ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
45. Kebetulan adalah bagian dari takdir?


__ADS_3

Hari Minggu, sesuai janji, Reksa mengajak Sera main ke waterboom. Dengan sifat Reksa, dia memilihkan Sera baju renang hitam panjang dengan corak polkadot. Sementara baju renang pendek yang menampakkan paha itu, Reksa tidak meliriknya sama sekali meski dia sendiri memimpikan putrinya untuk memakai pakaian yang manis. Seberapa banyak orang mesum yang tertarik dengan anak-anak di luar sana?


Sementara Reksa mengenakan celana renang panjang serupa membuat Sera melompat senang. Bedanya Reksa bertelanjang dada. Hei, dia sengaja pamer.


Bersama-sama, pasangan ayah dan anak itu menelusuri wahana air.


“Sini, bilas dulu badannya.”


Keduanya berdiri di bawah shower di luar untuk membasahi badan sebelum bersiap masuk ke kolam.


Sera menunjuk perosotan sepanjang 200 meter begitu pertama ditawari mau apa. Dari bawah wahananya terlihat menakutkan, namun ketika menelusuri, sebenarnya tidak mengerikan sama sekali. Kalau antriannya pendek, Sera mau naik berkali-kali.


Keduanya mengantri selama sepuluh menit. Meski akhir pekan, Reksa dan Sera datang terlampau awal, jadi antrian tidak terlalu lama.


Reksa memilih ban pelampung double dengan satunya diameter yang lebih kecil, disesuaikan untuk Sera.


“Yakin gak mau dipangku?” Reksa menawarkan. Sera menggeleng mantap.


“Gak, Sera mau coba sendiri.”


“Yaudah.”


Orang-orang yang mengantri memperhatikan pasangan ayah dan anak itu dengan penuh rasa tertarik. Ayahnya tidak hanya berbadan bagus, tampan, bahkan bersedia mengenakan celana semotif dengaan baju renang putrinya.


Mereka menebak-nebak dimana sang ibu. Pastilah keluarga itu terlihat manis dan serasi bersama-sama.


Sementara yang jadi fokus sibuk menyamankan diri di atas ban.


“Sera pegang kaki Papa.” karena pegangan di ban terlalu sulit untuk di cengkeram dengan tangan pendek Sera, gadis kecil itu jadinya memeluk betis Reksa di kanan kiri.


“Udah siap?” tanya pengawas yang siap mendorong.


“Siap!”


Dengan dorongan kuat Sera merasakan sensasi angin dan air di badannya. Cahaya langit timbul tenggelam dan dia seperti berada di lorong waktu.


“Pegangan yang kuat!” kata Reksa sedikit khawatir.


Sera yang menikmati hanya tertawa sambil teriak 'Papa~' panjang, namun tangannya memegang betis Reksa semakin erat.


Ban melesat, berputar, naik dan turun, sebelum akhirnya melompat ke air di hujung.


Sera yang terlepas dari ban mengambang di air berkat pelampung lengan yang di pakai. Meski tidak dalam, untuk Sera tingginya masih melebihi dagu. Reksa segera membawa Sera mendekat, dia kira putrinya akan ketakutan saat terlempar tadi. Namun gadis kecil itu tertawa renyah.


“Pa, ayo cobain itu!!” dia menunjuk ember tumpah di tengah-tengah kolam.


Reksa menghela lega. “Oke”


Setelah merasakan sensasi di siram air bervolume besar, Reksa menunjuk kastil air yang di penuhi oleh anak-anak.


“Kesana mau gak?”


Sera hanya melirik sekali sebelum berpaling.

__ADS_1


“Pa, kita kesana aja!”


Gadis kecil itu tidak tertarik dengan water playground sama sekali. Kalau dia kesana, Papa-nya akan malu untuk ikut bermain.


Besok Papa-nya akan bekerja lagi, bagi Sera setiap detik yang dihabiskan bersama Papa-nya amatlah berharga.


Reksa dan Sera mengantri untuk menelusuri sungai petualangan.


Masih mengenakan ban pelampung yang sama, keduanya duduk dan membiarkan arus air buatan yang mengalir menggerakkan ban mereka. Dengan jarak lima meter, mengikuti ban-ban yang lain di belakang mereka.


Tak lama, mereka memasuki gua yang di dalamnya terpasang batu buatan yang bersinar. Panjangnya 100 meter, dan Sera beruntung karena saat dia mengangkat wajah, dia melihat putri duyung duduk di atas batu, melambaikan tangan kearahnya. Kebetulan staf yang jadi putri duyung baru selesai jam istirahatnya.


“Pa, ada putri duyung!”


"Eh, iya." kata Reksa garing, melihat bikini yang di pakai, dia langsung berpaling. Dengan warna bikini pudar dan badan kurang menggoda, Reksa tidak akan tertarik memandang dua kali.


Sera menunjuk ke arah batu sementara anak-anak lain yang berada di belakang ikut berseru.


Melewati batu putri duyung, gua mulai dihiasi dengan tali-tali yang menggantung. Di gua yang temaram itu, monyet yang bergelantung terlihat seperti nyata, namun dari gerakannya yang sedikit kaku, terlihat bahwa itu monyet buatan.


