
Akmal selalu berpikir bahwa dia adalah genius. Berbeda dari yang lain. Pokoknya, dia anak hebat. Yang lain anak ayam.
Ketika ada anak baru yang datang ke sekolah membosankannya, Akmal pikir dia anak biasa.
Awalnya dia dan yang lain bermain masing-masing. Lama kelamaan, anak-anak mulai bermain berkelompok. Lalu suatu waktu anak-anak main di satu kelompok dengan anak baru itu sebagai fokus utamanya.
Akmal menyeringai. Huh, anak kecil.
Lalu satu waktu dia diminta untuk menjawab pertanyaan Bu Guru, Akmal menolak untuk menjawab dan memilih untuk memainkan puzzle-nya. Dia pikir, menghabiskan waktu saja menjawab pertanyaan remeh itu. Tidak ada rasa pencapaian sama sekali bersaing dengan anak-anak ayam ini.
Tapi si anak baru itu mengambil alih dan menjawab dengan berani.
Akmal mulai memperhatikan setelahnya. Dia pun sadar anak itu berbeda dengan anak yang lain.
Setidaknya, anak itu mengerti kata-kata Akmal tanpa perlu dijelaskan. Berarti anak ini pintar, kan?
Suatu hari, anak itu–namanya Sera. Dia menghampiri Akmal dan bertanya sedang apa.
Akmal memainkan puzzle dua belas kotak. Satu kotaknya kosong, supaya kotak-kotak yang lain bisa menyusun dan bergeser untuk menghasilkan gambar.
Akmal sedang menyusun baris ketiga. Dia latihan sudah tiga hari. Akmal memperkirakan dia akan berhasil hari ini.. mungkin sore. Kalau dia tidak sibuk, tentunya.
"Kamu main apa?"
"Puzzle." Akmal bermurah hati menjawab, berpikir anak ini berhak menerima jawaban atas kepintarannya. Meski kepintaran itu masih agak di bawah level Akmal.
"Oh puzzle. Gampang itu mah."
"Apa?" Akmal mau tidak mau mengangkat wajahnya.
Sera dengan wajah datar yang nampak bosan mengedipkan matanya.
"Gampang itu. Kamu kapan selesai?" Meski pengucapannya perlahan, namun setiap kata dilafalkan dengan fasih. Kecuali cadelnya tidak bisa dihilangkan. Akmal memandang rendah soal ini.
"Oh? Yaudah kamu coba beresin ini." Tidak seperti dia yang cadel, Akmal bisa menyebut huruf R dengan lancar.
"Beresin. Ayo coba." Akmal sengaja menekankan huruf R.
Sera menatap Akmal beberapa detik sebelum setuju.
Akmal mengacak kembali kotak-kotak yang sudah dia susun. Gambar di atas papan kembali tak beraturan. Sera duduk di seberangnya dan mulai memindahkan satu persatu kotak.
Naik, turun, kiri, kanan, lalu berputar demikian berulang kali.
Akmal mencemooh. Saat satu baris menyusun, dia pikir itu mudah. Semua anak bisa. Yang sulit adalah menentukan langkah yang tepat supaya gambar di bawahnya bisa menyusun tanpa harus kehilangan gambar yang sudah jadi di barisan atas.
Namun baris kedua kemudian menyusun. Akmal mulai mengerutkan kening.
Saat baris ke empat di gerakkan, Akmal melihat Sera menggeser kembali semua kotak.
Akmal merasa yakin bahwa Sera sedang kesulitan. Namun sedetik kemudian, gambar terakhir bergeser ke tempatnya. Puzzle selesai.
"Kamu pernah main ini ya?" Akmal menggeram ke arah Sera.
"Ini aku main sekalang." artinya Sera baru main sekarang. Pertama kali.
Akmal tidak percaya.
__ADS_1
Akmal tidak terima dirinya kalah. Dia akhirnya memilih untuk mengejek kelemahan lawannya meski tidak ada hubungannya.
"Se.ka.rang."
"Sekalang."
"'Sekarang', bukan 'Sekalang'!"
Sera masih mengedipkan mata. Anak itu membuka mulut seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun ketika Bu Guru masuk dan memanggil anak-anak untuk berkumpul, gadis kecil di depan Akmal menutup mulutnya. Ketika Akmal mengedip, mata Sera sudah memerah dan menggenang. Akmal berkedip lagi, tiba-tiba dia mendengar tangis yang kuat pecah dari Sera.
Akmal yang menyaksikannya langsung membeku di tempat.
'apa yang terjadi? Dimana dia? Bagaimana ini bisa terjadi?'
Beragam pertanyaan berputar di kepalanya. Akmal tidak mengerti bagaimana bisa anak yang tadi masih jahil dan tersenyum tiba-tiba menangis.
Saat itu anak yang lain langsung berkumpul mengerumuni Sera. Pun Ibu Guru.
Semuanya bertanya ada apa, khawatir dengan kesedihan Sera.
Pengawalnya, Shain–kalau tidak salah itu namanya. Terlihat gelisah dan hendak masuk ke dalam. Namun berhenti karena melihat Ibu Guru yang berusaha menenangkan Sera.
Akmal melihat pengawal Sera itu tengah menghubungi seseorang. Akmal panik. Dia melirik Roger, pengawalnya. Dia tahu Roger memperhatikan dirinya, dan pasti tahu apa yang terjadi.
Akmal selalu memasang wajah jutek pada Roger. Bagaimana kalau Roger melaporkan Akmal pada Shain untuk balas dendam atas kejutekannya? Bagaimana kalau ayahnya tahu?
