
Hal yang patut disyukuri setelah Reksa menyadari bahwa putri Deanita sudah lahir adalah, Reksa tidak bermimpi. Baisanya mimpi itu selalu muncul seperti peringatan. Reksa menilai bahwa langkahnya selama ini sudah benar.
Seminggu itu kegiatan berjalan seperti biasa.
Reksa memeriksa jadwal dan menemukan bahwa minggu depan dia harus ke luar negeri. Tidak seperti sebelumnya, pekerjaannya kali ini memakan waktu seminggu.
Reksa langsung galau.
Di saat yang bersamaan, Wana masuk dan menyampaikan informasi mengenai jamuan malam itu serta daftar tamu penting yang perlu perhatian lebih.
Wana selesai menyampaikan laporan. Berhubung Bos-nya belum mempersilakan, Wana masih diam di tempat.
“Bapak mau menu spesial siang ini?” kata Wana basa-basi karena tidak kuat dengan hening yang lama.
“....” Reksa duduk bersandar ke punggung kursi dengan tangan menopang dagu.
Bos-nya sering menunjukkan ekspresi lurus seperti ini. Orang mengira dia tidak mendengarkan, namun begitu melakukan kesalahan, matanya akan langsung berubah tajam seperti mata elang.
“...Hm.”
Wana tidak tahu bahwa kali ini Reksa benar-benar melamun.
“Gimana persiapan ke Negeri H nanti?”
“Lancar, Pak.” karena sudah direncanakan jauh-jauh hari, Wana dan kelompok sekretaris yang lain menata jadwal seoptimal mungkin.
Mendengar itu Reksa menghela nafas panjang. Ini kali pertama dia terpisah dengan Sera begitu lama. Dia belum bilang sama sekali. Kalau dia tidak membuka kalender dia benar-benar akan lupa dan langsung menghilang begitu saja.
Putrinya pasti akan sedih sekali.
Reksa melambaikan tangannya dan Wana keluar ruangan.
Sebenarnya bukan masalah besar untuk Sera mengambil izin seminggu. Kejadian terakhir membuat Reksa jadi orangtua yang tidak beralasan. Dia ingin membawa serta Sera bersamanya.
Yup.
Bukankah Sera masih kelas satu SD? Waktu kelas satu, Reksa masih asik bermain dan tidak belajar sama sekali. Seminggu tidak sekolah tidak masalah.
Tapi dia harus tetap menanyakan opini putrinya.
Setelah memberitahu Shain, Sera menerima telepon dari Reksa saat istirahat siang.
“Papa!” suara gadis kecil itu selalu bersemangat setiap Reksa menelepon.
“Em, gimana di sekolah?”
“Biasa aja.. asikkan di rumah, soalnya ada Papa.”
Reksa sudah sering mendengar kalimat ini, namun dia tidak pernah berhenti merasa senang mendengarnya.
Dia yakin putrinya akan mau ikut tanpa dia harus bertanya. Tapi karena sudah tersambung, sekalian saja.
“Papa ada kerjaan keluar negeri minggu depan. Sera mau ikut ngga?”
“...Keluar negeri?”
“Iya, asik loh disana ada salju,”
“Papa lama disananya?”
“Engga lama, cuma seminggu.”
“..sekolah Sera gimana?”
“Sekolah nanti Papa minta izin, gak apa-apa, kok.”
Tidak perlu waktu lama untuk Sera memberi jawaban.
“Engga, aja Papa berangkat.” seakan tak cukup, Sera menambahkan. "Sera gak akan ikut."
__ADS_1
“????” Reksa menurunkan ponselnya dan melihat nama yang tertera. Ini sungguhan putrinya? Putrinya yang selalu ingin menempel padanya?
Wajah Reksa sudah berkerut khawatir namun suaranya tetap stabil ketika ponsel di tempelkan lagi ke telinga.
“Kenapa?”
“...Sera harus sekolah.”
“....” Reksa tidak bisa mengatakan apa-apa soal putrinya yang sangat bertanggung-jawab lebih dari dirinya.
“Betul ngga mau ikut?” dia ingin menjual belas-kasihan bahwa dia kesepian dan sendirian. Namun dia pikir hal itu terlalu memalukan.
“Um. Papa kerja, Sera sekolah.”
Baiklah.
Keduanya bertukar beberapa kata sebelum sambungan di putus.
Reksa pikir, apakah dia mendidik putrinya terlalu keras? Putrinya sangat pengertian kalau soal pekerjaan dan tidak pernah menyusahkannya.
Reksa merasa sedikit mencelos hatinya.
***
Hari keberangkatan Reksa akhirnya tiba.
Meski Sera ada sekolah pagi itu, dia izin untuk mengantar Papa-nya ke bandara dan akan masuk di jam pelajaran keempat.
Reksa yang merasa kehilangan jadi sedikit terobati.
Pukul delapan lewat tiga puluh, Wana mengingatkan untuk bersiap-siap.
Sera yang memainkan teka-teki silang di tablet bersama Papa-nya, langsung mengangkat wajahnya.
Ekspresinya biasa, namun matanya menatap Reksa kosong.
Reksa kemudian sadar bahwa bukan cuma dirinya yang merasa berat.
