ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
8. Makan yuk.


__ADS_3

Reksa berdiri di depan salah satu pintu kontrakan. Di muka pintu berdiri Chacha, namun yang jadi fokusnya bukan wanita itu, melainkan gadis kecil yang sedang bersembunyi di baliknya.


Tinggi gadis kecil itu berada di bawah lututnya, dengan rambut sebahu berantakan dan mata mengantuk, namun tangannya menggenggam erat celana Chacha.


Reksa memperhatikan sekitar kontrakan. Dibandingkan dengan kontrakan Lily yang dia kunjungi sebelumnya, tempat ini sedikit lebih baik. Hanya kamar mandinya yang terletak di luar yang mengganggunya. Sudah berapa hari anaknya disini dan mandi di luar? Sejak dia bermimpi, dia menilai semua laki-laki di bumi ini adalah serigala untuk putrinya. Dia hanya melepaskan masalah ini karena Chacha ada di samping Sera.


Sera menatap pria yang nampak dingin di depannya, anak itu tidak mengerti kenapa Bi Chacha berdiri namun tidak berkata apa-apa. Laki-laki di depan ini pakaiannya terlihat seperti pria yang pernah mengunjungi mama-nya. Sera seketika teringat bahwa dia belum bertemu mamanya, matanya merah seketika. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Reksa baru melihat sekeliling dan begitu menatap kembali ke putrinya, dia melihat wajah itu.


“Kenapa dia menangis?” tanya Reksa berbisik pada Chacha, tatapannya setengah melotot dan menuduh. Chacha yang masih menunggu supaya Sera adaptasi dengan keberadaan ayahnya, terkejut.


“...” Chacha menunduk dan melihat bayi tiga tahun di belakangnya sibuk mengusap air mata. Chacha berlutut, menyetarakan matanya dengan Sera dan bertanya dengan lembut.


“Sera kenapa menangis?”


Gadis kecil itu tidak menjawab dan hanya menggeleng.


“Sera tahu ngga, Sera punya papa?”


Selama ini Sera selalu mendengar bahwa dirinya adalah anak haram. Anak yang tak diinginkan. Dia selalu mendengar orang-orang dekat kontrakannya mengatakan bahwa dia anak pelacur. Waktu dia di titipkan ke rumah Bi Sati, Bi Sati selalu mengatakan kalau dia anak pembawa sial dan tidak ber-ayah. Semua anak di dekat kontrakannya punya ayah.


Dia bertanya pada mamanya apakah dia tidak memiliki ayah, mama bilang ayahnya sedang merantau. Meskipun orang-orang masih suka bilang Sera tak ber-ayah, dia tidak mendengarkan. Dia percaya dia memiliki ayah, dan ayahnya sedang pergi keluar.


Mendengar pertanyaan Bi Chacha, Sera langsung tercenung.


Mungkinkah ayahnya sudah pulang? Tapi Ayahnya tidak sempat bertemu mama-nya.


Memikirkan mamanya, rasa antusias soal ayahnya langsung terlupakan.


“...” Sera mengatupkan mulutnya dengan susah payah, seakan kalau terbuka sedikit tangisannya akan langsung tumpah. Hal itu hanya membuat Chacha dan Reksa merasa tersayat melihatnya.


“Sera mau bertemu papa?”


Sera mengangguk. Chacha langsung menepikan badannya, membiarkan Reksa nampak dari atas ke bawah dengan jelas di mata Sera.


“Ini Papa-nya Sera.”


Sera menatap Reksa dengan terkejut. Dia kira pria di depannya adalah orang lain. Ternyata ini papahnya?


“...Papa?”


Reksa langsung berlutut. Wajahnya meski masih kaku namun matanya melembut yang dia sendiri pun tak menyadarinya. Chacha yang sempat khawatir dengan Sera, melihat itu langsung menghembus napas lega.


“Sera, ini papa.”


“Papa, papanya Sela?” tanya Sera dengan suara serak dan kental khas balita.


