
Reksa menerima undangan makan malam bersama ‘keluarga’. Karena Sera ada acara untuk tadabur alam besok di sekolah, dia pergi hanya dengan Arina.
Berhubung status Arina kini adalah tunangan, Reksa datang bersama Arina.
Keduanya sampai di mansion yang pemandangannya jauh berbeda dengan saat Reksa kemari di pernikahan Natalie.
Kebun-kebun di halaman terlihat tidak terawat, beberapa tumbuh liar, yang lainnya layu dan mati. Hanya ada seorang tukang kebun yang tidak cukup untuk menata seluruh isi kebun ini. Sebelumnya Reksa hanya menghadiri resepsi lalu ke ruang tunggu, setelah itu dia pulang. Barulah sekarang dia ada waktu untuk melihat sekeliling.
Reksa menghela napas, namun diam-diam senyum berkembang di hatinya. Beberapa bagian mansion ini pantas disebut rumah hantu. Dengar-dengar, Ningsih sudah berhenti mengundang teman-temannya ke mansion saking malunya?
Tempat ini besar, tentu saja perawatannya pun mahal.
“Bagaimana keluargamu?” tanya Reksa pada Arina, keduanya duduk berdampingan di meja makan. Suara Reksa yang pelan membuat Arina perlu mendekatkan dirinya. Sejenak Reksa mencium harum buah-buahan yang begitu halus. Dia melamun sesaat sebelum menangkap jawaban Arina.
“Keluargaku masih suportif, namun posisinya kini sudah berubah.” kata Arina. “Berhubung aku kini bertunangan denganmu, Ibuku minta supaya aku hanya mendengarkanmu.”
“Ibumu ingin kamu menelantarkan Ningsih?” pada bagian ini, karena Reksa tidak menyembunyikan nama yang di sebut, dia membisikkannya tepat ke telinga perempuan di sampingnya.
Arina terkejut namun segera wajahnya kembali seperti semula. Dia mengangguk.
Keduanya tersenyum, membuat yang melihat dari jauh merasa seakan keduanya sedang berbisik romantis.
“Pak Reksa sekarang kan kuat, mereka yang lemah hanya bisa tunduk,” balas Arina tenang, senyumnya tidak luntur.
Reksa menatap Arina beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya, tidak tersinggung sama sekali. Sejak awal keduanya menjalin hubungan ini untuk kepentingan masing-masing. Diam-diam Reksa berpikir, apakah Arina benar-benar tidak terpikir.. sesuatu yang lain dari dirinya? Hatinya tergerak, misalnya? Ahem. Sepertinya memang orang harus berhati-hati dengan mata.
Kalau tidak ada pemandangan indah, orang mana mau melihat. Kalau indah, siapa yang tidak mau melirik?
Setiap hari melihat Arina, Reksa merasa pasangan-pasangan lamanya inferior dibandingkan Arina. Sampai-sampai dia berpikir, kenapa dia mencari yang seperti itu?
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki dan tawa pelan. Milwan sampai lebih dulu bersama istrinya, Alyona.
“Kak,” Milwan mengangguk pada Reksa yang di balas senyum ringan. Alyona tersenyum pada Arina dan keduanya terlibat obrolan ringan. Kedua wanita itu tidak memiliki pertentangan dan langsung akrab.
Ketika Ningsih dan Raja sampai di meja, Milwan dan Alyona berdiri, sementara Reksa tidak repot-repot dengan tata krama sedemikian rupa. Arina mengikuti Reksa dan jadi tunangan yang baik. Ningsih yang melihat hal itu langsung meminta Milwan dan istrinya kembali duduk.
Dimana-mana kekuatan yang berbicara. Raja tidak akan membuat Reksa malu, karena bukan Reksa yang membutuhkan sesuatu.
