
Jam dua malam, Reksa selesai merekap dokumen untuk hari itu.
Dia lalu pergi ke dapur mengambil minum dan pergi ke ruang tengah untuk menonton tv. Besok, hari minggu–adalah salah satu waktu libur yang jarang Reksa dapatkan. Selama dua-tiga bulan ini dia terus bekerja tanpa jeda.
Sebelumnya, waktu cutinya dia pakai untuk menemani Sera; Reksa sudah lupa kapan terakhir kali dia memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Meski nyatanya dia hanya libur setengah hari, sebelum dia mulai mengurusi dokumen lagi.
Reksa menekan remot, berpindah dari stasiun satu ke stasiun yang lain sebelum berhenti di siaran bola.
Bahkan ketika salah satu tim mencetak lawan dan suasana mulai tegang, Reksa menonton dengan datar. Dia jarang nonton soalnya. Jadi dia tidak begitu akrab soal olahraga.
Saking sibuknya bekerja.
Di tengah-tengah rehat babak pertama, siaran masuk ke berita cepat malam itu.
[...Seorang narapidana pencurian emas berhasil melarikan diri saat sedang berpindah dari lapas ke rumah sakit. Lapas yang di tempatkan merupakan kelas rendah yang dimana fasilitas umum seperti ruang kesehatan tidak tersedia. Pencuri sekaligus korban penusukan dengan garpu di dalam lapas ini berhasil melarikan diri dalam keadaan terluka…]
Reksa pikir banyak loopholes di dalam berita yang disiarkan kali itu. Reksa melihat potret yang di tayangkan di layar untuk beberapa detik sebelum siaran berpindah ke iklan yang panjang. Barulah siaran bola kembali mulai sepuluh menit kemudian.
Dia tidak berpikir panjang. Baginya, berita itu hanya angin lalu.
Setengah jam bosan menonton tv, Reksa memutuskan untuk tidur. Dia pergi memeriksa kamar Sera terlebih dahulu.
Putri kecilnya tidur dengan lelap, aman, tanpa sesuatu yang kurang. Reksa mengelus sayang kepala Sera sebelum mematikan lampu yang biasa Sera lupakan.
Malam itu sama seperti malam sebelum-sebelumnya. Dan esok hari mungkin tak jauh berbeda dengan hari lainnya.
***
Dua tahun kemudian.
Bulan baru, tahun ajaran baru.
Hari ini hari pertama Sera masuk SD. Reksa memilih sekolah swasta pribadi yang masih satu kompleks dengan TK Sera sebelumnya.
Sera diantar ke sekolah bersama Shain, seperti biasa. Karena ini hari senin, seragam hari itu pakai warna putih merah; dengan rompi merah kotak-kotak. Lengkap dengan topi dan dasi.
Sera masuk ke kelas. Matanya menghitung cepat murid di dalam. Total ada tiga belas anak, termasuk dirinya. Sebelum dia sampai, dua wali kelas sudah hadir untuk hari pertama sekolah untuk menghimbau para murid.
Sera langsung di antar ke tempat duduk–sebenarnya dia pilih sendiri.
__ADS_1
Kursi paling depan sudah pasti terisi. Sera duduk di barisan ke tiga, akhirnya.
Di sampingnya, seorang anak laki-laki dengan kacamata, duduk dengan tertib masih bersama aroma bedak yang menyelimuti.
Anak itu dan anak yang lain terlihat biasa. Yang jadi perhatian adalah anak yang duduk di depan Sera. Sejak tadi sebetulnya Sera sudah penasaran.
Anak itu bersurai pirang dengan kulit putih kemerahan, hidung mancung dan mata cokelat madu. Seragamnya sama dengan yang lain, tapi wajahnya kelewat ceria dan kepalanya tidak berhenti menengok kesana kemari. Dari ciri-ciri wajahnya, anak ini mirip dengan anak yang sering Sera lihat di film barat.
Menyadari tatapan Sera, anak laki-laki itu berbalik dan melambaikan tangan.
"Hi."
Sera pernah dengar sapaan sejenis ini. Dia balas melambaikan tangan.
