
Sementara itu, di Rumah Sakit.
Givanne, pengusaha keturunan campuran yang baru saja di selamatkan, sebenarnya hanya lupa untuk meminum obat daruratnya. Meski begitu, yang Arina lakukan tetap menyentuh hati pria 40 tahun itu.
Yang utama sebenarnya, Arina memiliki sisi feminin yang jadi ideal para pria. Cantik dan eksotis, matanya yang berkelip itu seperti cermin yang menunjukkan isi hatinya.
Bentuk sederhana yang selama ini Giovanne cari.
“Kamu yakin gak akan ikut makan malam dengan saya?” tanya Giovanne dengan bahasa Inggris yang bercampur dengan aksen lokal.
Sebelum Arina menjawab, Sera yang duduk di samping Arina langsung mengeluarkan suara ‘Cssss.’ seakan mencibir.
“Oh.” Giovanne tidak begitu suka dengan anak kecil, namun memikirkan hubungan si gadis kecil ini dengan Arina, Giovanne merasa bisa sedikit lebih sabar.
“Kalau adik kecil ini gimana?” tanya Giovanne lembut. Dia pikir ini nada paling lembut yang pernah dia pakai seumur hidup. Bahkan asistennya yang berdiri di belakang bersama pengawal sampai merasa bulu kuduknya merinding.
Dari sudut pandang Giovanne, Sera menerima perlakuan khusus.
Tapi Sera yang diberi perlakukan istimewa itu justru menyeringai. Arina yang hampir tersenyum menyaksikan itu segera menutupinya dengan menarik cangkir kopi ke bibirnya. Wajah Sera waktu menunjukkan ekspresi itu mirip sekali dengan Reksa…
Biasanya Sera terlihat ceria dan menggemaskan. Sungguh hal yang langka melihat gadis ini bersikap antagonis pada seseorang.
Giovanne berhenti memberi Sera perhatian dan beralih ke Arina.
“Saya pikir anda sudah stabil,” kata Arina. Dia ingin segera pergi dari sini. Reksa pasti sudah menerima laporan dari pengawal dan merasa khawatir.
Giovanne yang beberapa jam lalu terbaring di jalan kini duduk tegak dan gagah di sofa seberang Arina. Sejak tadi, setiap Arina mau bangun, Giovanne akan menahan dengan tersirat.
Di belakang pria itu berdiri sederet pria berjas dan berkacamata hitam. Di belakang Arina berdiri empat orang pengawal, namun mereka kalah jumlah. Arina tidak ingin membawa masalah pada Reksa, dia hanya ingin menyelesaikan semua ini dengan damai aman dan tenang.
“Ughhh.” Giovanne langsung memegang dada kirinya. “Mungkin kelihatannya saya sudah stabil, kenyataannya, masih ada luka disini yang tersembunyi dan akan kambuh kapanpun saya sedih.”
“Tapi dengan kamu disini, saya pikir saya akan terus stabil.” kata Giovanne memberi sinyal.
Tok.
Sera meletakkan gelas panjangnya yang berisi susu dan bertanya dengan wajah yang menunjukkan keheranan yang amat sangat.
“Tolong ya, Kakek jaga sikap di depan aku!” Sera berseru dengan bahasa Inggris yang fasih. Giovanne tidak terkejut sama sekali. Dilihat sekilas,dari pakaian, pendidikan, karakter, kalau tidak yang terbaik sudah pasti bukan rendahan.
Giovanne kembali fokus ke kalimat Sera, apa maksudnya jaga sikap itu?
“Gadis kecil, sikapku baik-baik saja. Ini normal.” Untuk ukuran seseorang yang mau menggoda, ini wajar. Dan lagi, kenapa dia di panggil kakek?
Giovanne sebenarnya tidak terlihat tua. Untuk usianya yang sudah menginjak 40, badannya masih bugar dan kerutan lambat muncul di wajahnya. Kalau bersanding dengan Reksa mereka akan disangka bersaudara. Hanya yang beda auranya berat dan berwibawa. Darahnya yang campuran juga membuat wajahnya jadi favorit gadis-gadis muda yang suka om-om istimewa.
Giovanne pria berkarisma yang berpengalaman. Dia kaya, misterius, dan berbahaya. Apa yang kurang dari dirinya?
“Hmp. Bukannya berterima kasih dan sopan, malah kaya preman!” kata Sera, kali ini dia benar-benar marah. Beraninya kakek ini menggoda kak Arina di depan dia!
