
Reksa tidak pernah berpikir keluarganya akan memerlukan dirinya. Memikirkan betapa darah arogan itu melekat dalam diri mereka, Reksa benar soal pikiran itu.
Selama hampir sepuluh tahun ini, termasuk enam tahun setelah dia membawa Sera, mereka menjalani hidup masing-masing.
Jadi, jangan bilang dia orang yang aneh dan tidak berperasaan ketika meragukan keluarganya sendiri.
Sudah pasti mereka juga tahu asal usul Sera, hanya saja waktu itu perusahaan Reksa masih merangkak di bawah rantai makanan. Terlalu sepele untuk mereka ambil peduli.
Dan kini, sudah terlambat untuk mereka protes dan seterusnya, berhubung Sera sudah masuk di bawah Kartu Keluarganya.
Reksa bisa tenang, dalam pertemuan kali ini, orang-orang itu tidak akan bertindak gegabah. Malah ada bahan mereka akan mengelu-elukan putrinya.
Tetap saja, bertemu dengan orang yang tidak disukai bukan hal yang menyenangkan.
Laporan dari Royal akhirnya di terima.
Saat ini terjadi perubahan arus untuk pemegang kunci perekonomian di Kota BR, tempat keluarga Reksa tinggal. Stok perusahaan keluarga Triyanto mengalami penurunan drastis setelah ‘teman main’ di jajaran menteri mereka ketahuan dan dicabut kewenangannya.
Ditambah berdirinya pengusaha baru dari Tekvi Inc, banyak faktor yang mulai dilahap dalam dua tahun terakhir ini.
Reksa pikir keluarganya memang pantas disebut sebagai pemegang kekuasaan yang handal, masih belum bankrut sampai sekarang.
Hanya saja masalah yang paling vital terjadi di dalam perusahaan.
“...” Reksa melihat perusahaan ini tidak sepenuhnya mati. Mungkin mereka ingin dia membuka kapital di kota tempat dia berada, atau membantu dengan; koneksi, misalnya.
Reksa melirik jam tangan.
Tek.
Jam sembilan tepat, Sera masuk ke dalam vila dengan pakaian training. Wajahnya sehat kemerahan dengan peluh keringat.
“Sudah selesai training-nya?”
“Sudaah!”
“Hari ini kita akan main.”
“Main??”
“Yup.”
“Wow, wow, wow!” Seminggu terakhir ini Sera senang bukan main. Papanya selalu ada tiap dia sarapan, dan di siang hari Sera selalu di ajak main ke beragam tempat.
“Main kemana, Pa?”
“....” Reksa merangkai kalimat namun tidak menemukan kata yang tepat. “Nanti juga tahu.” kata Reksa singkat.
“Oke! Sera mandi dan ganti baju dulu!”
Sementara Sera siap-siap, Bi Sri menyiapkan camilan berupa buah dan biskuit. Karena jam makan siang tak lama lagi, Sera hanya bisa makan sedikit untuk mengganti tenaga yang habis di pakai olahraga.
Reksa mengemasi laptop dan dokumen sebelum menyimpannya kembali ke ruang kerjanya. Sepuluh menit kemudian, Sera masih belum muncul.
Reksa mengetuk kamar putrinya sebelum membuka pintu.
Putrinya sedang duduk di depan meja rias mengepang sebelah rambutnya.
Belakangan ini sejak rambut Sera bertambah panjang, dia tidak suka orang lain menyentuh rambutnya. Reksa tentu saja pengecualian.
Bahkan Bi Sri tidak bisa menyentuhnya.
Kalau Reksa tidak ada, gadis kecil itu akan menata rambutnya sendiri.
“Papa!”
“Hm. Sini biar papa kepang.” Reksa memikirkan sebab apa yang membuat Sera jadi seperti ini.
Dia ingat setelah dia mengambil foto Sera waktu pertama kali membeli kamera kodak, sejak saat itu Sera tidak suka rambutnya dipegang. Seperti takut rambutnya akan rusak kalau disentuh sedikit.
