ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
27. Memutus Benang Sejoli..


__ADS_3

Hari ini hari pertama Sera di sekolah barunya.


Sera menolak untuk diantar dan meminta Reksa untuk langsung berangkat kerja.


Akhirnya Reksa membiarkan Sera berangkat bersama Shain. Sementara Pengasuh Sri mengambil peran sebagai Asisten Rumah Tangga sebelum menyusul setelah siang nanti.


Semenjak pindah ke vila baru, Pengasuh Sri dan Shain ikut tinggal di vila.


Sera tahu dia tidak bisa membantah Papa-nya soal keberadaan Shain.


TK Riyadi memiliki jadwal serupa dengan sekolahnya yang lama, hanya selesai lebih awal.


Setelah tidur siang, anak-anak makan siang dan peregangan sedikit sebelum belajar menambah kosakata. Pukul dua lewat tiga puluh sudah bisa pulang.


Saat keluar dari kelas, dia melihat Pengasuh Sri seperti biasa. Ketika naik mobil, barulah dia sadar supir kali itu adalah Pengawal Shain.


Omong-omong, ya–Papa-nya bohong soal jarak sekolah dan rumahnya yang dekat. Sera menghitung satu sampai seratus, dan dia mengulanginya sebanyak tiga kali di dalam hati. Kesimpulannya, perjalanan berangkatnya sama dengan tempat yang dulu.


Seperti biasa, Sera menghubungi ayahnya begitu pulang sekolah. Sekalipun Reksa sedang rapat bersama direktur yang lain, dia akan menjeda dulu, selalunya menyisihkan meski semenit untuk bertukar kata dengan Sera.


Orang-orang di kantor berlagak tidak melihat saat Reksa menebarkan senyum yang menyejukkan.


Setelah selesai menelepon, gadis kecil itu akhirnya ingat sesuatu. Dia masih belum lupa dengan bekas lipstik pada ayahnya. Dia juga tahu ayahnya mengundang Pengawal Shain ke ruang kerjanya malam-malam.


Tidak seperti Pengasuh Sri yang sudah setengah baya, Shain punya peluang untuk bisa bersama Reksa.


Manusia seperti memiliki kemampuan belajar yang alami soal hubungan laki-laki dan perempuan. Meskipun masih anak-anak; Sera tahu.


“Kak Sha, pengawal itu ke-janya apa?” tanya Sera. Dalam pikirannya, Sera sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bertanya tanpa menarik perhatian.


Shain yang sedang menyetir merasa terkejut dalam hati, merasa senang, namun wajahnya tetap datar dan tangannya yang memegang kemudi tetap stabil seperti air.


“Pengawal kaya Kak Sha tugasnya jagain Nona.”


Sera yang awalnya bertanya asal jadi tertarik sungguhan. “Kenapa Sela dijaga? Papa udah jagain Sela.”


dia sudah punya Papa, tidak perlu di jaga orang lain.


“Kalau Papa Nona sedang kerja, Kak Sha yang jaga Nona.” jawab Shain.


Sera mengerti dan mengangguk-angguk. Sedetik kemudian dia ingat dengan niat awalnya.


“Kak Sha punya pacal?”


Shain: ??


Untung saja Shain sudah terlatih. Kalau tidak tahu yang bertanya ini balita, dia akan mengira nona kecilnya ini sengaja menyerangnya secara verbal.


“Em… belum.” Suatu saat dia akan punya.


“Kak Sha umul belapa?”


Shain mengingatkan dalam hati; Nona kecilnya bertanya karena penasaran. Sudah pasti bukan karena motif tersembunyi. Seperti menyindirnya, misalnya.

__ADS_1


“Dua puluh empat... mau dua lima.”


“Oh, masih muda.” kata Sera tanpa pikir panjang.


Reksa pernah memberitahu Sera tentang profil Shain sebelumnya, namun Sera sedang tidak bisa mengingat hal itu.


Sekalipun Shain menjawab umurnya lima puluh, Sera akan menjawab 'oh, masih muda'. Hal ini penting untuk langkahnya selanjutnya.


“Yang betul?” sekarang umur 25 dan masih belum menikah selalu mengundang kritik. Shain merasa senang mendengar tanggapan Sera.


“Iyalah, mbak Shain masih muda. Kalau saya baru sudah tua.” disisi Sera, Pengasuh Sri menimpali.


“Papa udah daddy-daddy.” kata Sera tiba-tiba.


Shain: ok, dan?


Sera tidak tahu maksudnya apa, dia cuma dengar guru di sekolah lamanya berbisik soal ini. Tapi dia tahu ini adalah pujian.


“Tapi Papa masih ganteng, tapi, tapi sama Kak Sha jauh umulnya... Papa udah tiga puluhan.” Sera diam sejenak. Meski Papa tidak seumuran dengan Kak Shain, Papa tetap tampan dan banyak di sukai orang. Sera pikir, poin ini tidak cukup untuk membuat Shain mundur.