Tujuh menit kemudian sungai petualangan berakhir. Reksa turun dan membawa Sera yang masih berbaring di ban ke tepian.


“Pa, ayo cobain itu!”


“Nanti, makan dulu.” tak terasa keduanya sudah bermain dua jam. Meski sebelumnya mereka sudah sarapan, kegiatan kali ini cukup aktif.


Kembali ke area istirahat, Bi Sri yang duduk sudah siap dengan camilan terhidang di atas meja.


Beberapa menit setelah Reksa dan Sera duduk, Shain muncul dengan baju renang panjang hitam polos dan keadaan basah.


Bi Sri menyiapkan mango sticky rice kali itu, dengan porsi nasi ketan yang sedikit. Karena waktu makan siang tak lama lagi, Reksa membiarkan Sera mengganjal perut dengan buah.


Biasanya Sera makan dengan teratur dan tertib, tapi karena senang dan adrenalin selama bermain belum hilang, gadis kecil itu meninggalkan bekas krim di mulutnya. Reksa memperhatikan putrinya makan, sambil sesekali melap dengan tisu.


“Makan pelan-pelan, kalau udah penuh jangan dipaksain, ya? Kan nanti siang makan,”


Sera mengangguk dua kali sebelum protes. “Kenapa ngga puding aja?”


Reksa tertawa pelan sambil menjawab. “Pudingnya nanti dimakan malem aja,”


“Dua?” memanfaatkan keadaan, Sera coba menawar.


“Mungkin besok aja makan pudingnya.” ancam Reksa. Mendengar itu Sera langsung membulatkan mata dan segera menyangkal.


“Papa janji puding nanti malam.”


“Satu sendok aja, ya?”


Satu sendok puding? Ini tidak manusiawi namanya!


Tapi Sera takut jatahnya dihilangkan, gadis kecil itu akhirnya mengangguk enggan.


Begitu selesai, Sera langsung menarik Reksa ke air mancur.

__ADS_1


Pukul dua siang, keduanya berhenti bermain dan pulang.


Berhubung jam itu adalah waktunya Sera untuk tidur, gadis kecil itu terbaring di kursi belakang dengan sembarangan. Kakinya di topang di atas paha Papa-nya dan gadis itu tidur dengan lelap.


Reksa meminta mobil dihentikan di depan toko kue dan dia turun untuk membeli puding.


Tentu saja dia tidak akan memberi Sera satu sendok puding, huh, dia hanya bercanda. Reksa membeli dua kotak puding dan satu mousse matcha sebelum keluar toko.


Tiba-tiba,


Brukk!


Kalau Reksa tidak berbadan tegap, dia sudah terhuyung. Untung saja dia menjaga barang beliannya dengan hati-hati.


Reksa membuka tas kertas dan memeriksa puding di dalamnya masih aman.


Dengan kesal Reksa melirik ke orang yang menubruknya. Dia hendak protes, namun tertegun saat melihat siapa.


“...Deanita?” tanpa sadar Reksa menyebut nama perempuan di depannya dengan jelas. Dia kemudian tersadar bahwa mereka tak saling kenal.


Reksa langsung tutup mulut, meski sebenarnya tidak ada gunanya.


Yang disebut namanya mengangkat wajah dengan heran dan terkejut. Namun lebih dari itu, mata wanita itu memerah dan raut wajahnya terlihat kesulitan.


“Ma-maafkan saya, saya tidak sengaja.”


“Huh.” sungguh kebetulan yang tak di sangka. Reksa tak mau berurusan langsung dengan perempuan di depannya berhubung masih ada hal yang perlu dia pertimbangkan. Reksa mengambil langkah hendak pergi, namun suara pria terdengar tak jauh berseru kearahnya.


Lebih tepatnya pada si wanita.


“Sini kamu!”


“Lepas!”


“Aku belum selesai bicara!”


“Aku jijik sama kamu! Sebaiknya kamu lepaskan aku!”


"Kamu pikir aku mau pegang-pegang kamu! Najis!"


Plak!


"Beraninya kamu tampar aku! De-a-ni-ta!!"


Reksa: …em.. bisa gak pilih-pilih tempat?


Orang-orang yang berlalu lalang menatap penasaran. Beberapa berhenti dan membuka ponsel, bersiap memanggil polisi sebelum keadaan tambah buruk. Sebagian yang berdiri agak jauh memasang ponsel untuk merekam kejadian untuk senang-senang.


"Jangan ambil video!" Pria yang tengah menahan Deanita langsung melotot ke orang yang sedang merekam.


Reksa yang berdiri paling dekat dengan keduanya, jadi tontonan dan disangka jadi salah satu pemain juga.


Saat itu dari sudut matanya, dia melihat toko sebelah toko kue, terbuka pintunya. Seorang balita perempuan berlari dengan kaki pendeknya ke arah konflik.

__ADS_1


Satu bayangan terlintas di pikiran Reksa. Sepertinya itu putrinya Deanita?


Oh-oh, keadaan tidak terlalu bagus sepertinya.


__ADS_2