ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
65. Chivalry is dead :)


__ADS_3

Reksa menerima konfirmasi bahwa Ningsih ada campur tangan soal Erik. Yang Arina lakukan hanya memeriksa, di balik layar, Reksa sudah bergerak jauh-jauh hari.


"Erchiel Mobile memutuskan untuk batal kerjasama?" Raja menerima telepon dari putra keduanya, Milwan. "Kenapa seperti ini? Mereka tidak tahu apa, kalau batal mereka harus bayar kompensasi?!" Raja berseru tanpa bisa menahan emosinya.


Di seberang, Milwan diam sejenak sebelum membalas "Mereka tahu dan mereka sudah memilih untuk membayar denda."


Meski bayaran dendanya tidak kecil, dibandingkan dengan projek mereka yang akan datang, jumlah itu tidak ada apa-apanya. Projek perusahaannya sudah tertunda satu tahun. Demi projek ini adan kelangsungan perusahaan, projek kecil harus dihentikan sementara waktu. Penundaan lagi hanya akan menambah biaya tak jelas.


Wajah Raja memerah dan dia duduk untuk mengambil nafas dalam. "Apa mereka beritahu kenapa?"


"Katanya ada perbedaan visi dengan perusahaan kita."


Tentu saja alasan itu hanya omong kosong dan keduanya tahu. Namun yang jelas, terjadi sesuatu yang keduanya tidak sadari sampai membuat Erchiel mundur.


"Ayah, tidakkah ayah pikir kejadian ini ada campur tangan dari seseorang?"


Mendengarnya Raja langsung skeptis. "Sekalipun benar ini campur tangan seseorang, kamu harus cari partner baru adalah hal yang utama."


"...Baik."


"Tidak ada yang bisa kita lakukan soal ini. Kalau bisa selidiki, kalau tidak, berdoa saja orang itu berhenti disana."


Penundaan setahun ini membuat mereka banyak tertinggal dan ide yang semula original sudah banyak ditiru pihak lain dengan investasi yang lebih besar. Dengan mundurnya Erchiel, banyak pihak yang enggan untuk bekerja sama. Hanya perusahaan kecil-menengah yang bersedia, tapi mereka tak bisa menutupi kekurangan perusahaan Triyanto.


Dua hari kemudian, Milwan masih belum menemukan partner baru. Dia menelepon Raja dan menyampaikan informasi yang baru dia terima.


"Apa kamu bilang?"


"Erchiel kerjasama dengan perusahaan Reksa??" Raja memeriksa sekali lagi dan menerima jawaban positif. Bahkan membuka halaman utama internet, dia bisa melihat berita soal kerjasama dua perusahaan besar keduanya.


"...." Kalau tidak tahu ada yang janggal, sia-sia saja pengalaman Raja selama ini. "Ayah akan coba ngobrol dengan kakakmu."


Milwan di seberang hanya mengiyakan, namun dalam hati dia menebak. Mungkinkah kakak tirinya itu gelisah dan ingin menggoyahkan Triyanto supaya lebih mudah diambil alih? Tapi dengan projek ini yang tertunda, Reksa akan sama ruginya kalau kalau Triyanto resmi pindah tangan.


Milwan berhenti berpikir dan menelepon Ibunya, Ningsih.


"Milwan, Nak, kapan kamu pulang," sambut Ibunya begitu panggilan tersambung.


"Ibu," panggil Milwan, tanpa menjawab dia langsung bertanya, "Ibu ngelakuin sesuatu sama Reksa?"


Mendengar itu Ningsih diam sejenak, saat membalas bahkan ada tawa di ujung kalimatnya, "Oh, kenapa? Ada sesuatu yang terjadi dengan dia?"


Teringat dengan pertanyaan Milwan, Ningsih langsung menyangkal. "Ngga ada Ibu urusan sama Reksa. Apapun yang terjadi dengan dia, itu nasibnya dia."

__ADS_1


Ningsih yang masih tenggelam dalam kesenangan, berpikir bahwa Reksa sedang dalam kesulitan, langsung disadarkan.


"Erchiel Mobile membatalkan kerjasamanya. Kemungkinan perusahaan kita akan kesulitan untuk waktu yang lama."


Kata-kata itu seperti air es dijatuhkan ke kepalanya, Ningsih langsung membulatkan mata.


"Apa, apa maksudmu?"


"Ibu tahu seperti apa perusahaan kita sekarang." Mungkin bangkrut akan jadi langkah mereka selanjutnya. Dana yang tersisa tidak cukup untuk melanjutkan projek maupun membayar pinjaman.


"Ca-cari partner lain!!"


"Aku sedang usaha, Bu." Kata Milwan tanpa nada berarti.


Dari jawaban itu Ningsih tahu bahwa usaha Milwan tidak membuahkan hasil.


"Tanya istrimu. Ya, keluarga dia kan punya perusahaan? Minta dia kontribusi ke keluarga!"


"Bu, Alyona ngga bisa ngelakuin hal itu." Terutama prospek perusahaan mereka banyak dipandang skeptis belakangan ini. Waktu dia menikah dengan Alyona, keluarga Alyona langsung memutus hubungan. Tapi ibunya bersikeras, akhirnya apa yang terjadi?


Milwan tidak ingin memikirkan kejadian pahit itu, namun Ningsih tidak terima.


"****** satu itu diam-diam menggodamu! Cuma mau makan pakai uang Triyanto! Tapi partisipasi seperti ini pun tidak becus! Bahkan melahirkan anak laki-laki pun tidak bisa!"


Ningsih berhenti, namun suaranya ganti memelas. "Nak, Ibu cuma mau melakukan yang terbaik buat kamu. Alyona menantu yang baik, ibu sadar."


