ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
39. Pendeteksi Alami


__ADS_3

Sejak Reksa memberi masalah pada keluarga Wicaksono, Cecil tidak pernah terlihat lagi di gedung. Usut punya usut, katanya Cecil tunangan dengan salah seorang tuan muda. Lelaki itu sudah mengejar Cecil sejak lama, dengan posisi Cecil, gadis itu bisa menolak siapa saja selama dia tidak membuat orang tersinggung.


Namun keadaan terakhir membuat keluarga Wicaksono menerima ikatan pada akhirnya. Mungkin perempuan itu sedang sibuk mengamuk, entahlah.


Meski Restoran Pesisir Pantai bukan satu-satunya yang di miliki Wicaksono, saat kedua pihak mendiskusikan kerjasama, Reksa menjadi pihak yang lebih unggul.


Pihak Wicaksono sendiri, tidak akan mengira bahwa Reksa adalah dalang di balik ini semua. Mereka tidak punya dendam, tidak punya masalah sebelumnya. Bahkan putri tunggal Wicaksono sempat rekat dengan Reksa. Tentu saja penyelidikan tetap di lakukan, meski ekor dalangnya terpotong pada akhirnya.


Yang makin terpukul adalah karena kubu yang diusung partai Wicaksono, kalah dalam pemilu. Bisa dibayangkan seberapa asam wajahnya.


Reksa masih menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Namun rencana liburannya perlu di tunda karena dia semakin sibuk.


Pulau yang akan dia kembangkan termasuk dalam komunitas ekologi alami. Belum di tetapkan, tapi akan. Dengan kata lain, dia tidak bisa membangun sembarang bangunan yang berpotensi merusak ekosistem lingkungan sekitar. Karena terumbu karang termasuk mahluk laut yang di lindungi, mustahil menjadikannya properti pribadi. Terutama pulau yang Reksa pilih, rencananya akan dijadikan pusat budidaya hewan karang. Reksa bekerjasama dengan kelompok penelitian dari Universitas IT untuk kelanjutan projek ini.


Medeal Grup dan Korporasi Flexi jadi salah satu penyokong dan menjadi bagian dari investor untuk projek ini bersama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Flora Fauna Negara. Reksa tidak mengira dia malah akan terlibat projek nasional seperti ini. Uang yang sudah dia keluarkan di kembalikan oleh Negara, dia hanya bisa mencari tempat lain. Sementara alasan kenapa perusahaan-perusahaan besar ini tertarik untuk mengeluarkan uang yang kemungkinan tidak menghasilkan keuntungan… Reksa pikir akan terjadi sesuatu yang besar di kedepannya.


***


Sera masih sekolah seperti biasa, namun dia kini mengikuti tutor Bahasa Inggris di rumah secara pribadi setiap sore. Untuk pelajaran lain, Sera merasa dia sudah cukup.


Begitu keluar kelas di waktu istirahat, Sera langsung menghampiri kerumunan Akmal, Lea, Kiki dan Daud di lorong. Selain Daud, tiga yang lain duduk di kelas B.


Saat Sera mendekat, dia mendengar pembicaraan mereka, masih dengan bahasa Inggris.


“Sebentar lagi ada kelas bareng Miss Lia.” Miss Lia adalah salah satu pengajar Matematika.


“Kamu ikut juga?”


“Ikut, Mama aku ngarepin aku dapet piala.”


“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya Sera.


“Kita lagi ngomongin Olimpiade Matematika.” Daud melipat tangannya, matanya menatap Sera dengan hina, sementara ujung bibirnya melengkung sedikit. Sera mengabaikan anak itu dan beralih ke Lea.


“You too join?” meskipun kadang kalimatnya bertukar, Sera sudah bisa menyusun kalimat sendiri.


“‘Not ‘too join’, tapi ‘join too’.” ralat Lea kemudian mengangguk. “Dikelas ada dua orang yang di pilih. Kiki ikut Olimpiade Sains.”


“Kamu ngga ikut apa-apa.” dengus Daud pada Sera. Sejak awal masuk anak perempuan ini nyasar sendirian. Tidak mengerti orang bicara apa, selalu ketinggalan informasi. Di kelas pun performa-nya biasa saja.


“Kamu ikut apa?” akhirnya Sera memberi Daud sedikit perhatian. Anak ini kalau diabaikan suka menjadi-jadi.


“Daud ikut bareng aku dan Akmal.” Lea yang menjawab karena Daud malah pura-pura acuh.


“Kalian bertiga ikut olimpiade matematika semua?”


“Iya.” Lea tidak menunjukkannya, tapi dari wajahnya, dia seperti kasihan pada Sera?


Sera: aku gak ngerti kenapa dia harus kasihan ke aku.


Akmal melirik Sera. Sebelah alisnya di tarik ke atas, lalu lanjut mengobrol dengan yang lain.


"..." Sera janji dia tidak akan ikut olimpiade. Apalagi harus satu tempat dengan kumpulan anak-anak ini. Hanya gara-gara dia telat dengan bahasanya, dia tertinggal topik dengan teman-teman sekelasnya. Akmal? Hmp, lupakan. Anak itu memang suka autis sendirian. Lihat, yang lain jadi ikut-ikutan?


