ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
60. Sugar Daddy


__ADS_3

Sera berusaha mencari waktu yang tepat untuk mengobrol dengan Papanya.


Papa sukanya apa? Bagaimana?


Tapi kebetulan kesibukan Reksa saat itu mulai meningkat. Setiap Sera bicara dengan Papa-nya, topik ini akan berhenti di tengah-tengah, entah di helat telepon atau karena urusan lain.


Sera juga mulai dihadapkan dengan ujian akhir tahun. Dengan kesibukan yang datang tanpa henti, waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa Sera sudah naik kelas 3.


Rambut Sera mulai bertambah panjang menyentuh punggungnya. Gadis kecil itu masih terlihat kekanakkan dengan pipi gembil dan mata hitamnya. Namun gerak-geriknya dan sikapnya terlihat hati-hati. Setiap yang melihat sosok Sera, orang akan bertanya ‘anak siapa dia’ dan seterusnya dengan nada menyanjung dan penuh kekaguman. Para orangtua di sekolah menemukan bahwa Sera adalah anak tunggal dari seorang presiden perusahaan yang sedang naik-naiknya.


Dengar-dengar, presiden itu duda.


Belakangan ini, Sera sering di cegat kakak-kakak cantik yang bersikap sangat baik padanya. Kadang menawari makanan, menawari pulang, kadang tiba-tiba curhat dia suka ini, orangnya begini, dan memuji Sera tanpa henti.


Sera tentu saja curiga, namun dia tetap berusaha bersikap sopan. Yang paling aneh lagi, kalau ada kakak perempuan yang cantik yang pura-pura jatuh di depannya. Hey, Sera kecil-kecil begini tidak bodoh. Dia bertanya-tanya apakah orang itu sedang latihan sandiwara? Masalahnya badan Sera terlalu kecil, tidak bisa membantu.. jadi dia hanya bisa memanggil satpam.


Karena kejadiannya masih di sekitar sekolah sebelum Sera naik mobil dan pulang, Sera menebak mereka mungkin masih kerabat siswa-siswi yang sekolah di sini… tapi ini terlalu aneh.


Sera bingung dengan keadaan ini. Dia akhirnya curhat pada teman-temannya. Di tahun ketiga ini, Sera masih bersama Khalia dan Daud.


Kali ini Akmal berada di kelas mereka juga.


Waktu sungguh tak terasa, Sera menggumam pelan. Baru kemarin dia dan Akmal duduk bersama bermain puzzle saat di TK. Tak terasa mereka sudah kelas tiga lagi.


Kembali ke curhatan Sera.


Akmal duduk sambil menahan pipinya dan mendengarkan sebelum menjawab. “Mungkin kamu kaya adik kecil buat mereka?”


Dia ingat sepupu-sepupunya yang sudah kuliah suka berteriak menggelikan setiap melihat dirinya. Mereka akan berlomba untuk mencubit pipinya. Akmal tidak suka tentu saja, tapi pada akhirnya mereka akan memberikan uang pada Akmal, dia akhirnya dengan berat hati menerima. Akmal tahu dari kecil kalau wajah dia ini banyak disenangi orang-orang.


Daud mendengus. Anak laki-laki satu ini selalu meng-antagoniskan Akmal sejak mereka sekelas. Padahal saat kelas mereka terpisah, mereka akur-akur saja.


“Naive.”


“What did you say??”


“Stupid.”


“Aku lapor ke Miss, ya?” Akmal mencibir, tidak mau berdebat tak berguna dengan Daud.


Daud yang mendengarnya tidak peduli dan hanya meleletkan lidahnya, sebelum beralih kembali ke Sera. Tahun ini mereka duduk sebangku. Mulai tahun ketiga, setiap anak akan memiliki rekan untuk duduk bersama.


Dengan senyum pongah Daud memberi pencerahan, “Kamu gak tahu? Bibi-bibi di luar pada ngomongin siapa yang cocok buat jadi Mamamu.”


“Hah??” Khalia dan Sera berseru bersamaan.


“Iya, bahkan sepupuku yang udah 24 tahun  dan kerja di kota sebelah sampai tahu beritanya. Dia tanya aku, kamu perlu Mama gak.” Daud terkekeh, menikmati kesusahan Sera.


Sera berusaha menahan diri untuk tidak meng-getok kepala Daud, mengingat Daud memberinya Plushie Panda sepulang dari Negara C sebelum libur sekolah tahun kemarin.


“Kenapa mereka begitu bersikeras? Aku gak suka juga… usaha mereka kan sia-sia aja, maksudnya.” kata Sera jenuh.


“Oh, Sera, kamu harusnya lihat waktu Papa kamu ke sekolah.”


Sera mengangkat wajahnya, mendengarkan Khalia yang berdiri di samping meja. “Waktu pembagian medali itu, Papa kamu kan datang? Acara akhir tahun itu banyak saudara murid dan kerabat yang hadir… Papa kamu… kalau aku dengar-dengar, mba-mba yang di sekitar aku bilang Papamu itu sugar daddy material.”


