
Kita kembali ke masa sebelum kekacauan di internet terjadi. (ch 36)
Sera melirik PR-nya hari itu, em, sangat mudah. Dia memutuskan untuk mengerjakannya nanti. Bukunya yang terbuka di biarkan begitu saja, sementara jari-jari kecilnya bergerak pelan di atas tablet.
Dia melakukan pencarian, akhirnya sampai di platform Tanya Dong. Sera langsung registrasi akun, karena ini bukan pertama kalinya, Sera mengisi semua kolom informasi dengan mudah.
Dia melihat ke halaman utama dan meniru format pertanyaan disana.
“Kalau Papaku punya simpanan, aku harus gimana?”
Topik sejenis ini selalu menarik dan tidak perlu waktu lama, Sera sudah mendapatkan balasan.
-Bantai lah.
-Bangsat emang itu. Kamu gausah pikirin, bawa piso terus jleb jleb… (*komentar di hapus sistem)
-Ya ampun kasian banget km:(
-Kalo gak bisa di apa-apain lagi, biarin papamu poligami aja.
-Mama kamu gimana dong?
Sera membalas komentar terakhir yang menarik perhatiannya.
Dia merasa pertanyaan ini benar-benar bentuk kepedulian padanya.
-Mamaku udah meninggal.
Balasan di komentar selanjutnya penuh titik-titik berjajar. (....)
-Papa kamu punya pacar kali Dek. Bukan simpanan…
Mungkin yang membalas pun mendeteksi bahwa yang mengirim pertanyaan ini adalah anak-anak.
-Bilang ke Papamu, kamu ngga mau punya Mama Baru.
Sera mengerutkan kening dalam-dalam ketika membaca balasan itu. Mama baru?? Bagaimana bisa topik dari simpanan melompat ke pacar lalu jadi mama barunya? Dia dilahirkan oleh Mamanya, orang lain tidak ada urusan untuk jadi 'Mama'-nya.
Seperti tahu isi pikiran Sera, orang itu mengetik balasan lanjutan.
-Simpanan itu kalau Papamu masih bareng Mama. Tapi Mamamu udah meninggal, nah, perempuan itu bukan simpanan lagi, tapi pacar.
Orang yang menulis balasan itu sudah memikirkan 1001 skenario pelakor dan si pria, yang kemudian bersama-sama menyusun rencana menyingkirkan istri sah… meninggalkan seorang anak malang sendirian.
Sera membaca dan membalas: Dia jahat sama aku. Aku gak mau dia jadi mamaku.
Wanita itu jahat padanya, tidak cocok jadi seorang Ibu.
Apalagi jadi Mama-nya Sera?? Membayangkannya Sera bergidik.
-Anak manis, tapi kalau dia nikah sama Papa kamu, dia jadi Mama kamu otomatis.
Maksudnya mau tak mau, dia akan jadi orang tuamu kalau sudah menikah. Tidak peduli apakah kita benci atau suka.
Sera membaca kalimat itu berulang kali. Kenapa kalimat ini terasa sangat mengerikan?
Jadi kalau Papa-nya menikahi wanita itu, dia akan langsung jadi mama-nya Sera? Sistem macam apa itu?!
-Aku gak mau dia jadi mama-ku. Mama-ku cuma satu.
Sera mengetik balasan dengan sepenuh hati.
-Nak, kamu harus menghentikan Papa-mu supaya gak nikah lagi.
Sera membalas: -Gimana caranya? Aku gak tahu. Dia udah jahat sama aku tapi Papa masih sama dia.
Kalimat singkat nan ambigu itu di terjemahkan jadi situasi lain oleh orang di seberang.
-Papa kamu…. masih sayang sama kamu kan?
Sera membalas tanpa ragu.
-Sedunia ini papa paling sayang sama aku.
-Bagus kalo gitu, pokoknya kamu harus nolak ke Papamu supaya dia ngga nikah lagi. Suruh papamu putus sama pacarnya.
Beberapa kata dan istilah Sera tidak ketahui, tapi hal itu tidak menghentikannya untuk mengerti.
Satu komentar dari akun baru muncul dan ikut terlibat dalam diskusi.
-Ayah aku punya pacar, tapi gak peduli meski aku bilang gak suka. Dia tetep jalan bareng sama perempuan itu.
Sera langsung tersadar, rupanya dia bukan satu-satunya. Internet sungguh hal yang menakjubkan.
-Terus kamu gimana?
-Ayahku tinggal sama penyihir itu. Gara-gara aku marah-marah, terus Ayah aku jadi kesel ke aku dan gak pulang-pulang akhirnya.
