
Arina bergerak ke kantin dan melihat berbagai menu di papan, meski kebanyakan sudah habis. Dia bisa membayangkan anak-anak berbaris untuk mengambil makan. Arina hampir tidak pernah merasakan sekolah umum. Dia menjalani homeschooling sejauh yang dia ingat.
Setiap keseruan yang di ceritakan orang-orang di masa sekolah, Arina hanya bisa membayangkannya. Kadang dia ikut tertawa. Hal itu seperti dunia yang berbeda dengan Arina.
Ting. Ponselnya berdenting.
Arina membalas pesan sejenak sebelum kembali ke kursi taman dengan makanan pesaan Sera.
Arina meletakkan tas kertas berisi cemilan itu di atas meja dan memandanginya beberapa saat sebelum melihat sekeliling.
Sungguh aneh, gumamnya. Ini pertama kali Arina datang ke lingkungan sekolah. Biasanya dia hanya melihat dari jauh saat lewat. Arina tersenyum berusaha menghentikan pikiran di kepalanya.
Terlalu banyak hal yang membuat iri, semakin dipikirkan hanya akan membuat sesak saja.
Namun pikirannya mau tak mau kembali ke pertemuan dengan Reksa, saat pria itu bertanya pada Arina, apakah mau sekolah lebih tinggi?
Tak lama lagi, dia bisa merasakannya juga.
Arina dalam hati mendambakan kebebasan itu, meski hanya sementara dan dia tak bisa menjamin sejauh mana, tapi dia sangat menginginkannya.
Memikirkan acara malam ini, membawanya kembali ke kejadian beberapa minggu lalu.
Reksa memanggilnya tiba-tiba ke kantor di waktu yang lain sedang istirahat siang.
“Kamu sudah makan?” tanya pria itu. Arina tetap menjawab meski heran.
“Gimana kalau kita tunangan?”
Saat itu Arina bingung dan terkejut. Shock lebih tepat menggambarkan perasaannya. Dia pikir Reksa benar-benar tertarik padanya…
“Kamu bisa terus kerja untuk dia.” keduanya tahu betul bahwa Arina di kirim ke sisi Reksa untuk memantau pergerakannya.
“Beberapa hal mungkin perlu kamu sembunyikan. Tapi dengan saya disini, kamu ngga perlu takut. “
“Maksud Pak Reksa, saya.. dan Pak Reksa tunangan…, tapi untuk hal lain?”
__ADS_1
“Betul. Saya pikir kamu menikmati kegiatan disini. Tapi apa kamu sudah memikirkan tawaran waktu itu?”
“Tawaran buat sekolah itu?”
“Yah.”
“Apa gunanya? Ujung-ujungnya saya akan kembali ke titik yang sama.”
Reksa tidak meluruskan pendapat Arina dan hanya memberi saran. “Arina, saya lihat kamu terlalu terpaku di tempat. Kalau kamu melihat dunia yang lebih luas, mungkin kamu akan berubah pikiran?”
Arina merasa Reksa terganggu dengan pikiran Arina yang hanya memikirkan menikah, mengurus rumah tangga, dan punya anak. Apakah menginginkan hal itu buruk? Bagi Arina, hal demikian adalah kebebasan yang berat. Hanya dengan menikahlah dia bisa lepas dari cengkeraman Ningsih. Paling tidak dia memiliki ruang untuk dirinya sendiri.
“Maksud saya, saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk diri kamu sendiri.” suara Reksa memecah lamunan Arina saat itu.
“Apa..?”
“Bukannya ini situasi menang sama menang? Akuisisi perusahaan Triyanto akan sedikit sulit. Saya bukannya gak bisa tanpa kamu, tapi saya ingin mempercepat prosesnya karena saya ngga ada waktu buat main-main dengan Ningsih.” Reksa menyebut langsung nama ibu tirinya tanpa berat hati. Arina akhirnya tahu bagaimana posisi Ningsih bagi Reksa. “Jadi kamu bisa bantu saya, dan di sisi lain, saya bisa kasih kamu kebebasan.”
Kebebasan?
