
Mobil berhenti di tepi jalan beberapa meter dari gedung flat. Reksa keluar dari mobil dan mengantar Deanita sampai depan flatnya. Ketika dia hendak berbalik, kakinya dihelat panggilan pelan.
“..Itu…,” mungkin melihat mobil Reksa, dan melihat karakternya, Deanita memikirkan sesuatu yang tak pernah dia inginkan.
Dia pikir, Reksa bisa membantunya.
Namun, mengingat hubungan mereka yang hanya orang asing, Deanita langsung sadar.
“Oh, em, makasih sudah mengantar saya.” Deanita menunduk sedikit dan menuntun putrinya untuk pulang.
“...Permisi.” Reksa pikir ini kesempatan yang bagus untuknya ambil bagian. Di sisi lain, dia memiliki kekuatan untuk membantu Deanita. Tapi motifnya akan di pertanyakan kalau dia membantu tanpa alasan, kan?
Pria gangster yang jadi backing-an Deanita, akan curiga begitu ada yang membantu tanpa pamrih. Reksa menebak bahwa pria itu juga gatal ingin melakukan sesuatu pada keluarga si pria mulut kotor. Kecuali si pria kotor itu masuk penjara, pria gangster itu tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin dia bisa menyeret si pria ke gang sempit dan menghajarnya, lalu setelah itu apa? Hal itu tidak akan menghentikan pengejarannya pada Deanita.
Beberapa minggu sebelumnya Reksa membeli sebuah toko di daerah yang padat keturunan bangsa T yang memiliki keyakinan berbeda dengan Reksa. Dia mengubahnya jadi kafe dengan menu yang akrab untuk orang-orang keturunan T. Di satu sisi dia mendaftarkan sertifikat ‘halal’, bilamana ada orang-orang minoritas berkunjung datang kesana. Yang kedua hanya motif untuk mengumpulkan reputasi dan amal baik untuk dia dan putrinya.
Motif utamanya ialah supaya dia bisa memegang kendali atas Deanita.
“Saya jujur saja, melihat kamu kesulitan, saya tidak enak membiarkannya.” kata Reksa tanpa basa-basi. Kalau dia banyak alasan, justru dia akan lebih dicurigai. Meski kata-katanya meragukan, selama orang tidak membelah hatinya, mereka akan percaya hanya dengan melihat wajah Reksa.
“Tapi saya pikir kamu tidak akan menerima langsung bantuan saya.” dia lalu menceritakan kesulitannya soal mencari manajer kafe, yang kalau di pikir lebih teliti jelas omong kosong.
“Saya pikir tempat itu akan lebih populer kalau di layani oleh orang-orang yang sama.”
Deanita yang mendengarkan awalnya meragu, lalu matanya bersinar penuh terimakasih.
“Semoga Tuhan memberkatimu.” Deanita berbisik pelan dengan mata berkaca-kaca.
“...Ah, ya.” dia tidak menyangka sebelum kalimat bujukan dia lontarkan, Deanita sudah memakan kata-katanya.
Hm, kalau Deanita tidak mudah tersentuh, dia tidak akan ditipu pria kotor itu.
Reksa diam sejenak, sebelum akhirnya memberi peringatan.
“Pria itu… saya seperti tahu dia.”
“..? Anda kenal?”
Tentu saja tidak. Ini pertama kali Reksa melihatnya. “Saya cuma pernah lihat wajahnya di pesta…” kata Reksa pelan. “Tapi karakternya sedikit buruk. Saya bukannya mau menjelekkan. Tapi saran saya, untuk perempuan keturunan T sepertimu, jangan cari laki-laki seperti dia.”
Mendengar itu, Deanita menatap Reksa lurus. Wanita di depannya benar-benar memiliki wajah dan penampilan yang pantas di sebut ‘primadona’. Sudah jelas alasan dia bisa jatuh ke tangan pria mulut kotor dan sampai punya anak, pasti karena ada yang salah IQ-nya. Reksa takut wanita ini jatuh ke tangan serupa di masa depan. Bagaimana pun, takdir mereka seperti saling berpapasan?
“Saya ngga akan menutup keburukan dia. Meski dia dan saya memiliki keyakinan yang sama, tapi untuk dia yang punya keluarga besar dan memilih untuk.. em.. jadi kekasihmu,” Reksa mengusap hidungnya di sela-sela. “Dia memiliki niat buruk. Saya punya banyak kenalan, namun tidak semua mengerjakan ibadah dan memiliki karakter yang baik. Mereka memacari gadis-gadis keturunan dari kalian hanya untuk senang-senang.”