Apa kata Sera waktu itu? Mau dia kirim fotonya pada temannya?
__ADS_1
Benar.
Beberapa hari setelah itu, terjadi perubahan pada putrinya.
Bukankah putrinya selalu bertukar pesan dengan bocah Abima itu?
“....” Reksa menebak alasannya, namun dia ingin alasan itu hanya omong kosong saja.
Lupakan.
“Gimana kepangan Papa?”
“Satu lagi, Pa.”
“Karetnya mau warna apa?”
Di atas meja, berjajar karet dan jepit beragam warna dan bentuk. Sera biasanya menggolongkan tiap jepit ini dalam hari. Untuk hari Senin ikat rambut matahari, hari selasa jepit kupu-kupu, hari rabu bando bintang, dan seterusnya. Berhubung anak sekolah di larang menggunakan perhiasan yang mengundang bahaya, Sera hanya memakai aksesoris yang rata-rata terbuat dari logam biasa.
“Papa kan kasih kotak lagi kemarin, coba pakai yang itu?”
“Tapi itu masih baru…”
“Papa beli itu kan untuk dipakai. Bukan di simpan.”
“...Oke.”
Sera membuka koleksi perhiasan barunya. Sebenarnya sudah lama Reksa membelinya. Namun karena Sera belum cukup umur dan jarang ada Reksa untuk menemani, kotak perhiasan itu baru bisa diberikan sekarang.
Isinya jepit, ikat rambut, gelang, kalung dan sejenisnya. Motifnya manis dan kecil, dengan bahan rata-rata dari emas putih. Beberapa gelang dipadukan dengan batu-batu berharga.
“Sera mau pakai yang mana?”
“Ini!”
Sera menunjuk sepasang karet khusus berwarna jambu merah. Di hujungnya terdapat stroberi yang di buat dari batu rubi.
“Oke.”
“Sudah siap?”
“Siap!!”
****
“Saya dan Sera makan siang di luar. Bi Sri masak aja seperlunya, ya.” kata Reksa dan masuk ke mobil.
Hari ini Shain ambil cuti karena merasa pusing yang tak berhenti selama tiga hari terakhir; jadi Reksa menyetir langsung ke tempat tujuan.
Sera sudah kelas dua, dan dia menolak untuk memakai kursi anak. Dia duduk di depan mendampingi Papanya. Khusus untuk outing kali ini, Sera memakai baju overall dan kaos pendek putih bergambar serupa dengan ikat rambutnya: stroberi.
“Sera hari ini jadi gadis stroberi, iya kan?”
“Hehehe.”
Entah sejak kapan putrinya yang kurang pedulian ini jadi suka dandan. Lagi-lagi Reksa hanya bisa mengarah ke satu orang.
Mungkin bocah Abima itu mengatakan sesuatu dalam surat mereka?
Serius, mereka masih kelas dua SD.
Reksa pikir dia harus memeriksa surat putrinya itu.
Jalanan ketika itu ramai lancar. Reksa hanya terhenti di lampu merah, selebihnya perjalanannya tanpa hambatan dan terhitung cepat.
Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah kantor di pinggir jalan yang tidak begitu mencolok. Bagian seberangnya di alokasikan khusus untuk parkiran jadi dia tidak perlu bingung mencari spot.
Tampilannya kaku dan di bannernya tertulis ‘Kantor Detektif Amar.’
Sera tidak kecewa sama sekali dengan tempat tujuan mereka. Baginya selama main dengan Papa, kemana pun tidak masalah.
Reksa membantu putrinya membuka sabuk pengaman sebelum turun dan berjalan menuju kantor.
__ADS_1
“Sera tahu gak, ini tempat apa?”
Cling. Reksa membuka pintu dan masuk ke dalam.
