ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
34. Dance with me, make me sway


__ADS_3

Reksa menerima laporan dari Wana dan Shain bahwa ketiganya sedang dalam perjalanan pulang kembali ke vila.


Dia hanya menerima laporan singkat dari Shain karena pengawal itu tengah menyetir.


Dia membaca laporan dari Wana.


“Nona Sera ngga ngomong apa-apa dan cuma tiduran sambill meluk boneka. Sy ngga tahu apa yang terjadi, Nona ngga mau makan puding dan es krim.” isi laporan itu hanya kurang wajah Wana yang memelas saja, berpikir Nona kecilnya sangat menyedihkan.


Reksa hanya bisa menanyakan rinciannya pada Shain nanti. Namun melihat sikap putrinya yang pendiam dan tak biasa, pastilah ada hal yang terjadi.


Reksa melirik wanita di depannya tanpa ekspresi.


Alis wanita itu melengkung lembut, bulu matanya lentik, panjang seperti sayap kupu-kupu. Bibirnya mengulas senyum kecil. Dagunya di tumpu di atas telapak tangannya.


“Kukira kamu bakal lama datengnya?”


“Cecil.” kata Reksa tanpa nada berarti. Dia memperingatkan supaya wanita di depannya menjelaskan apa yang baru saja terjadi.


Wanita itu–Cecil, melihat jas Reksa yang sedikit miring kerahnya. Namun dia tidak berpikir kenapa Reksa begitu terburu-buru datang ke ruangannya(demi siapa). Dia hanya berpikir bahwa Reksa terlihat seksi saat itu.


“Tadi anak kamu kan? Dia manis banget sih.”


Reksa mengehela napas panjang.


“Aku tuh mau ngobrol sama dia. Gemes sih aku liatnya. Tapi dianya diem aja.” Cecil diam sejenak lalu menurunkan tangannya.


“Aku tadi keceplosan.....”


“....” Reksa memikirkan kemungkinan terburuk. Sejak awal instingnya berkata bahwa wanita di depannya ini mencurigakan. Entah sudah berapa banyak wanita yang datang ke mejanya dengan niat licik.


Reksa bisa menikmati, namun dia memilih tipe wanita yang tidak memiliki ambisi. Wanita-wanita itu jelas mengincar apa yang ada di bawah kakinya.


Juga memikirkan Sera, dan kesibukan yang dia miliki sekarang, Reksa belum terpikir untuk menikmati hubungan apa pun.


Wanita di depannya mungkin menarik, namun jenjang serius belum ada di kamus Reksa.


Sayangnya, setiap dia suudzon, fakta menunjukkan bahwa dia salah menilah soal wanita di depannya.


Dia sendiri sempat ragu, mungkinkah Reksa sudah tumpul instingnya?


“Aku bilang aku suka kamu di depan adik kecil itu. Sumpah aku keceplosan, habisnya aku seneng banget akhirnya ketemu anak kamu. Dari situ dia jadi murung banget. Aku... aku minta maaf.” kata wanita di depannya dengan perlahan dan suara lemah. Matanya menatap lantai. Reksa tidak bisa melihat kilau geli di balik kelopak mata itu.


Kesedihan tersirat di wajah wanita itu saat dia kembali mengangkat pandangannya.


“Sorry. Aku–mau minta maaf sama dia.” Cecil diam sejenak. “Boleh kan?”


Reksa tidak tahu hal yang terjadi sebenarnya. Dia berniat untuk memanggil tim di belakang Cecil untuk mempertimbangkan kembali kerjasama mereka tadinya. Namun mendengarkan penjelasan Cecil, Reksa pikir wajar saja kalau Sera tiba-tiba murung saat ada wanita yang berkata menyukai papa-nya.


Kemarahan Reksa yang hampir meledak itu tiba-tiba mengempis seperti balon yang habis udaranya.


Reksa menghela napas. “Kamu tahu saya kaya gimana.” Wanita muda di depannya sudah mengejar Reksa sejak awal mereka bertemu. Reksa sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak tertarik.


Cecil mengangkat tangannya, mengisyaratkan supaya Reksa tutup mulut. Gerak geriknya dipertimbangkan, membuat bahkan Reksa sendiri tidak merasa tersinggung.


Mata wanita itu melengkung seperti bulan sabit.


“Aku tahu kamu mau ngomong apa. Aku ngerti kok. Tapi kan pikiran orang berubah-ubah. Bisa gak, kamu jangan langsung dorong aku jauh-jauh.”

__ADS_1


“Banyak laki-laki yang lebih muda dari saya yang ngejar kamu.”


Tapi ngga se-menarik kamu. Cecil berkata dalam hati.


Melihat ekspresi Reksa yang kini tak lagi tegang seperti sebelumnya, Cecil tahu dia berhasil.


“Makan yu?”


Reksa melirik jam. Dia sudah bolos rapat di pertengahan, Joe tentu sudah mengambil alih. Sebelum dia masuk lagi, mungkin dia bisa menemani sebentar dan menggiring pulang wanita di depannya.


“Makan kelamaan, mungkin ngeteh sebentar bisa.”


“Pelit ih,” Cecil mengerutkan bibirnya.


“Saya telepon anak saya dulu."


“Oke.” Cecil tersenyum tanpa sedikitpun rasa keberatan di wajahnya. Nadanya masih ceria seperti sebelumnya. Perempuan itu lalu memainkan ponselnya selagi Reksa menelepon.


Sera yang masih di jalan, menerima panggilan dari ayahnya lewat jam pintar di tangannya.


