ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
37. Serang, Menghindar, Lemparkan.


__ADS_3

Pemilihan presiden tahun ini akan berlangsung tanpa hambatan sesuai tanggal yang dijadwalkan.


Meski keadaan mulai memanas, namun publik masih ada ruang untuk mendengarkan gosip yang menarik.


Sebuah platform menerbitkan berita yang setara dengan problem nasional.


[Bahan makanan Resto Pesisir Pantai dicurigai mengandung substansi bab*.]


Setengah jam setelah berita di terbitkan, internet masih tenang. Meski Pesisir Pantai sudah memiliki banyak cabang, semua tempatnya ada di dalam pulau. Tidak banyak yang tahu.


Seorang influencer membagikan artikel dengan cuitan komentar, mengungkapkan kekecewaan terhadap salah satu restoran yang sempat populer ini.


Publik yang masih tidak tahu, mulai mencari informasi mengenai Pesisir Pantai.


Selama tiga jam, berita masih terkontrol.


Joe menerbitkan sederet artikel lain yang berisi bantahan, menciptakan situasi seolah pihak Pesisir Pantai membela diri.


Cahya Wicaksono, yang menerima informasi ini langsung terbirit lari ke rumahnya. Dia yang sedang berada di jamuan sebagai anggota partai, terpaksa harus menyelesaikan masalah ini dulu.


Ketika dia dengar soal berita ini, Cahya mendengus. Ini bukan pertama kalinya dia digoyahkan dengan isu ini. Meski Cahya merasa tak perlu, saat ini adalah masa-masa rapuh untuk posisinya.


“Segera buat artikel bantahan!” dia juga meminta manajemen di internet untuk menekannya.


Tak lama, artikel lain segera muncul. Cahya pikir, cara kerja orang-orang suruhannya kini sudah berkembang. Sejak kapan kerja mereka jadi cepat begini?


[(HOAX)Restoran Pesisir Pantai Mengelabui Audit Kehalalan?


Salah satu pekerja Restoran Pesisir Pantai mengaku sudah bekerja selama bertahun-tahun, dan bahan yang dipakai serta pengolahannya 100 persen halal…..{}]


Tak lama, artikel lain muncul.


[Manajer Restoran Pesisir Pantai mengaku bahwa saus Restoran mengandung lemak Bab*


Inisial AWM, mengaku sudah tiga tahun bekerja jadi manajer di Restoran Pesisir Pantai. Setiap menginspeksi, dia akan menambahkan bahan lain yang tidak dimiliki pemasak ke dalam saus. AWM beralasan bahwa itu hanyalah ‘penyedap rasa’.]


[Mengelabui audit kehalalan, Begini cara AWM, manager Restoran Pesisir Pantai melakukan aksinya.


Inspeksi sertifikasi halal untuk restoran dilaksanakan dalam dua tahap. Satu, pemohon mengirimkan bahan pemeriksaan ke lab. Dua, pemeriksa datang langsung ke restoran.


Saat memperbaharui sertifikat halal, Restoran akan memasak sesuai cara yang sudah ditentukan, tanpa menambahkan dan mengurangi apa pun.


Sertifikat Halal yang diterbitkan adalah Sah dan Jujur.


Namun setelah selesai waktu pemeriksaan, AWM akan menambahkan kembali bahan tersebut pada jam operasional restoran.]


Di bawah artikel, komentar publik sudah memanas.


Artikel-artikel dari akun kecil pun mulai meluncurkan berita tanpa diminta.


Judulnya pun beragam, Resto memakai tempat bekas pemakaman, Resto menggunakan tumbal dan pesugihan sehingga bisa populer, sungguh kreatif. Sampai Joe sendiri bertanya-tanya mungkinkah? Benarkah? Kalau dia tidak tahu kenyataannya, dia mungkin akan percaya.


Joe membuka artikel menarik lain. Semakin dia membacanya, semakin dia curiga.


[Seorang pelanggan mengaku datang waktu inspeksi ke halal-an di lakukan. Katanya masakannya tidak segurih hari-hari sebelumnya.


“Memang rasanya beda aja gitu. Saya kan reguler ya, istilahnya. Cuma waktu hari itu, saya gak tau, beda aja. Tapi udah hari itu lewat, rasanya kaya biasa lagi.”]


[Pengakuan Mengejutkan Sri oleh Temannya tentang Restoran Pesisir Pantai.


