
Reksa baru selesai memberi arahan untuk artikel yang hendak di terbitkan terkait Yayasan Ares. Tiga tahun terakhir ini, Reksa tidak pernah terlewat menyumbang ke panti asuhan. Di satu sisi dia ingin mengumpulkan pahala untuk keluarganya; untuk putrinya. Di sisi lain, memiliki reputasi seperti ini termasuk hal yang menguntungkan untuk perusahaan Reksa yang kian membesar. Dia memutuskan untuk mendirikan Yayasan pada akhirnya, supaya dia memiliki tujuan yang lebih terarah.
Mendekati waktu akhir jam kerja, Reksa yang tadinya akan terus memeriksa dokumen untuk dua jam kedepan, menerima laporan dari Shain bahwa putrinya berniat untuk pergi ke toko alat tulis untuk membeli hal yang penting.
Hal penting apa yang di perlukan untuk Sera?
Reksa mengerutkan kening dan membalas pesan.
-Suruh orang aja.
Waktu sudah lewat jam enam sore. Meski dengan kehadiran orang dewasa Sera bisa pergi kemana saja dan kapan saja, untuk anak kecil sepertinya, berkunjung ke luar di jam segini tidak akan Reksa izinkan. Apalagi setelah kejadian terakhir, di sudut hatinya, dia merasa gelisah ketika putri kecilnya keluar dari vila, dari teritori yang dia rasa aman.
Pengawal Shain: Nona kelihatan buru-buru dan sudah duduk di mobil, Pak.
Baru duduk, mobil pun belum keluar garasi. Tapi Shain di seberang bertanya-tanya apakah Bosnya ingin dia menghancurkan harapan Nona kecil yang terlihat sangat senang?
Reksa akhirnya melupakan pekerjaannya dan memutuskan untuk pulang awal.
-Ke toko buku mana?
Reksa lalu menerima balasan dari Shain sebelum mengepak tas kerjanya.
Sekretaris yang berjaga di luar langsung berdiri melihat bos-nya keluar ruangan membawa tas kerja. Dia tahu bahwa tidak ada lembur hari ini. Dengan senang hati dia mengiringi bos-nya pergi sampai lift.
Menuju ke mobilnya, Reksa menerima telepon dari Sera, seperti biasa.
“Papa..,” suara Sera masih terdengar seperti balita di telinga Reksa. Tanpa sadar ekspresinya melembut.
“Ya, Papa udah denger. Kenapa pergi malem-malem?”
Terdapat hening sesaat sebelum suara kental Sera terdengar.
“Abima udah berangkat Pa..,” Sera tahu bahwa papa-nya kurang suka dia keluar lewat maghrib.
Reksa mendengar nada sedih yang sangat jarang pada kalimat putrinya. Di satu sisi dia senang akhirnya Sera mengerti apa itu simpati pada seseorang. Di sisi lain, dia merasa kasihan juga pada anak bernama ‘Abima’ yang jadi korban, namun akan lebih baik lagi kalau putrinya tidak terlalu dekat pada anak laki-laki .
“Iya, Papa denger temen kamu katanya pindah?”
“Iya… Sera janji mau tulis surat sama dia. Sera juga udah di kasih alamat barunya.”
Huh, dia dengar dari Shain bahwa putrinya baru kenal sehari dengan bocah itu? Benar-benar kemajuan yang cepat untuk ukuran anak SD.
Tapi dia tidak bisa mengutarakan hal itu.
Dia hanya bisa mendukungnya untuk saat ini.
“Tulis surat bagus, tapi jangan lupa ngerjain tugas-tugas sekolahnya,”
__ADS_1
“Sera gak akan lupa.” jawab Sera tegas. “Papa pulang jam berapa?”
“Papa udah pulang.”
“..Oh! Gimana, dong?” tanpa sadar suara di seberang terdengar panik.
Sera pikir Papa-nya akan pulang jam delapan seperti biasa. Makannya dia pergi meski sudah malam. Bukannya Reksa sangat melarang, tapi Sera sudah terbiasa menyambut Papa-nya pulang kerja.
Melewatkannya sehari seperti kehilangan sesuatu.
“Papa juga ada urusan ke toko buku. Sekalian Papa juga kesana.”
“Oh! Sera ke Toko Buku Aksara. Sebentar lagi nyampe… udah nyampe!” seru Sera. "Papa nanti langsung ke lantai... tiga, ya?"
“Iya. Tungguin, ya.”
Saat telepon selesai, Reksa masih tiga blok menuju lokasi.
Begitu dia sampai di lokasi, Sera sudah hampir selesai memilih amplop dan kertas.
Reksa masuk ke mal dan langsung menuju lantai 3 tempat dimana Toko Buku Aksara terletak.
Begitu sampai di puncak eskalator, dia melihat sosok mungil keluar dari toko buku dengan tas kertas berisi belanjaan, di topang dengan kedua tangan.
Shain di belakangnya berjaga dan memperhatikan Nona kecil dengan hati-hati.
Reksa tahu sejak dulu bahwa Sera selalu ingin melakukan semuanya sendiri dan sempurna. Dia tidak menganggap Sera yang membawa barangnya sendiri sebagai kelalaian Shain.
“Papa!!”
“Pelan-pelan!”
Reksa masih muda, bentuk badannya seimbang. Ketika dia setengah berjongkok untuk menyambut Sera yang berlari ke pelukan, otot paha dan tangannya tercetak gagah di balik jas dan celana panjangnya.