Milwan yang emosinya meningkat langsung reda. Namun kalimat selanjutnya membuat Milwan ingin mengumpat.


"Ibu yakin Alyona ngga akan keberatan kamu menikah lagi. Kita harus persiapan untuk kedepannya. Bagaimana pun kamu belum ada penerus laki-laki."


Milwan mengabaikan kata-kata ibunya dan menjawab dengan hal lain, "Ibu tahu siapa yang menarik Erchiel?" Milwan langsung menjawab sendiri, "Reksa. Ibu tahu apa artinya ini?"


Milwan tidak ingin mendengar ibunya melontarkan kesalahan pada siapa saja tanpa mengerti titik masalah yang sebenarnya.


"Ibu melakukan apa pada Reksa sampai dia secara khusus memukul kita seperti ini?"


"Apa?? Reksa?? Memang dia itu anak tidak tahu diri. Sekarang sudah merasa…" namun di tengah-tengah Ningsih mulai memikirkan kata-kata Milwan.


"Bu, ingat perusahaan kita sedang masa-masa sulit. Reksa melakukan ini dia masih berbaik hati. Kalau benar-benar tak ada lagi jalan untuk berbaikan mungkin kita sudah selesai." Milwan berharap ibunya bisa mengerti dan tak menggunakan cara seperti ini lagi di belakang. Kalaupun bisa, melakukannya tanpa ketahuan, tapi apakah mereka sanggup?


Dibandingkan dengan kekuatan Reksa, mereka tak ada apa-apanya. Triyanto hanya tinggal cangkang.


"...Ibu tahu." Kata Ningsih akhirnya.

__ADS_1


Telepon ditutup, namun Ningsih masih ada pikiran lain. Raja, suaminya pastilah mengetahui hal ini. Mengingat tragedi saat Reksa meninggalkan rumah, Raja tentunya tidak akan melakukan kesalahan dua kali dan menyalahkan putranya. Kalau Raja tahu semua ini karena Ningsih bermain-main di belakang..


Ningsih buru-buru keluar balkon dan turun, berpamitan pada teman-temannya di salon dan segera pulang ke rumah.


Ketika sampai di rumah, dia melihat Raja berdiri menghadap jendela di ruang tengah. Tangannya bertaut di belakang, punggungnya terlihat seperti waktu dia masih menjadi presiden perusahaan, mendominasi.


Namun Raja yang tak bereaksi sekalipun tahu Ningsih sudah kembali menandakan bahwa dia marah.


"..Sayang…,"


Raja berbalik dan menatap istrinya dingin.


"Bilang, alasan apa kali ini?"


"Salahku, aku salah." Kata Ningsih langsung mengakui. Dia menundukkan wajahnya, memasang muka memelas. Ketika dia masih cantik cara ini paling ampuh membuat Raja menyerah.


Tapi sudah usia berapa mereka? Raja yang melihat dan memperhatikan sedikit-banyak tahu watak istrinya yang sebenarnya. Hanya karena hubungan mereka selama ini, dan masih dalam batas wajar Raja membiarkannya.


"Tapi aku lakukan itu karena aku peduli. Aku hanya mengirim informasi pada pamannya Sera soal keponakannya. Apakah salah?"


"Oh ya? Tidakkah kamu tahu bahwa pamannya Sera habis keluar dari penjara?" Untuk apa berurusan dengan mantan napi, urus saja hidup masing-masing. Jejak kriminal itu hanya akan membuat noda untuk Reksa. Raja juga akan melakukan hal yang sama, menjauhi orang yang demikian.


"Bukankah aku hanya memberi jalan? Dia masih bagian keluarga, mungkinkah mereka(Reksa&Sera) akan sedingin itu pada keluarga? Di tambah pamannya Sera baru keluar dari penjara dan dia menghadapi masa-masa sulit. Wajar kan kalau aku membantu?"


"Begitu?" Raja mengangguk-angguk dia berbalik menatap jendela. Tiba-tiba asbak kaca di banting, melayang melewati wajah Ningsih.


"K-kamu….!! Beraninya kamu!!" Ningsih yang kaget menyadari perlakuan Raja barusan dan langsung mengamuk.


"Kami kira aku tidak tahu kamu seperti apa?! Keluarga?! Apa kamu orang yang peduli pada Reksa? Jawab dan tanyakan nuranimu kalau kamu masih punya!! Aku toleran dengan sikapmu sebelumnya tapi hal kecil yang kamu lakukan kali ini, yang kamu bilang cuma ‘memberi informasi’ ini membuat kita tamat!”


“Pergi, jangan muncul di depan mukaku.” kata Raja kemudian berbalik pergi.


Ningsih berdiri di tempatnya hanya diam, namun matanya merah menahan amarah. Tangannya yang berkeriput mencengkeram sapu tangan begitu kuat hingga merobeknya.


Raja, berapa lama aku mengenalmu? Hal seperti ini bisa membuatmu berbalik padaku begitu saja? Ningsih tidak terima.


Dia yakin Raja mendapatkan sesuatu dari Reksa. Kalau tidak, mana mungkin pria tua bangka itu terang-terangan membela Reksa dan buka-bukaan menentang Ningsih seperti barusan.


Ningsih tepat sasaran.


Reksa menjanjikan sesuatu pada Raja, dengan syarat dia bisa mengekang Ningsih dan berhenti mengusik mereka.


Raja tidak bisa menyerah atas sisa keringat yang dia bangun demi kelakuan seorang perempuan. Tentu saja Reksa menyampaikan permintaannya dengan cara yang provokatif, kalau tidak mana mungkin Raja akan semarah barusan.

__ADS_1


__ADS_2