ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
26. Kamu pindah, atau aku yang pindah?


__ADS_3

–Halo, saya Irna.


Sera yang sedang membaca ensiklopedi anatomi langsung melempar bukunya dan berlari menuju pintu depan begitu mendengar suara familiar di interkom.


Ada yang aneh hari itu. Selain Papa Reksa, Pengasuh Sri yang sedang masak di dapur, ada orang baru–bukan Guru Irna–yang berdiri di sisi pintu.


Sera aneh melihat orang ini berdiri di pintu masuk seperti dirinya.


Kakak-kakak, perempuan, katanya namanya Shain. Usianya 24 tahun–masih muda, kalau kata Papa. Katanya dia akan mengawal Sera.


“...” tapi orang ini tidak pernah tersenyum, berdiri dari jauh, Sera selalu merasa orang ini menatap dirinya dengan tajam.


Sera meraih pegangan pintu--bersiap untuk membukanya, namun Shain mendahuluinya.


Sera dan Shain saling bertatapan. Shain merasa bersalah karena memadamkan semangat Sera, sementara Sera merasa kesal karena orang ini mendahuluinya.


Shain membuka pintu lebar-lebar dan perhatian Sera teralihkan ke sosok yang berjalan mendekat.


“Assalamu’alaikum! Sera!”


“Bu Ilna!” Dia berlari melewati teras sebelum menerjang dan memeluk Bu Irna seperti yang sering dia lakukan di sekolah.


“Masuk, masuk, ini lumah Sela. Ayo masuk, Bu Ilna!”


Guru Irna tertawa melihat gerakan Sera. Dia kira muridnya yang satu ini akan langsung pindah dan melupakannya. Tak di sangka dia menerima undangan makan siang. Ini sudah hari ketiga dia tidak melihat Sera, omong-omong.


Shain yang berdiri tak jauh hanya mengangguk pada Guru Irna, tak menambah ekspresi apa pun lagi. Rambutnya di kucir rendah dengan rapi, posisi siap dan jas hitamnya mencirikan profesi khusus yang Guru Irna kenali.


Dia tidak bicara banyak, memikirkan status Reksa, Guru Irna hanya mengangguk.


Shain melihat keduanya saling berpelukan seperti kakak-adik dan masuk ke dalam. Dia tidak pernah menyangka, Nona kecil yang dia pikir pemalu, introvert dan lembut itu ternyata bisa aktif juga.


Interaksi paling jauh yang keduanya lakukan, Shain ingat. Saat keduanya berebut pegangan pintu.


Ya barusan itu.


Mengingat kembali mata bulat Nona-nya yang menatap dari jauh, Shain menarik napas panjang.


Nona-nya sangat manis.


Sayang sekali, meskipun dia suka anak kecil, yang jadi kesukaannya tidak pernah menyukai Shain.


“Bu Ilna,” Sera menepuk-nepuk sofa dengan semangat. “Tas!”


Tanpa menunggu respon, Sera kembali ke Guru Irna dan mengulurkan tangannya.


“Tas.”


“Oh…,”


Wanita muda itu menyerahkan tas di tangannya pada Sera, sambil bertanya-tanya mau diapakan.


Tapi Sera hanya meletakkan tas itu, lalu menarik tangan Guru Irna untuk tur keliling ruangan.


Menghadapi antusias ini, Guru Irna tentu saja senang.


“Ini tinggi Sela. Sela naik… lima…meter!”


Sera menunjuk garis tanda di tembok yang baru di buat oleh Papa-nya.


“Sera tinggi lima meter?”


“Yup.” anak itu seperti dapat ide, lalu mendorong pelang Guru Irna ke tembok sebelum berlari mencari spidol kertas.


Sekembalinya dia, menyaksikan tinggi yang tidak tercapai, Sera langsung kebingungan harus apa.


Guru Irna mengambil spidol dari tangan Sera dan memberi tanda sendiri.


“Wow! Tinggi!” Sera melihat perbandingan tinggi dirinya dan Guru Irna.


Gadis kecil itu lalu membawanya ke atas setelah selesai tur lantai pertama.


“Slowly.” Sera menatap Guru Irna dan meniru Papa-nya, memperhatikan kaki guru-nya menaiki tangga.


Geli sekaligus tersentuh.


“Ini kamal tamu. Bu Ilna kalau tidur… tidur disini.”


“Oh, kamar tamu, oke.” hanya saja tidak ada kesempatan untuk dirinya tidur disini.


“Ini kolam lenang, untuk belenang. Sela masuk ke ail, sakit hidung. Gasuka belenang.” kaki kecilnya lalu berlari, namun mendekati kolam berenang dia langsung berjalan dengan sangat lambat.


“Dalam, Bu Ilna jangan masuk.” katanya, seperti membagi rahasia besar.


Tiba-tiba, suara rendah menyela obrolan keduanya.

__ADS_1


“Sera.”


“Papa!” gadis kecil itu langsung berlari ke Papa-nya dan di ayun ke gendongan.