“Sugar daddy?” Daud mengerutkan kening bingung.


“Gula?”


“Gula papa?”


“Papa gula?”


“Apa sih, gak jelas.”

__ADS_1


“Bodoh, ini tuh istilah bukan untuk di artikan kaya gitu.” Akmal berkata gemas sambil memegang keningnya yang berdenyut. Kenapa rasanya dia seperti kembali kemasa-masa TK? Dia merasa semua orang tidur, hanya dia sendiri yang bangun.


“Yaudah kalau gitu coba kamu terjemahin.” Daud memberi isyarat.


Akmal menghela napas. “Ini istilah orang dewasa mana mungkin aku tahu.” Akmal yang punya kakak perempuan yang selalu mengajarkan hal tidak baik(dengan tidak sengaja), yakin bahwa kata-kata ini tidak pantas disebutkan oleh anak SD seperti mereka… instingnya berkata demikian.


“Orang dewasa suka pake istilah-istilah aneh. Oh, mungkin sugar daddy maksudnya Daddy yang manis? Gula kan manis?” Khalia menebak, ditambah, waktu diskusi orang-orang itu kelihatan ‘suka’ sekali. Siapa yang tidak suka sesuatu yang manis, kan?


“Huh, Papaku manis?”


“Er…,” di mata anak-anak, sesuatu yang manis sudah pasti yang imut, kecil, rupawan, indah, dan menggemaskan. Mereka tidak bisa menilai seorang bapak-bapak sebagai ‘manis’.


“So disgusting.” Daud meringis.


“Hey, papaku gak menjijikkan!” Sera berseru.


“Trus Papamu manis, gitu, iya??”


“Nggak….,” Sera menjawab ragu. “Papaku tampan dan gagah! Sugar Daddy maksudnya pasti sesuatu yang mengagumkan!”


Akmal menepuk dahinya, menyerah.


“Huh.” Sementara Daud mengabaikan jawaban Sera. Saat itu matanya tak sengaja melihat ke jendela kelas dan menangkap sesosok wanita muda yang cantik. Mata Daud berbinar melihatnya, dia memperhatikan bahwa wanita itu menatap ke arahnya.


“Oh…,”


Tiga orang lain yang sibuk berdiskusi melihat Daud yang tukang oceh tiba-tiba diam. Mereka mengikuti arah pandangannya dan melihat ke sosok yang sama.


“Wow, bidadari.” Khalia berdecak pelan.


Akmal membulatkan matanya, namun dia memiliki pikiran lain. Kenapa wajah itu sepertinya dia kenal?


Sementara Sera yang paling familiar langsung berdiri dari kursinya.


Dia setengah berlari keluar dan memanggil. “Kak Arina??”


“Kakak kenapa kesini?”


“Kakak diminta jemput kamu.”


“Oh? Tapi kan aku biasa pulang di jemput Bi Sri.” dia sudah mengerti bahwa Kak Arina bekerja, benar-benar ‘kerja’ di perusahaan Papa-nya. Meski hubungannya sedikit lebih dekat dengan Papa-nya, namun sejauh yang dia lihat hubungan mereka tidak lebih dari atasan dan bawahan. Kalaupun ada waktu dimana Kak Arina makan malam di rumah atau bermalam, hal itu karena dia masih sepupu jauh Papa… begitu sih Papa-nya bilang. Sera berusaha untuk percaya meski masih sedikit ragu dalam hatinya.


“Iya, jadi hari ini ada acara keluarga, Papamu minta Kak Rina jemput.” karena Arina lebih familiar soal busana untuk dikenakan di acara seperti ini, Reksa meminta Arina untuk memilihkan pakaian untuk Sera. Acaranya direncanakan sejak seminggu lalu, namun karena kesibukan pekerjaannya, Reksa sampai lupa. Karena itu Reksa hanya bisa melakukan persiapan secara mendadak untuk Sera.


“Acara keluarga?”


“iya.., sama Oma dan Opa juga.” Arina tahu bahwa Sera tidak begitu suka berkumpul dengan ‘keluarga’. Karena itu Arina tidak berkata banyak.


“Oh..”


“Sera.”


Sera berbalik mendengar panggilan itu. Dia melihat tiga temannya berdiri di belakang. Daud berdiri paling depan dengan mata bercahaya sambil bertanya, “Sera, itu siapa?”


“Kenapa emangnya?” Sera berkerut, dia seperti tahu kemana arah obrolan ini berujung.


“Kenalin dong?”


Akmal ingin tahu juga, jadi dia hanya mengangguk. Khalia di samping Daud menatap Sera dan Arina bergantian.


“Ini teman Sera, kah?” Arina dengan suara lembutnya bertanya. Badannya membungkuk, disetarakan dengan mata keempat anak di depannya.


“Oh, Kak.” Sera berbalik kembali ke Arina. Menghela napas, gadis kecil itu menganguk enggan dan menunjuk malas.  “Daud, Akmal.” kata Sera singkat lalu menarik tangan Khalia mendekat dan tersenyum:


“Yang ini Khalia, sahabat aku.”

