
Sera akhirnya tahu kenapa Shain begitu tegang.
Huh, gadis kecil itu mendengus dalam hati.
Dia tahu banyak orang yang naksir Papa-nya. Sera mencuri dua lirik namun menahan diri setelahnya. Wanita ini yang paling cantik dari yang pernah dia jumpai.
Cukup untuk Sera mengetahui bahwa Papa-nya, tidak akan meninggalkan Sera.
Dia kembali menulis tanpa menghiraukan atau menyapa wanita di depan sebagaimana yang biasa dia lakukan pada pegawai sekitar.
Wanita itu mempertimbangkan beberapa saat, berpikir apakah dia harus mengobrol atau tidak.
Namun karena Reksa sedang sibuk, dia akhirnya duduk di seberang Sera.
Matanya memperhatikan gerak-gerik si gadis kecil sebelum menumpukan sebelah kakinya dan bicara dengan nada angkuh.
“Nama kamu siapa?”
Sera hanya melirik namun tidak menghiraukan. Wanita itu menganggap si gadis kecil ketakutan dan lanjut bicara.
Pikir Sera, kalau wanita ini tutup mulut, alangkah bagusnya.
“Kamu anaknya Reksa, kan?”
Mendengar nama ayahnya disebut, Sera kembali menatap si wanita. Kali ini matanya bertahan agak lama.
“Mama kamu tuh pelayan. Kamu tahu kan, pelayan?”
Shain yang berdiri di belakang Sera mengerutkan kening. Sayang sekali, bukan posisinya untuk menyela. Kecuali wanita di depannya mendekat dan menyentuh Sera, Shain hanya bisa berdiri siaga.
“Tau gak kerja pelayan itu apa?”
Sera tentu saja tahu, tapi gadis itu tidak membalas.
“Pelayan itu kerjanya nemenin Om-Om. Kalo ada yang deketin, pelayan harus nurut. Kalo di suruh ketawa, harus ketawa. Kalau disuruh nangis, harus nangis. Kalau disuruh jongkok harus jongkok, kalo di suruh sujud, pelayan harus nurut juga. Mamah kamu tuh kaya gitu.” kata wanita itu tanpa terburu-buru. Nafasnya juga tenang. Seakan dia sedang membicarakan cuaca kemarin sore.
Di mata wanita itu, pelayan tak ada bedanya dengan budak.
Sera tidak percaya dengan kata-kata wanita di depannya. Nada bicara wanita itu mungkin biasa, namun nada itu penuh dengan niat jahat yang menusuk.
Sera memutuskan kalau wanita ini adalah wanita jahat.
Sudah lama sekali sejak Sera menerima perlakuan seperti ini. Sejak dia bersama ayahnya, Sera tidak pernah lagi mengalaminya.
Sekarang papa-nya tidak ada. Sera menerima tatapan jahat itu lagi, namun dia tidak takut. Papa-nya akan segera datang.
“Mohon maaf, saya ada perintah untuk membawa Nona Sera keluar.” Shain yang tidak tahu kalimat buruk apalagi yang akan dilontarkan wanita di depannya, mengambill satu langkah.
__ADS_1
Dia hendak menggendong Sera, namun wanita di depannya menyela.
“Kamu, nama kamu siapa?”
“..Saya Shain.”
“Oh, kamu pengasuhnya dia, kan?”
Meski wanita itu melihat jas yang dipakai Shain berbeda, juga dari sikapnya yang terus berdiri–Shain jelas bukan pengasuh. Namun wanita itu tidak peduli.
“Saya lagi ngobrol sama dia. Ada etika dikit ngga? Jadi pembantu itu cukup jadi pembantu. Ngapain kamu ikut campur urusan majikan… oh, hahaha.” wanita itu tiba-tiba tertawa pelan sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Oke, saya ngerti. Dia bukan majikan kamu.” ‘Dia’ yang di maksud merujuk ke Sera. Entah apa yang ada di pikiran si wanita itu, namun wajahnya cerah tanpa berubah sedikit pun. Yang jelas maksud kalimatnya jauh dari kata baik.
“Tau gak, mama sama papa kamu tuh gak nikah.”
Kalimat itu menarik perhatian Sera.
“...” Sera tidak tahu. Konsep pernikahan tidak pernah terpikirkan oleh Sera. Dia hanya tahu dia punya Mama, dan Papa. Dan keduanya saling mencintai. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa lahir?
“Mohon maaf, tapi saya harus membawa Nona saya keluar.” Shain memotong.
“Kenapa buru-buru. Dia juga gak bilang apa-apa.”
Shain tidak peduli. Dia berniat menggendong Sera, namun mengejutkannya, Sera justru mengelak. Dia menolak.
