ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
46. Mainstream Day


__ADS_3

Dalam keadaan seperti ini, dia bisa apa?


Reksa terjebak diantara perselisihan cinta kedua orang ini. Meski dia ingin berlagak seperti ksatria di atas kuda putih yang menyelamatkan Deanita, banyak yang harus dia pertimbangkan.


“Bunda!!” gadis kecil yang belum genap tiga tahun itu berlari dan memeluk betis ibunya, sebelum berdiri di depan, menghalangi si pria yang hendak maju.


Reksa yang berpikir untuk kabur diam-diamjadi merasa tak becus. Nak, badan kecilmu tidak akan bisa melindungi orang dewasa..


Hhhh….


Deanita yang melihat putrinya berdiri di depan seakan ingin melindungi, langsung berkaca-kaca. Dia lalu memeluk putrinya; tak bisa menahan tangis dan menjatuhkan air mata.


Para penonton di jalan merasa tersentuh.


Si pria kasar yang sejak tadi marah-marah menatap si balita kecil sebelum menunjuk Deanita dengan wajah merah.


“Kamu…! Kamu membiarkan dia hidup!”


Manusia macam apa yang menunjuk ke balita dan mengatakan seakan-akan anak itu tak pantas hidup?


Orang-orang yang tadinya masih memperhatikan dengan tertarik dan tak mau ikut campur langsung melotot ke arah si pria.


Dari kata-katanya, sudah jelas ada hubungan rumit di antara kedua orang ini. Namun sudah jelas, bahwa pria itu bukan suami si wanita. Kalau iya, mana mungkin pria itu tidak tahu si wanita punya putri sebesar ini, kecuali si pria berada jauh dari sisi si wanita untuk waktu yang lama!


Plus, mengutuk anak sendiri mati?!  Orang ini harus dilenyapkan.


Salah seorang pengamat berbadan kekar yang kebetulan sedang istirahat di sela-sela pekerjaannya dari mengangkut bata, membelah kerumunan dan langsung meninju wajah si pria bermulut kotor dengan geram.


Yang menonton tidak merelai, dan justru bertepuk tangan. 


“Beraninya kau memukulku!” Pria itu berkoar.


“Gua berani, kenapa emangnya?!” seru si pria kekar.  Kekuatannya tidak datang dari otot, namun dari kebiasaanya bekerja di konstruksi. Kadang dia juga berurusan dengan preman setempat, dia cukup ahli dalam berkelahi.


“Lihat saja, kau tidak akan kerja lagi besok!”  ancam si pria mulut kotor.


Pria berotot di depannya tertawa terbahak.


“Kenapa emangnya? Nenek moyang lu yang punya perusahaan?”


“Orang bodoh dan dungu yang tidak mengerti besarnya dunia ini!” pria itu mengeritkan giginya. Berjanji dalam hati untuk memecat semua pegawai di tempatnya kerja si pria kekar. Cuih, hanya pegawai konstruksi rendahan. Banyak orang yang akan mau menggantikan. Dia hanya perlu memberi uang lebih.


“Hah! Bangsat! Beraninya bacot doang! Kalo emang bener, sekalian aja gua bunuh elu!” bukannya takut, si pria kekar itu justru menunjukkan taringnya.


“..!!”


“Kalo gua bisa bunuh elu dan dimasukkin ke penjara pun, gua rela!” tentu saja di pria ini hanya bicara kosong. Dia tidak akan benar-benar membunuh manusia. Paling menghajar sampai sekarat.


Para penonton yang menyaksikan kembali bertepuk tangan, namun satu dua orang mulai menelepon polisi.


“Bang, jangan di bunuh. Hajar aja sampe babak belur.” kata salah seorang yang menyaksikan. “Engga level masuk penjara kalo buat ngebunuh kecoa ini.”


“Tapi dari pakaiannya kayanya dia orang berada? Mungkin dia betulan punya orang besar?” kata salah seorang di kerumunan.


“Bah!! Kenapa emangnya? Kalo mereka emang mau ambil jalur hukum, saya sebarin videonya biar dunia tahu macem mana orang berada ini berakhlak!”


“Bang, saya udah telepon polisi, sampe polisi dateng, abang hajar aja. Kita sebagai saksi melihat bahwa pria ini menindas ibu dan anak di depan.”

