya melihat Papanya yang terlihat berbeda dari biasanya.


“Papa! Papa keren banget!” Sera berlari ke arah papanya.


Melihat malaikat kecilnya berlari dengan gaun itu Reksa merasa salah satu goal-nya sebagai ayah tercapai juga.


Hal ini membuatnya memesan banyak gaun untuk putrinya–yang terjadi di masa mendatang.


“Cantiknya nona ini, anak siapa?”


“Anak Papa! Hehehe.”


“Mau tidur dulu?” Acara pernikahannya berlangsung sepanjang hari; sementara petang ini hanya berupa pesta dan jamuan. Dia tidak dekat jadi tidak perlu untuknya antusias hadir sejak akad berlangsung. Dia hanya akan pamer muka dan mengucapkan selamat, lalu pulang.


Karena persiapan untuk berangkat kali ini, Sera tidak sempat tidur siang.


Putrinya menggeleng. 


“Nanti kalau ngantuk bilang, ya?” kata Reksa dengan perasaan sakit hati. Putrinya tidak sempat tidur siang karena bersiap-siap untuk pesta yang tidak begitu penting.


Memikirkannya Reksa jadi kesal.


“Sera ngga ngantuk!” di pikir-pikir, ini kali pertama Sera menghadiri pesta. Di tambah, ke ‘keluarga’ Papa-nya. Papa terlihat tidak suka, tapi Sera tidak bisa menahan rasa penasaran dalam dirinya. 


Memikirkan beberapa tahun ini, dia hanya menghabiskan waktu bersama Papa-nya. Bukannya Sera tidak suka. Hal itu sempat membuatnya berpikir mungkin Papa sebatang kara… 


Shain mengeluarkan audi hitam yang terlihat sederhana atas arahan Reksa. Diantara kendaraan lain di jalan, mobil ini terlihat gagah, namun tak begitu mencolok. Orang hanya akan melirik dua kali dan berlalu.


Namun untuk sebagian orang, semakin sederhana mobil, semakin tinggi spek-nya. Karena mobil-mobil itu digunakan untuk bersembunyi dari mata-mata yang jahil. Jendelanya hitam pekat, membuat yang diluar tidak akan bisa melihat ke dalam.


Mobil  yang Reksa tumpangi sendiri, sudah dimodifikasi khusus. 


Setelah dua puluh menit melaju di jalan tol, mobil keluar gerbang memasuki jalan raya. Lima belas menit kemudian laju mobil melambat begitu mendekati gerbang manor. Sera melihat dari jendela mobil, di belakangnya mengantri mobil lain yang siap masuk ke halaman.


Dari sini, Sera sudah bisa melihat bangunan megah dan gagah dari jauh.


‘Ini keluarga Papa?’

__ADS_1


Bangunannya jauh lebih besar dari vila mereka. Mendadak Sera jadi gugup.


Gadis kecil itu melirik diam-diam kearah Papa-nya sebelum meluruskan pandangannya.


Tiba-tiba dia mendengar Papanya bicara.


“Jangan lihat dari luarnya.”


“?”


“Manor sebesar ini perlu biaya perawatan yang tinggi. Dengan keadaan mereka yang sekarang, tidak perlu waktu lama untuk manor ini jatuh.”


“....” ini pertama kalinya Sera mendengar Papa-nya bicara dengan nada yang memancarkan kehinaan seperti ini.


Sera berusaha menerima pendapat Papa-nya.


“Kalau jatuh, jatuh ke siapa?”


“Yah. Bangunan ini termasuk bangunan tua, jadi mungkin bakal di tahan sama negara." kata Reksa santai. Tapi keluarganya mana rela menyerahkan manor ini pada negara? Begitu dilepas, akan selamanya hilang. Reksa pikir saat itulah, perannya akan lebih mudah di mainkan.


Daripada jatuh ke tangan orang lain, ya, kan?


"Sera suka tempat ini?” tanya Reksa.


Sera terkejut. “Eh…,” tempat ini besar dan luas, tentu saja. Apakah Sera suka atau tidak... entahlah.


“Kayaknya kegedean kalau cuma di tempatin sama dua…tiga orang?” karena Kak Shain sering pulang pergi, hanya ada Sera, Reksa, dan Bi Sri.


Belakangan ada isu bahwa Shain akan mengundurkan diri karena urusan rumah tangga… Reksa sedang dalam proses penyaringan pengawal baru.


“Hm.. iya juga. tapi kalo disini nanti Sera bisa naik kuda keliling halaman. Bisa nambah hewan peliharaan.. kambing atau sapi misalnya.”


“??” Sera melirik Papanya bingung. “Kambing bisa dijadiin hewan peliharaan?”


“Kenapa ngga? Tempat ini kan luas. Kalau hewan peliharaannya cuma  kucing, rasanya kurang puas,”


“....” kenapa Papanya bicara seolah-olah tempat ini milik mereka?


“Kalau gitu… gajah mungkin bisa, Pa?” kata Sera mulai berpikir liar.


“Pfttt… gajah. Iya, hahaha.” Reksa yang perasaannya agak iritasi begitu memasuki area manor, tiba-tiba jadi lembut lagi setelah mendengar celetuk Sera.


“Tapi gajah hewan yang dilindungi. Bukannya gak bisa sih, cuma perlu izin khusus. Hm, hm…. mungkin bisa dicoba.”


Akan sedikit sulit mencari di dalam negeri. Mungkin prosesnya akan sedikit lama. 


Undang-undang di dalam negeri  sedikit pelik, kalau tidak bisa.. Reksa bisa membangun penangkaran pribadi di luar negeri. Kebetulan dia punya beberapa area kosong. Dia bisa membangun bungalow untuk destinasi liburan Sera.


Sera berpikir, mungkinkah Papa-nya akan benar-benar memelihara gajah? Khalia memelihara kucing, dan sepengetahuan Sera, biaya untuk seekor kucing cukup mahal.


Gajah….


Lupakan.


“Pak, sudah sampai.” suara Shain di kemudi terdengar. 


Saat itu, pintu dibuka. Joe yang sudah sampai lebih awal, berdiri di samping mobil. Reksa keluar lebih dulu dan mengulurkan tangannya, menuntun Sera keluar dari mobil.


Gadis kecil itu melihat para tamu dengan pakaian berkilau dan berkelas berjalan beriringan menuju manor. 


Dia melihat beberapa anak seusianya yang berpakaian seperti putri dan pangeran. Tiba-tiba, bayangan ketika dia masih di kontrakan terlintas. Sera tanpa sadar mengeratkan genggamannya.


“Mau di gendong?” Reksa menunduk dan bertanya pelan.


Sera menggeleng.

__ADS_1


“Kalau pegel bilang, ya.”


Reksa beralih ke Joe mendiskusikan arahan pertemuan kali itu, sebelum membawa Sera masuk ke dalam bangunan.


__ADS_2