Orang-orang di sekeliling Sera masih khawatir. Di balik celah, Akmal melihat Sera membuka mata dan melirik dirinya.
Akmal yang panik, akhirnya ikut menangis.
Padahal dia tidak ingin.
Bagaimana dia bisa… menangis seperti anak kecil!!
Malam itu orangtua Akmal memanjakan Akmal seperti tiada hari esok. Bagaimana tidak? Putra bungsu mereka biasanya kaku dan dingin, seperti semua orang berhutang padanya.
Dia menganggap sepupu-sepupunya bodoh dan mengejek mereka. Kakak-kakak Akmal juga dianggap rendah–setidaknya mata itu begitu ekspresif. Susah untuk orang merasa tidak kesal.
Masih kecil, orang-orang bisa memaklumi. Sebagian bahkan menganggap itu manis. Tapi kalau sudah besar, sifat ini hanya akan membuat orang-orang menjauh.
Karenanya waktu mereka mendengar laporan bahwa Akmal menangis di sekolah, orangtuanya tidak percaya.
Roger menceritakan semua yang dia lihat. Meski dia hanya menebak berdasarkan gerak-gerik dari luar jendela.
Akmal yang sudah menebak bahwa Roger akan melapor, merasa malu luar biasa mengetahui bahwa orang-orang tahu akhirnya, bahwa dirinya menangis.
Tapi Akmal terkejut menyaksikan ayah-ibunya bertanya dengan hangat. Bahkan kakak laki-lakinya meminjamkannya mobil mainan kesayangannya.
Waktu Akmal tidak sengaja menabrakkannya ke tembok karena melamun pun, kakak laki-lakinya hanya mengusap kepalanya. Berkata bahwa dia bisa beli lagi.
Akmal tidak mengerti apa yang salah hari itu. Dia menangis, dan semua orang baik padanya. Sera juga tidak melaporkan soal dia yang mengejek Sera pada Bu Guru.
Akmal berpikir semua orang baik padanya. Hanya dia saja yang berbuat jahat tapi semua tidak tahu.
Dia anak nakal.
Akmal kemudian menangis lagi, membuat seisi rumah panik.
__ADS_1
Esok harinya, dibantu kompresan mata oleh ibunya waktu malam, Akmal kembali berangkat sekolah. Meski matanya agak merah, tidak ada bengkak sama sekali.
Dia hanya terlihat agak sedikit mengantuk daripada biasanya.
Akmal duduk di tempat biasa, kali ini bersama puzzle baru. Dia dapat ini setelah ayahnya tanya mau apa. Akmal jelas minta ini bukan untuk menarik perhatian Sera supaya dia bisa minta maaf. Bukan.
Akmal mencoba bermain.. namun dia tidak fokus. Ketika Sera sampai pagi itu, Akmal semakin tidak bisa konsentrasi. Jadinya dia berlagak pura-pura sedang memainkan puzzle saja.
"Kamu beli balu?"
"Ya."
"Oh. Kamu nangis lagi ya di lumah?"
Akmal mengangkat kepalanya terkejut dan berseru, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Enggak!!"
"...." Sera hanya menatap Akmal dengan lurus. Ujung mulut gadis kecil itu tertarik sedikit ke atas.
"...Kamu!!" Anak ini mempermainkan dirinya! Akmal tidak salah lihat, anak perempuan di depannya benar-benar tengah mengejeknya!
"Aku boleh main ini?" Sera menunjuk puzzle di depan Akmal.
"Gak!!" Awalnya boleh, sekarang tidak lagi.
"Aku bisa loh belesin ini."
Akmal tahu kalau Sera berhasil menyelesaikan puzzle ini, mau tidak mau dia harus mengakui bahwa Sera lebih jago dari dirinya. Karena puzzle ini bukan buatan siapapun melainkan buatan ayahnya!! Langsung dicetak printer 3D semalam!
"Gak boleh!!"
"Hehehe." Tawa Sera yang ringan membuat Akmal merinding.
Ketika Bu Guru muncul di muka pintu kelas pagi itu, tangan Akmal secara insting mendorong puzzle ke arah Sera.
"Oh, kamu baik banget." Kata Sera dan menerima puzzle itu dengan senang hati.
Akmal:...
Gak! Aku bukan mau meminjamkannya!! Bukan sama sekali!!
Akmal yakin hanya dirinya yang sadar betapa jahatnya Sera.
Akmal menolak untuk bicara dengan anak didepannya!!
Lima belas menit kemudian setelah doa dan bernyanyi, Akmal sibuk berdebat dengan Sera soal mana yang lebih kuat antara Harimau dan Singa.
"Gajah lebih kuat. Dia besal dan belat. Singa langsung mati diinjek gajah." Kata Sera akhirnya.
Akmal pikir, ini kan antara Harimau dan Singa. Kanivora dengan kriteria penguasa hutan. Tidak ada hubungannya dengan gajah.
Tapi di pikir-pikir kata Sera benar juga sih. Harimau dan Singa lebih kecil dari Gajah. Dia pernah melihat langsung ke kebun binatang. Jadi Akmal bisa menjamin fakta ini.
"Kalo gitu badak juga lebih kuat dari singa dan harimau." Akmal akhirnya mengutarakan pendapatnya.
Topik itu berputar kesana-kemari sebelum loncat ke hewan air yang sama besarnya dengan Gajah. Sebelum melompat ke topik 'hari ini dirumah aku mau ngapain'.
Akmal tidak sadar bahwa dia tidak lagi menganggap sekolah itu membosankan.
__ADS_1
***