“Iya.” dia tidak bisa bicara panjang lebar, tangannya juga canggung entah harus di kemana kan. Dia baca kalau anak kecil suka digendong, tapi ini pertama kalinya Sera bertemu dengannya. Bagaimana kalau dia menakutinya?


Reksa bingung karena tidak ada reaksi dari Sera. Dia langsung memutar otaknya dan menanyakan pertanyaan paling umum.


“Umur Sera berapa?” dalam hati Reksa mengutuk. Apa tidak ada pertanyaan lain? Sungguh tidak kreatif!


Tapi hal itu bekerja pada Sera yang fokusnya mudah teralihkan. “Sela tiga tahun.” tangannya yang belum terlatih membuka empat jari perlahan. Satu jari berusaha di lipat namun tak berhasil.


Tidak ada ide lain, Reksa langsung ke poin inti. “Papa datang menjemput Sera untuk pulang ke rumah.”


“Pulang ke lumah?”

__ADS_1


“Iya, pulang.”


“Di lumah ada mama?” pertanyaan itu membungkam kedua orang dewasa di tempat.


Chacha di muka pintu yang mendengarkan menunggu jawaban Reksa.


“Mama Sera sudah pergi.” kata Reksa bulat. Chacha yang mendengarnya langsung berkerut, berpikir apakah dia harus menyela namun respon Sera agak mengejutkan.


“Sela ikut mama. Pelgi.” kata Sera, menangkap lengan Reksa. Matanya menatap Reksa penuh harap. Dia takut mamanya pergi dan lupa membawa Sera. Dia sudah tinggal bersama Bi Chacha dan belum melihat mamanya. Tapi kalau papa berbeda. Dia pasti akan mengantarnya ke mama.


“Sera mau lihat mama dimana sekarang?”


Sera mengangguk.


“Sera bisa lihat, tapi Sera harus ikut papa.”


Mendengar itu Sera tidak langsung menjawab. “Bi Chacha?”


“Bi Chacha di rumahnya.”


“Ohh.”


“Nanti Sera boleh main lagi ke rumah Bi Chacha.”


Sera mengangguk lagi.


“Papa kemana?” tanya Sera setelah dia mengamankan bahwa dia bisa bertemu mamanya. Rasa ingin tahunya mulai timbul. Selama ini papa-nya tidak pernah pulang. Kemana papa-nya selama ini?


“Papa kerja.” kata Reksa setelah waktu yang lama.


Reksa menjawabnya satu demi satu tanpa sedikit pun rasa tak sabar.


Beberapa penghuni kontrakan yang baru pulang kerja menatap Reksa dan Sera yang duduk di depan teras kontrakan Chacha. Masalahnya penampilan Reksa terlihat tidak biasa. Pria itu mengenakan kemeja dan celana kerja. Meski dia terlihat seperti pegawai kantoran biasa, wajah Reksa beda lagi kelasnya.


Reksa memutuskan untuk pergi membawa Sera pulang.


“Sera ikut Papa, ayo.” melihat Reksa yang membuka kedua tangannya, kali ini Sera tidak memerlukan waktu lama untuk menyambutnya. Chacha yang mendengar langsung bergegas keluar dengan tas ransel berisikan barang-barang milik Sera.


“Tas Sela.” Sera berusaha turun dan mengambilnya, namun Reksa tak membiarkannya. Dia menerima tas kelinci lusuh itu dan memakaikannya ke pundak Sera.


“Pamit sama Bi Chacha.”


Sera mengulurkan tangannya, mencium punggung tangan Chacha dan melambaikan tangan tanpa kata. Namun mata itu mengungkapkan keberatan dalam hatinya.


Perasaan kosong yang membingungkan menguasai Sera, namun karena dia berada di pelukan orang yang merupakan ayahnya, Sera hanya bisa memeluk leher Reksa dan menenggelamkan wajahnya di sana.


Reksa mendudukkan Sera di kursi kemudi anak dan mengencangkan sabuk pengaman.


