ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
23. Selalunya punya sabar


__ADS_3

Mendengar ada orang gila yang mau mengganti ‘sesuatu’ dalam pembangunan ini, Ikhsan sebagai perwakilan dari dua arsitek yang mengambil bagian dari proyek pembangunan museum arkeologi ini langsung menerima sambungan meeting secara online.


Sementara rekannya, Henry–melanjutkan kontrol di lapangan, di tambah dia tidak mengerti bahasa Negara I. Setiap pertemuan yang berhubungan dengan arsitektur dia membiarkan Ikhsan yang mengurusnya.


Ikhsan sendiri tidak berani mengatakan alasan untuk ‘pertemuan’ ini. Dia mungkin akan di tertawakan.


“Halo, selamat siang.”


Di seberang dia melihat Ketua dari perusahaan konstruksi, juga yang dia ketahui sebagai sekretarisnya, duduk bertiga saja dengan satu orang lagi yang tidak dia ketahui.


Reksa melirik ke laptop dan menunjuk Bintara. “Ini salah satu rekan kita, perwakilan dari MDC.”


Ikhsan mengangguk bimbang. MDC? Kenapa dia tidak tahu? Apa mereka memang punya partner ini?


Ikhsan bertanya-tanya kapan yang lain hadir, tapi sampai Reksa dan pihak MDC bertukar kata, tidak ada lagi yang datang.


Ikhsan lalu mengingat wajah Proyek Manager sebelumnya. Waktu Ikhsan mendengar ada rapat, dia langsung bertanya. Tapi apa katanya saat itu?


“Itu mah urusan bos.”


Di ponselnya masuk pesan dari Henry yang bertanya soal diskusi pertemuannya. Dengan ringan hati Ikhsan membalas ‘Not a big deal.’


Dengan santai yang jarang, Ikhsan mendengarkan pembicaraan keduanya.


Bintara mengetuk-ngetuk meja rapat yang lebar itu dengan tak sabar.


“Ganti manufakturnya.”


Reksa yang mendengarnya mengontrol bibirnya supaya tidak berkedut. Joe yang duduk di sampingnya mengetik sesuatu di tab dengan wajah tanpa ekspresi. Kacamatanya berkilau di bawah cahaya lampu, membuatnya tampak serius dan seperti sedang menangani urusan yang amat penting.


“Manufaktur apa?” tanya Reksa.


“Manufaktur, ya manufaktur! Pokoknya ganti!”


Orang ini bahkan tidak tahu berapa banyak manufaktur yang bekerja bersama mereka untuk proyek ini.


Rancangan ini di buat untuk waktu yang lama, dua kali revisi, dan kontrak yang tertulis sudah bertandatangan. Mustahil di batalkan kecuali ada masalah dengan pemasoknya sendiri.


Pengadaan bahan sedang berlangsung; mungkin sudah selesai. Masalahnya bukan hanya pada denda pembatalan kontrak, tapi hal ini akan menghambat pembangunan dan mengacaukan rencana proyek lainnya.


“...Manufaktur mana?” sia-sia Reksa menemui orang ini. Dia menghela napas dalam hati.


Mendengar itu, Bintara langsung tersenyum lega. Diam-diam Reksa memberi isyarat ke Joe.


Joe tidak menunjukkan reaksi apapun dan memeriksa pesan balasan dari pihak MDC. Sebelum meeting di adakan, Joe sudah mengirim pesan untuk konfirmasi lebih dulu.


Reksa menerima orang ini bukan karena dia penting-penting amat dalam proyek ini. Hanya seseorang yang tidak signifikan di matanya. Orang yang di belakangnya yang menjadi pertimbangan Reksa. Meskipun dia akan senang sekali untuk melempar jebakan pada MDC, tapi tidak pada proyek yang ini, ok?


Joe membaca pesan balasan baik-baik.


Joe: Selamat siang, Pak. Ini dengan Joe dari PT XXX. Sebelumnya mohon maaf atas ketidak-puasan kerjasama kemarin. Saya sangat menyesalinya.

__ADS_1


Pihak MDC tidak mengerti maksud isi pesan itu. Orang yang menerima pesan itu harus mengonfirmasikan dan menanyakan dulu maksudnya sebelum membalas.


MDC: Halo Pak Joe, semuanya lancar-lancar, Alhamdulillah. Sama sekali tidak ada masalah?


Joe: Oh? Tapi Pak Bintara datang ke kantor kami, Pak. Katanya mau ganti manufaktur?


MDC: …


What on earth?


Tentu saja mereka tidak mengerti. Mereka tidak mengirim perwakilan apa pun; tidak ada perubahan apa-apa juga. Maksudnya MDC minta ganti manufaktur itu apa?


Mereka bahkan tidak punya hak untuk melakukan itu di tahap ini!


Bintara?! Orang gila dari mana dia?!


Pihak MDC di seberang langsung menghubungi atasannya.


Bintara yang sedang ‘berdebat’ dengan Reksa, terhenti sesaat begitu ponselnya berdering.


“... Kita lanjutkan saja.” Bintara berniat untuk menghiraukan panggilan.


Namun detik selanjutnya ponselnya kembali berdering.


Reksa duduk dengan tenang. Ikhsan yang di balik layar laptop baru datang kembali dengan segelas cokelat susu. Dia duduk memperhatikan dengan serius. Meski wajahnya kelihatan lebih seperti melamun.