__ADS_1


“Yeah!”


Seperti kata pepatah, sepasukan semut lebih merepotkan daripada seekor gajah. 


Reksa yang sudah terseret posisinya ke tepian mengangguk dalam hati. Di negeri ini, kecuali kau punya kekuatan absolut, kau tidak akan lepas dari makian masyarakat saat melakukan hal buruk.


Pemimpin negara saja bisa di caci 24jam/7hari apalagi si pria kasar?


Polisi saja bisa di amuk massa, apalagi orang biasa?


Kalau caranya salah, semakin dihentikan, semakin menumpuk. Semakin ditekan, bukannya diam. Namun semakin ingin lepas. 


Beberapa ibu rumah tangga yang berlalu menarik Deanita dan putrinya ke tepian dan menghibur dengan kata-kata menyentuh sambil sesekali memeluk dan menjatuhkan air mata. 


Si pria mulut kotor masih tersisa kesadarannya ketika polisi sampai. 


Setelah mengumpulkan kesaksian dan mengumpulkan video (ketika si pria kasar menyerang deanita). 


“Bangshat.. liat aja besok..!” si pria mulut kotor masih bisa menumpahkan serapah sebelum pingsan kemudian dan di bawa ke rumah sakit. 


Si pria kekar akhirnya ditahan polisi untuk sementara waktu, diiringi tatapan penuh kekhawatiran dari para penonton.


Reksa yang diam sejak tadi berjalan ke salah satu penonton yang sempat merekam seluruh kejadian.


“Boleh minta videonya?”


“Uh, ya?”


“Sebaiknya habis ini videonya di hapus.” kata Reksa mengingatkan setelah menerima video. Dia lalu menjelaskan sebab-akibat yang terjadi kalau video di simpan.


“Uh, ya-ya,” orang di depannya terlihat agak mengerikan.


Bagaimanapun, dia termasuk salah satu pengamat. Percakapan dimana mereka bekerja sama untuk menutupi pemukulan ini mungkin akan dipandang rendahan oleh banyak orang. Dan dia sendiri akan termasuk di dalam kelompok tersebut. Saat polisi benar-benar menyelidiki lebih dalam, mungkin dia akan menerima detensi juga. Meski tidak berat, namun memiliki jejak kriminal tidak begitu menyenangkan.


Reksa mengirimkan video pada Joe, menceritakan sebagian besar kejadian dan rinciannya sebelum mengarahkan untuk mengontrol alur internet. 


Setelah selesai, dia berbalik dan melihat Deanita serta putrinya masih diam di tempat. Sementara penonton yang lain sudah bubar, tinggal Reksa sendiri yang belum dimintai keterangan.


Dia menghabiskan sepuluh menit kurang lebih sebelum mobil polisi meninggalkan tempat untuk mendiskusikan konflik pada atasannya. Mereka sendiri sadar bahwa si pria kasar yang babak belur tadi sepertinya bukan orang biasa.


Sayang sekali, Reksa tidak akan membiarkan si pria mulut kotor itu bebas dengan mudah.


Setelahnya, Reksa menghampiri Deanita dan menawarkan untuk mengantar keduanya pulang kerumah.


“Mari saya antar?”


“O-oh, iya, terimakasih.” Deanita melirik Reksa takut-takut sebelum menolak. “Rumah saya dekat dari sini…”


“Saya agak khawatir kalau kalian pulang sendiri. Gimana kalau ada anggota keluarga laki-laki tadi datang tiba-tiba?” meskipun Reksa bilang begitu, dia yang mengatakannya sendiri merasa agak lebay.


Mungkin Deanita sendiri merasa tak menyangka dengan kejadian hari ini dan masih sedikit tegang. Memeluk putrinya dia lalu mengangguk dan mengikuti Reksa ke mobilnya yang diparkir tak jauh.


Mata kedua ibu dan anak itu membulat melihat mobil di depan mereka.


Begitu membuka pintu, Reksa melihat putrinya sudah bangun dan duduk patuh. Mata bulatnya yang hitam melirik Reksa penuh senyum, Namun ketika melihat Deanita dan putrinya di belakang, mulut Sera yang hendak berseru memanggil Papa-nya langsung terkatup rapat.