Shain merenung. Menurutnya, Reksa masihlah sangat muda sampai bisa sukses dan berdiri dengan orang-orang penting lainnya di dunia bisnis. Usia orang-orang itu juga tidaklah muda. Dia pernah mengintip majalah finansial, katanya Reksa adalah salah satu pengusaha muda paling kuat.


“Papa juga punya anak.” Sambung Sera.


Yup. Bukankah ini poin yang paling menantang? Kalau orang yang Sera suka ternyata sudah punya anak, Sera akan cari orang lain. Oh, tapi kalau anaknya selucu dan semanis dirinya, mungkin dia akan menerima....


Shain yang mendengar itu langsung terkejut. Pengasuh Sri yang di sisi Sera menoleh keras pada nona kecilnya.


Mengingatnya, tidak heran kalau ada kasus yang sama sebelum ini.


“Ma-masa sih? Kok Nona tahu?” tanya Shain tergagap.


“Iya!” Sera membulatkan mata. Kok ngga tahu, sih.


Gadis kecil itu mengangguk mantap. “Kan Sela anaknya!”


Ada keheningan canggung di mobil setelahnya untuk beberapa saat.


Shain: Begitu maksudnya, toh. Hampir saja dia menginjak rem mendadak. Untung jalanan sepi.


Pengasuh Sri: Nonanya menggemaskan seperti biasa. Meski agak mengagetkan.


Karena terkejut, Shain tidak menangkap poin yang Sera maksud pada akhirnya. Pun Sera, melihat reaksi keduanya dia lupa dengan niatnya dan langsung asyik bercerita: soal kali pertama Papa-nya mendatangi Sera.


***


Selesai makan malam hari itu, Reksa duduk di sofa ruang tengah, bersama Sera duduk di sisinya. Gadis kecil itu seperti biasa mengulang hafalan surat pendeknya, sesekali Reksa menyela, mengoreksi di sela-sela dokumen yang tengah dia kerjakan.


Apa? Meski dia banyak lupa, surat-surat pendek itu dia bisa menghafalkannya.


Selesai membaca ayat terakhir, Sera langsung melompat dari sofa dan bergegas ke Pengasuh Sri di kamar untuk melapor hasil hafalan; sebelum kembali ke sofa untuk bersama Papa-nya.


Namun yang dia temukan hanyalah laptop yang masih menyala, beberapa kertas dokumen di sisinya, juga ponsel yang biasa Papa gunakan untuk kerja. Papa tidak ada.

__ADS_1


Tepat saat itu, ponsel di atas meja berdering.


Sera memeriksa nama yang tertera. Dia masih sulit mengingat kata-kata yang panjang, tapi nama Joe sering dia lihat, dan hurufnya hanya tiga. jadi Sera tahu.


Dia meraih ponsel dan berjalan berkeliling ruangan mencari Papa-nya. Dering ponsel berhenti sesaat, Sera kembali ke sofa dan meletakkan ponsel kembali ke atas meja.


Namun tak lama, ponsel berdering lagi.


Sera mengerti, karena itu ponsel Papa-nya, dia tidak bisa sembarangan menggunakannya. Hm, mungkin kalau hanya memeriksa tidak masalah. Sera agak penasaran sebenarnya.


Gadis kecil itu meneliti sekeliling ruangan, memastikan sosok Papa-nya masih tidak terlihat sebelum kembali mengulurkan tangan gatalnya ke ponsel.


Masih nama Joe yang tertera.


“Halo?”


“Oh? Nona kecil?”


“Om Joe! Om Joe udah makan belum?”


Joe di seberang tertawa mendengar suara kental di seberang. “Saya udah makan, Nona.” dia baru mau mengucapkan keperluannya namun Sera mendahuluinya.


“Makan sama apa?” Sera sepertinya begitu senang bisa mengobrol di telepon selain dengan Papa-nya.


“..Saya makan lele goreng… ah, Pak Reksa ada?”


“Lele goleng? Lele itu apa? Sayur?”


“Lele itu ikan. Ikan yang ada kumisnya. Oh iya, Pak Reksa... Papanya ada?”


“Ikan ada kumisnya? Kucing juga ada.”


“Kucing tapi gak boleh dimakan.” Hahaha, dia bukan orang yang punya ketertarikan kesana.


“Ikan enak, ayam enak. Sayur juga..,”


“...”


“Om Joe mau ke Papa?”


Joe: Akhirnya!!


“Iya, Papanya ada?” karena yang menerima panggilan adalah Sera, Joe sudah mengira bahwa Reksa sedang tidak di tempat.


“Papa… ada. Ngga ada.”


“Om Joe mau kasih tahu something ke Papanya Sera. Sangat rahasia.”


"Sangat rahasia." Sera mengulang dengan berbisik. Mendengarnya, Sera merasa dia mengemban misi yang amat penting. Dia harus segera menemukan Papa-nya.


“Oke. Sela cari Papa.” kata Sera dengan mata membara.


**

__ADS_1


__ADS_2