Mendengar itu, Deanita merasa rumit, namun pandangannya terhadap Reksa berubah jadi lebih baik.
“Saya tahu.” kata Deanita yang membuat Reksa terkejut.
Wanita itu menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. “Teman saya juga banyak yang terpesona dengan orang-orang yang… seperti dia.” dia yang di maksud adalah si pria mulut kotor.
“Tapi keluarga tidak mengizinkan kalau kami mengambil jenjang yang lebih jauh. Banyak yang harus di pertimbangkan. Kami sendiri–beberapa dari kami, ada yang berpacaran dengan mereka karena penasaran.” jadi dari keduanya memang tidak ada komitmen jauh. Hanya berpacaran, kenapa harus serius? Selama suka, ya, jalani saja.
“Tapi…" Deanita mengingat hidupnya selama tiga tahun ini. Dia merasakan rasanya bagaimana jadi mainan. Kalau pria itu setidaknya menghargai dia, Deanita tidak akan hamil, hingga dia harus berhenti kuliah. Kalau pria itu bertanggung jawab, Deanita tidak akan berakhir dalam keadaan ini. Bohong kalau Deanita bilang tak ada penyesalan, tapi apa gunanya?
Dia mengakui sebagian dari kalimat Reksa, dan dia mengambilnya sebagai pelajaran.
__ADS_1
Saat itu Deanita merasakan tarikan lembut pada roknya, dia menunduk, dan melihat wajah polos putrinya yang manis. Mata itu seperti mata ayahnya. Kadang membuat Deanita merasa pahit. Namun kepolosan yang tercermin, membuat Deanita yang sudah mengandungnya selama sepuluh bulan menyayanginya tanpa syarat. Ketika mata itu kehilangan kepolosannya, kasih sayang Deanita akan bertahan. Begitulah ibu.
“Bunda?”
Deanita langsung menghapus kesedihannya dan mendongak ke arah Reksa.
“Terimakasih.” dia lalu mengangguk ke arah Reksa. “Saya tahu, saya mengerti.”
“Baiklah kalau begitu.” melihatnya Reksa langsung lega. Dia memberikan alamat kafe untuk mendiskusikan lebih jauh langkah yang akan diambil. Keduanya berencana untuk bertemu di beberapa hari yang akan datang.
“Kalau begitu saya pamit dulu.” Reksa mengangguk dan berbalik kembali menuju mobil. Sejak tadi mengobrol, dia merasakan tatapan menusuk di punggungnya. Reksa bisa membayangkan Sera di mobil menatap keluar dengan tatapan 'penuh ingin tahu'.
Reksa berpikir sekilas. Deanita sungguh cerminan wanita idaman. Justru kebaikan yang ada dalam Deanita membuatnya jadi sasaran dan menarik hati. Tipe yang menarik hati para serigala.
Dia sedikit menyayangkan. Namun memikirkan putrinya, Sera, juga hubungan yang ‘mungkin’ terjadi di masa depan…. Reksa menggeleng bergidik.
Kalau dia bertemu Deanita beberapa tahun sebelum menemukan Sera, posisinya mungkin tak jauh berbeda dengan si pria mulut kotor sekarang?
Bagaimana pun dia sadar dengan jelas bahwa dia yang dulu adalah sosok sederhana dari ‘bajingan’.
“...Lupakan.” misinya sekarang adalah membuat Sera tumbuh jadi perempuan yang sehat, aman dan bahagia dunia akhirat.
***
Deanita menatap kartu nama di tangannya beberapa saat. Reksa sungguh karakter yang aneh? Dia menjelekkan sendiri sesamanya, hanya untuk mengingatkan dia–perempuan asing yang dia temui pertama kali. Bahkan sampai berniat membantu urusan finansial dan masalahnya.
Deanita menyadari kesalahan masa lalunya. Dia mengerti bahwa maksud Reksa adalah untuk mencari pasangan dari bangsa keturunan yang selurus dengan dia.
Pria-pria keturunan yang sebangsa dengan Deanita tidak semua memiliki karakter baik juga. Hanya saja mereka lebih mengerti satu sama lain dan memiliki kemungkinan menjalani kehidupan yang lebih harmonis.
Seandainya Deanita bertemu Reksa lebih awal, mungkin dia akan jatuh hati. Pria itu nampak seperti orang yang bisa dipercaya dan bertanggung-jawab.
