
Dengan tersedianya berkas yang lengkap dan bantuan dari pintu belakang, proses perpindahan hak asuh anak berjalan dengan cepat. Reksa hanya perlu memindahkan nama Sera kebawah kartu keluarganya.
Chacha, yang merupakan teman satu kerja Lily dan yang menjaga Sera beberapa hari ini ikut serta datang ke kantor sipil setelah dia menerima profil dan menerima dokumen hasil tes DNA.
Meski dia tidak tahu baik siapa Reksa ini sebenarnya, tapi mendengar Joe mengungkapkan bahwa Reksa tidak ingin anaknya jatuh ke tangan Erik, Chacha langsung tergerak hatinya.
Dia masih bersikeras bahwa dia akan mengunjungi Sera sesekali dan memeriksa keadaannya. Reksa setuju.
Sampai Apartemen di renovasi, Sera masih akan tinggal dengan Chacha. Reksa langsung memberikan uang untuk ganti jam kerjanya dan menghubungi pihak dari klub malam.
Pagi yang cerah, Reksa membuka forum populer soal pengasuh.
Ada banyak kasus dimana pengasuh menganiaya anak majikannya yang masih kecil. Atau memperlakukannya dengan acuh tak acuh dan tidak mengurusnya dengan seharusnya. Karena anak kecil belum mengerti dan jauh dari orangtuanya, anak jadi berubah dan tunduk pada penganiaya.
“Bagaimana jadinya kalau pengasuh mengkritik anak….”
“Kalau seorang pengasuh menyita alat bantu anak yang cacat apakah termasuk aniaya?”
“Aku tahu anak dirumah dianiaya, aku ingin melapor tapi aku tidak punya bukti..”
“Bagaimana efek aniaya timbul…”
Membaca judul-judul itu, Reksa tiba-tiba merasa krisis. Dia tidak bisa mengurus atau membawa anaknya ke kantor. Dia hanya bisa menyewa pengasuh. Memang banyak lembaga yang melatih pengasuh berpengalaman, tapi… tapi bagaimana, kalau! Kalau terjadi!
Dia langsung mengetik dengan serius, “Saya mau menyewa pengasuh buat anak saya yang masih 3 tahun. Tapi saya takut meninggalkan anak saya sendirian.”
Reksa terus merefresh halaman setiap beberapa detik. Setelah tiga menit berlalu, jawaban mulai muncul.
-Masih tiga tahun perlu perhatian intens dari orantua, kak…
-Kenapa nyewa pengasuh? Apa karena pekerjaan?
-Meskipun pengasuh banyak membantu, tapi ngga se-menenangkan diri sendiri.
Reksa membalas pertanyaan satu persatu.
-saya orangtua tunggal. Ayah tunggal
-Ya
-Jadi saya harus gimana biar tenang.
Reksa menunggu lagi namun belum ada balasan. Dia akhirnya membuka dokumen dalam keadaan bimbang. Namun pikirannya tak bisa fokus.
Saat notifikasi berbunyi, tangannya langsung melesat menggenggam mouse. Jawaban yang memberinya solusi akhirnya muncul.
-Kalau ngga tenang coba pasang kamera aja.
Orang lain yang membacanya langsung bereaksi.
-Boleh juga.
-Nggak ilegal, kah?
-Ide bagus
-Saya juga pasang kamera.
Reksa mengabaikan reaksi-reaksi itu dan langsung memeriksa daftar kamera pengawas. Secara khusus dia mengetik kalimat ‘anak’, tidak disangka kamera pengawas untuk anak sudah ada! Benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehnya sebelumnya?
Reksa lalu menghubungi Joe lewat interkom dan memintanya untuk menginstal kamera di apartemennya.
Setelah memberi arahan, Reksa terpikir sesuatu lalu mengubah pikirannya. “Beri aku informasi soal kamera yang bagus, dengan suara superior dan yang ada sensornya.”