Sera memutuskan untuk mencari Khalia. Dari semua anak di kelas, hanya dia saja yang malaikat.


“Aku mau cari Khalia.” kata Sera pada Shain, yang berdiri tak jauh. Saat itu Shain sedang menelepon. Tanpa menunggu dia selesai, Sera langsung melesat pergi ke Rumah Kaca. Tempat biasa Khalia mangkal di jam istirahat.


Sera menelusuri lorong terbuka yang di kanan-kirinya penuh rumput dan pohon. Anak-anak berkerumun dalam beberapa kelompok di sekitarnya. Melewati ruang ekskul kelas empat, dia berbelok ke kanan dan sampai di halaman belakang sekolah. Terdapat rumah kaca dan kandang kelinci di sana, bersama sebuah gudang berisi perkakas berkebun.


Sera melihat Khalia sedang memeluk kelinci sambil mengobrol dengan tukang kebun yang tengah menyiram.


Tukang kebun itu pria berusia tiga puluhan, dengan kelopak mata cekung dan bibir hitam. Topinya di tekan ke dalam, membuat Sera tidak bisa menangkap wajahnya dengan menyeluruh.


Biasanya saat kemari menyusul Khalia, dia tidak melihat siapa-siapa. Ini pertama kalinya Sera melihat ada tukang kebun.


"Khalia.” panggil Sera tanpa ekspresi. Dia memanggil Khalia, tapi matanya menatap tukang kebun yang menurut Sera berdiri terlalu dekat dengan Khalia. Dia memiliki rasa ketidaknyamanan tersendiri melihat pemandangan ini, meski Sera tidak bisa menunjuk tepat apa yang salah.


“Sera!” Khalia yang mendengar itu langsung menghentikan pembicaraannya dan menyapa Sera antusias.


“Bentar lagi kelas masuk, ayo.” Sera berkata tanpa basa-basi. Ingin pergi dari tempat itu. Sera tahu instingnya istimewa.


“Tunggu, aku kembalikan dulu kelincinya ke kandang.” Khalia tidak menolak dan langsung berbalik pergi ke kandang.

__ADS_1


Tukang kebun itu diam sejenak, menatap Khalia beberapa detik lalu beralih ke bunga di hadapannya, sebelum menoleh ke Sera.


“Hai, temennya Khalia ya?”


Sera melirik dari ujung matanya. “Iya.”


“Namanya Sera, ya? Satu kelas sama Khalia?”


“...Iya.”


“Om namanya Trisna. Mau permen?”


“...nggak.”


“Enak kok, ini.” kata Trisna dengan agak sedikit memaksa. “Permen mahal.”


Sera, dan anak-anak di sekolah ini, mana diantara mereka yang tidak bisa beli permen mahal?


Sera menepis tangan yang semakin dekat kearahnya. Permen di tangan Trisna jatuh ke tanah. Pria itu seperti tidak menyangka akan mendapat perlakuan demikian dari gadis kecil di depannya.


“Pak.” Sera memicingkan matanya. Wajahnya yang 8-10 mirip dengan Reksa itu tidak menunjukkan ekspresi seperti anak-anak pada umumnya.


Jangan dekat-dekat, baumu busuk.


Tapi dia tidak mengatakan isi hatinya.


"Aku gak mau." kata Sera singkat lalu mengabaikan tukang kebun itu.


Tak lama Khalia kembali dan berlari mendekati Sera. Di belakangnya seorang anak laki-laki mengekori.


"Sera, kenalin, ini Abima. Dia yang suka stok wortel di kandang. Dia dari kelas 1C."


Abima memiliki kulit putih kemerahan. Dari dekat, keringat di pelipisnya terlihat jelas. Biasanya suhu di kandang agak sedikit hangat daripada di tempat lain. Rambut hitam pendeknya jatuh dengan lembut. Seragamnya melekat rapi tanpa kusut sedikit pun. Pipinya penuh, dan dengan mata sayunya dia menatap penasaran pada Sera.


"Hai, aku Abima." anak laki-laki itu tersenyum lembut, membuat aroma kandang jadi seperti harum mawar. Bahkan Sera sepat merasa, sepertinya bau busuk dari orang itu hilang seketika. Namun Sera langsung tersadar.


"Sera." Sera tidak mengatakan apa-apa lagi.


“Sera! Kenapa buru-buru?”


“Denger, mulai besok kamu jangan pergi ke sana lagi.”


“Apa? Kenapa?” Dahi Khalia langsung berkerut sedikit marah dan dia menghentikan langkahnya.


Sera menarik napas panjang. Dia berbalik dan berkata pada Khalia. “Aku gak suka sama bapak itu!”


Mendengar bahwa alasannya bukan karena Sera ingin menghentikan hobinya, Khalia langsung hilang marahnya. “Kenapa? Bapak itu baik, kok.”


Sera tidak bisa menjelaskan soal hal yang dia rasakan. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Khalia melangkahkan kaki kesana. “Kamu milih aku atau bapak itu?”


