
Reksa sampai dirumah pukul tujuh kurang beberapa menit. Bersama suara pintu yang berbunyi, dia bisa mendengar suara derap kaki kecil yang semakin mendekat. Benar saja, begitu pintu dibuka, Sera berlari ke arahnya dengan boneka kelinci yang baru dia belikan.
“Papa!!” Sera langsung membuka kedua tangannya, berniat memeluk kaki ayahnya. Tak disangka, Reksa membuka tangannya dan membawa Sera ke udara sebelum menggendongnya.
“Sudah makannya?”
Sera mengangguk-angguk. Dia lalu membuka lebar-lebar mulut kecilnya, menunjukkan isinya yang sudah bersih. Memberitahu bahwa dia sudah menghabiskan makannya, tak ada sisa sedikitpun di mulutnya.
Reksa tidak mengerti.
“Sudah gosok gigi?” tanya Reksa setelah menebak-nebak.
Sera nampak bingung, lalu mengangguk cepat sebelum nyengir, menunjukkan deretan gigi susunya yang bersih.
“Anak pintar.”
Pengasuh Sri menyimpan jas dan tas Reksa sebelum pamit pulang.
Reksa mencuci tangan ke dapur masih sambil menggendong Sera, sebelum dia duduk di sofa.
“Tadi Sera belajar apa di sekolah?”
“Topi bundal!”
“Topi bundar, apalagi?”
“Balonku! Pawngi.., Sela main, petak umpet!” Meski penjelasannya tertatih-tatih, Reksa mendengarkan dengan serius. Sesekali dia mengoreksi ucapan Sera.
Katanya, salah satu sebab anak terlambat bicara dan tidak fasih adalah karena kurangnya komunikasi dengan lingkungan. Untuk melatihnya, secara alami anak harus banyak di pancing dan dilatih.
Di tengah-tengah obrolan, ponsel Reksa yang di atas meja bergetar. Inisial S di layar membuat mood Reksa yang bagus seketika menurun.
Sera seperti menyadarinya, anak itu langsung mengecilkan suaranya sebelum diam. Mata bulat hitamnya menatap Reksa lurus dan penuh ingin tahu.
Reksa mengeluarkan puding dan membukanya sebelum memberikannya pada Sera. “Papa telepon dulu, ya. Sera makan ini.”
Sera mengangguk tanpa mengutarakan sepatah kata pun dan menerima puding dengan mata berbinar.
Reksa meraih ponselnya dan segera bergerak menuju balkon. Tak lupa dia menutup pintu kaca di belakangnya.
“Halo Pak.”
“Iya, pak. Sejauh ini sudah bisa. Tinggal menunggu dari sana saja.” Reksa menelepon sambil memperhatikan Sera yang makan dari balik kaca.
“....”
Wajah Reksa yang mulanya netral mulai berubah gelap begitu mendengar kalimat dari seberang. Dia berbalik dan menghadap ke jalanan karena takut wajahnya yang suram terlihat oleh Sera.
“Hahaha." Mengeritkan gigi dengan wajah keras, Reksa mengeluarkan suara yang lembut dan sopan seperti biasa. “Bapak bisa saja. Saya hanya mengharapkan kelancaran untuk proyek-proyek saya. Soal yang begitu saya bukan ahlinya sama sekali.”
“....”
Reksa mengeluarkan rokok dari saku kemejanya, namun dia hanya memainkannya di jari karena sadar ada Sera ada di dalam. Baunya bisa mengganggu kesehatan anak-anak.
“Saya mengerti, Bapak tenang saja. Selain Tuhan, tidak ada pihak ketiga yang tahu.” sambungan diputus setelahnya.
Reksa menatap layar beberapa saat sebelum ******* rokok di tangannya yang tak tersulut. Dari awal dia harusnya sudah menebak seberapa liciknya orang-orang itu.
Tapi Reksa sudah terjun, dia hanya bisa menyelesaikannya. Semoga saja ini kali pertama dan terakhir Reksa terlibat.
__ADS_1
Dia menunggu beberapa saat, berniat untuk menenangkan diri. Namun saat dia berbalik, dia melihat Ser. Gadis kecil itu menempelkan wajahnya ke kaca dengan mata bulatnya yang membesar. Seperti gemas ingin melompat dan mengetahui apa yang sedang ayahnya kerjakan.
Melihat pemandangan lucu itu, amarah Reksa yang masih tertahan langsung lenyap seketika.
Reksa membuka pintu dan berjongkok sebelum menggendong Sera yang masih belum bereaksi.
Sera: !! Papa menggendongnya meski Sera tidak minta. Bagus!!
Sera dengan alami memeluk leher Reksa dan mulai bicara lagi begitu dia merasa ayahnya sudah kembali normal.
“Papa, Sela kotol.” kata Sera sambil menunjukkan gigi-giginya. Gara-gara makan puding, Sera merasa giginya kotor lagi.
Reksa yang menyadari hal itu langsung memegang dahinya. Dia lupa.