Joe tidak mengerti bos-nya mau apa lagi. Mungkinkah dia mau mengawasi Erik? Sebegitu pentingnya? Tapi memikirkan bos-nya akan mengurus anak, Joe menerima kesimpulan itu. Jadi dia menyiapkan informasi selengkap-lengkapnya. Tentu saja dia tidak mengerjakannya sendiri.
Joe mengetuk pintu dua kali dan masuk setelah Reksa merespon. Dia menyerahkan informasi mengenai kamera, juga kantor keamanan yang sayangnya diabaikan oleh Reksa.
“Hm? Nomor satu ini terlihat bagus. Aku ingin yang ini.”
__ADS_1
“Bapak perlu berapa?”
“Aku mau untuk di pasang di setiap tempat. Termasuk kamar mandi.”
Tangan Joe yang sedang scroll tablet untuk memesan berhenti sesaat. Dia ingin bilang bahwa itu ilegal. Tapi sekali lagi, dia tidak bisa melarang dengan terbuka. Apa sejak awal tindakan ini sah di mata hukum? Sigh. Diam-diam dia melempar tatapan miris pada bos-nya yang sayangnya tertangkap. Joe terpaksa buka suara.
“Pak…ini kamera untuk Erik?”
“Apa?” Reksa menatap Joe seperti memandang orang idiot.
Joe berdehem dan tutup mulut. Sebaiknya dia tutup mulut saja, ya.
“Kayaknya bagus kalau saya bikin kantor hukum sendiri.”
Joe yang sudah selesai memesan dan kebetulan hendak menyerahkan laporan tambahan, memberikan dokumen yang mematahkan hati Reksa saat itu juga.
Pengeluaran bulan itu jauh lebih besar dari yang sebelumnya, hampir lima kali lipat. Dan dia membaca bahwa uang-uang itu mengalir untuk menggali informasi. Yang terakhir yang paling mahal adalah The Colony.
Reksa harusnya sadar bahwa dia bisa menyewa preman jalanan untuk mengurusi kutu kecil.
Dia seperti balon yang ditusuk kempes seketika.
“Maksudmu memberi ini apa??”
Joe pantang untuk menyembunyikan kebenaran. “Pak, kalau Bapak tidak segera mengurus proyek dan merencanakannya proyek lain dengan segera, pengeluaran ini akan terus bertambah.”
Intinya, dia ingin Reksa bekerja yang rajin. Dia jadi sekretaris bukan untuk kerja di bawah bos yang terancam bangkrut! Dia ingin jadi sekretaris kelas tinggi. Alas!
Mimpi Reksa belakangan ini semakin menurunkan suasana hati. Sejak dia bermimpi, dia jadi melakukan kesalahan minor dan menunda banyak pekerjaan.
Hari itu juga Joe menyerahkan setumpuk dokumen untuk diperiksa. Termasuk kelanjutan perusahaan minor yang kini berada di bawah perusahaan mereka.
Dia hanya bisa menerima nasibnya.
Mendekati siang hari, asistennya datang membawakan kotak nasi dan kopi seperti biasa. “Pak, hari ini dendeng dan sayur sop. Kacangnya perkedel jagung dan kerupuk. Buahnya pir dan…,”
Asisten perempuannya, Wana, merasa ada yang aneh dengan bos-nya. Dia sudah berpikir akan di semprot setelah membawa buah pir, tapi bos-nya begitu fokus bekerja. Tiba-tiba dia merasa bersalah sudah mengutuk bos-nya. Bagaimanapun ini kan pekerjaannya. Kalau dilihat-lihat, pekerjaan dia sebenarnya tidak semelelahkan mereka yang fokus terus duduk di kursi. Gajinya juga tidak sebanyak dirinya…
Wana yang merasa bersalah terlalu dini, mendengar bos-nya bicara sebelum dia menyentuh gagang pintu.