Bintara yang selalu di sela ‘panggilan’ akhirnya mengeluarkan ponselnya.Wajah masamnya langsung berubah pucat saat dia melihat nama di layar.


“...Ya, jadi, saya..” dia membalas dengan fokus yang terpencar. “Saya, saya angkat telepon dulu. Sebentar.”


Reksa mengangguk. Dengan profesional dia berkata pada Joe dan Ikhsan. “Kita rehat dulu sebentar.”


Ikhsan:... apa yang terjadi?


Joe melirik jam. Baru juga mulai sepuluh menit. Ahem.


Hasilnya seperti dugaan. Meski Reksa tidak bisa menebak apa isi percakapan itu, Bintara kembali masuk dengan wajah kusut dan masam. Matanya menatap yang ada di ruangan bergantian, agak menuduh, seperti ingin berkata sesuatu.


“Saya… ada urusan, jadi saya pergi dulu.”


“Oh.” Reksa mengerutkan kening, menunjukkan rasa kesalnya(yang palsu), “Manufakturnya gimana, Pak?”


“Engga, engga. Nanti saya pikirin lagi.”


“Joe, antar Pak Bintara.” Reksa berjabat tangan dengan Bintara sebelum berkata pada demikian pada Joe.


“Baik, Pak.”


Apapun itu kalimat yang ingin Bintara sampaikan, Joe menghentikannya dan langsung menuntun Bintara keluar.


“Idio–,” sepertinya ada yang dia lupakan. Reksa melirik ke layar laptop yang terbuka di sisi lain.

__ADS_1


“Oh, ah, Ikhsan. Iya, ya.” Hampir saja personanya sebagai seorang bos luntur.


Ikhsan yang di layar mengedipkan matanya beberapa kali.


“Gimana kelangsungan pembangunannya?”


“Alhamdulillah Pak, sejauh ini lancar. Pak Wisnu juga sangat mudah di ajak bekerja-sama.” Wisnu itu si proyek manajer. Ikhsan, Henry, dan Wisnu bekerja bersama di lapangan.


Reksa menarik garis miring mendengar nama Wisnu. Tentu saja, demi proyek ini dia melancarkan setiap permintaan Wisnu. Kalau ada yang salah, Reksa akan menguliti orang itu.


“Gimana dengan Henry?”


Ikhsan seperti terkejut, tidak menyangka Reksa akan tahu nama arsitek yang ikut serta bersamanya.


Reksa ingat karena Henry satu-satunya arsitek asing yang bekerja sama dengan dirinya saat ini… karena tingkat dan kelas proyek yang di garap.


Sejauh ini selalunya arsitek lokal yang merancang bangunan.


Begitupun instansi pendidikan lain di luar negeri yang sedang di garap.


“Henry baik, Pak. Malah dia katanya ingin pindah saja ke Kota Y.” jawab Ikhsan bercanda. “Ada problem-problem kecil, tapi dengan adanya Pak Wisnu semuanya langsung di selesaikan.”


Keduanya bertukar obrolan untuk beberapa lama, sampai Joe masuk dan memberitahukan pertemuan selanjutnya, barulah Ikhsan memutus koneksi.


“Soal suplier batu karang untuk daerah L itu gimana perkembangannya?”


“Kemungkinan kita bisa mendapatkan posisi tersebut setelah proyek museum ini di tahap akhir.” kata Joe. Saat itu nilai perusahaan mereka akan lebih baik dari sekarang.


Mendengar itu, Reksa mengangguk-angguk, dalam hati dia belum bernapas lega. Meski dia tidak pernah menyentuh ranah politik, dia bukannya tidak memperhatikan. Kalau Reksa berhasil mendapatkannya, berarti Ridwan sudah berhasil memainkan perannya.


“Tapi saya takutnya kita bukan satu-satunya pihak,”


“Itu sudah pasti.” kata Reksa. “Tapi ini gak akan jadi masalah.”


Yang jadi masalah sebelumnya adalah karena sebagian pihak meng-ekspor batu karang dengan semena-mena, sekalipun berada di bawah pengawasan Badan Negara; mereka yang nakal masih melakukannya hingga sekarang. Sementara yang jadi tujuan Reksa adalah, dia mau membuka bidang pariwisata, sebagai tur terumbu karang salah satu daya tariknya.


Kepulauan yang di pilih adalah pulau Sarasa.


Sementara turis berdatangan, dia akan jadi kontraktor solo di sekitaran daerah.


Rencananya proyek ini akan di garap tanpa melibatkan pihak investor… intinya, dia berniat mengembangkan pulau ini dengan dana pribadi. Nantinya, setiap bangunan wisata, hotel, dan rekreasi di sekitaran Sarasa akan berada di bawah namanya.


“Bidding tanahnya juga sudah dalam proses penyerahan Pak.” kata Joe, lalu menunjukkan layar tablet ke muka Reksa yang menampilkan angka fantastis.


“....” semua perlu uang. Reksa menarik napas dengan penuh kesakitan di dadanya. “Em, kerja bagus.”


Keduanya sampai di ruang rapat lain dan masuk beriringan.


Reksa yang tadinya santai, langsung kaku mukanya begitu mengingat angka yang tertera di layar tablet barusan.


Sepertinya dia bekerja kurang keras. Reksa menggeritkan gigi.

__ADS_1


*****


__ADS_2