Semakin jadi perhatian adalah bentuk rahangnya yang lurus dan wajah tampannya. Alis tajamnya membuat Reksa terlihat seperti Tuan Muda elit, namun begitu Sera berada di tangannya, wajah itu berubah lembut, sempurna digambarkan sebagai ayah yang hangat. Hal itu membuat orang-orang di sekitar melirik dan memperhatikan.
Diam-diam beberapa orang mengambil video.
Ayah dan anak ini terlihat sangat serasi! Ayahnya kelihatan dingin tapi begitu bertemu putrinya, ekspresi wajahnya langsung berubah.
Di tambah wajah itu! Benar-benar pemandangan yang menarik mata.
Reksa jarang pergi keluar, apalagi berbelanja. Biasanya asistennya yang mengurusi keperluan di kantor. Sementara di rumah, ada Bi Sri.
Shain sendiri memilih mal kecil ini karena jaraknya yang dekat ke rumah. Di waktu biasa dia tidak akan memilih tempat ini.
Reksa sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang di sekitar, sementara Sera hanya berpikir bermain dengan Papa-nya; tidak terganggu sama sekali. Shain, dia tidak ada urusan selain keamanan bos dan nona kecilnya. Wajah pengawal wanita itu tidak menunjukkan sedikitpun kerutan.
__ADS_1
Shain mengikuti di sisi. Selangkah lebih lambat, membiarkan Reksa dan Sera menikmati waktu berdua.
“Pa, katanya disini ada tempat main game.” kata Sera sedikit berbisik, namun matanya bercahaya antusias. Tak sabar ingin bermain.
Reksa yang selalu sibuk merasa bersalah. Beberapa waktu lalu dia berniat untuk jalan-jalan dengan Sera, tapi karena urusan pekerjaan, jalan-jalannya harus tertunda.
Meski dia berniat untuk lanjut bekerja saat sampai di rumah nanti, Reksa pikir ini kesempatan yang jarang.
Aslinya, dia sendiri sudah lupa kapan terakhir kali dia main ke game center. Mungkin waktu dia SMP?
“Yess!”
Ketiganya bergerak ke lantai dasar dan langsung ke game center. Bisa di bilang tempatnya sempit, tapi Sera hanya melihat keramaian dan warna-warni dari mesin di depan. Dan yang utama, dia akan main dengan Papa-nya!
“Sera mau main apa?”
Sera terlihat berpikir dalam sebelum menunjuk kubik balapan mobil. Reksa menghampiri kubik kosong, namun karena kaki-kaki Sera masih pendek untuk menekan pedal, Reksa ikut main. Sera duduk di pangkuannya mengendalikan setir.
“Nanti beloknya pelan-pelan. Coba dulu ya?”
“Oke!”
Shain yang siaga, menyerahkan kartu game center dengan limit tinggi. Tinggal gesek, meski Sera dan Reksa memainkan semua permainan ini, limitnya masih banyak tersisa.
Awal mula mengemudikan stir, Sera agak kesulitan. Reksa menuntunnya pelan-pelan dan memberi arahan. Namun tangannya tak bergerak dan diam dengan jujur. Memperhatikan putrinya memutar stir dengan canggung.
Reksa menggesek kartu ketiga kalinya. Sera belajar dengan cepat, dengan Reksa yang mengatur kecepatan, Sera berhasil sampai di titik akhir tanpa oleng sedikitpun dengan posisi terakhir.
Melihat posisi payah di layar, gadis kecil itu kemudian sadar bahwa ini adalah kompetisi. Dia tak terima dengan kekalahan.
“Papa jalannya pelan-pelan jadinya kita kalah!”
Reksa yang di salahkan akhirnya memainkan game lima kali dan pindah ke kubik lain setelah Sera memenangkan juara pertama.
Permainan selanjutnya adalah menembak. Pistol yang di pegang cukup besar, membuat Sera kesulitan. Namun latihan beladirinya membuat Sera bertahan dan berusaha memegang dengan stabil. Sementara Reksa membunuh banyak zombie, Sera menembak zombie paling jauh yang memiliki waktu lama untuk mendekat.
Keduanya kalah ketika berhadapan dengan Bos Zombie. Sera tahu mereka tidak bisa lama di game center. Dia tidak mengulang permainan dan berkeliling mencoba permainan lain.
Pukul delapan lewat lima, ketiganya pulang setelah membeli eksrim di McT. Ketiganya naik di mobil yang sama, sementara mobil Reksa akan di bawa oleh asistennya.
Sera naik lebih dulu, disusul Reksa. Saat itu, samar-samar dia mendengar seruan perempuan.
Reksa menurunkan jendela sedikit, cukup untuknya melihat keadaan di luar. Beberapa meter dari posisi mereka, berdiri pasangan yang tengah berdebat.
Si wanita berambut panjang sepunggung, mengenakan baju terusan berwarna coral. Entah kenapa, melihat sosok wanita itu, membuat Reksa terbayang-bayang akan sesuatu.
Ketika dia menaikkan kembali jendelanya, si wanita berhasil melepaskan diri dari si pria, lalu… dia tidak tahu kelanjutannya karena mobil sudah melaju.
__ADS_1
Saat sudah agak jauh dari mal, barulah Reksa ingat.
Sial, itu bukannya Deanita?!