Kemarin-kemarin Sera merasa baik-baik saja. Namun semakin mendekati hari keberangkatan papa-nya, Sera merasa semakin sedih. Reksa juga menyadari bahwa putrinya jadi tidak seceria sebelumnya.
Dia kira ada masalah dengan temannya. Rupanya karena dirinya?
“Sekolah yang rajin, makan jangan kelewat, dengerin apa kata Bi Sri, ya?”
Sera mengatupkan mulutnya tidak menjawab. Dengan mata merah gadis kecil itu mengangguk pelan.
“Nanti Papa pulang bawa oleh-oleh. Sera mau apa?”
Sera diam beberapa saat. Dia menggeleng lalu memeluk Papa-nya erat.
Dia tidak mau oleh-oleh saat pulang. Dia hanya mau Papa-nya.
Reksa merasa hatinya melemah, dia hampir berseru pada Wana untuk membatalkan saja….
Wana yang berdiri beberapa meter dari ayah dan anak itu merasa tengkuknya mendingin. Untungnya perasaan itu hanya beberapa saat.
“Gimana kalo nanti main ke waterboom?”
“Waterboom?” mendengar itu, kesedihan Sera teralihkan.
“Iya, tau kan waterboom? Tempat main air itu.”
“Oh!!”
Reksa membuka tablet dan menunjukkan wahana yang dimaksud. Melihatnya, mata Sera langsung berbinar.
Gadis kecil itu mengangguk-angguk semangat.
Keduanya tertawa senang dan bertukar canda..
__ADS_1
Wana…., sudah mulai gelisah.
“...Pak.” dia memanggil hati-hati.
Reksa melirik dari bahunya dengan mata sinis yang jelas tak suka.
Wana: ku hanya mengingatkan.
Namun perpisahan harus terjadi.
Saat Reksa melakukan pengecekan, Sera akhirnya tak bisa menahan tangis.
Gadis kecil itu menatap kepergian Papa-nya dalam diam. Bi Sri yang memeluk Sera merasa sangat kesulitan. Sedih melihat Nona-nya menangis.
Tapi Sera tidak berisik, atau memanggil Papa-nya. Hanya menatap punggung Reksa sambil sesenggukkan.
Sementara Sera merasa seminggu itu tidak menyenangkan dan lesu, Reksa tidak punya waktu sama sekali untuk meratap.
Dia dikenalkan pada seorang pengusaha lokal dan mendapatkan projek penting yang tidak disangka. Perjalanan bisnis yang tadinya seminggu di perpanjang tiga hari. Pekerjaan yang di geser menumpuk dan dia hanya sempat menelepon Sera dua hari sekali di akhir-akhir.
Pukul sebelas malam, Reksa sampai di bandara dan diantar pulang asistennya yang sudah kering dan kelelahan wajahnya. Begitu pintu berbunyi, Bi Sri yang sudah diberitahu mengenai kepulangan tuannya langsung sibuk bergerak.
“Mau makan, Tuan?”
“Air anget aja.”
“Baik,”
Reksa meregangkan badannya yang pegal setelah terlalu lama duduk di pesawat. Dia meletakkan tasnya di sofa sebelum bergerak ke kamar Sera.
Namun sosok kecil yang semestinya berada di atas kasur tidak terlihat sama sekali. Reksa menghela napas tak berdaya dan bergerak membuka lemari.
Namun Sera tak ada.
Dia mulai panik dan memeriksa seisi ruangan.
“Bi!”
Mendengar seruan tuannya yang menggelegar di malam yang hening itu, Bi Sri terlonjak kaget dan langsung berlari menghampiri.
“Ada yang salah, Tuan?”
Reksa menunjuk ranjang yang kosong dengan wajah memerah menahan marah. Tanpa berkata apa-apa.
“..Oh!”
Oh?? Masih bisa bilang Oh!!
“Sepertinya... Nona ada di kamar Tuan.”
Mendengar itu amarah Reksa langsung padam.
“Hah?”
“Seminggu lebih ini tiap saya bersih-bersih, kasur Tuan selalu agak kusut. Saya kira mungkin Nona sempet main di kamar Tuan.” Bi Sri tidak pernah mengira Sera yang tidur dengan patuh di bawah pengawasannya akan menyelinap dan tidur di kamar Reksa selama ini.
“Mohon maaf, Tuan. Ini kelalaian saya.”
“–Nggak..,” Reksa memegang dahinya dan melambaikan tangan, malu. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah marah pada Bi Sri, berpikir bahwa Sera hilang di bawah pengawasannya. Untung saja dia tidak langsung mengamuk.
“Ini air hangatnya, Tuan.”
“Makasih.” Reksa mengangguk dengan lemas.
Bi Sri tahu bahwa majikannya hanya khawatir dan tidak memasukkannya ke hati. Reksa mempersilahkan Bi Sri pergi sebelum dia beranjak ke kamarnya.
Benar saja, ketika dia menyalakan lampu, Sera tengah tertidur di ranjang yang lebar sendirian.
“...” Reksa merasa gemas namun perasaannya lebih ke sayang.
__ADS_1
Saat Sera bangun pukul lima dan bersiap menyelinap kembali ke kamarnya, dia melihat Papanya tidur di sisinya.
Gadis kecil itu langsung berseru dan melompat ke perut Reksa, membuatnya melotot terbangun seketika.