Tapi Deanita tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Meski Reksa bisa dipercaya, dia tidak berani dan merasakan trauma itu lagi.
Menjalin cinta juga tidak bisa dia lakukan dalam sesaat keinginan hati. Mungkin dia tidak akan bisa jatuh cinta lagi.
“Bunda.. pegel.” suara lirih putrinya menyadarkan Deanita dari lamunan.
Dia langsung menggendong putrinya dan tersenyum lembut.
“Baobei mau makan bubur kacang?”
“..Mau! Mau!”
“Oke, tapi harus mandi dulu, ya? Coba Bunda harumin? Em… smelly.”
“Sme-i, Sme-i.” bayi di pangkuannya terkekeh geli mengulangi kalimat bunda-nya.
***
Reksa dan yang lain sampai di vila tak lama kemudian.
“Sera, sini Papa mau bicara sebentar.” dia mengulurkan tangannya untuk menuntun Sera ke ruang kerjanya.
Gadis kecil itu seperti melamun, namun seperti mendengarkan. Tangan Reksa di abaikan dan Sera berjalan dengan ekspresi serius menuju ruang kerja Reksa.
__ADS_1
“.....” apakah dia begitu menakutkan?
Namun diabaikan membuat hati Papa Reksa sedikit tercubit.
Keduanya sampai di ruang kerja, dan duduk bersebrangan.
“...” putrinya bahkan kini tak mau duduk sesofa dengan dirinya.
Sebelum Reksa membuka mulut, Sera sudah buka suara lebih dulu.
“...Papa…, mau cari mama baru buat Sera?”
“????”
Gadis kecil itu seperti telah mengumpulkan seluruh kekuatannya dan menatap lurus Reksa dengan mata bulat hitamnya sebelum berkata.
“Kakak tadi… kelihatan lembut dan baik.” kata Sera, tak segan untuk memuji orang yang dipilih Papa-nya. Deanita terlihat masih muda, tak terlihat seperti sudah punya anak sama sekali.
Sera tak akan melakukan kesalahan yang sama. Dia merasa kejadian lalu dengan Cecil membuatnya tak bisa apa-apa. Dia harus bersyukur dan jangan jadi penghalang.
“...Sayang.” Reksa bergerak dan langsung menggendong Sera duduk di pangkuannya.
Mata gadis kecilnya terlihat seperti lubang hitam, dia takut topik ini mengguncangkan putrinya, tapi Reksa harus membicarakannya.
“Papa engga bilang mau menikah lagi.”
“....” Sera diam, sudah jelas tidak begitu percaya. Meski dalam hati dia yakin Papa-nya berkata benar, namun di sisi lain, dia tak bisa melihat masa depan.
“Papa dan ibu tadi…, bisa di bilang kenalan.” kata Reksa setelah berpikir panjang. “Ibu tadi pernah bantuin Papa. Dan sekarang Papa melihat dia kesulitan, gak mungkin Papa harus diam, kan?”
Mendengar itu Sera menengadah dan menatap Papa-nya. Matanya yang redup kini mulai memancarkan sinar.
“Em. Harus saling bantu.” kata Sera setuju. Rasa senang di hatinya tak bisa di sembunyikan.
“Iya, makannya.” Reksa diam sejenak. “Papa ngga anak nikah dulu. Papa udah punya Sera. Papa mau lihat Sera tumbuh dewasa dulu.”
“Dewasa sebesar Kak Shain?”
Hm, Shain sepertinya terlalu tua? Tapi Reksa tak bisa mundur.
“Iya, sampai Sera punya menikah, punya anak, dan punya cucu.”
Sera berpikir dan mengerutkan kening. Dia merasa ada yang aneh, namun lengannya bergerak memeluk Papa-nya.
“Jadi kalau nanti Sera lihat ada perempuan yang dekat dengan Papa, Sera gak perlu khawatir.” Reksa menepuk-nepuk punggung Sera. “Sera bisa tanya Papa, Papa pasti jawab.”
“...”
“Sera dengar Papa, kan? Kalau Sera bingung, Sera tanya Papa.”
“Sera dengar.” jawab Sera pelan.
Sore itu Reksa menghabiskan waktu berdua dengan putrinya. Dia hanya berdiri dan menggendong, sesekali menimang.
Meski keduanya diam, namun kehangatan seperti menyebar ke seluruh ruangan.
__ADS_1