ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
51.


__ADS_3

Sera mengangkat waja kecilnya, melirik Papa-nya yang menemani mengerjakan PR. 


Sejak kepulangan mereka dari Negara J, papanya entah kenapa jadi sering menemani dia.


Sera duduk di pangkuan Reksa, mengerjakan tugas tanpa peduli dengan komputer yang menyala di depan.


“...Tanah di sekitar wilayah JT sempat jadi perbincangan. Namun cabang kamus ternama akan di bangun disana, kemungkinan dalam waktu tiga tahun sudah siap beroperasi.”


“Dengan isu ini sendiri harga lahan disana sudah pasti meningkat drastis.”


“Tapi perusahaan Z kemarin gagal mengembangkan karena penemuan fosil? Letaknya berdekatan dengan kampus baru itu, tanah sekitarnya mungkin akan ada masalah juga. Memang kompensasi tetap di berikan, tapi program ulangnya sendiri memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.”


Reksa mengangkat tangan. Joe yang memperhatikan laptop, melihat isyarat dan langsung memberi sinyal pada yang hadir di ruang rapat.


Hari ini seharusnya Reksa datang langsung ke perusahaan. Apalagi bos-nya ini sudah ambil libur tiga hari? Tapi bos-nya menolak untuk datang. Joe tidak berani untuk menegur.


Joe memperhatikan Sera di layar laptop yang serius mengerjakan PR libur semester tanpa terganggu sedikit pun.


"....."


Paling tidak bos-nya jadi lebih jinak dengan keberadaan putrinya.


“Bukankah cuma lahan? Dengan berdirinya kampus, tidak akan lama lagi tempat itu jadi pusat komersial. Siapkan tim untuk survei langsung ke tempat. Untuk penawaran ini pastikan dapatkan tanah dimana pun letaknya.”


“..Pak Reksa..!”


“Rapat selesai.” Reksa mematikan desktop dan langsung mengirim pesan ke Joe.


-Datang langsung wakili ke tempat lelang lahan


Joe mengirim balasan mengungkapkan kebimbangannya. Reksa langsung menelepon.


“Sebelum kebijakan turun, beli tanpa tekanan. Tim yang ikut survei besok sudah observasi sejak lama."


“Kebijakan? Maksud bapak…?”


“Ada isu pengembangan daerah Jt, tapi beritanya belum turun. Jadi tidak perlu terlalu berisik soal ini.”


“Saya mengerti.” Joe memperkirakan bahwa bos-nya menerima informasi ini dari Ridwan. 


Reksa sempat ‘diselip’ pada lelang beberapa tahun lalu di pulau K. Sebelum berita kebijakan turun, pengusaha sudah berlomba untuk membangun dan mengembangan daerah tersebut karena bocornya informasi. 


Banyak juga pengusaha yang salah langkah karena misinformasi.


Mengenal bos-nya, Joe bisa tenang karena Reksa sudah pasti memastikan kebenaran isu ini lebih dulu sebelum mengambil tindakan.


Reksa menunduk dan memperhatikan putrinya menulis setelah telepon di tutup.


“....ini matematika?" celetuk Reksa ragu.


“??” Sera diam sejenak sebelum yakin Papa-nya sedang bicara padanya begitu melihat layar komputer yang mati.


“Iya, ini matematika.”

__ADS_1


“Kenapa kaya bahasa Inggris?”


“Papa lupa ya? Sekolah Sera kan bilingual.”


“Oh… ya.” Reksa berpikir sejenak sambil mengelus kepala Sera. Nostalgia dirinya waktu masih sekolah dasar.


Sambil memikirkan rambut putrinya yang kini sudah mulai panjang. Tidak ada kerjaan, Reksa mengambil ikat rambut dari tempat pinsil Sera dan mulai memainkan rambut putrinya.


“Nona mau rambutnya diapakan?”


“Papa jadi tukang salon?”


“Iya. Tapi khusus untuk putri Papa.”


“Em, kalau gitu Sera mau kuncir satu,” kata Sera menahan senyum senang. Kalau kuncir banyak Papa-nya akan kesulitan. Satu lebih mudah.


“Baik. Ikat satu, ya.” mungkin karena dia sedang gabut, Reksa jadi banyak bicara. Namun disaat yang sama hatinya terasa ringan. 


“Nona rambutnya sangat lembut, bagus dan terawat. Pasti hobinya makan sayur dan buah, kan?”


Sera terkekeh geli mendengarnya Papa-nya meniru nada tukang salon saat memuji rambutnya.