“Ganti pir-nya dengan yang lain.”
Wana sudah menebaknya. Dia mengangguk dan mengambil buah pir sebelum bertanya, “Bapak mau buah apa?”
“Saya mau buah cempedak.”
“A-apa pak?”
“Cem.pe.dak.” Reksa berbaik hati mengulang dengan sabar tanpa mengalihkan pandangan dari komputer.
Wana yang baru menjabat sebagai asisten sebulan ini, segera membuka ponselnya dan mencari toko buah terdekat di daerah gedung kantor begitu keluar ruangan.
Dia menemukan toko buah yang di labeli sebagai yang paling lengkap. Wana tidak menghabiskan waktu lama dan langsung bergerak kesana.
Sampai di kios, dia langsung bertanya pada penjaga toko soal buah cempedak. Wana sendiri tidak ada ide seperti apa buah cempedak sebenarnya.
“Waduh, Mbak, buah cempedak sudah ngga musim.”
“...” Wana diam sebentar sebelum dia sadar bahwa buahnya tidak tersedia. Karena tidak tahu, dia dengan lagak mengiyakan saja di depan muka bos-nya. Tidak mungkin dia akan kembali tanpa membawanya?!
“Sama sekali ngga ada, Pak?”
“Ngga ada Mbak. Pasokan terakhir sudah habis dua bulan yang lalu.” penjual itu tidak merasa kasihan sama sekali melihat Wana yang nampak terpukul. Dia hanya menyatakan fakta. Kalau perempuan ini sampai menangis, siapa yang harus disalahkan? Hati nuraninya!
Wana mengangguk dan langsung mencari tahu seperti apa buah cempedak sebenarnya. Setelah diperhatikan, buah ini mirip nangka. Tapi dari ulasannya, buah ini agak mirip teksturnya dengan durian. Sayang sekali, seperti kata pedagang itu, buahnya sedang tidak musim. Wana tidak berkecil hati dan beralih ke buah nangka. Setidaknya, penampilan luar yang mirip dengan cempedak mungkin bisa mengurangi kemarahan bos-nya.
Reksa melirik buah berwarna hijau cerah yang masih bergerigi yang kini sedang di peluk Wana. Joe yang baru melaporkan proses pengadilan yang dijalani Erik, dengan penuh pengertian mundur selangkah. Berusaha tidak terlibat dan berusaha menghapus eksistensinya. Dari ekspresinya, bos-nya sudah siap untuk menyemburkan napas naga.
“Itu buah nangka.” kata Reksa tanpa perubahan berarti di wajahnya, namun tetap membuat Wana gugup.
__ADS_1
“Mohon maaf saya ngga bisa menemukan buah cempedak.” kata Wana malu.
“Kamu tahu ngga buah cempedak apa?”
“Tahu.” baru saja dia memeriksa di ponselnya.
“Buah cempedak adanya di musim hujan. Sekarang bulan apa?”
“Februari, Pak.”
“Sudah cek BMKG belum?”
“Belum, Pak.” Wana pasrah saja saat Reksa mulai bertanya dan memanjang.
“Musim hujan tahun ini kemungkinan antara bulan Oktober sampai November.”
“Oktober sampai November.” Wana mengulang dan mengangguk dengan ekspresi lurus.
“Katanya kamu tahu buah cempedak, terus kenapa iya-iya aja pas saya minta?”
“Kan, bapak yang minta.” Bapak juga sudah tahu tapi tetap menyuruh dia. Mendadak Wana jadi kesal, tentu saja dia tidak menunjukkannya di wajah. Tapi mata itu, bagaimana mungkin Reksa tidak melihatnya?
“Maksudnya salah saya, gitu? Pas lagi kerja saya harus nyaritahu buah apa aja yang lagi musim sebelum bilang ke kamu? Kalau gitu ngapain bilang ke kamu? Udah aja saya pesen langsung sama ojek online?”