Suara Reksa yang rendah dan perlahan seperti godaan di telinga Arina.
Pria itu menatap mata Arina yang mulai goyah.
“Kalau kamu terima, waktu kuliah selama empat tahun, saya bisa kasih kamu kebebasan di waktu tersebut.”
Meski hanya empat tahun, betapa mahalnya hal itu bagi Arina?
Dia yang sejak kecil di ‘rancang’ untuk jadi pengantin sempurna, tidak memiliki satu hari pun dimana dia bisa melakukan apa yang dia mau.
“Setelah empat tahun, kamu mungkin sudah berubah pikiran. Saya akan bantu kamu kalau kamu mau melakukan sesuatu, misalnya mau terus di luar negeri? Atau misalnya kamu punya kekasih dan ingin menikah disana? Tidak masalah. Soal keluargamu, kamu gak perlu khawatir. Habis masa kamu kuliah, pertunangan ini akan dibatalkan.”
“....apakah.., Pak Reksa minta saya kerja disini, sudah terpikir kesana sejak awal?”
“Kenapa? Apa kamu kecewa karena saya manfaatkan?”
__ADS_1
Mendengar itu, Arina tersenyum. “Apanya yang memanfaatkan? Selama ini saya selalu jadi alat untuk keluarga saya supaya mereka hidup enak. Dalam bahasa lain, saya di jual untuk jadi alat di tangan Ningsih. Saya bekerja tapi saya ngga mendapatkan apa-apa. Sementara dengan Pak Reksa, saya bisa mendapatkan langsung imbalan.” setelah berkata demikian, Arina mengulurkan tangannya, menawarkan untuk berjabat tangan.
“Saya terima transaksi ini.” kata Arina lugas.
Reksa memberi senyum tulus, senyum yang berbeda dengan senyum bisnis yang biasa dia kenakan. Arina terpaku sesaat.
“Kita cocokkan dulu situasi emosional, supaya kamu bisa ngobrol lancar dengan Ningsih. Misalnya cinta pada pandangan pertama…”
Mendengar itu Arina langsung terkekeh.
“Kenapa? Aneh?” Reksa bertanya-tanya.
“Cinta pandangan pertama ngga begitu meyakinkan, kalau untuk alibi.” kata Arina, merasa bahwa Reksa sedikit polos dalam beberapa aspek. “Saya dengar Pak Reksa banyak mantannya.” canda Arina.
“Oh, itu kasus lama.” Reksa tidak menyangkal dan hanya tersenyum tak berdaya.
“Lebih baik saya bilang, kalau Pak Reksa tertarik dengan sifat dan fisik saya.”
“...?”
“Dua poin ini yang paling menarik di diri saya. Pak Reksa, daripada membuat alasan secara perasaan, lebih baik fokus ke material. Katakan bahwa saya terlihat seperti istri yang baik dari dalam dan luar.”
“....Hm..,”
“Tapi di sisi yang lain Pak Reksa ingin saya memiliki latar-belakang yang setara dengan Pak Reksa. Keluarga saya keluarga biasa, jadi saya cuma bisa menutupi kekurangan itu dengan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.”
“Meskipun yang kamu bilang menarik, tapi hal ini terlalu mudah ditebak.” Reksa menggelengkan kepala.
Arina tersenyum dan mengangguk. “Iya, jadi sedikit demi sedikit, saya akan membuat seperti Pak Reksa jatuh cinta dengan saya. Tidak perlu berlebihan, saya cuma perlu Pak Reksa kerjasama dalam beberapa kejadian. Saya harap di waktu yang saya minta, Pak Reksa bisa ngikutin skenario saya.”
“Saya nggak tahu kamu sebenarnya cerdik begini.” kata Reksa.
“Saya anggap itu sebagai pujian.”
Rencana itu akhirnya disepakati.
__ADS_1
Melirik ke tas kertas di meja kayu, Arina sedikit gugup. Barusan Sera menyambutnya dengan senang hati, berarti Arina diterima, kan?
Dia tidak tahu apa yang Reksa katakan pada putrinya, tapi dia sangat berterima kasih pada pasangan ayah dan anak ini.