__ADS_1


“Hai semuanya.” Arina yang menyadari perbedaan sikap Sera merasa geli dengan tingkahnya.


Oh, jadi ini temannya Sera.


Melihat teman-temannya Sera, senyum Arina semakin tulus. “Aku Arina. Panggil Kak Arina aja.”


“Hai, Kak. Aku Daud, aku duduk sebangku sama Sera.” Tiba-tiba kuning mencuat diantara yang lain, greget minta perhatian. Dia seperti tahu bahwa topik tentang ‘Sera’ bisa menarik perhatian kakak perempuan di depannya.


“Oh, benarkah? Halo Daud.”


“Kenapa aku baru lihat kakak disini? Kalau kakak datang setiap hari Sera pasti senang!”


Sera: ???? Hellow?


Mendengar Daud berkata demikian, tidak mungkin Sera menyangkalnya, jadi dia hanya mengatupkan mulutnya.


“Oh sayang banget kakak harus kerja, jadi gak bisa setiap hari…,” kata Arina mengikuti.


“Oh, sayang banget.” wajah Daud murni menunjukkan kesedihan. Daud merupakan keturunan campuran, rambut pirangnya yang alami seringkali dikira hasil cat-an. Orang yang tidak kenal sifatnya, berpikir dia seperti pangeran di buku-buku dongeng barat. Ditambah dengan wajahnya yang kini memelas sedih, Daud semakin menarik perhatian. Cahaya seperti berkumpul di atas kepala Daud. Sayang koridor sedang sepi, dan orang yang berada di sekitar dia saat ini tidak mengapresiasi penampilan Daud sama sekali.


Arina tertawa kecil menanggapinya. “Kamu lucu banget.”


“Hehehehe. Makasih.” Daud terkekeh malu, "Kakak juga cantik banget." lalu menambahkan. "Paling cantik yang pernah aku lihat."


Sera, Khalia, Akmal: ….


Ini betulan Daud yang menyebalkan itu? Yang suka berdebat, mengoceh, dan memusuhi orang?


Kenapa dia kelihatan sakit mental?


Sera merasa malu membiarkan Daud bicara di depan Kak Arina. Dia menarik Daud menjauh dan mendorongnya kembali ke kelas. Akmal dan Khalia yang tadinya penasaran soal Arina, sudah malu duluan dengan tingkah Daud. Keduanya kompak menahan Daud untuk keluar kelas.


Sera berbalik dan menyeret Arina ke kursi di taman sekolah yang teduh.


“Satu jam lagi jam pulang sekolah, jadi Kak Arina harus nunggu dulu sebentar, gak apa-apa?”


“Pasti kakak ganggu kegiatan kelas kalian barusan ya?”


Sera tidak menyangkal, hanya menjelaskan. “Hari ini Guru-guru ada rapat mendadak, jadi kita ada jam kosong. Karena sebentar lagi pulang jadi gak terlalu ketat.”


“Oh syukurlah. Kakak lupa kalau kalian masih jam pelajaran. Melihat kalian yang manis-manis, kakak jadi gemas ingin ngobrol.” kata Arina penuh dengan nada maaf.


“Gak kok, temanku emang pada aneh, terutama yang kuning itu.” kata Sera menandai rambut pirang Daud, meski begitu, pipi Sera sedikit memerah disebut sebagai anggota anak-anak yang ‘manis’...Tiba-tiba pikiran Sera tertuju ke ‘sugar daddy’ bahasan sebelumnya. Sera merasa ada ide.


“Kakak tunggu disini sendiri gak apa-apa?”


“Oke”


“Um… aku sebenernya agak lapar,” kata Sera merogoh saku dan menyerahkan kartu makannya ke Arina. “Kakak boleh titip belikan aku makanan gak buat aku makan pulang sekolah nanti?”


“Oh okay. Sera mau makan apa?”


“Em… apa aja, nasi… ayam… bebas, deh.”


“Tapi sekarang udah mau jam dua lebih… gimana kalau cemilan kue-kue aja buat ganjel perut?”


“Oke.” Sera diam sejenak, seperti teringat. “Kakak juga pasti capek, kakak duduk aja di kantin sambil tunggu aku.. kakak makan juga, kartu makanku di pakai.”


“Iya, kakak tahu.”


“Aku harus masuk kelas, Kakak hati-hati, ya?”


Mendengarnya Arina bingung harus tertawa atau meringis. Gadis kecil ini seperti tidak tenang meninggalkan Arina yang sebesar ini sendirian. Wanita itu mengusap puncak kepala Sera dan mengangguk. “Oke, kakak tunggu disini sampai Sera selesai sekolah plus makanan Sera.”


“...Oke.” Sera akhirnya kembali ke kelas.

__ADS_1


Tanpa Arina ketahui, interaksinya bersama Sera di saksikan para pengasuh yang duduk tak jauh. Beberapa wanita muda yang datang ke sekolah menjemput keponakan mereka dengan niat untuk berkenalan dengan Sera juga, langsung gelisah melihat sosok Arina.


__ADS_2