“Papa, ini Bu Ilna.” ini bukan kali pertama Sera memperkenalkan satu orang dengan orang lainnya. Dia biasanya mengambil peran itu di sekolah kalau ada anak baru. Sayangnya anak-anak kecil itu tidak mengerti. Sera merasa tidak diapresiasi. Tidak masalah.


“Bu Ilna, ini Papa Sela.”


“Halo.” keduanya berjabat tangan sebelum Reksa meminta maaf karena baru muncul.


Obrolan orang dewasa agak membosankan untuk anak-anak, tapi Sera memiliki ketertarikan tidak biasa. Dia mendengarkan dengan serius.


Ketiganya menuruni tangga dan duduk di ruang tengah.


Sementara Reksa berbincang dengan Guru Irna, Sera beranjak ke dapur membawakan minum dengan nampan kecil bergambar tanaman. Dia punya satu set dapurnya sendiri.


Setelah menerima ucapan terimakasih, Sera tidak menyela atau mengganggu selama papa-nya mengobrol. Dia menarik kotak balok yang di letakkan di sisi meja tv dan menghamburkannya ke atas sofa di sisi Reksa sebelum memainkannya.


“Selama tiga hari ini berarti Sera belum masuk sekolah, ya?” tanya Guru Irna.


“Engga buru-buru, kebetulan kantor saya juga pindah, jadi kita lagi di rumah dulu.”


Reksa membuka keler-keler kue satu persatu sambil membalas. Sera yang senantiasa memperhatikan dari ekor matanya, melihat itu dan langsung turun untuk membuka keler yang lain sebelum kembali duduk dan bermain.


Kedua orang dewasa itu sepakat untuk tidak mengomentari dan hanya memperhatikan. Baik Reksa maupun Guru Irna tidak dari keduanya yang terus melontaran pujian.


Menganggap bahwa semua gestur ini adalah natural dan kewajaran.


Guru Irna tidak pernah tahu interaksi seperti apa antara ayah dan anak ini.


Dia menyaksikan Reksa tidak berkata apa-apa, namun mata itu menatap Sera lembut, tersirat kebanggaan disana.


“Sera anaknya mudah bergaul, dia pasti adaptasi dengan baik di sekolah baru-nya.”


Sera yang mendengar namanya di sebut, tidak yakin dengan isi kalimat itu. Tapi dari nadanya, dia pasti habis di puji. Sera pura-pura fokus bermain.


“Saya harap Sera ngga merepotkan di sekolahnya.”


Mendengar itu Sera melotot ke Papa-nya, tapi langsung ingat dia sedang pura-pura tidak mendengarkan dan akhirnya tidak protes–dia kembali menyusun balok.


Guru Irna yang memperhatikan dari seberang menahan senyum dan menjawab. “Sama sekali ngga. Sera sangat patuh dan selalu membantu teman-teman di sekolahnya. Dia populer banget di sekolahnya.” kalimat terakhir di ucapkan dengan sedikit berbisik.


Sera mengerutkan kening karena tidak bisa mendengar itu apa.


Keduanya membahas topik lain sebelum kembali.


Dia tahu, tidak semua anak sebaik putrinya. Kesulitan itu pasti ada. Dia bisa membayangkan kekacauan di TK hanya dengan memikirkan sepuluh Sera menangis bersamaan.


Bencana.


Guru Irna mengerti kekhawatiran itu. Banyak yang mesti di pikirkan apalagi sebagai ayah tunggal. Sekali lagi dia merasa tersentuh dengan perhatian yang Reksa tunjukkan. “Di TK baik, baik banget. Semangat itu kaya ngga pernah luntur. Energinya seperti ngga ada habisnya!”


Reksa heran sekaligus kagum dengan antusias Guru Irna. Masih ada rupanya guru muda yang memiliki semangat seperti ini.


“Betah tapi, kan?”


Guru Irna sedikit bingung. Mungkin Sera tidak pernah bercerita apa-apa? Guru Irna hanya menjawab sesuai pandangannya.


“Iya betah.Tapi kan mau pindah?”


Reksa terkejut. “Loh, mau pindah?” Sera tidak bercerita apa-apa. Dia kira Guru Irna akan mengajar untuk waktu yang lama?


Sera langsung berseru. “Mau pindah?” mungkinkah Guru Irna akan ikut ke sekolah barunya?


Guru Irna: …. kayanya ada yang salah?


“Sera bukannya mau pindah?”


Reksa kemudian sadar. “Oh, iya, dia pindah..,”


Keduanya saling bertatapan canggung. Guru Irna memasang senyum bisnis, ekspresinya tidak menunjukkan hal lain. Tapi wajahnya yang perlahan memerah menyangkal semua itu.


Reksa akhirnya tertawa. Rupanya Guru muda ini mudah merasa malu juga.


“Maaf, maaf, saya yang salah paham.” sebagai gentleman, dia pura-pura tidak sadar.


Sera berkedip beberapa kali. Dia juga melihat wajah Guru Irna yang memerah namun fokusnya ke hal lain.


“Bu Ilna pindah juga?” gadis kecil itu sudah berdiri di samping Guru Irna, memeluk pahanya.


