
Reksa membawa putrinya, bersama Milwan dan keluarganya, melewati koridor menuju ruang tunggu, meninggalkan aula jamuan.
Sera melirik Papanya beberapa kali, seakan mengerti kegelisahan putrinya, Reksa mengusap puncak kepala Sera.
Sampai di ruang tunggu, Sera melihat orang keluar masuk. Dari pakaian dan dari obrolan mereka, Sera bisa menebak bahwa mereka adalah saudara-saudara papa-nya. Ketika bagian Reksa dan yang lain masuk, yang lain secara natural pergi keluar, kembali ke aula.
Beberapa orang mengangguk saat melihat Reksa namun tak ada pertukaran kata, bagaimanapun, mereka sudah berpisah terlalu lama.
Ayah dan Ibu Tirinya, Raja dan Ningsih duduk berdampingan di sofa, ketika melihat kedatangan Reksa, wajah Raja langsung jadi cerah. Meski ekspresinya tidak berubah banyak.
Karena sudah lama Reksa tidak bertemu orang tuanya, hanya ada kecanggungan diantara mereka. Sebelum hal itu berlanjut, Raja sudah beralih ke Sera dan menyapa dengan suara yang ramah, penuh kehati-hatian.
“Ini pasti Sera ya?”
Reksa yang mendengar hal itu kemudian mendorong pelan Sera untuk maju ke depan. “Panggil Opa.”
Dengan patuh Sera memanggil, “Opa.” suaranya lengket dan manis. Kenyataannya, Sera memang tidak begitu mirip dengan Reksa secara keseluruhan. Kalau di bilang Sera itu mirip ibunya, tidak benar juga.
Tapi Raja bisa melihat garis-garis familiar di wajah cucunya.
Sera mirip dengan neneknya. Kalau dia tumbuh besar, hal itu akan semakin jelas.
Raja sudah hampir lupa dengan wajah istri pertamanya, namun melihat Sera membuat ingatannya seperti di refresh.
“Hahaha, mana sini biar Opa lihat lebih dekat cucu Opa.”
Milwan dan yang lain terkejut melihat Raja tersenyum. Milwan melirik Sera penasaran. Selama ini yang dia ingat dari Raja, ayahnya selalu berkerut, berkerut dan berkerut. Kadang kalau senang barulah alisnya lurus, dia akan mendengus sebagai ganti senyum. Sikapnya yang lembut biasanya terpancar dari matanya, namun wajahnya hanya diam saja sedemikian rupa. Biasanya kalau Leiya dan Lily berlari di depan Raja, dia akan menunjukkan wajah tenang dan damai, sesekali akan memberikan hadiah dan mengusap puncak kepala cucunya.
Ningsih yang melihat reaksi itu mengeratkan kepalanya di atas lengan kursi. Namun wajahnya masih menunjukkan senyum yang lembut. Siapapun yang melihat wajah Ningsih akan berpikir bahwa dia adalah nenek yang baik hati.
Sera menatap Opa-nya dan berjalan beberapa langkah sebelum bergelayut di paha Raja, yang mana mengagetkan semua orang.
“Opa,” Sera menatap wajah Raja dalam-dalam. “Opa sangat mirip dengan Papa.”
Reksa yang kaget dalam hati langsung tertegun. Tapi, ah? Apa maksudnya? Nak, Opa itu bukan Papa.
Mendadak Reksa merasa waspada.
Bukan hanya Reksa, Ningsih pun merasa waspada.
Raja yang selama ini terpisah jauh dengan Reksa, kaget sekaligus senang mendengar pernyataan itu. Sera yang merasa asing langsung merasakan kedekatan begitu melihat garis wajah Opa-nya. Mungkin Papa-nya akan terlihat seperti ini di beberapa tahun yang akan datang.
“Anak baik.” senyum di wajah Raja semakin tulus. Matanya bersinar dan tangannya mengusap pelan rambut Sera. “Ini pertama kali Opa ketemu Sera, Sera mau hadiah apa? Bilang sama Opa, Opa akan kasih.”
Sera yang lupa bahwa di depannya adalah orang yang baru ia kenal hanya beberapa menit, berkata dengan nada datar. “Opa gak perlu kasih Sera hadiah. Uang Sera banyak.”
Dia hampir mengatakan ‘perusahaan Opa juga lagi gawat’, tapi insting memberitahu dia untuk berhenti.
“Opa bilang aja Opa mau hadiah apa dari Sera?” tanya gadis kecil itu serius.