__ADS_1
Acara makan malam itu berlangsung normal, dengan menu yang mewah seperti yang Reksa ingat ketika dia masih di tinggal disini. Bahkan dalam keadaan terjepit pun, Ningsih tidak ingin kehilangan muka.
Alyona merasa atmosfer di meja makan begitu damai, keadaan yang sangat jarang. Bahkan ibu mertuanya yang biasa selalu menyemburkan asam di setiap kesempatan, makan dengan tenang, bahkan menanyai kabarnya. Entah ada angin dari mana.
Sementara para perempuan berkumpul di ruang tengah selesai makan, Reksa diajak ke ruang kerja Raja sementara Milwan undur diri dengan alasan menjawab telepon penting.
Ruang kerja itu masih sama, dengan tata letak yang dia ingat waktu terakhir berdiri disini. Waktu itu dia berhadapan dengan Ayahnya yang meneriaki dan menyumpahinya untuk pergi dari rumah.
Bedanya, foto ibunya sudah tidak ada lagi di dinding.
Reksa mengalihkan pandangannya dan mengambil duduk di kursi yang tersedia. Meski Raja adalah tuan rumah, namun posisi keduanya seperti terbalik.
“Ayah sudah lakukan seperti yang kamu minta.” kata Raja pelan.
“Ayah,” Reksa mengucapkan kata itu tanpa canggung, namun tanpa perasaan berarti. “Saya bukan orang yang tidak menepati janji. Kenapa gelisah? Semua ada waktunya.” Reksa mengucapkan kata ganti ‘saya’ pada Raja, dengan arogannya.
“Triyanto tidak bisa bertahan kalau terus seperti ini.” kata Raja dalam. Dia mengabaikan sikap Reksa, meski dalam hati dia ingin marah, namun dia tak berada dalam posisi itu. Di satu sisi, dia merasa tidak berdaya juga.
“Perusahaan itu bukan milik saya, jadi semua harus mengikuti prosedur.” kata Reksa perlahan. “Kecuali kalau Ayah bisa mengikuti syarat yang diajukan, tentunya dengan yang sudah kita sepakati sebelumnya.”
Raja menarik napas dalam dan mengangguk berat. “Baiklah. Lakukan saja.”
Mendengar Raja memutuskan begitu jujur, Reksa agak terkejut dalam hatinya. “Meski saya ini anakmu, dan Ayah adalah Ayah saya, tidak ada yang namanya jalinan keluarga dalam kesepakatan kali ini.”
Mendengarnya Raja jadi kesal. “Bukankah Ayah sudah bilang? Lakukan, mana kontraknya, bawa.”
Reksa tidak berkata banyak dan menghubungi Wana yang menunggu di mobil.
Melihat sekretaris Reksa yang datang membawa kontrak, Raja mendengus. “Sudah membawa kontrak seperti ini, untuk apa pura-pura akting seperti tadi?”
Tiba-tiba suasana jadi aneh karena kata-kata Raja. Reksa sendiri jadi tak bisa berkata apa-apa. Bukankah ayahnya harusnya benci? Benci pada dirinya? Bagaimanapun, dia ini bukan anak yang diandalkan sejauh yang Reksa kenal. Dan yang dia lakukan bukan menyenggol atau mencubit, tapi mendobrak. Mungkin selama ini dia salah menilai karakter ayahnya?
"Kamu kira Ayah sudah jadi pikun, atau apa?” kata Raja membuyarkan lamunan Reksa. “Tapi siapakah Erik ini sampai kamu mengambil langkah sejauh ini?” Raja bertanya sambil menandatangani kontrak dengan cara yang paling amatir, tanpa membacanya dia langsung menggoreskan tinta.
Reksa: ….
“Bukankah harusnya dibaca dulu?” Reksa berbaik hati mengingatkan.
__ADS_1
“Tidak masalah.” Raja menyelesaikan tanda-tangan dalam sekali nafas lalu menyerahkannya pada Wana.