Sera mengedipkan mata beberapa kali. Yup, sepertinya orang itu salah ketik. Apa hubungannya topik ini dengan 'penyihir'?
Kalau Akmal duduk dan membaca bersama Sera saat ini, anak laki-laki itu akan langsung mengerti.
Namun kalimat kedua membuat Sera langsung terpaku seperti tersengat. Dia juga marah dua harian ini.
Kalau hari ini papa-nya tidak pulang bagaimana?
Orang itu melanjutkan:
-Kamu harus baik-baik di depan papa kamu. Aku juga nurut aja soalnya takut di buang sih.
Sera membulatkan matanya horor. Sungguh kasihan orang ini! Tidak, posisi ini bisa jadi pindah ke dirinya!
Mungkin orang di seberang itu begitu antusias, menemukan orang yang satu keadaan dengannya. Dia bercerita tanpa diminta.
-Ayah aku lihat aku jadi anak baik. Waktu perempuan itu ngaduin aku, ayah aku gak percaya. Sejak saat itu, ayah aku selalu dengerin aku.
Sera membalas dengan sedikit kesal:
__ADS_1
-Papa aku gak akan kaya gitu. Dia sayang sama aku soalnya.
-Hehe. Papa kamu sekarang sayang. Tapi kalau udah punya pacar, dia bakal berhenti sayang ke kamu.
Kalimat itu menempel di otak Sera seperti serangga. Dia mengabaikan balasan lain yang mulai menumpuk di bawah.
-Hei, janganlah bilang begitu.
-Hidupmu penuh dengan pesimisme, y?
-Dia bener kok. Bersama dengan ibu tiri, muncul pula bapak tiri.
-mantengin
-semangat adek.
-Ingin memikat seseorang? Kesal dengan seseorang? Tidak punya uang dan hidup susah? Hubungi 08XXXXXXXX. Ilmu kebal aman tanpa tumbal. Harga murmer InshaAlloh berkah!! Proses cepat. (*komentar di hapus oleh sistem)
-Adek masih sekolah? umur berapa?
Sera melirik komentar terakhir. Ini dari kakak yang memberinya saran barusan.
Sera sadar betul bahwa identitas pribadi tidak boleh disebarkan sembarangan. Mungkin dia boleh share identitas palsu?
-Aku kelas 3 SD.
Sera menatap balasannya. Dia mengaku lebih tua, tak apa, kan?
Sera keluar dari platform, mengabaikan seruan dan amarah komentar yang menghujat Reksa.
-Bangsat betul bapaknya!
-Hei janganlah kaya gitu, itu masih bapaknya dia.
-Beneran?!
-Gila ni anak hidupnya lebih suram dari w
-Sampe dateng kesini gak ada yg jagain atau gimana y?
-Adek kalau liat balasan ini,baik-baik disana ya. Kalau ada proses cerita lagi
-Iya,iya, meski kakak2 netizen gak bisa bantu, kita bisa bikin km ketawa
-pingin peluk **
-semangat adek:’(
-Screenshoot!
-Bangsat, gua hack lu. Gak boleh ada yang screenshoot.
-Iya ih. Gimana kalo si adeknya keganggu.
-Kalian percaya banget ini anak kelas 3 SD?
****
Malam itu Reksa pulang agak larut dari biasanya, dan kali ini dia mendengar suara langkah kaki kecil berlari.
Badannya yang lelah langsung terlupakan dan kekhawatiran di hatinya akhirnya lepas.
“Kenapa belum tidur?”
“Sera kangen Papa!”
Reksa membuka tangannya untuk menyambut pelukan putri kecilnya seperti biasa, namun senyum tipisnya tertahan saat Sera justru berhenti.
Dengan hati-hati, Sera meraih tas Reksa, membawanya dengan dua tangan ke dalam. Bi Sri yang mengikuti di belakang hanya tersenyum melihat Nona kecilnya bersikap demikian.
Reksa tidak berdaya. Namun dia sudah bertanya-tanya apalagi yang di pikirkan putri kecilnya itu.
Selesai mandi dan ganti baju, Reksa berniat menjenguk keadaan putrinya seperti biasa, namun berhenti saat dia melihat kepala kecil dari belakang sofa di ruang tengah.
“Sera? Kenapa belum tidur?” Sudah hampir jam sepuluh. Dia kira setelah dia ke pergi mandi barusan putrinya langsung ke kamar.
Sera biasanya sudah berbaring tidur. Sejak masuk SD, Sera sudah berhenti di bacakan dongeng. Gadis kecil itu bersikeras untuk membaca sendiri.
