ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
54. Aku juga lagi cari istri...


__ADS_3

Memasuki aula, tirai-tirai putih menyambut. Di langit-langit menggantung lampu kristal yang dililit pita-pita putih.


Suara musik mengalir diselingi tawa dan canda para pengunjung. Kendati tidak semua tamu benar-benar senang, di resepsi ini semua orang menyambung senyum. Tamu berdatangan satu demi satu dengan gaun indah dan jas gagah; namun kedua mempelai tetap terlihat sebagai yang paling cemerlang. Sera yang tampil khusus hari itu tak lagi terlihat istimewa. Justru pembawaan gadis kecil itu yang terlihat berbeda.


Natalie menghampiri Reksa begitu sosoknya terlihat di aula.


Bersama pasangannya, Natalie menyambut kedatangan ayah dan anak yang sempat jadi perbincangan khusus di Keluarga Besar..


“Hai sepupu, lama tak bertemu.” dibalut gaun putih dengan brokat di dadanya, lengan putih susunya tertutupi lapisan halus. Rambutnya digelung rapi dengan riasan elegan,  membuatnya terlihat cantik dan anggun.


Di samping Natalie berdiri Furqan dengan jas putih senada dengan gaun Natalie. Pria itu tidak memiliki ciri khas tertentu selain kepribadiannya yang terlihat lembut dan rapi, membuatnya terlihat seperti gentleman.


Reksa mengangguk ke arah Natalie sebelum berjabat tangan dengan Furqan dan bertukar beberapa kata.


“Hallooo,”  Natalie setengah menunduk menatap Sera. “Hai siapa malaikat kecil ini?” Natalie melirik Reksa dan langsung mengerti.


“Manis banget kamu, ngga kaya Papamu.” kata Natalie ramah.


Kata-katanya seperti memuji namun dibalik itu, hanya dia yang tahu.


Mengatakan bahwa Sera tidak mirip Papanya.


“Papa juga manis.” kata Sera terus terang.


Reksa sendiri sudah lama tidak berinteraksi dengan ‘sepupu’nya ini. Dia mengerti dengan jelas arti di balik kalimat Natalie. Dan saat dia mendengar putrinya membalas, Reksa menarik senyum tipis.


“...” Terdapat helat sejenak sebelum Natalie tertawa dan beralih ke Reksa.


“Om sama Tante udah dateng dari kemarin. Ada di ruang tunggu.” Om dan Tante yang di sebut Natalie tak lain adalah orangtua-nya Reksa.


“Hm.”


Di belakang Reksa, Joe langsung bergerak untuk menyerahkan hadiah pernikahan. Satu set lampu khusus kerajinan kaligrafi yang terbuat dari perunggu. Kaligrafi itu melingkar membentuk spiral mengelilingi lampu. Dari harga tidaklah mahal, namun yang utama adalah arti dari hadiah itu sendiri.


Kaligrafi itu bertuliskan ‘Barakallah’ bermakna berkah dari Allah, yang dirancang oleh pengrajin asal Negara J.


Reksa berdoa untuk kebaikan atas kedua mempelai.


Natalie menerima dengan senang hati hadiah itu sebelum pamit dan menyambut tamu yang lain. Benda seperti ini lebih bermakna saat di pamerkan.


Tujuan Reksa sudah setengah tercapai setelah bertemu kedua mempelai.


Bertepatan dengan itu, seorang pelayan datang menghampiri Reksa, memberitahu bahwa kedua orangtuanya sudah menunggu. Namun Reksa tidak terburu-buru.


“Mau makan?"


Sera yang tadinya gugup kini mulai rileks setelah bertemu Natalie. Hey, ini tidak seseram yang dia pikirkan?


Sera memegang perutnya dan mengangguk pelan pada Papanya.


Reksa membawa Sera ke meja makan yang terletak agak ke pojok. Sementara Joe memutus orang-orang yang berniat mengobrol dengan Reksa, dia sendiri bergerak ke area hidangan. Sera kecil duduk di meja dengan tatapan fokus ke Papanya yang bergerak mengambil ini dan itu.