“Saya kan punya temen–sahabat yang beda agama. Waktu kami datang ke resto Pesisir Pantai, dia bilang, kamu harusnya gak boleh makan ini–kata dia. Aku ya aneh, lah kenapa. Mungkin temen aku juga bingung harus bilangnya gimana. Orang di pampang banget kan sertifikasi halalnya di tembok, ya.


Pas pulang dia akhirnya bilang restoran itu kaya pake lemak bab* dari rasanya, terutama saosnya. Itu dia yakin banget. Dia kan suka makan ‘itu’ ya, jadi tahu rasanya kaya gimana gitu kan ya. Aku kagetlah disitu. Aku cuma bisa Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah, karena aku gak tahu kan ya. Aku juga ragu, tapi aku gak pernah lagi makan disana habis kejadian itu.


Cuman keluarga aku, aku gak larang karena mereka belum tentu percaya kan. Mereka masih suka mampir kesana. Sakit hati banget sih pas tahu kenyataannya.”]


“Coba periksa line ini dan ini. Nama artikelnya… oke, tolong cek dari mana asalnya.” setelah memberi arahan, Joe kembali membaca.


Meskipun kemunculan artikel-artikel ini tidak direncanakan, Joe tetap harus mengontrol apakah ini aman atau tidak.


Tak lama laporan sampai.


“Pak Joe, saya curiga ada pihak lain yang ingin menjatuhkan Cahya. Tapi pernyataan-pernyataan ini agaknya bukan karangan tanpa dasar.”


Joe mendengarkan lebih dalam. Ada satu cabang Restoran Pesisir Pantai yang nakal dan memang mencurangi pelanggan. Namun restoran itu tidak terletak di Kota K.

__ADS_1


“Bukankah sama saja? Mengelabui seperti itu tidak ada bedanya dengan menipu publik.” Joe mengangkat sebelah alisnya. Mata cokelatnya berkilau di balik kacamata. “Berjualan makanan apa pun tidak ada salahnya. Tapi yang salah adalah berlagak jujur.”


Restoran Pesisir Pantai menggunakan sertifikat halal atas semua restoran yang di miliki, meski mereka mengaku bahwa ‘prosesnya’ sama–sehingga sertifikat sah di pakai di semua cabang, hal itu tidak bisa jadi jaminan.


Joe yang merasa sedikit bersalah awalnya, kini menyerang all-out.


Di tempat lain.


“Kamu terbitin artikel bagus, sekarang mana?!” Cahya berteriak ke telepon pada orang suruhannya.


“Pak, saya masih proses pembuatan, belum nerbitin sama sekali.”


“Cepet terbitin kalo gitu!”


Akhirnya orang itu hanya bisa mengganti artikel tahun tahun sebelumnya dengan tanggal yang baru, dan mengganti beberapa nama sebelum menerbitkan. Hanya saja hal ini percuma di lakukan.


Kali ini Cahya benar-benar tidak siap.


Saat dia mengingat percakapannya barusan, barulah Cahya sadar kalau artikel bantahan sebelumnya diterbitkan oleh arang lain.


Siapa?


Siapa yang mengharapkan kematiannya seperti ini!?


Bersama dengan munculnya artikel tanpa henti, opini publik pun semakin membara.


Banyak restoran yang menghidangkan daging babi, dan daging sejenisnya, namun mereka biasanya memasang ‘Non-Halal’ di depan jendela. Adapun yang tidak, mereka biasanya jarang dikunjungi masyarakat muslim. Begitu ada yang masuk pun, langsung diingatkan oleh pelayannya bahwa muslim tidak bisa makan di sana.


Meski tidak semua restoran menggunakan pendekatan seperti ini.


Joe membiarkan suasana berproses dengan sendirinya.


Di sisi lain, salah satu anak buahnya yang datang ke restoran Pesisir Pantai di Kota K untuk mengontrol, menghubungi Joe dan melapor.


“Keadaan masih tenang, Bos. Belum ada apa-apa.”


Joe hanya meninggalkan pesan untuk mengontrol keadaan, sebelum lanjut melakukan pekerjaan lain.


Dia berniat untuk meluncurkan artikel baru malam nanti. Jadi untuk sekarang dia bisa santai sedikit.


Malam itu sebelum serangan akhir, Cahya mengundang petugas yang menginspeksi restoran Pesisir Pantai sebelumnya untuk tampil di live-broadcast.