“Huh?” Sera memiringkan kepalanya dan menatap bangunan kecil di depannya. Dari luar besarnya tidak jauh seperti ruko biasa. Namun masuk ke dalam, ruangan di dalamnya cukup luas untuk menampung satu tim yang terdiri dari 12 orang, termasuk resepsionis, kamar kecil dan ruang istirahat.
“Tempat kerja Papa?" Sera menebak setengah tak yakin.
Reksa tidak meralat dan hanya berkata. “Ini tempat buat mencari anak yang tersesat.”
“Haah? Masa sih?” Sera baru dengar. Tapi mungkin saja, karena dia kurang pengetahuan?
“Papa gak bohong.”
“Em. Papa gak pernah bohong.” Sera balas mengangguk serius.
“....” mendadak kesadaran hati Reksa seperti tercubit. Tapi memang dia tidak pernah bohong, setidaknya pada putrinya. Ahem.
“Kalau ada orang yang anaknya hilang, mereka datang kesini minta tolongnya.”
“Bukan sama polisi?”
“Polisi juga bisa. Tapi polisi banyak kerjaannya. Kalau kantor Papa yang satu ini, khusus buat cari anak-anak yang tersesat.”
“Wow!”
“Oh! Pak Reksa!? Selamat pagi, pak!” Melihat Reksa berdiri di ruang penerimaan bersama seorang gadis kecil, membuat Agung mendadak gugup.
Sejak pertama kali kantor ini didirikan, Reksa hanya datang sekali ketika pembukaan.
Agung merupakan satu-satu-nya anggota yang pernah bergelut di kepolisian. Dia duduk di bagian peyelidikan. Sebelah mananya, hal itu tidak penting.
Yang jelas, sekarang dia jadi pemimpin Kantor Detektif ini bersama benih-benih muda yang baru lulus dari akademi kepolisian namun tidak berniat masuk ke kepolisian.
Reksa memiliki bantuan dari orang dalam, bisa di bilang operasi kantor ini ketika awal mulai berdiri terbilang lancar meski ada hambatan sedikit disini dan disana.
“Sera, ini Paman Agung.”
“Halo.” Sera mengangguk pada pria yang berdiri tegak seperti patung di depannya.
"Om Agung yang jadi Ketua di kantor ini. Dia yang memimpin kemana harus cari anak-anak itu, kemana rumahnya, siapa yang ketemu dengan mereka, dan seterusnya."
Mata Sera yang mulanya sudah menghakimi karena sikap berdiri Agung yang tegak lurus terlihat aneh; berubah berbinar penuh rasa kagum.
“Pak Agung, ini putri saya, Sera.”
“Oh, Ha-halo, Nona kecil–maksud saya, Nona Sera.” ini gara-gara Joe yang kalau menelepon dia, selalu menyebut nona kecil ini, nona kecil itu. Dia jadi ikut terbawa!
Untungnya Reksa tidak keberatan.
Tentu saja Agung tahu siapa Reksa. Dan dia sudah mendengar malaikat Sera yang jadi penawar untuk menjinakkan raksha satu ini.
Tanpa berpikir panjang, Agung menyambut Sera dengan sangat antusias.
“Nona kesini mau main? Mau Paman anterin lihat-lihat kantor ngga?”
Sera tersenyum sederhana.
Agung kira gadis kecil itu bersedia.
Nyatanya dia ditolak!
Meski dia tidak mendeteksi niat buruk, Sera mau jalan-jalan dengan Papa-nya. Hari ini kan khusus acara mereka berdua. Jadi dia hanya bisa menolak tawaran paman baik di depannya.
“Kamu gak perlu khawatir. Saya kesini mau kasih lihat Sera seperti apa kantor ini. Lanjutkan saja pekerjaannya.”
"Baik, Pak. Kalau begitu saya undur diri dulu." karena kebiasaan, Agung hormat dulu sebelum berbalik pergi.
Reksa: ....
Sera: ....
__ADS_1
Papa keren banget!!