“Sera mau tidur?”


“Mama?”


“Iya, kita ke Mama. Tapi sekarang sudah malam.” Reksa mengusap poni Sera yang menghalangi matanya. “Besok, ya?” sepertinya semua kesabaran Reksa di dunia ini di habiskan untuk putrinya.


Kalau Joe ada disini, dia pasti terkejut melihat perubahan pada bos-nya.


Sera melihat keluar jendela, ke arah langit yang mulai gelap sebelum menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mobil bergerak melaju di jalanan yang ramai. Sesekali kemacetan menghentikan laju mobil, membuatnya tersendat-sendat. Sera yang duduk dan sibuk melihat interior mobil sejak tadi tanpa sadar sudah memejamkan mata dan tertidur.


Reksa mengemudi dengan kehati-hatian tiga kali lipat. Di lampu merah, dia membuka aplikasi untuk memesan makan malam. Melihat ke kursi belakang, dia merasa tak perlu untuk membangunkan Sera dan memaksanya makan. Tapi artikel yang dia baca sebelumnya mengatakan bahwa anak kecil tidak boleh terlewat rutinitas makannya. Ditambah, Sera baru bangun tidur dan kalau tidur lagi, malam dia akan terbangun.


Sampai di apartemen, Reksa menggendong Sera naik ke lift. Di pertengahan saat membuka pintu, Sera terbangun.


“Ma?”


“Ini Papa.”


“Papa?”


“Sera lapar?”


Suasana hati anak kecil yang baru bangun biasa tidak stabil. Terutama saat tidak melihat langsung orang terdekatnya, beberapa akan menangis. Namun Sera hanya memeluk Reksa. “Sela ngga mau makan.”


“...” Reksa tak kuasa melarang, tapi demi kesehatan Sera, dia harus membuatnya makan. Terlebih, beberapa hari ini, Chacha bilang nafsu makan Sera menurun.


“Sera mau ketemu mama, kan?” tanya Reksa sambil masuk. Dia menurunkan Sera dan hendak membantunya membuka sepatu. Namun Sera membuka sendiri sepatunya tanpa di bantu dan meletakkan sepatu kecil kusamnya di rak berisi sepatu-sepatu Reksa.


Ukuran dan warnanya terlihat sangat kontras. Karena Reksa belum mengosongkan tempat, sepatu kecil itu diselip diantara sepatu besarnya. Anehnya, pemandangan itu nampak harmonis.


“Pelgi ke mama kapan?”


“Papa bilang apa tadi?”


Mendengar itu, Sera menunduk, lalu menggeleng lagi. Menyangkal penolakan Reksa dan berusaha lupa dengan kesepakatan saat di mobil. “Sela ngga mau makan.”


“Kalau Sera mau ketemu mama, Sera jadi anak baik.” Reksa kembali berjongkok. Urat di dahinya sudah terlihat saking kerasnya dia berpikir.


“Sela baik.” ulang Sera.


“Anak baik makan yang betul, kan.”


“...Sela ngga mau makan.”


Reksa menarik napas pelan. “Sera mau ketemu mama kan? Sera harus makan dulu kalau mau ketemu mama.”


“Sela mau mama.”


“Makan dulu, ya?”


“Mama….” mata Sera memerah. “Mama mana?”


“Mama pergi. Lagi di luar dulu.”


“Telpon mama.” kata Sera menengadah dengan mata berkaca-kaca. Hal ini diluar perkiraan, dan Reksa bingung harus bagaimana. Bukankah tadi Sera baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba dia begitu keras kepala? Reksa mengingatkan dirinya bahwa Sera masih tiga tahun. Baru tiga tahun keluar dari rahim, untuk apa kau menghardik!


Satu jam setelah Sera di bawa, Chacha menerima telepon dari Reksa.


“Dia tidak mau makan.” kata Reksa di seberang.


Chacha: ….


Sepertinya dia lega terlalu dini.


***

__ADS_1


__ADS_2