“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Saya Malik, sebagai pemeriksa sertifikasi kehalalan untuk restoran pesisir pantai." Malik mulai bicara dengan nada khas orang tua. "Saya nyatakan bahwa prosesnya tidak ada kecurangan. Tepat di hari itu proses dan hasilnya halal.” Malik menekan khusus kalimat ‘tepat di hari itu’. Kalau bukan dia yang memeriksa, mana mau dia turun untuk jadi sasaran publik? Di satu sisi dia sendiri takut. Ya Allah, saya sudah melakukan pekerjaan saya tanpa kecurangan sedikitpun.


Dia hanya bisa berdoa.


Cahya yang duduk di samping di persilahkan bicara oleh Devan.


“Iya, mendekati pemilihan presiden ini, saya mencurigai bahwa ini adalah trik-trik pengalihan isu.” dia mengatakan bahwa ini hanyalah isu, menjelaskan bahwa berita ini tidak benar. Cahya yang bertindak karena panik, semestinya tidak mengangkat isu soal pengalihan. Cukup mengatakan bahwa topik tidak benar, tunjukkan bukti, dan sejenisnya. Kemudian berita tinggal di tekan. Di tambah, Cahya sebagai kepala keluarga Wicaksono, langsung tampil di kamera.


Kalau salah langkah, hal ini hanya akan membuat Cahya semakin dekat dalam ambang kehancuran.


Sayang sekali saat itu Joe yang jadi lawannya.


Joe menonton siaran selama lima menit sebelum meluncurkan artikel mematikan.


[{EKSLUSIF!!} Berdiri di Pusat Pondok Pesantren, Resto Pesisir Pantai menipu pelanggan dengan bahan Non Halal.]


Sedikit provokasi disini, dan disana, juga manambahkan cuitan-cuitan orang terkemuka.


Joe sengaja menggerakkan tim untuk mengontrol kolom komentar. Buat supaya akun-akun di komentar mengangkat pihak di balik Restoran Pesisir Pantai. Sementara topik yang mengangkat Instansi Sertifikasi Halal dan pejabat lain, langsung dipadamkan.


Ahem, perusahaan tempat Joe bekerja tidak berniat untuk melakukan pertarungan skala besar.


Topik dan artikel yang melebar ke sisi lain langsung di cabut, di hapus, dan di tekan. Bisa dibilang pekerjaannya kali ini sangatlah rapi.


Dua tahun yang lalu Reksa sudah mengembangkan ‘tim interaksi’, yang kenyataannya adalah ialah intel perusahaan. Reksa bahkan sengaja memilih nama Royal untuk efek keren.


Hal ini karena meminta pihak ketiga terlalu beresiko, dan harganya pun mahal.


Satu-dua pernyataan akun-akun kecil yang mengatakan bahwa ini adalah jebakan, dibiarkan saja oleh Joe. Semakin banyak spekulasi, semakin bagus. Supaya di waktu ada akun yang muncul membawa bukti, publik akan lebih mempercayai. Dan Joe yang akan mengeluarkan bukti-bukti itu.


Joe terus mengawal supaya tidak ada pihak yang memanfaatkan kesempatan ini, yang mungkin akan membahayakannya.


Beragam akun kecil lain yang sudah berjaga di depan layar langsung mengetik dan meluncurkan asumsi.

__ADS_1


Berita eksklusif itu tentu saja memicu kemarahan publik yang lebih dalam. Orang-orang mencari tahu dimana letak Restoran Pesisir Pantai yang di sebut.


Masyarakat Kota K yang daerahnya tepat seperti yang digambarkan artikel, langsung mengumpulkan massa dan menggiringnya ke Restoran Pesisir Pantai.


Cahya yang duduk dengan jumawa di depan kamera, menjelaskan bahwa ini adalah trik kubu lain. Tidak tahu sama sekali dengan yang terjadi.


Admin di balik kamera yang mengontrol live chat, mulai melihat komentar berubah ganas, barulah dia sadar ada yang salah.


“Sepertinya ada yang terjadi?”


Cahya yang mendengar berita eksklusif kali itu langsung naik tekanan darahnya. Siaran berhenti di tengah jalan.


Joe menghela napas panjang dan mematikan layar komputer.


Tring~


“Halo?”