Kak Arina dan Papanya baru memulai perjalanan cinta mereka!
“Mana ada Paman kaya preman?” Giovanne bertanya balik.
Mendengar itu Sera langsung berdiri dan menunjuk orang-orang yang berdiri di belakang Giovanne.
“Itu! Kalau tidak kenapa orang-orang itu memelototi!” Sera melipat tangannya di dada dan mencibir. “Hmp, bisanya menindas perempuan dan anak kecil. Kalau bukan preman apa namanya?” Semarah apapun Sera, dia tidak belajar berkata bahasa kasar, jadi meskipun kesal, kata-katanya tetap sopan.
__ADS_1
Giovanne yang mulanya tidak suka anak kecil, mulai tertarik.
Akhirnya di mulailah perdebatan antara pria 40 tahun bersama gadis kecil 8 tahun.
“Gadis kecil, kamu tidak boleh menilai orang dari penampilan luar dan mengabaikan isi hatinya.” Gio menunjuk ke belakang dengan jempolnya. “Orang-orang ini sudah dari lahir matanya melotot, tapi paman jamin mereka orang yang loyal dan setia.”
Hmp, jangan kira kata-kata itu bisa membodohiku. Sera berkata dalam hati.
“Kalau begitu, apa mereka orang baik?”
“Hm?” Kalau disebut jahat… tidak terlalu. Tapi di bilang orang baik… hmmm.
Sera, anak kecil yang Giovanne sangka hanya anak kecil, mendecakkan mulutnya.
“Hm? Tidak bisa jawab? Kalau ambigu seperti ini, akhlak mereka pun dipertanyakan!” Kata Sera. “Aku mau pulang!” Sera berkata tegas.
“Oh,”
Gadis kecil ini sangat sensitif soal karakter seseorang. Giovanne tersenyum kecil, malah merasa gadis kecil ini menggemaskan.
“Gadis kecil, kamu harus tanya dulu kakakmu.” kata Giovanne menunjuk ke Arina. “Kakaknya masih ingin duduk disini kan?” saat mengatakan kata-kata itu, tanpa sadar Giovanne menggunakan sedikit intimidasi.
Arina yang menerimanya tidak sedikit pun berubah ekspresinya. Meski dia tahu pria di depannya tidak akan menyakiti, dia tetap berbahaya.
Sebelum Arina menjawab, Sera sudah mendahului.
“Kakak?” Sera menggelengkan kepala. “Kakek ada salah paham ya, disini? Aku, jalan sama Mamaku.”
Arina: ….
Giovanne: …
Pengawal Giovanne: ….
“A-apa?” Giovanne yang tidak pernah gugup mendadak gagap.
“Aku bilang, dia bukan kakakku, tapi Mamaku!” Sera menangkap tangan Arina. Kalau dia tidak melakukan ini, Kak Arina bisa di curi orang!
Sera memperhatikan dengan seksama, paman–ah maksudnya, kakek di depannya ini cukup tampan, jika dibandingkan dengan Papa-nya, hanya sedikit, sedikit inferior dari Papanya.
Tapi saat ini perasaan Kak Arina dan Papanya belum begitu dalam, Sera takut kalau dia diam saja, Kak Arina akan goyah hatinya. Siapa tahu, kan.
“Oh,” Arina adalah Mama-nya Sera? Memikirkan bahwa Sera akan jadi putri masa depannya, Giovanne langsung cerah wajahnya. “Kalau begitu…”
“Aku juga punya Papa.”
“...Hmm?”
“Aku punya Papa! Aku kesini sama Papa dan Mama!”
“Huh…,” Giovanne diam mencerna kalimat itu sampai akhirnya mengerti. Namun kemarahan yang di takutkan Sera dan Arina tidak terjadi. Pria itu hanya tertawa pelan dan menggeleng lemah.
“Oh.., sayang sekali kalau begitu.” Giovanne memberi isyarat pada pengawal di belakangnya. Satu orang bergerak dan membukakan pintu.
“Meskipun saya jatuh hati denganmu, saya bukan orang yang tidak beralasan. Saya tidak tahu kalau kamu menikah..” Giovanne menghela napas menyesal. “Mohon maaf dengan sikap saya yang membuatmu tidak nyaman.”
“Oh, tidak apa-apa.” Arina menggeleng, dalam hati merasa lega sekaligus sedikit ragu.
__ADS_1
“Dimana penginapan kalian? Biar saya antar?” Giovanne sekalian ingin melihat seperti apa ‘Papa dan suami’ kedua orang di depannya.
