ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
43. Banyak yang harus Diperhatikan


__ADS_3

Reksa menunggu sampai putrinya terlelap, sebelum mematikan lampu kamar dan pergi ke ruang kerjanya.


Dia langsung menyalakan desktop untuk memeriksa email dan mengirim pesan pada Joe sekalian.


-Ada yang kelupaan?


Balasan datang secepat kilat.


Joe: tidak ada, Pak.


-Oh.


-tadi saya liat seseorang. kayaknya kenal.


Joe di seberang kebingungan. Hm, mungkinkah Bos-nya sedang mengalami pubertas kedua? Tiba-tiba curhat?


-Deanita kalo gasalah.


Joe yang membacanya lantas berkeringat dingin dan teringat. Bukan ‘gasalah’, tapi ‘yakin’ ini mah.


Joe menolak untuk di salahkan. Tapi Bosnya lebih tidak ingin di salahkan lagi. Kalau dia menunjuk Bos-nya terang-terangan, Joe cari mati namanya.


Pertama, akting dulu.


Joe: Ini kelalaian saya, Pak.


Namun Joe segera mengirim kalimat selanjutnya.


Joe: waktu  itu sy tenggelam bermain detektif bersama nona kecil di telepon, membuat berita ini tidak tersampaikan.


Reksa membaca balasan itu dua kali sebelum tersadar. 


Kejadiannya sudah lama, namun karena rasa malu yang dia rasakan, kejadian itu sangat membekas. Mustahil Reksa lupa.


Waktu Sera masuk mencari dia ke kamar mandi, saat itu Reksa sedang duduk di wc….


Joe bilang waktu itu dia punya berita yang sangat penting dan darurat.


Benar.


Namun setelah itu, Joe tidak melanjutkan laporannya karena Reksa sangat murka. Dan baru diangkat lagi sekarang.


Joe sadar bahwa tuannya tidak memiliki perasaan 'naksir' dan sejenisnya pada Deanita. Sikapnya lebih seperti berhadapan dengan musuh mematikan, jadi Joe juga santai. Dan, Reksa juga tidak mengangkat berita itu sama sekali.


Sejak Deanita muncul di mimpinya, Reksa menaruh perhatian lebih pada perempuan itu.


“....” Bedebah! Kalau dia tidak ingat, cari kesempatan untuk mengingatkan!


Tapi Reksa juga menolak untuk mengangkat kembali kejadian di masa lalu.


Detik sebelum emosi Reksa meledak, email masuk dari Joe.


Joe: Ini laporan yang tertunda Pak.

__ADS_1


Joe: Bersama informasi terbarunya.


Meski Joe sempat berpikir bos-nya tidak tertarik lagi dengan topik ini, Joe masih memantau sesekali.


Reksa membuka file dan menemukan informasi kehidupan Deanita selama dua tahun ini.


Rupanya, ketika Reksa bertemu Deanita di bar, waktu itu Deanita sedang mengandung.


Kini usia putrinya hampir masuk usia tiga tahun.


“....” dia ingin menghardik seseorang, tapi tidak tahu pada siapa.


Reksa kesal, namun dia tetap membaca dengan tenang. 


Di dokumen, Deanita di sebut memiliki hubungan dengan seorang tuan muda dari keluarga kaya. Pemeriksaan genetik menunjukkan bahwa putri Deanita adalah hasil dari hubungan mereka.


Namun karena desakan keluarga dari pihak pria, Deanita dipaksa mengakhiri hubungan. Meski begitu, keberadaan putrinya tak bisa di pungkiri menjadi hal yang membuat sakit mata keluarga si pria.


Sebelum ini, Deanita sempat dipaksa untuk menggugurkan kandungannya, namun saat itu, si pria sangar datang.


Pria  yang Reksa mimpikan menghabisi dirinya.


Dia masih belum tahu hubungan antara Deanita dan pria sangar itu. Namun sudah jelas pria itu melindungi Deanita. Sayangnya, pria itu merupakan bagian dari dunia bawah.


Beberapa gambar di sertakan, dimana Deanita tengah berselisih dengan seorang pria muda. Dari pakaiannya, Reksa bisa menebak bahwa pria itu mantan pasangan Deanita. Reksa juga melihat gambar putrinya Deanita. Kecil, manis, mengingatkannya waktu pertama kali Reksa bertemu Sera.


Reksa akhirnya menelepon Joe.


“Bagaimana keadaannya sekarang?” 


“Hm.” Reksa diam sesaat. “Lanjutkan pengawasan. Berhubung kantor detektif yang baru dirikan belum punya banyak kerjaan, suruh mereka menyelidiki hubungan Deanita dengan pria gangster itu.”


Sejak Sera berpapasan dengan kejadian pelecehan itu, Reksa mendirikan kantor detektif, dengan fokus utama menyelidiki kasus serupa.


Saat ini kantor sedang bekerjasama dengan kepolisian menangani kasus-kasus kecil yang masih tak ada hubungannya dengan misi utama. Berhubung kantor detektif itu baru berdiri, reputasi mereka masih kurang untuk menerima kasus yang berat.


Bahkan tekanan juga datang dari kepolisian negara. Untuk saat ini kantor detektifnya hanya bisa mengalah dan berkembang sedikit demi sedikit.


“Juga, berhati-hatilah dalam mengawasi. Pria gangster itu memiliki keahlian tidak biasa.”


“Saya mengerti, Pak.”


Reksa menyampaikan beberapa pesan sebelum  mengakhiri sambungan. 