“Oke, selesai. Kuncir satu. Sini coba Papa lihat.”  Reksa berlagak memeriksa sebelum berdecak kagum. "Pasti ini mah putri kesayangan Papa."


“Ayo foto dulu.” sambung Reksa mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar sebelum update status di ponselnya.


Waktu mereka ke Negara J kemarin, Sera banyak mengambil gambar dengan kamera kodaknya. Papa-nya juga sering berfoto, jadi Sera tidak merasa aneh dengan tingkah Papa-nya yang tiba-tiba aktif.


Saat keduanya tengah bercanda, pintu diketuk.


“Undangannya diantar barusan sama pos, pak.”


“Hm.” 


Bukan diantar ke perusahaan tapi langsung ke vila tempat tinggalnya. Reksa menebak-nebak, mungkin gurunya Sera atau siapanya?


Namun setelah membuka undangan, dia akhirnya tahu begitu membaca ‘Keluarga Triyanto’.


Setelah menggali ingatannya, Reksa akhirnya ingat bahwa Nata adalah sepupu perempuannya dari pihak ibu.


Hanya sekilas yang Reksa ingat soal Nata, namun yang jadi permasalahannya bukan itu.


Di surat itu, pada bagian teruntuk, tertulis ‘Reksa dan keluarga.’


Maksudnya apa?


Sudah jelas mereka tahu kalau Reksa belum menikah. Sudah pasti mereka ingin Sera ikut di bawa.


“....”


Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah saling berkomunikasi, apa gerangan tiba-tiba mencolek dia seperti ini?


Dalam lima tahun terakhir ini, berapa banyak orang yang menikah? Tapi baru sekarang dia di undang?

__ADS_1


Reksa harus pikir panjang sebelum menerima undangan ini.


Di tambah, bukan hal besar kalaupun dia menolak.


Reksa menepikan undangan tanpa pikir panjang dan kembali fokus dengan putrinya.


Tapi putrinya tidak pernah bertanya soal keluarganya. Sementara orang lain berkumpul saat lebaran dengan nenek, kakek, paman, bibi; hanya ada Reksa dan Sera di villa.


Mungkin Sera kesepian, namun tak mengatakannya. Beginilah. Setelah menikah, banyak hal yang sebenarnya masalah sepele kalau dibiarkan, perlu di pertimbangkan dengan matang ketika ada anak.


Mungkin Reksa bisa coba datang dan bertemu, meski dia tahu niat keluarganya mencurigakan. Tapi hal ini barangkali membantu Sera menumbuhkan identitas dirinya dan berhenti merasa rendah diri.


“.....”


Di saat begini, dia hanya bisa menghubungi agen intelijennya, Royal. 


Sebelum membawa Sera kesana, dia harus memastikan medan yang aman.


Reksa juga tidak berniat untuk bertindak sendirian. Di tengah-tengah suara gesekan pensil dan kertas, Reksa menjatuhkan bom.


"Sera mau ketemu Oma dan Opa?"


"Huh??"


"Oma, Opa." Reksa diam sejenak sambil menghapus garis berlebih di atas kertas dengan perlahan.


"Itu mama dan papa-nya Papa."


"...." tidak terdengar suara apapun dari putrinya. Reksa tahu putrinya lebih sensitif dan memikirkan banyak hal.


"Sera inget kan, apa yang pernah Papa bilang? Kalau ada yang bikin bingung atau yang bikin Sera pusing, tanya Papa."


"..Mama papa-nya Papa?"


"Iya."


"Kenapa mau ketemu?" selama ini mereka baik-baik saja berdua.


"...." mendengar respon itu, dia tahu bahwa putrinya tidak berharap untuk bertemu.


Reksa merasa sedikit sedih, karena banyak hal. Tapi dia tidak mungkin mengatakan hal yang buruk soal mereka di depan wajah putrinya.


"Papa juga gak tahu. Tapi kalau Sera gak mau, gak apa-apa, kok?"


"Oke."


"Jadi ya--eh?" mendengar jawaban tak terduga itu, Reksa sedikit tak menyangka. "Sera mau?"


"Iya." Sera memutar lidahnya. "Sera mau coba ketemu Oma dan Opa."


Papanya selama ini selalu sendiri. Kesampingkan soal 'istri', Sera saja tanpa Papa dan Mama sedihnya bukan main. Apalagi Papa?


Di luar perkiraan Reksa, Sera tidak berpikir panjang sama sekali mengenai hal ini.

__ADS_1


Dia akan coba membuat kerajinan untuk hadiah, mempertimbangkan bahwa mereka masih keluarganya Papa, pikir Sera.


__ADS_2