“Tidak perlu.” Arina menggandeng tangan Sera. “Kita ada sopir yang mengantar.”
“Oh, baiklah kalau begitu.” Giovanne ikut berdiri mengantar keduanya keluar ruangan.
“Sampai jumpa lagi gadis kecil.” Dengan senyum ramah Giovanne melambaikan tangan.
Sera tidak membalas dan hanya menatap penuh curiga, sebelum berbalik.
Giovanne: ^^ anak kecil ini sangat kuat instingnya.. haha
Setelah rombongan Sera dan Arina menghilang di balik pintu lift, senyum di wajah Giovanne luntur. Matanya menunjukkan gelap yang nampak lesu. “Periksa mereka.”
“Baik.”
“Hm… sudah menikah.” Arina terlihat muda dan meski dia lembut, Giovanne tidak melihat ikatan yang kuat sebagaimana anak perempuan dan ibu. Kecuali memang mereka tidak akrab, atau Arina adalah ibu tirinya.
“Menarik.” kalau benar mereka menikah, Giovanne bisa mendapatkan keduanya dengan menggantikan posisi sebagai ‘suami dan papa’- keduanya. Meski gadis kecil itu kelihatan galak, namun karakternya keras dan cerdas. Karakter yang jadi favorit Giovanne untuk di kembangkan. Anak sekecil itu tinggal di cuci begini dan begitu. Ah, tapi dia lebih suka menggunakan cara yang lembut. Sedikit manipulasi tidak apa-apa lah.
Di dunia ini, banyak hal yang tidak terduga. Seperti bencana alam, musibah, dan kecelakaan, misalnya.
“Ah…, aku ingin makan sarma. Bawakan aku sarma.” kata Giovanne santai sambil berjalan kembali masuk ke dalam kamar inap.
***
Reksa turun dari mobil bersamaan dengan Arina dan Sera yang keluar dari rumah sakit. Melihat keduanya nampak baik-baik saja, Reksa menghela nafas lega.
“..Papa!!”
Melihat Sera yang wajahnya seperti habis di tindas, Reksa langsung membuka tangan dan memeluk putrinya. “Masuk dulu ke mobil, nanti ngobrolnya di dalem, ya.” Reksa tidak mau berlama-lama disini.
Tidak menunggu untuk bernapas, Sera langsung mengadu pada Papa-nya begitu duduk di kursi mobil.
“Papa gak tahu tadi kita hampir di culik!” serunya marah.
“Apa?”
Arina yang baru duduk hampir terjeduk kepalanya mendengar hal itu. Sera, mengejutkannya bisa mengubah review negatif jadi review kriminal, tergantung isi hatinya.
Sera memperhatikan ekspresi Papa-nya yang nampak sedang berpikir. “Papa, kita pulang lagi aja.” kata Sera tanpa bisa di bantah.
“Huh?”
“Kak Arina.” Sera memanggil, menatap Arina dengan tatapan sedih. “Kakak gak apa-apa kan, kita pulang?”
“Kita baru sampai, mana bisa langsung pulang? Kan besok juga pulang.” meski berkata demikian, dalam hati Reksa setuju dengan kata-kata Sera. Dia tidak punya cukup waktu untuk memeriksa siapakah Giovanne ini. Di saat seperti ini, akting Ayah dan anak terlihat sinkron. Yang satu memaksa, yang satu pura-pura terpaksa.
"Papa gak lihat dia!"
"Sera..,"
“Uh, ngga apa-apa.” sambil berkata demikian, Arina menahan lengan Reksa; supaya pria itu berhenti melarang. Arina kemudian menatap Sera. “Kak Rina juga berpikir lebih baik untuk kita pulang.” Arina mengulas senyum sederhana. “Kita bisa datang lagi untuk liburan, atau pilih tempat lain.”
“Um!!” Sera mengangguk dalam.
Selesai makan malam, Reksa dan rombongan langsung terbang kembali ke Negara I. Waktu Giovanne menerima informasi mengenai Arina, dia mendapati incarannya sudah meninggalkan negara.
__ADS_1
“Huh.” Bersama kertas laporan, dia menatap foto Reksa yang tersemat. “Benar-benar cepat kalau soal melarikan diri.” namun selanjutnya mata Giovanne beralih ke informasi mengenai perusahaan Reksa dan proyek pariwisatanya di Negara T “Ah, ah… sungguh kebetulan yang tidak disangka.”