Mendengar itu tawa Raja meledak. Reksa yang melihat interaksi keduanya akhirnya tenang. Dia mengambil kursi di seberang dan duduk memperhatikan.
“Sera kan udah siapin hadiah di rumah?” kata Reksa membahkan. Raja menarik alisnya dan bertanya. “Benarkah? Sera nyiapin hadiah buat Opa?”
“Sera bawa hadiah buat semuanya.” kata Sera mengangguk. Joe muncul entah dari mana membawa tiga kotak hadiah. Ukurannya kecil, membuat orang bertanya-tanya apa isinya. Jam? Gelang? Perhiasan?
Namun saat Raja membukanya, yang dia terima adalah setumpuk diari kecil. Ningsih yang melihat dari ujung matanya menahan tawa dan mendengus. Hadiah macam apa itu? Benar-benar kekanakkan.
“..Ini..?” Raja juga bingung, mungkinkah Sera ingin dia menulis diari? Di usianya yang segini bukankah itu terlalu...hm.
“Ini Diari Sera.”
“Oh?” mendengarnya, Raja langsung tertarik. “Boleh Opa baca?”
“Boleh.”
Raja membuka halaman pertama. Tak ada yang istimewa, hanya goresan sederhana dengan garis-garis tidak stabil.
Sebelum membaca, Raja memasangkan kacamata bacanya.
“nama: Sera. Umur: 4
Hari ini Papa pulang jam 8.”
“hari: hujan, dingin
__ADS_1
Papa peluk Sera”
“hari ini Papa ajak Sera ketemu Mama.”
“Sera bangun, Papa gak ada. Sera tidur, Papa pulang.”
“Papa pulang harum buah-buahan.”
“Papa pake jas keliatan keren.”
“Papa sakit, Sera gak bisa apa-apa.”
“Papa masih sakit, Sera sedih.”
“Papa udah sembuh, Sera senang.”
“Papa ajak Sera ke taman bermain.”
“Papa ajak Sera ke resto, makan ayam.”
“Papa ajarin Sera aljabar.”
“Papa….
“hari ini papa…
“Sera sama Papa…,”
Raja membuka halaman demi halaman. Tidak ada yang istimewa dari isinya. Tapi isi diari itu penuh menceritakan keseharian Sera dan Reksa. Semakin jauh, semakin berwarna dan bervariasi kosakata Sera. Reksa yang di ingatan Raja seorang yang keras kepala, pemberontak, dan berandal, seketika tumbuh jadi seorang ayah yang dielukan putrinya. Dia melihat perjuangan Reksa menjadi seorang ayah tanpa persiapan dari diari ini.
-Papa masakin Sera telur. Omelet namanya
Raja ingat bahwa Reksa bukan orang yang pintar dalam melakukan hal-hal keseharian. Masak, beres-beres, semuanya dilakukan pembantu. Tapi disini Sera mengatakan bahwa Reksa memasak omelet. Mungkin dia belajar waktu dia hidup sendiri.
Di dalamnya terdapat lima diari, masing-masing sebesar kepalan tangan anak-anak.
Raja membaca habis satu buku diari sebelum meletakkannya dengan hati-hati ke dalam kotak. "Gadis baik." menahan rasa haru di dadanya, Raja memberikan amplop tipis. "Ini dari Opa dan Oma." mendengar putra sulungnya yang sudah absen berbelas-tahun akan datang bersama cucunya, tentu saja Raja menyiapkan sesuatu.
Dua kotak yang lain diberikan pada Ningsih dan Milwan. Baik Reksa dan Sera tidak berpikir bahwa Milwan sudah berkeluarga.
Ningsih melirik dari sudut matanya, ekspresi suaminya terlihat tenang bahkan setelah melihat anaknya menerima jam, sedang dia sendiri menerima diari?
Apa yang sebenarnya tertulis di dalam?
Seperti ada semut-semut kecil yang mengerumuni hatinya, Ningsih merasa gelisah. Namun senyumnya tidak luntur.
“Gimana kabarmu?” Raja tak lagi canggung, dan pertanyaan keluar dengan alami.
“Baik. Ayah bagaimana.” tanya Reksa tenang. Mereka bukan lagi dua orang yang 'tidak tahu harus bagaimana'. Bertahun-tahun terpisah merubah orang dalam banyak hal. Meski begitu, keduanya tak bisa dibilang akrab. Lebih seperti partner bisnis yang sedang basa-basi. Setelah mereka bertukar obrolan beberapa saat, topik mati. Saat itu Ningsih buka suara. Raja menatap penuh terimakasih karena memecah keadaan, namun begitu pertanyaan dilontarkan, wajah Raja langsung menggelap.