Mendengar kalimat orang di seberangnya, Joe tertawa pelan. “Benar-benar tidak di sangka.” Awalnya Joe berniat membuat berita itu jadi nyata. Restoran Pesisir Pantai di Kota K, dengan masyarakat yang demikian, tidak akan berani melakukan hal konyol.


Tapi mungkin karena damai yang terlalu lama, dan di butakan keuntungan yang tinggi....


Saat orang suruhannya menggerakkan organisasi masjid untuk memeriksa restoran itu, bahan yang tidak disangka benar-benar ada di jajaran bumbu. Mereka malah memajangnya dengan botol kamuflase.


Joe yang awalnya berpikir dia akan melakukan kejahatan lain, merasa lega seketika. Setidaknya dia membantu bosnya melakukan perbuatan baik kali itu, ahem.


***


Bersama berdirinya presiden baru, maka berdiri pula jajaran menteri yang baru.


Sosok Ridwan yang terombang-ambing beberapa tahun lalu kini memiliki posisi yang menjanjikan sebagai bagian dari kabinet baru.


Ridwan tidak menjadi tim sukses dari pihak manapun, namun tidak bisa di sebut netral juga.


Bisa dibilang posisinya ambigu. Ketika kubu satu melakukan kesalahan, dia akan mengkritik, ketika yang satu bagus, dia akan memuji. Opini publik banyak diombang-ambing dirinya.


“Publik harus bisa menilai sendiri. Jangan ngikutin saya,” Ridwan mengatakannya secara terang-terangan sewaktu interview. Namun anehnya, publik justru semakin positif terhadap Ridwan.


Hal ini bisa dilihat pada setiap sesi Ridwan muncul, sekalipun dia memuji dan mengkritik, tujuannya hanya satu: masyarakat.


Masing-masing kubu tidak ada yang ingin menjadikan Ridwan musuh dan membuatnya berpihak ke kubu lawan. Karenanya, posisi Ridwan kali ini spesial, bersama beberapa pengamat politik lain.


Ridwan sudah menyerah untuk berpihak ke salah satu/ membela mati-matian. Politik bisa berganti-ganti. Hari ini bersahabat besok bisa jadi musuh mematikan. Dalam politik tidak ada yang namanya musuh abadi selama tujuan mereka masih sama.


Untuk saat ini, Ridwan hanya mengikuti keinginan orang yang ‘menyokongnya’. Meski selama bertahun-tahun ini dia tidak tahu siapa orangnya.


Ridwan merasa dia akan segera bertemu dengan orang ini.


Hanya di tahun-tahun inilah Ridwan bisa melakukan pekerjaannya dengan tenang.


Istrinya terus mengingatkannya untuk tidak melakukan hal yang dibenci orang dibelakangnya.


Ridwan tentu saja tahu.


Atas tekanan publik, sehari sebelum pemilu, Ridwan berjabat tangan dengan Kubu 2.


Kubu 1 dan Kubu 3 yang seringkali mendapat kesan positif dari komentar-komentar Ridwan, merasa dikhianati. Siapa sangka, kubu yang paling banyak dikritik oleh Ridwan justru kubu yang dipilih olehnya.


Komentar Ridwan disorot media dan membuat pendukung kubu 2 langsung demam kegirangan. Publik yang di buat bingung oleh Ridwan otomatis langsung condong ke kubu 2.


[Saya memuji bukan berarti saya positif condong kesana. Tapi kritiknya saya, merupakan salah satu bentuk apresiasi dan kepedulian saya.]


Bisa dibilang, untuk Kubu 2 ini, Ridwan adalah satu-satunya sosok yang paling menjengkelkan.


Pertama, publik mengenal dia.


Kedua, bantahan dan kritiknya selalu membuat orang-orang berpikir ‘benar juga, ya,’


Ketiga, Ridwan membuat posisinya abu-abu, membuatnya tidak bisa diserang sembarangan.(Sebenarnya Reksa berjaga di belakangnya)


Lima belas hari kemudian, Presiden baru diumumkan.


Secara formal, pengesahan kabinet baru masih beberapa bulan lagi. Namun dibelakang layar, Ridwan sudah menduduki posisi yang jadi tujuannya.


Menteri Energi dan Sumber Daya.

__ADS_1


Seminggu setelahnya, pembukaan Museum Arkeologi Nasional digelar.


***


__ADS_2