Guru Irna yang sudah lega wajahnya kembali memerah mengingat kesalah-pahaman tadi.


“Engga, Bu Irna ngga pindah.”


“Sela aja yang pindah?”

__ADS_1


“Iya.”


“Bu Ilna ikut Sela.” anak itu diam sejenak. “Sela baik, yang di sekolah ngga.” jelasnya dengan percaya diri. Orang yang Sera maksud adalah anak laki-laki yang selalu membuat Guru Irna kerepotan. Namun untuk ukuran anak kecil hal itu normal.


Sera salah satu anak yang paling observan.


“Bu Irna tetap disana supaya semuanya bisa jadi bagus kaya Sera.”


Mendengar itu Sera tak bisa berakata apa-apa. Dia hanya memasang wajah cemberut. Mau bagaimana lagi, Guru Irna memang seperti malaikat. Terang-terangan, Sera menghembuskan napas panjang.


Guru Irna: ???


Sampai Pengasuh Sri keluar dari dapur dan selesai masak barulah atmosfer berganti.


“Semuanya makan bareng aja.” kata Reksa. Karena ini bukan acara makan formal. Dia ingin suasana membantu Sera untuk tidak terus memikirkan ‘pindah’dan ‘pindah’.


Oke, dia sebenarnya ingin membuat Guru Irna lebih nyaman. Kalau hanya dengan dirinya sepertinya wajah guru muda itu akan memerah lagi.


Shain juga ikut duduk makan siang. Ini kali pertama dia jadi pengawal pribadi, karenanya dia agak sedikit kaku begitu dia duduk bersama majikannya.


Kelimanya makan bersama. Kecuali dengan Shain, Sera akrab dengan yang lainnya. Anak itu aktif bicara; Reksa juga tidak menegur untuk makan dalam diam seperti biasa.


Selesai membantu meletakkan piring kotor, Sera langsung menarik tangan Guru Irna ke kamarnya.


Reksa sebenarnya tidak pernah meminta Sera untuk melakukan pekerjaan rumah; selain membereskan mainannya. Tapi gadis kecil itu seperti memiliki tedensi untuk melakukannya. Dia tidak tahu motivasinya apa, tapi Reksa tidak menghentikannya.


“Bu Ilna, tidur.”


“Huh?”


“Tidul siang. Nap time.” Sera menunjuk ranjang biru mudanya.


Reksa hendak menghentikan tapi Guru Irna sudah mengiyakan.


Sementara Sera berbaring di ranjang, Guru Irna bersandar ke kepala ranjang dan mulai mengambil satu dongeng yang paling dekat.


Panglima Terhebat, judulnya.


Dengan terlatih Guru Irna mulai membacakan cerita.


Hari ini Sera bangun begitu pagi dan aktif melakukan banyak kegiatan untuk mempersiapkan kedatangan gurunya.


Di sela-sela kelopak matanya yang mulai berat, Sera ingat dia belum menunjukkan harta karunnya pada Guru Irna. Dia pikir, dia akan menunjukkannya pada Guru Irna saat bangun nanti.


Sayangnya saat dia bangun, Guru Irna sudah pulang ke rumahnya.


“Maaf saya harus pulang sekarang.” Guru Irna merasa tidak enak, karena tidak bisa pamit langsung pada Sera.


“Ngga apa-apa, nanti saya yang kasih tahu. Makasih udah datang, maaf Sera merepotkan.”


“Sama sekali ngga.”


“Kalau ada waktu mampir ke rumah sekali-kali.”


Guru Irna tahu maksud dari kalimat Reksa dan mengangguk mengerti.


“Oh iya, ini.” Reksa menyerahkan tas kertas berisi manisan dan sebuah amplop.


“Kemarin Sera bikin dengan Bi Sri.” Reksa menggeleng pelan. “Kalau sampai lupa, dia bakal mengamuk.”


Guru Irna tertawa mendengarnya.


Sepulangnya Guru Irna; plus tidurnya Sera siang itu, Reksa mendapat masa tenang yang jarang.


Reksa duduk di kursi baring di balkon dengan segelas jus, camilan dan laptop yang menunjukkan info mengenai finansial terkini.


Reksa mengulurkan tangannya mencomot kue, tapi yang dia rasakan malah tekstur kusut seperti rambut.


Reksa menoleh.


“!!!”


Sera kecil berdiri dekat meja, rambutnya berantakan seperti sarang burung. Mata bulatnya yang besar menatap lurus ke Reksa.


“Oh, Sera udah bangun?” Ya Rabb, bikin kaget aja anakku ini.


Begitu di tanya, merasa mendapat perhatian, ekspresi Sera langsung berubah. Bibirnya mengerucut, matanya berkaca-kaca dan wajahnya mulai memerah.


Reksa menelan ludah.


“Mau… makan es krim?”


“...Bu Ilnaaa…!!!” Tangis Sera lalu pecah.


Reksa menghela napas.

__ADS_1


Sebelum dia siap membujuk Sera, Reksa menghabiskan dulu jusnya tanpa terburu-buru.


****


__ADS_2