Melihat reaksi itu, Reksa merasa dia seperti melupakan sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


Keempatnya duduk di saling berhadapan. Bagian belakang mobil Reksa memiliki kabin yang luas dan termasuk kelas satu kalau dinilai. 


Sementara para orang dewasa duduk serius tanpa berkata apa-apa, kedua anak kecil yang duduk, menatap satu sama lain penasaran. Bedanya, Sera menatap dengan sedikit rasa permusuhan.


Pagi ini Sera merasakan bahagia seperti di langit ketujuh, istilahnya. Begitu membuka mata dia melihat Papa-nya membawa seorang wanita dan anak kecil ke dalam mobil untuk duduk bersama.


Dia yang baru bangun tidur tentu saja kaget. Kalau bukan mimpi buruk apa namanya, coba!


Tapi Sera tidak akan mengutarakan ketidak-nyamanan di hatinya sembarangan. Hanya saja Reksa menyadari bahwa Sera jadi pendiam. 


Dia melirik putri kecilnya dari ekor matanya. Hm, sepertinya dia ingat sekarang.


Sera sepertinya punya rasa posesif tidak biasa terhadap apa yang jadi miliknya?


Kalau Reksa ada dalam kelompok ‘milik Sera’, tentu saja Sera akan merasa tidak senang.


Sera kecil sangat cerdas. Sementara anak lain bertanya banyak ‘kenapa  dan kenapa’, Sera justru memendamnya dan berusaha menebak sendiri, terutama kalau  soal hubungan sosialnya. 


Reksa ingat Sera tidak pernah menceritakan soal teman, atau hubungan manusia manusia yang ada disekitarnya.


Mengingat hubungan Reksa yang terlibat dengan wanita selalu menimbulkan efek buruk pada Sera, dia memutuskan untuk menjelaskan hal ini setibanya mereka di rumah. 


Sementara Deanita, setelah di kenalkan bahwa Sera adalah anaknya Reksa, tidak sekalipun pria di depannya mengangkat topik soal ibu Sera. Sedikit banyak Deanita menebak, namun dia tidak berani bertanya. 


Sayang sekali, putrinya yang masih tiga tahun tidak mengerti pikiran kompleks orang-orang di dalam mobil saat ini.


Suara kentalnya dengan penasaran bertanya pada Sera.


“Mama kamu mana?” gadis kecil itu bertanya, murni ingin tahu. Mungkinkah sama seperti dirinya yang memiliki orangtua tidak lengkap? Bayi itu merasa bahwa orang ini habis membantunya dan merupakan orang baik. Berpikir bahwa tak masalah dia bertanya-tanya. Dia ingin menjalin hubungan baik dengan kakak di depannya.


Reksa yang mendengar langsung berkerut sedikit alisnya. Berkebalikan dengan kekhawatiran Reksa, Sera menjawab dengan santai.


“Mamaku udah meninggal.”


“Meninggal itu apa?”


Mengejutkannya, Sera punya toleransi tinggi terhadap anak yang lebih muda darinya. 


“Meninggal artinya ngga hidup lagi di dunia. Tapi hidup di tempat lain.”


“Di tempat lain itu dimana?”


“Mau  tahu?”


Gadis kecil itu mengangguk-angguk kecil.


Sayangnya, Reksa merasa lega terlalu dini.


“Kamu bisa cobain sendiri.” Sera menjawab dengan wajah yang tak bisa lebih polos lagi. “Mungkin nanti kamu bisa kasih tahu aku.”


Membuat kedua orang dewasa yang hadir tak bisa berkata apa-apa.


Deanita tertawa kering dan berusaha menarik perhatian putrinya “Baby, nanti mau main ke taman?”


Balita itu langsung teralihkan dan terlonjak senang.


Tentu saja, Reksa tidak tertipu sama sekali dengan kepolosan putri tunggalnya. Di satu sisi dia tidak bisa menyalahkan Sera soal perasaannya, namun dia juga tak bisa membiarkan gadis kecilnya mengatakan hal seperti ini terang-terangan. 

__ADS_1


Apa bedanya dengan mengatakan ‘kamu coba meninggal dulu, mungkin nanti tahu?’


Rasanya hari ini terlalu ekstrem.


__ADS_2