Gadis kecil itu langsung menerima panggilan, namun tidak mengatakan apa-apa. Banyak yang ingin Sera tanyakan, banyak yang ingin dia ungkapkan, namun dia bingung harus mulai dari mana.


“...Papa.” akhirnya hanya panggilan lemah yang terdengar.


Reksa di seberang mendengarkan. Hatinya melembut seketika seperti puding mendengar suara putrinya. “Papa pulang sebentar lagi. Sera tunggu Papa, ya?”


Perlu beberapa detik sebelum Sera menjawab masih dengan nada lesu yang sama.


“...Um.” Oke, dia masih bisa menunggu. Sera mengerti Papa-nya sibuk mencari uang untuk dirinya dan sekolahnya, dan hidupnya--hidup mereka.


Dia tidak ingin apapun. Dia hanya ingin Papa-nya.


Sera pun mengatakan yang sebenarnya.


"Sera mau Papa."


Mendengar itu Reksa tertawa pelan. "Papa bukan barang, ngga bisa di beli. Hm?"


Mendengar Papa-nya menawarkan begitu, Sera tidak mau menolak.


“Cilung kalo gitu.” kata Sera pelan.


Biasanya Reksa tidak akan mengizinkan Sera untuk makan makanan yang di jual di pinggir jalan. Namun kali ini dia bisa berkompromi.


“Yaudah nanti Papa beliin. Sama apalagi?”


Sera hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara lain yang menyahut.


“Eh, aku tahu loh, cilung yang enak dimana. Ponakan aku suka juga. Ngga kaya di pinggir jalan di jualnya. Bersih banget.”


“....” Sera berkedip beberapa kali. Gadis kecil itu merasa marah tiba-tiba. Dia tentu saja tahu suara siapa itu. Meski nada yang di pakai berbeda 180 derajat, Sera tahu.


Tapi kenapa Papa-nya malah bersama perempuan itu?


Samar-samar dia mendengar suara Papa-nya.


“Kamu tahu?”

__ADS_1


“Iya, nanti kesitu aja. Aku anterin.”


“Ok.”


Di dalam pikiran Sera yang kacau, dia seperti mendengar Papa-nya bicara lembut pada wanita itu. Kenyataannya, Reksa bicara begitu karena dia masih mengobrol dengan Sera. Dia juga tidak mau menakuti putrinya.


Suara Reksa lalu terdengar lagi dengan jelas.


“Nanti Papa beliin ya? Sera yang baik di rumah sayang, ya?”


“Gak jadi.” kata Sera sambil mengerutkan kening. Dadanya terasa berat namun gadis itu tidak mengerti kenapa dan apa. Mata gadis itu memerah, dia hanya tahu dia merasa sedih sekali.


“Apa?”


“Sera gak mau!” balasan itu di ucapkan dengan nada tinggi. Telepon lalu langsung Sera putus.


Reksa di ruangannya melihat panggilan terputus, namun hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak menyangka putrinya akan begitu marah. Nak, Papa-mu populer, jadi wajar kan kalau ada yang suka satu, dua orang?


Reksa tidak mengerti kekhawatiran putrinya sama sekali.


“Sorry.” di samping Reksa, Cecil yang entah sejak kapan ikut mendengarkan menengadah menatap Reksa. Tatapannya agak sedikit memelas. Wajahnya menunjukkan rasa bimbang dan bersalah.


“Aku…c-cuma mau share… aja.”


Reksa tahu Cecil hanya terlalu semangat mendengar suara Sera--atau begitu yang Cecil ingin Reksa pikirkan.


“Gak apa-apa.” kata Reksa pendek.


“Kita ngeteh sekarang kalo gitu? Biar bisa cepet beli cilung-nya?”


Reksa menghela napas. “Oke.”


Keduanya berjalan keluar ruangan beriringan. Sekretaris yang menunggu di luar menyapa keduanya sebelum berlalu.


Beberapa orang mulai bergosip, bercerita betapa keduanya nampak seperti pasangan serasi. Selain Shain, tidak ada lagi yang tahu apa yang terjadi. Jehan sendiri mendukung pasangan yang barusan berlalu itu dalam hati.


Nona Cecil tak hanya cantik, kaya, dan memiliki latar belakang kuat, wanita itu juga masih muda. Jehan pernah lihat bagaimana wanita itu membantu anak kecil yang terjatuh di jalan sebelumnya. Tentunya Nona Sera tidak perlu khawatir soal ibu tiri.


Pak Reksa juga lebih lembut pada Nona Cecil daripada tamu-tamu wanita sebelumnya.


Sayangnya, dia tak bisa ikut campur soal yang demikian.


Cecil mengulas senyum manis merasakan tatapan di sekelilingnya. Hatinya bergejolak senang.


Kutu kecil, tunggu aku.


Cecil tentu saja suka anak kecil, kalau anak itu muncul dari rahimnya. Dia melirik sisi samping wajah Reksa. Pria dingin ini begitu lembut bahkan pada anak seorang pelayan yang faktanya hasil kecelakaan.


Alangkah indahnya kalau sikap lembut itu di tumpahkan pada anak dari wanita yang dia cintai? Mungkin akan berkali lipat kasih sayangnya?


Cecil tidak sabar dengan masa depan itu. Tangan gadis itu memegang lengan Reksa. Pria itu hanya melirik, tak menyambut namun juga tak menolak. Senyum Cecil semakin cerah.


Cecil hanya tidak mempertimbangkan satu hal. Dia tidak menyangka Reksa akan memegang kata-kata seorang pengawal dibanding kata-katanya.


Saat ini, Cecil sedang diambang kebahagiaan.


****

__ADS_1


__ADS_2