“...Nona kecil…” Shain mengerutkan kening. Dia tahu betul sifat Nona-nya seperti apa. Tapi dia harus membawa Nona-nya pergi kalau dia tak bisa mengusir wanita itu.
Meski Sera anak yang kuat, namun dia bukan apa-apa di hadapan orang dewasa.
Wanita itu melihat raut wajah gadis kecil yang sejak tadi bergeming akhirnya berubah.
“Kamu anak haram, loh, sebenernya. Itu anak kotor..,”
Tangan Sera yang memegang pensil membeku. Wanita itu bisa melihat, sekalipun gadis kecil itu tidak menunjukkan hal berarti dan belum mengatakan apa-apa, anak kecil tetaplah anak kecil.
Wanita itu bersandar di sofa dan mengulas senyum lebar. Seandainya kalimat yang diucapkan tidak sekeji ini, wanita itu terlihat seperti peri.
Sayangnya Sera tidak bisa fokus pada kecantikan wanita di depannya.
Pikirannya berputar ke kalimat ‘anak haram’.
Dia kembali mengingat wajah orang-orang yang pernah mengatakan hal itu di depan mukanya. Menganggap Sera masih bayi, dan tidak mengerti.
Kalau orang terus mengatakan kalimat itu di depan wajahmu dengan ekspresi buruk, lama-lama Sera juga sadar kalau itu bukan hal bagus.
“Gak ada di dunia ini yang nerima anak haram–coba kamu tanya deh ke temen kamu,”
__ADS_1
Clak!
Saat itu pintu terbuka. Wanita itu refleks menutup mulutnya. Reksa masuk ke dalam ruangan, dia tidak sempat mendengar kalimat yang wanita itu ucapkan. Namun dia merasakan atmosfer yang tidak mengenakkan.
Di belakang Reksa, Wana mengikuti.
Reksa melihat putrinya tidak melirik ke arahnya sama sekali, seperti tidak sadar dengan keberadaannya. Gadis kecil itu hanya menatap lurus wanita di depannya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi beberapa saat sebelum dia sampai. Instingnya mengatakan bahwa ini bukan hal bagus.
Reksa memberi sinyal pada Wana.
Wana mengangguk. Namun sebelum dia bergerak menghampiri Sera, Shain sudah bergerak duluan untuk menggendong Sera dan membawanya keluar.
Gadis kecil itu secara refleks memeluk leher Shain, tidak melirik sedikit pun ke arah papa-nya.
Buku tulis dan tasnya di tinggalkan di atas sofa. Wana melirik Reksa, menerima instruksi dari bos-nya, dia lalu mengikuti Shain keluar.
Dia berniat untuk mencari ruang dulu, sementara Reksa mengobrol dan menyelesaikan apa pun itu dengan wanita di dalam.
Jehan yang baru muncul dengan kue, minuman, dan kartu bahasa Inggris Sera, melihat Shain menggendong Sera keluar dari ruangan.
“Bu Jehan, maaf, makanannya nanti lagi,” kata Shain sambil memohon maaf namun langkahnya tidak berhenti.
Jehan melihat Wana mengikuti selangkah di belakang Shain. Asisten senior itu memberi isyarat, Jehan akhirnya tidak berkata apa-apa dan hanya mengiringi ketiga orang itu masuk lift untuk turun.
“Nona, gimana kalo kita makan es krim di taman dino itu?” kata Wana memutar otaknya. "Terus kita nonton di tempat biasa! Yang layarnya lebar loh." dia membicarakan soal ruang rapat yang tersedia infokus di dalamnya.
Dia pernah mengajak Sera menonton sebelumnya di dalam sana.
Shain melihat Nona-nya tidak menyahut sama sekali.
Meski Shain berniat untuk menghibur, dia tidak ahli soal beginian. Dia hanya bisa menawarkan, ‘gimana kalau main boxing buat menumpahkan perasaan negatif?’ –yang tentu saja tidak mungkin dia katakan.
Gadis kecil itu hanya menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Shain.
“Sera mau pulang.” kata gadis kecil itu lemah,
Shain dan Wana saling berpandangan dan menghela napas khawatir namun mengikuti maunya Sera.
Keduanya turun. Wana menemani Sera di kursi belakang sementara Shain menyetir. Di jalan, gadis kecil itu tidak menunjukkan air mata atau merengek. Tidak ada suara sama sekali. Hanya berbaring di kursi, mengambil tempat duduk yang luas dan memeluk boneka dino-nya. Entah apa yang dipikirkan.
Wana memesan puding dan mainan keluaran terbaru selama di perjalanan untuk dikirim ke vila.
"Nona, liat deh, itu ada stroberi di luar!" kata Wana tidak menyerah.
"Untuk Kak Wana aja." kata Sera pelan.
__ADS_1
"..." Wana akhirnya diam dan berharap mereka segera sampai di vila.
****