“Erik pamannya Sera.” kata Reksa menjawab pertanyaan Raja sebelumnya. “Hanya saja dia memiliki tendensi berlebih terhadap anak-anak.” Reksa mengungkapkan omong kosong seakan itu kenyataan. “Kebetulan Sera jadi sasaran dia. Meski tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang mau ambil risiko dan menunggu sampai sesuatu terjadi.”
“Gila.” Raja merespon.
“Makannya.”
Pantas saja Reksa langsung mengamuk begitu tahu hal ini, apalagi mengetahui Ningsih ada gerakan di belakang? Raja bahkan sudah tidak mau susah payah untuk menyelidiki apakah Erik sungguh sakit mental atau tidak.
Reksa menerima dokumen dari Wana dan bertanya menyelidik setelah memeriksa setiap kertas yang ditandatangani.. “Meskipun saya tidak peduli, bagaimana dengan Milwan?” kontrak yang ditandatangani, menyatakan bahwa Raja menjual sepenuhnya saham miliknya. Menyatakan bahwa dia benar-benar mundur dari perusahaan.
Raja melirik putra pertamanya dengan perasaan campur-aduk. “Milwan memiliki nilai saham sendiri. Meski nilainya kecil dibandingkan dengan sebelumnya, hal itu lebih baik untuk dia.” Mulanya saham Raja akan diserahkan pada Milwan, namun kini tak lagi. Kalau Ningsih tahu, dia pasti akan mengamuk.
Reksa tidak sabar menunggu wanita itu bereaksi.
Reksa kini jadi pemegang terbesar saham Triyanto sebesar 65%. Sebelumnya dia membeli dari pemilik lain dan berhasil mengumpulkan sebesar 15%. Raja benar-benar memonopoli Triyanto, tapi pria tua itu menjual semuanya tanpa menyisakan untuk dirinya sendiri.
Reksa merasa tak akrab dengan ayahnya yang seperti ini. Otomatis dia curiga.
“Tidak perlu memandang Ayah seperti itu.” Raja tidak akan menjelaskannya, tapi dia sendiri merasa Triyanto yang sekarang tidak akan bisa bangun lagi kecuali diubah dari akarnya. Reksa sebenarnya mengambil barang rongsokan, kalau diistilahkan.
Melihat Ayahnya tidak mau menjelaskan, Reksa tidak memperpanjang. “Seperti yang saya bilang barusan, perusahaan saya sudah besar dan saya tidak ada waktu untuk mengurusnya. Saya akan menunjuk manajer untuk mengaturnya.”
"Ayah sudah mundur, untuk apa kamu memberitahu hal seperti ini....,"
Reksa memberi sinyal, Wana mengeluarkan dokumen baru, bersamaan dengan itu, pintu ruang kerja dibuka dan Milwan masuk, menerima dokumen di tangan Reksa.
Raja yang menyaksikannya melongo.
“Kalian…?”
Raja melihat putranya Milwan membaca sekilas dokumen yang Reksa serahkan padanya, dan menandatanganinya. Dengan cekatan, Wana memindahkan dokumen pada Raja, membiarkan dia membacanya.
Di dokumen itu dinyatakan bahwa Milwan akan jadi direktur sementara, dengan kontrak untuk sekian lama, hingga Triyanto bisa kembali stabil. Reksa tidak punya waktu untuk memperbaiki gedung yang rusak, dia hanya bisa menunggu sampai gedungnya berdiri sendiri sebelum mengambilnya kembali dan merenovasinya.
Untuk sekali ini, dia bersedia memberi kesempatan. Reksa tahu apa yang Milwan inginkan, dan Milwan bisa memberikan yang dia perlukan. Mungkin, Reksa tidak sedingin yang dia pikirkan. Melihat pria tua di depan meja itu menatap Reksa dan Milwan dengan mata penuh haru, meski menjijikkan sebenarnya tidak buruk juga.
__ADS_1