"My name Daud. What's yours?" (Nama saya Daud. Nama kamu siapa?)
"Daud?" Sera mengulang dalam hati. Eh, wajah dan namanya
agak berbeda dengan yang Sera pikirkan.
"Sera." Sera mengerti beberapa kata, tapi secara pribadi dia belum bisa merangkai kalimat bahasa Inggris. Dan omong-omong, Sera sudah tidak lagi cadel. Dia sudah bisa mengucapkan huruf R sejak setahun lalu.
Daud lalu beralih ke anak laki-laki yang berkacamata. Dia tidak begitu tertarik ngobrol dengan anak perempuan.
"Hey, what's your name?"
Sera pikir anak laki-laki di sampingnya tidak akan menjawab. Tidak disangka, anak laki-laki itu menyahut.
"I'm Irfan."
"Hi Irfan. Do you think i can be your friend?" (Hai Irfan, apa aku bisa jadi temanmu?)
"Sure." Mengejutkannya, anak di samping Sera menjawab dengan mantap.
Sera pikir anak di sampingnya pendiam. Tapi dia salah. Begitu Daud mulai aktif bertanya, Irfan jadi ikut aktif bicara.
Sejujurnya, Sera tidak mengerti sebagian besar dari percakapan keduanya. Dia hanya tahu 'name', juga kosakata pendek seperti 'sure', 'yes', 'no'. Sisanya Sera tidak ada ide.
Daud, Sera mengerti. Melihat dari sosoknya, anak ini mungkin besar di luar negeri. Tapi Irfan, Sera terkagum-kagum dengan kelihaian bahasanya. Dia juga tidak melihat ada ciri-ciri orang asing dalam diri Irfan.
Ketertarikan Daud begitu luas dan singkat. Setelah mengobrol dengan Irfan, dia langsung melompat ke yang lain.
__ADS_1
Irfan yang kehilangan teman mengobrol pertama di kelas kembali jadi anak pendiam. Sera yang penasaran akhirnya buka suara.
"Kamu kok bisa bahasa Inggris gitu?"
Irfan diam beberapa saat memandang ke depan sebelum sadar Sera tengah bicara padanya. Dia menoleh.
"Are you talking to me?" (Kamu ngomong sama aku?) Irfan bertanya sambil menunjuk dirinya.
Sera tidak mengerti. Hanya memahami gerakan tangannya saja. Sera berkedip, lalu bertanya lagi.
"Kamu belajar bahasa dimana?"
Irfan diam sejenak sebelum membuka mulutnya.
"Sorry, i can't speak bahasa. I'm still learning." (Maaf aku gak bisa bahasa Indonesia. Aku masih belajar). Irfan menjawab sambil menggeleng pelan.
Sera semakin pusing mendengar jawaban itu. Dia tidak mengerti. Kenapa Sera tanya, dia jawab dengan bahasa asing? Obrolan mereka tidak bersambung sama sekali.
Sera melirik Daud yang asik melompat kesana kemari mengobrol dengan bahasa Inggris.
Sera mengerutkan kening dan bergeser duduk menatap papan tulis di depan.
Dia mendengarkan suara-suara di sekelilingnya.. dia hanya mendengar bahasa Inggris. Hanya dia sendiri yang tidak mengerti.
Tidak mungkin.
Sera tidak menyerah. Dia berniat mencari orang lain yang sepaham dengannya. Sera berbalik dan menemukan kursi di belakangnya sudah terisi. Seorang anak perempuan berkerudung duduk di situ.
"Hi, what's your name? I'm Khalia." Gadis itu tersenyum manis sambil mengulurkan tangan.
Sera mengerti maksud kalimat dan gesturnya. Dia menyambut sambil membalas 'Sera.'
"You are the very first person i know in this class. I hope we can be friends.. by the way, here. Me and my Mom bake a cookies yesterday night…"
Sera menerima bungkusan kue kering sambil mendengarkan Khalia mengoceh panjang.
Sera pikir, mungkinkah dia akan selamanya sendiri di kelas ini?
Mendadak Sera merindukan Akmal. Sayang sekali kelas mereka berbeda.
***
__ADS_1