“Ibu dengar sudah beberapa tahun sejak pasangan kamu pergi. Bukankah ini waktu yang tepat untuk mencari pendamping baru?”
Reksa sudah menerka akan ada hal menyebalkan di pertemuan kali ini. Tapi dia tidak menyangka topik ini yang akan diangkat. Jangankan ikut campur soal jodoh, Ningsih, apakah dia berhak berkata begitu? Tapi yang Reksa khawatirkan adalah keadaan Sera. Putri kecilnya selalu memiliki obsesi yang janggal kalau melihat dirinya dekat perempuan...
Mengejutkannya, Reksa melihat putrinya duduk tenang, mengobrol dengan Leiya dan Lily sambil menikmati kue kering.
Bersamaan dengan itu, pintu di ketuk. Ningsih seperti sudah tahu siapa yang datang. Dia mempersilahkan masuk tanpa bertanya dengan orang lain yang berada dalam ruangan.
Sementara Reksa, cukup untuk dirinya melihat putrinya makan dengan tenang. Yang lain bisa di selesaikan dengan perlahan.
Sisanya, dia ingin melihat pertunjukkan seperti apa yang dirancang oleh ibu tirinya.
Wanita yang masuk terlihat beberapa tahun lebih muda daripada Reksa. Bentuk badannya yang penuh dan feminin di balut kebaya sopan dan modern. Rambutnya digelung rapi, dengan riasan natural. Tapi wajah cantik dan ekor matanya yang lentik membuatnya menjadi pusat perhatian sekalipun dia memakai pakaian sederhana.
Wanita itu menyapa sekeliling sebelum duduk di samping Ningsih.
Dengan akrab Ningsih meraih telapak tangan wanita di sampingnya dan memperkenalkan. “Namanya Arina Fatiya. Kamu mungkin ingat, waktu kecil harusnya pernah ketemu.”
Waktu kecil? Berapa tahun yang lalu?
Kalau bukan karena wajah jahat ibu tirinya, Reksa tidak akan mengenali NIngsih sendiri. Apalagi wanita ini?
Reksa yang sudah puasa bersentuhan dengan wanita, melirik lebih dari sekali. Mau bagaimana lagi, Arina memiliki kriteria favorit Reksa.
Seperti dugaannya, ibu tirinya benar-benar paling kenal soal selera Reksa.
__ADS_1
Sayang sekali, Reksa tidak akan menerima wanita mana pun yang ibu tirinya perkenalkan.
Ningsih memperhatikan gerak-gerik Reksa dan tersenyum dalam hati begitu merasa Reksa tertarik Arina.
“Arina masih anak dari sepupunya Ibu. Dia sekolah... kursus Tata Boga… kamu pastinya tahu tata boga perlu ketelitian dan kreativitas.”
Reksa mendengarkan kalimat pertama tanpa ekspresi. Saat mendengar kalimat seterusnya, dia merasa bahwa Ningsih membual, seperti mengada-ada betapa hebatnya tata boga.
“Arina juga banyak bakat, dalam waktu dekat dia akan ujian kelulusan. Untuk sementara mungkin masih belum terlihat, tapi pastinya di masa depan dia akan jadi koki hebat.” Ningsih sendiri hanya memiliki sedikit pengetahuan soal Tata Boga. Tapi yang penting adalah dia harus memuji Arina sekalipun dia sendiri merasa bahwa Arina tidak memiliki hal yang patut untuk dipuji, selain penampilannya.
Tapi bagaimana mungkin Ningsih mau mencarikan Reksa istri berkualitas bagus? Cukup hanya cantik, tidak perlu berotak, lebih mudah dikontrol, bukan begitu?
“Oh,” Reksa menarik sebelah alisnya tertarik.
Melihat reaksi Reksa, Ningsih melanjutkan dengan semangat, mengabaikan pelototan Raja yang memberinya peringatan untuk berhenti.
“Arina anaknya lugu, dia jarang bergaul dengan sekelilingnya. Tidak pernah pacaran juga." masih perawan.
"Dia bisa masak, bisa beres-beres..,” Ningsih ingin mengatakan ‘berpengetahuan di ranjang’ namun dirasa terlalu vulgar dan terkesan dia menawarkan sesuatu yang murahan.