Reksa mendekati dari belakang, lalu melihat camilan buah-buahan dan susu hangat di atas meja.
Sera yang setengah mengantuk, merasakan kehadiran Papa-nya dan langsung duduk tegak.
“Sera siapin ini buat Papa.”
“Oh ya?” Hati Reksa langsung berkembang-kembang. Saat mengambil potongan buah dengan tusuk gigi, barulah dia melihat dari dekat bahwa bentuk potongan buah ini tidak seimbang, dengan ukuran beragam.
Reksa langsung tidak nafsu makan.
Dia sudah biasa dengan putrinya yang rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi tidak sampai seperti ini. Mereka punya pembantu, punya pekerja, sebagai putrinya, Reksa ingin Sera menjadi putri yang paling bahagia di muka bumi.
Tidak perlu susah-susah, nak. Biar Papa yang urus semuanya!!
Reksa ingin meneriakkan kalimat itu.
Sayang, putrinya sedikit unik. Reksa pikir, memberikan pakaian, uang, dan materi pada anak tidaklah sulit. Tapi mengontrol psikologis anak perlu ketelitian.
Dia sedikit banyak respek pada para ibu di luar sana. Lalu dia teringat ibunya sendiri. Em, mungkin kenapa Reksa tumbuh dengan mental seperti sekarang adalah karena didikannya juga. Dia tidak bisa dibilang bagus, tapi tidak buruk-buruk amat juga.... kan?
“Di sekolah ada yang aneh? Ada masalah? Sera bilang Papa.”
Mata bulat gadis kecil itu melirik potongan buah yang tidak di sentuh sama sekali. Sepertinya Sera harus bekerja lebih keras. Papa-nya mungkin tidak suka buah ini? Mungkin karena mood juga? Sera ingat Bi Sri memasak iga bakar waktu itu dan Papa-nya makan sampai tiga piring. Tapi saat ini dia cuma bisa menghidangkan buah. Sera menambahkan PR baru di ingatannya.
Masak. Dia harus belajar masak!
“Papa punya pacar?” tanya Sera tiba-tiba.
Kalau dia sedang makan buah, Reksa akan langsung tersedak.
__ADS_1
Dengan lembut Reksa menjawab,”Papa ngga punya pacar. Kenapa?”
Terus yang kemarin siapa?
“....Papa boleh punya pacar, kok. Sera ngga apa-apa.”
“....” entah apa yang di pikirkan anak kelas satu SD ini?
“Tapi papah jangan nikah. Sera ngga mau dia jadi mama Sera.” Sera menunduk sesaat sebelum menengadah menatap Reksa. “Sera ngga akan repotin Papa. Sera bisa masak, bisa beres-beres. Nilai Sera juga bagus. Tapi Papa jangan nikah.”
Maksudnya dia bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan ini. Meskipun Bi Sri sudah lama bekerja, kalau perlu, Sera akan membuktikan seberapa bermanfaatnya memiliki anak.
“Nanti Papa udah tua, Sera bakal jaga dan rawat Papa. Nanti Sera siapin tempat tidur yang bagus.” Tempat tidur yang di maksud adalah kuburan. Dia ingat dimana Mama-nya tidur.
Tahan dulu, nona kecil. Reksa yang tersentuh mendengar pernyataan pertama, merasa ada yang salah dengan yang kedua.
“Kenapa Sera pikir Papa mau nikah? Papa ngga punya pacar kok?”
“Yang kemarin?” Sera tidak tahu siapa nama wanita itu.
Tapi Reksa mengerti siapa orang yang di maksud.
Mengingat Cecil, Reksa langsung menggelap wajahnya. Namun dia menahan ekspresinya supaya tidak menakuti putrinya.
“Sampai Sera besar, Papa ngga akan punya pacar.”
"Sera udah besar." tukas Sera serius.
"Sampai Sera udah lulus SD, SMP, SMA, kuliah, sampai Sera udah nikah."
"Sampai Sera nikah??"
"Iya. Papa mau nganterin Sera nikah dulu. Kalau Sera udah nikah, berarti Sera udah besar."
"..." Sera menatap papa-nya dalam-dalam sebelum mengangguk. "Oke." dia percaya Papa-nya.
Omong-omong, Reksa sudah puasa berapa tahun? Dia sendiri salut pada dirinya. Dia bisa tahan seperti ini dari menyentuh perempuan.
Memikirkan tumpukkan pekerjaan dan rancangan perusahaan untuk tiga tahun mendatang, dia tidak akan punya waktu untuk hal itu. Kedepannya dia akan semakin sibuk.