Menerima pertanyaan itu, Khalia melongo.


“...Kenapa emangnya?”


“Kalau kamu mau kesana lagi, aku gak mau temenan sama kamu lagi.”


“Ehhhh!!”


“Pilih.” kata Sera tegas.


“Aku mau temenan sama kamu. Tapi aku pingin ngejenguk Bimbi.” Kata Khalia sulit. Bimbi adalah nama kelinci yang ada di kandang sekolah.


“Sebentar aja. Seminggu deh.” kata Sera akhirnya. Khalia tidak tahu hubungan antara waktu seminggu dan tukang kebun itu apa. Tapi karena ancaman Sera, dia tidak bertanya lebih.


Seminggu... oke, mungkin Khalia bisa melakukannya.


“Kalau aku pingin tahu kabar Bimbi, gimana?”


“Nanti aku minta Kak Shain buat jenguk.”


“Oke.. hehe.”


“Ayo balik.”

__ADS_1


“Ayo, ayo!~ Eh, tapi Abima ada disana."


"Dia laki-laki, kamu perempuan." kata Sera tidak peduli.


Khalia tidak mengerti maksud kata-kata Sera. "Abima besok sendirian disana. Waktu ngobrol sama dia, aku bilangnya aku mau dateng lagi. Nanti dia pasti nungguin aku."


"Kenapa main janji-janji?" tanya Sera kesal.


"Ya kan aku emang suka tiap hari kesana!"


"Yaudah besok aku yang susulin Abima dan kasih tahu dia."


Mendengar itu, Khalia langsung lega. Gadis itu terkekeh. "Eh, tahu ngga, katanya Daud dari kelas kita sama yang dari kelas B ikut olimpiade matematika di Negara V loh.”


“..yeah..” Sera sudah dengar, dia tidak tertarik untuk membahas itu. Tapi dia tak bisa menahan diri untuk ikut mengobrol setelah di kompori Khalia.


Pulang sekolah Sera masuk ke mobil, dia melihat bapak itu lagi. Kali ini tukang kebun itu tengah membersihkan rumput di sekitar bunga-bunga di luar pagar. Sesekali matanya menyapu keadaan anak-anak di dalam sekolah, sebelum melanjutkan pekerjaannya.


Mata gadis kecil itu menatap pria itu lama sampai mobil keluar meninggalkan kawasan sekolah. Omong-omong ini hari Jumat. Besok hari masuk untuk kelas ekstrakulikuler dan kelas olimpiade.


Jadi, Sera libur dua hari ini.


“Nona, ada yang salah?” tanya Shain yang tengah menyetir. Nona-nya tidak bicara sejak masuk mobil dan menatap keluar jendela begitu lama. Shain mengingat kembali kegiatan di sekolah... sepertinya lancar-lancar saja. Saat istirahat, sebelum Shain sampai di rumah kaca untuk menyusul, Nona-nya sudah kembali dengan lancar dan selamat. Tapi dia pikir, Shain tak boleh lengah. Dia berencana untuk memeriksa besok.


“Ngga.” jawab Sera singkat lalu menunduk. Dia menyalakan jam ponsel di tangannya dan mengirim pesan pada Reksa.


Sera: Pa


Reksa: Kenapa sayangku


Seperti dugaan, balasan datang secepat kilat.


Reksa: Udah selesai sekolahnya?


Sera: Udah


Reksa: Pulang sekolah cuci kaki cuci tangan cuci muka ganti baju tidur siang


Sera tidak mau membaca rentetan panjang pesan papa-nya yang isinya sama dengan kata-kata Bi Sri.


Sera: Pa aku mau ikut olimpiade


Reksa membalas dengan secepat kilat.


Reksa: Oke


Sera: Katanya olimpiade itu di pilih. Aku nggak


Reksa: Apanya yang di pilih. Nanti Papa bikin olimpiade sendiri kamu tinggal ikut aja


Sera mengerutkan kening. Seperti ini bisa, ya? Tapi kenapa dia tidak merasakan pencapaian sama sekali?


Sera: Olimpiade di sekolah, Pa.


Reksa: Olimpiade apa? Kamu mau guru privat? Tinggal bilang sama Papa.


Sera: Aku mau ikut olimpiade bela diri


Reksa: .....


Reksa tidak membalas untuk waktu yang lama. Sera berpikir mungkin Papa-nya sedang sibuk, dia tidak berpikir panjang.


Kenyataanya, Reksa sedang memutar keras otaknya; apa yang salah dengan putrinya sampai tiba-tiba tertarik dengan beladiri?


Belajar beladiri bagus, tentu saja. Tapi Reksa tidak berpikir untuk membiarkan putrinya mengambil beladiri sebagai arah karir! Olimpiade beladiri!


Bagaimana kalau putrinya tertarik untuk jadi atlet beladiri?!


Dimatanya para atlet beladiri memiliki badan kekar dan berotot. Dia tak bisa membayangkan putrinya seperti itu..


Reksa harus memikirkan hal ini dengan serius.


***

__ADS_1


__ADS_2