“Hey.”


Sera melirik ke arah suara, menemukan dua gadis kecil seusianya berdiri tak jauh. Kedua gadis kecil itu mengenakan gaun putih dengan pita. Kristal menggantung di rok keduanya, berkelip setiap mereka bergerak. Kedua gadis kecil itu memiliki wajah serupa, namun warna matanya berbeda. Yang satu bermata biru, yang satunya bermata hitam. Keduanya memiliki warna rambut pirang, membuat Sera teringat dengan Daud.


“Hai?” Sera balas menyapa.


Kedua gadis kecil itu memperhatikan Sera dari atas kebawah, namun tak menemukan hal yang mengecewakan; mereka segera hilang ketertarikan.

__ADS_1


“Nama kamu siapa?”


“....?” Sera melirik Papanya yang masih belum kembali. Dia melihat wajah kesal Papanya yang di sela mengobrol oleh salah satu tamu saat hendak kemari.


“Ngga sopan nanya nama orang. Harusnya kalian kenalkan diri dulu.” kata Sera akhirnya meladeni.


“Huh.” Lawan bicaranya mendengus. “Nama aku Leiya. Ini Lily.” gadis bermata hitam memperkenalkan diri sebelum menunjuk saudaranya. Lalu dia balik bertanya. “Kamu?”


“Aku Sera.”


“Sera, oh. Kamu dari keluarga mana? Aku baru liat.” tanya Leiya.


“..Keluarga…”


Papanya bermarga Triyanto. Dia keluarga Triyanto? Tapi dia tidak mau disamakan dengan keluarga yang Papa-nya tidak sukai.


Hm…. ini pelik.


“Penting emangnya?”


“Eh?” Leiya tidak menyangka akan menerima respon demikian. Gadis kecil itu menjawab dengan matter-of-fact.


“Iyalah, penting. Kamu kayaknya baru kesini, ya?” Leiya menarik sebelah alisnya. “Kita dari keluarga Triyanto, yang punya manor dan yang ngerayain nikahan ini.”


“Kamu tahu Triyanto? Kamu lihat orang itu?” tunjuk Leiya ke seorang pria kekar berbalut jas.


“Dia itu artis. Di tv dia gayanya selangit, tapi kalau ketemu kita dia langsung manut.” kata Leiya fasih. Wajahnya tidak canggung sama sekali membicarakan orang yang lebih tua darinya. Sementara Lily di sampingnya mengangguk pelan, namun tak mengeluarkan sepatah kata pun sejak awal. Membiarkan saudaranya terus bicara.


“Yang itu lihat? Itu anaknya gubernur provinsi sebelah. Dia sahabatnya kakak aku dan tunangannya sepupuku.”


Leiya tidak langsung mencibir Sera karena melihat brand perhiasan yang dipakai. Leiya pernah lihat tiara yang Sera kenakan di majalah. Dia menginginkannya namun ibunya menolak, berkata bahwa Tiara itu tidak sebagus kelihatannya. Leiya tahu karena harganya yang mahal, ibunya enggan membelikannya dan berkata demikian.


“Jadi?” kata Leiya mendesak.


“Papamu?”


“Papaku namanya Reksa.”


“Huh?” Leiya dan Lily saling berpandangan.


“Kamu anaknya Om Reksa?”


“...kalian tahu?”


“Kita gak pernah ketemu sama Om Reksa. tapi Ayahku suka cerita.” Leiya anak yang cerdas. Begitu di sebut, dia langsung tahu bahwa Sera adalah sepupu jauhnya. Sementara status Sera… mengikuti petunjuk ibu dan ayahnya, Leiya berusaha untuk mendekati Sera. "Ayahku itu adik Papamu." Adik tiri, lebih tepatnya.


“Kalau gitu kita sepupu dong?” Leiya menarik Lily mendekat. “Panggil sepupu.”


“Hai sepupu.” Lily menyapa dengan suara yang pelan, kali ini lebih ceria.


“Uhm.”


Tanpa meminta izin, Leiya dan Lily mengambil tempat duduk di sisi kanan dan kiri Sera.