Sera lupa.
Pengasuh Sri juga lupa.
Sera sudah makan dan sudah gosok gigi, tapi Reksa malah memberinya puding.
“Sera sudah mandi?”
Sera mengangguk cepat.
“Kalau begitu sekarang kita gosok gigi sebelum tidur, ya?”
“Papa celita!”
“Iya, kita baca cerita sama-sama sebelum tidur, ya.”
“Bu Ina cita kinci, buaya, kancil.” Bu Irna bercerita soal kelinci, buaya, dan kancil. Sera ingin cerita itu juga.
Selain buaya dan kancil, Reksa tidak tahu sisanya.
“Juga kinci!”
“Iya, sama kinci.” kincir angin? Mungkin dongeng soal negeri B? Soal padang rumput?
Sera menatap heran ayahnya dan mengulang. “Kinci.” tunggu, Sera kemudian sadar. Dia memiringkan kepalanya. Sepertinya bukan begini dia menyebutnya??
“Iya, kincir, iya?”
“Kinci!!”
“Iya, kinci, kinci.” mungkin maksudnya kunci? Reksa harus memeriksa apakah ada buku dongeng soal kunci di rak buku Sera… mungkin ini dongeng soal harta karun.
“Kinci!!” nada Sera naik seoktaf sambil mendorong boneka kelinci di tangannya tepat ke depan wajah Reksa.
Reksa: ….
“Ini kelinci, sayang.” meskipun gemas, ini kali pertama Reksa bilang sayang pada putrinya. Meski wajahnya normal, dalam hati dia tidak menyangka dan terkejut. Namun dia merasa bahwa ini hal yang natural. Bukankah dia ayahnya Sera? Cepat atau lambat dia akan melakukannya juga.
Tanpa sadar matanya melembut.
“Iya, kinci.” Sera mengangguk-angguk.
Reksa berpikir bahwa dia harus melatih dengan sungguh-sungguh pelafalan putrinya.
Reksa: “Ke–”
__ADS_1
Sera: “Ke.”
Reksa: “Lin–”
Sera: “Lin.”
Reksa: “Ci.”
Sera: “Ci.”
Reksa: “Kelinci.”
Sera diam sejenak, menatap Reksa lalu boneka di tangannya bergantian. Ini rupanya kinci yang dia maksud! Sekarang Sera ingat! Kelinci!
Sera langsung berseru lantang. “Kewnci!!”
“...” lupakan. Yang penting Reksa paham artinya.
“Tahu ngga Papa siapa namanya?”
“...Papa Leksa?”
“Pintar.” Reksa mengusap kepala kecil Sera. Selain huruf R yang memang sulit dilafalkan, Sera mengetahui dengan jelas namanya.
Reksa mengangguk puas.
“Kita gosok gigi, ya.”
Sera merasa hari ini sama bahagianya dengan kemarin. Meski dia rindu mama-nya, Sera tidak lagi sedih. Dia bisa mengirim doa setiap hari pada mama-nya.
***
Malam itu setelah menunggu Sera tertidur, Reksa kembali ke kamarnya. Sambil mengerjakan dokumen, dia menelepon Joe.
“Coba lihat Ridwan.”
“...Ridwan, Pak?”
Ridwan bukan orang yang sering di lirik. Kebanyakan anak muda sepertinya baru bisa unjuk muka di depan umum setelah dia membuat banyak kontribusi… namun bisa di bilang Ridwan ini cukup kontroversial. Sebagai anak muda yang memegang jabatan di legislatif, sepertinya dia sangat sering ‘berinteraksi’ dengan pejabat lain.
Anehnya, media seperti meng-antagonis-kan Ridwan, yang mana membuat rakyat tidak begitu positif dalam memandangnya.
“Katanya dia sedang persiapan untuk periode baru ini?”
“Iya, tapi jabatan yang diincar tidak kosong, masih terisi… jadi.” Bapak yakin mau menghubungi dia?
Sejak dia memperhatikan Bos-nya bergerak kesana-kemari, Joe mulai memperhatikan lebih dalam struktur pejabat di pemerintahan. Sebagain besar yang berhubungan dengan perusahaannya.
“Lakukan saja. Yang teliti.” Reksa mengingatkan.
Joe yang mendengar itu paham dengan jelas. “Saya mengerti, Pak.”
Reksa pikir, tentu saja; anak muda yang berambisi lebih mudah untuk di rangkul dibandingkan rubah tua yang haus kekuasaan.
Reksa awalnya ragu, namun sikap Satria sebelumnya membuat Reksa berhenti berpikir lama. Dia pikir, Ridwan adalah salah satu calon yang cukup menjanjikan. Dia hanya tidak memiliki media di sisinya. Kenapa?
Tentu saja karena dia tidak punya cukup uang.
Reksa memutuskan untuk mensponsorinya.
__ADS_1
****
Penulis mau ngomong: Aku ngetik sambil ngantuk. Sorry. Btw aku beres jam 22.14 (TwT)