Siapa sangka Deanita sudah memiliki putri, usianya juga sudah sebesar itu? 


Dia ingin marah pada Joe awalnya, namun hal itu tidak beralasan. 


Dia masih belum terlambat. 


Di satu sisi, Reksa bimbang apakah dia harus menyelesaikan masalah ini untuk Deanita? Dia ingin perbuatannya menjadi salah satu kunci supaya, bilamana, terjadi sesuatu antara Sera dan mereka, mereka akan mengalah begitu mengingat kebaikan yang Reksa lakukan.


Reksa tahu dia egois. Tapi untuk saat ini, selain Sera, apalagi yang penting untuknya?

__ADS_1


Reksa bisa mengarang motif dan alasan kenapa dia menolong Deanita. Namun untuk efek yang maksimal, dia pikir dia harus menunggu untuk waktu yang pas. Untuk sementara waktu, Reksa akan memperhatikan lebih dulu.


Pukul satu lewat Reksa mengakhiri pekerjaannya dan pergi tidur.


***


Reksa selesai sholat subuh dan bersiap untuk berangkat kerja. Dari jendela kamarnya dia melihat putrinya sedang lari pagi bersama Shain. Dia bisa melihat, meski Sera  sempat meragu awalnya, gadis kecil itu nampak semangat menjalani kegiatannya. 


Reksa berpikir sesaat. Besok, dia akan mengubah jadwalnya pergi ke kantor. Dia akan lari pagi bersama putrinya mulai besok.


Biasanya, ketika Reksa sarapan, Sera masih di kamar. Dan ketika gadis kecil itu selesai pakai seragam, Papa-nya sudah berangkat.


Namun sejak Sera belajar beladiri, keduanya jadi sering sarapan bersama.


Sera pikir, dia suka kegiatan ini.


Pelatihnya Sera mengatakan bahwa Sera anak yang berbakat. Sementara orang lain berlatih seminggu beberapa kali, Sera menuntut untuk latihan setiap hari.


Reksa takut kegiatannya terlalu berlebihan, namun pelatihnya membujuk bahwa Sera kecil memiliki badan yang elastis, berlatih setiap hari tidak akan mengganggu pertumbuhannya. Justru beladiri sejak dini sangat menguntungkan. 


Shain juga belajar beberapa beladiri, namun Tarung Drajat tidak termasuk, dan dia tidak ada bakat untuk mengajari anak-anak. Mungkin setelah Sera agak besar, Shain bisa mengajarinya.


Reksa akhirnya setuju Sera latihan setiap hari–kecuali hari minggu, namun dia juga meminta nutrisionis untuk merencanakan menu makan sehat yang menarik untuk Sera. Meski beladiri adalah keinginan Sera, dia sering mendengar kadang anak dendam dengan perbuatan orang tua yang merugikan.


Kalau karena belajar beladiri, putrinya jadi berotot dan memiliki betis yang besar, Reksa takut dia akan disalahkan. Di satu sisi lain, Sera masih kecil dan tidak akan terpikir hal seperti ini. 


Biasanya, peran ibu yang memikirkan hal-hal kecil begini. Reksa sengaja masuk ke forum penuh ibu-ibu demi informasi guna melengkapi peran sebagai ayah sekaligus ibu untuk Sera. 


Dia selalu menemukan kalimat-kalimat penuh sesal di komentar. 


Misalnya, anaknya tidak makan buah sedari kecil, hasilnya kulit dia jadi kering dan sedikit tidak sehat, ukuran dadanya kecil dan lainnya, tidak enak di pandang, susah cari jodoh. Atau misalnya anaknya berenang dari kecil dan sering minum susu, membuat tinggi badannya melesat. Indah, namun untuk orang biasa, susah cari pasangan yang memiliki tinggi lebih dari putrinya. 


Intinya, semua berujung susah cari jodoh.


Reksa tidak khawatir putrinya akan sendirian. Sekalipun dia tidak menikah, Reksa bisa menghidupi Sera seumur hidup.


Namun, dia tetap berhati-hati.


Dalam beberapa aspek, Bi Sri juga membantu perkembangan Sera. Reksa merasa lega atasnya.


“Apa kegiatan hari ini?” Reksa bertanya di sela-sela sarapan. Meski dia sudah tahu, Reksa tetap bertanya.


Sera menelan pancake-nya sebelum menjawab. “Hari ini Sera ada pelajaran Bahasa, Kenegaraan sama Matematika.” mengobrol dengan ayahnya membuat Sera selalu bicara banyak. Gadis kecil itu melanjutkan. “Pulang sekolah Sera mau tidur siang, sore latihan Terung Drajat, mandi, malemnya baru les.”


Berhubung Reksa tidak mau Sera memiliki kebiasaan mandi di malam hari, dia memutar jadwal les dan latihannya. Gurunya masih sama, namun karena waktu, pembelajaran dilakukan secara online.


“Oh, terus surat itu gimana?” tanya Reksa berlagak tidak peduli.


Mendengar itu, mata Sera langsung berbinar. “Katanya perlu beberapa hari buat dapet balasan.” Sera berpikir sejenak. “Sera udah chat Abima, katanya dia udah dapet suratnya.”


“.....” nak, bisa chat-an, apa gunanya berkirim surat?


Tapi Reksa tidak membunuh semangat Sera. “Oh, bagus kalo gitu.”

__ADS_1


Sera mengangguk semangat. Menurtunya, kesan ketika mengirim pesan di ponsel dan saat menulis di surat sangatlah berbeda. Sera menikmatinya. 


__ADS_2