Wana merasa ada yang salah namun tidak bisa membalikkan kata-kata Reksa. Dia hanya bisa menunduk dan mendengarkan.
“Kamu pikir saya ngga bisa beli makan dan bawa kopi sendiri? Saya bisa. Tapi kenapa ada kamu yang mengerjakan? Supaya saya bisa melakukan hal lain sementara kamu yang mengurusi hal-hal ini. Saya juga bisa mencari tahu ada buah apa yang lagi musim, nama buah baru, jenis baru, saya bisa cari di internet. Kamu, ngapain?”
“Saya beli ke bawah, pak… tapi gak ada.”
“Beli ke bawah? Kamu ngapain ngerjain kerjaan PU? Saya bayar kamu bukan untuk jadi pesuruh, tapi asisten. Paham? Asisten. Kamu jadi asisten untuk siapa? Untuk saya. Kamu cari tahu referensi saya apa, kesukaan saya apa, hal yang gak saya suka apa. Biar orang lain, ojek online kah atau apakah yang cari bahannya.”
“...” tapi kalau barangnya salah, saya lagi yang di salahkan. Untuk pertama kalinya Wana ingin menangis.
“Saya ingin pekerjaan saya jadi efektif, bukan hanya setiap mau makan saya harus terus protes, terus marah. Kamu kan juga malas dengar saya ngomel-ngomel terus? Apa Joe ngga kasih biodata saya ke kamu?”
“Kasih, Pak.” Tapi di kertas buah kesukaan cuma tertulis stroberi. Tapi membeli stoberi setiap hari, hahh, Wana tidak bisa berkata-kata. Dia membayangkan bos-nya pasti akan protes lagi.
Reksa menghentikan omelannya saat Joe menyela bahwa akan ada rapat tidak lama lagi. Barulah dia melepaskan Wana yang sudah merah matanya.
Reksa menghembuskan napas dan menutup forum diskusi di komputer. Sebelum matanya berhenti di kertas anggaran bulan ini.
Mendadak dia merasa kalau dia kurang tegas dengan para pegawainya selama ini.
Joe yang melihat tanda-tanda ini langsung buka suara sebelum Reksa menyembur lagi. “Diantara yang lain, Wana paling cepat tanggap dan cepat belajar. Bakat observasinya juga tinggi. Meski dia masih muda, tapi prospeknya bagus untuk dikembangkan menjadi seorang profesional.”
“Oh.” Reksa melirik Joe dari ujung matanya. “Kalau nanti sudah bagus dia malah keluar....”
“Tanda tangan sebagai pegawai tetap sudah dilakukan. Masa pembatalan kontraknya juga sudah lewat.”
Mendengar itu, Reksa mengangguk.
Joe yang mengikuti di belakangnya langsung melap keringat imajinernya. Selagi tekanan menurun, Joe menekan pelatuk. “Renovasi apartemennya sudah selesai dan bisa di tempati kapan saja.”
“Hm.. kosongkan jadwal besok.”
“..Pak, besok ada rapat untuk laporan proses pembangunan museum,” prosesnya pasti akan berlangsung lama.
"Lusa?"
"Lusa ada pertemuan untuk mendiskusikan proyek rancangan jalan tol, Pak. Juga pertemuan dengan kontraktor dari PT. Ardiga," sejauh ini mereka sudah sepakat. Kalau di tunda, akan menghambat proyek yang lain. "Hari jumat hanya akan ada satu pertemuan."
Reksa tahu kalau hal di minggu ini sangat penting, dia tidak bersikeras. “Pindahkan semuanya ke siang hari, saya ingin pulang awal jumat sore.”
“Saya mengerti.” tapi Joe setuju terlalu dini.
"Juga libur di sabtu-minggu."
"Pak...," seruan pelan Joe diabaikan, Reksa sudah kabur ke lift duluan.
__ADS_1
***