“Kamu bisa tanya kita. Kita paling tahu soal keadaan di keluarga. Kamu gak pernah kesini, jadi kamu gak tahu.” kata Leiya. “Biar nanti kamu gak ngelakuin hal yang aneh.”


Sera berkedip beberapa kali sebelum mengabaikan Leiya dan melirik kembali ke Papanya. Orang yang mengerumuni Papanya bertambah. Sera langsung cemberut dalam hati.


“Aku gak akan ngelakuin hal yang aneh. Aku juga gak peduli sama keluarga disini.” kata Sera lurus.

__ADS_1


“Hehe.” Leiya tidak perduli dengan penolakan Sera. “Kamu udah ketemu Oma sama Opa belum?”


“....belum.”


“Kalo kamu panggil aku Leiya cantik, aku kasih tahu soal Oma dan Opa.”


Sera ingin menolak permainan kekanakkan ini, namun cukup penasaran dengan yang katanya ‘ibu dan ayah’ dari papa-nya ini.


“Oke, kalian cantik.” kata Sera asal.


Leiya tidak memikirkan detail kalimat Sera, dan langsung buka mulut.


“Oma dan Opa mau kenalin sepupu-sepupu dari keluarga jauh ke Om Reksa.”


“Sepupu?” Sera menoleh bingung. “Ngapain dikenalin?” kan mereka keluarga. Lalu, apakah ada yang aneh?


“Kamu gak sadar, ya? Om Reksa kan single. Kamu tahu single? Gak punya pasangan. Jadi Oma dan Opa mau manfaatin sepupu-sepupu jauh ini buat jadi istrinya Om Reksa. Biar apa? Biar Om Reksa bisa terus terikat sama keluarga ini.”


“....hoh.” Sera tidak berpikir rumit. Kebetulan misinya mencari istri untuk Papa-nya belum tercapai. Dia bisa sekalian menyaring.


“Kamu ngga marah? Gak kesel? Gak aneh?”


“Gak.”


“Hahhhh??… Kamu aneh banget sih. Kalo Oma mau cariin aku mama baru aku bakal marah banget. Mau kabur aja.” Kata Leiya. Lily yang mendengarkan mengangguk-angguk.


“Kenapa marah. Aku juga lagi nyari istri buat Papa-ku.”


Leiya: ????


Lily: …..


“Kamu kan anak Om Reksa….” Leiya tiba-tiba tak bisa berkata-kata.


“Kenapa emangnya? Aku pingin Papaku senang. Aku mau cari istri buat Papa. Tapi, buat jadi istri Papa, dia harus lulus tes dari aku.”


Leiya dan Lily pertama kali mendengar soal ini. Selama ini, drama yang terjadi di keluarga Triyanto selalu berakhir menyedihkan dan kacau. Keluarga lain juga sama. Kedua gadis kecil itu mendadak tertarik dengan kalimat Sera.


“Kenapa harus lulus tes dari kamu?”


“Soalnya Papa-ku bilang gak akan nikah. Cuma aku yang bisa bujuk buat papah nikah.”


“Oohhhh!” gadis kembar itu berseru kagum atas kekuatan Sera.


“Kalo gitu kita bantu kamu deh!” Leiya berseru semangat.


“Huh?”


“Kita paling tahu sama daftar sepupu yang ada di keluarga ini. Aku kenalin satu-satu sama kamu.” Leiya lalu turun dari kursi, diikuti Lily.


Tak berhenti disana, keduanya menarik Sera turun.


“!! Aku harus izin dulu sama Papa!”


“Hey, hey, hey. Gak perlu khawatir. Bayn bakal kasih info ke Papamu.” kata Leiya santai.


“Bayn pengasuh kita.” kata Lily menimpali.


“Lagian kalau bilang ke Papamu, nanti dia tahu, kan?”

__ADS_1


“...” Sera terdiam. Dia tidak ingin Papanya tahu soal niat Sera.


Ketiganya lalu menghilang dari balik kerumunan tamu yang hadir.


__ADS_2