Reksa menarik Sera ke gendongan. Putrinya sudah kelas satu SD, tapi masih mungil seperti waktu pertama kali Reksa menggendongnya. Dia lalu membawanya ke depan pintu kaca untuk melihat bintang di langit. Tidak perlu keluar, angin malam tak baik.
“Sera lihat bintang-bintang itu? Ada banyak kan?”
“Um.”
“Papa adalah bulannya. Bintang-bintang itu adalah perempuan yang suka datengin Papa.” kata Reksa narsis dengan wajah 100 persen serius.
Sera mengerutkan kening. Aneh, tapi dia tidak tahu sebelah mananya. Gadis kecil itu hanya mengangguk saja dengan wajah yang sama seriusnya.
“Sera ngga usah khawatir kalau ada bintang di sekitar bulan, karena itu alami.” di sekitarnya memang banyak perempuan, tapi dia tidak akan goyah.
“Papa bulan?”
“Iya.”
“Kalau Papa bulan, Sera apa, dong?”
“Sera maunya jadi apa?”
“Sera mau jadi malam!!”
“....” Reksa pikir, Sera akan memilih pelangi, atau matahari misalnya. Kenapa malam? Pikiran Reksa kembali ke kenangan lama. Malam terlalu suram untuk anak-anak!
“Bulan datengnya kalau malam. Sera mau sama Papa terus.”
Mendengar jawaban polos dan tulus itu, hati Reksa meleleh.
“Iya, Papa temenin Sera.” Reksa memeluk Sera, kemudian berkata pelan. “Bulan juga bisa loh ada di pagi hari.”
“Masa??”
“Iya. Nanti lihat di stetoskop pagi besok?”
“Oke!”
Baik Reksa maupun Sera tidak mengangkat soal topik menyakitkan yang sempat Cecil bahas. Reksa tidak ingin putrinya terpancing, pun mengingatkannya dengan hal yang buruk.
Sementara Sera, dia sempat surfing internet sebelumnya, dan menemukan banyak artikel terkait topik ‘Anak Haram’. Dia baca hampir semuanya. Dia juga mengerti istilah lain: anak di luar nikah.
Namun isi artikel itu menyebut bahwa kelahiran anak di luar nikah/anak dari perbuatan haram, anak itu tidak berdosa dan tidak salah. Setiap kelahiran adalah karunia dan rahmat.
Yang salah adalah orangtuanya. Anak kecil tidak bersalah, yang salah adalah orang dewasa.
Artikel yang Reksa rencanakan bertahun-tahun lalu akhirnya berfungsi. Reksa hanya tidak tahu saja, di dalam artikel-artikel itu, Joe menambahkan sedikit bumbu-bumbu realita. Banyak anak ditelantarkan, dan Sera beruntung tidak jadi salah satunya. (Waktu itu Joe belum condong ke Nona kecil).
Sera akhirnya tahu bahwa dia lahir di luar pernikahan. Dia sebetulnya tidak yakin juga apakah Papa dan Mama-nya sempat menikah?
Dia juga tidak berani bertanya apakah Papa mencintai Mama-nya?
Papa, apa aku adalah kesalahan?
Sera ingin bertanya, namun takut dengan jawabannya. Selama Papa-nya masih sayang padanya dan tidak membuangnya, Sera tidak akan bertanya.
Suara tv yang pelan mengisi hening malam di ruang tengah, namun di balik pintu kaca, langit menghampar luas membawa mereka yang menyaksikan ke tempat yang berbeda. Reksa lupa kapan dia menghabiskan waktu dengan putrinya? Sepertinya dia harus menambahkan waktu luang untuk jalan-jalan nanti.
Reksa yang tidak pernah bernyanyi, menggumamkan nada tidak tentu dekat telinga putrinya sampai Sera terlelap. Sudah lama sekali sejak Sera tidur seperti ini di gendongannya.
Anak yang lahir dalam pernikahan memiliki pondasi dan kepercayaan diri untuk menyokong eksistensinya di dalam masyarakat dan sosial.
Pun keluarga yang lengkap.
Reksa tidak bisa memberikan keduanya. Dia akui kesalahannya sewaktu muda.
Tapi dia berjanji untuk melindungi Sera dari hujan dan badai.
Dia harap kejadian sebelumnya di kantor tidak terulang untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Papa akan memangkumu sejauh yang Papa mampu. Kalau kamu mau terbang, Papa akan dorong di belakangmu. Dan saat kamu mau pulang, Papa akan sambut dan memelukmu.