“Dia juga cantik. Lihat,”
Arina masih tersenyum kecil, bahkan terkesan malu-malu, sekali pun dengan semua mata yang memandang ke arahnya, Arina terlihat tidak terganggu.
“Dia juga sehat, tidak pernah sakit atau tertular penyakit.” sempurna untuk menghasilkan anak.
“Banyak yang naksir sama Arina, tapi Ibu terpikir soal kamu.” mengabaikan Alyona, Ningsih melanjutkan. “Kalau Milwan belum menikah, Ibu akan kebingungan.”
Milwan yang mendengar hal itu langsung menatap ibunya. Alyona di sampingnya seperti sudah terbiasa dan tidak kehilangan senyuman. Ningsih berkata demikian, seolah-olah Arina akan menikah dengan Milwan kalau Alyona tidak ada.
“Oh, jangan di masukan ke hati. Maksud Ibu adalah, Arina anak yang baik. Gimana kalau berkenalan lebih dulu?”
Reksa tiba-tiba merasa bosan. Meski dia ingin membuat ibu tirinya berakhir jelek, dia tidak ingin membiarkan orang tak berdosa di permalukan.
“Gimana dengan siklus bulananmu?” tanya Ningsih pada Arina. Sementara Alyona, salah satu perempuan yang sudah dewasa, merasa tidak enak dengan pertanyaan itu. Disini ada suaminya dan anak-anak. Apakah pantas?
Tapi Arina yang di tanya masih tersenyum. Matanya melengkung, seperti dia sedang menunjukkan betapa bagusnya dirinya, “Siklus bulanan Arina lancar dan kata dokter Arina sangat subur, Tante.”
“Bagus, bagus.” Ningsih beralih ke Reksa. “Arina juga lulus dari sekolah pengantin dengan nilai sempurna. Paling tinggi di angkatannya. Kalau melihat dari pendidikan, Arina tidak begitu mencolok… tapi di bidang lain, Arina sangat berbakat.”
Dibandingkan dengan sepupu-sepupunya yang kuliah lulusan luar negeri dan melanjutkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi, Arina hanya lulusan SMA, dengan beragam sertifikat yang menyempurnakannya untuk menjadi ibu rumah tangga. Dalam waktu setahun, dia lulus dari sekolah pengantin.
Mendengar itu, Reksa sedikit penasaran. “Kalau begitu dia masih muda?”
“Arina masih muda, masih dua puluh dua.”
Boom!!
Reksa terdiam kaku di tempatnya. Roda gigi berputar di kepalanya, memberikan pencerahan.
Oh, jadi ini. Reksa bergumam dalam hati. Dia tidak menyangka 14 tahun ini berpisah, ibu tirinya semakin licik dan semakin licin, seperti ular.
Yang Ningsih lakukan bukan untuk membuat Reksa kesal dan memperkenalkan beragam calon pasangan; melainkan mendesak Reksa hingga dia tidak bisa menolak.
Ningsih bahkan membaca hati Reksa yang lembut–lemah menurut Ningsih sejak memiliki Sera. Apakah Reksa akan terus duduk dan menyaksikan Arina dipermalukan?
Reksa yang dulu mungkin akan mengabaikannya. Tapi dia yang sekarang tidak bisa. Kalaupun dia menolak, Ningsih hanya akan ‘oh? yasudah’, kemudian dia akan membawa orang lain tanpa malu. Namun dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arina?
Menghitung-hitung, ketika dia melarikan diri, Arina baru berusia 6 tahun. Teori gila muncul di benak Reksa.
“..Gimana?” Ningsih tersenyum, kali ini benar-benar dari hati.
Meski Reksa ingin membantu, dia tidak bisa melakukannya karena banyak yang harus di pertimbangkan. Dia hanya bisa menolak untuk sekarang, tapi dia bisa memberikan bantuan untuk Arina di belakang.
Detik demi detik berlalu. Saat Reksa hendak membuka mulutnya untuk menolak, dia mendengar suara renyah berkata.
“Oke.”
Oke? Oke, apa oke????
Siapa yang ngomong?!
Reksa dan yang lain fokus pada suara kecil itu dan semua mata tertuju pada Sera.
Sera berkedip beberapa kali namun dia mengabaikan semua orang. Gadis kecil itu bergelayut pada Papa-nya dan berkedip manis. “Pa, Sera suka Kak Arina.”
__ADS_1
Urat biru timbul di dahi Reksa seketika.